Jumat, 22 November 2019

Pengaruh Motivasi dari Penulis Cilik (yang Tidak Cilik Lagi), Sri Izzati, Terhadap Semangat Ahmad Redho Nugraha dalam Menyongsong After-campus Life (Sebuah Blogpost Lanjutan)

Ilustrasi Sri Izzati, penulis cilik yang sudah tidak cilik lagi dan sudah jago masang ciput jilbab
(sumber : buku sketsa A. Redho Nugraha)


Andrea Hirata pernah menyebut bahwa waktu terkadang seperti stoples : benda, momen, orang-orang dalam kehidupanku seolah masuk ke dalamnya, lalu terjebak dan tidak bisa keluar. Di luar stoples, aku menua dan berubah, sementara mereka yang berada di bagian dalam kacanya tetap sama seperti terakhir kukenal.

Belakangan kutemukan kenyataan bahwa analogi tersebut bisa juga dibalik. Bisa jadi selama ini, sejatinya akulah yang terjebak di dalam stoples. Sementara aku duduk murung di dalamnya bagai liliput yang tidak sengaja tertangkap pemetik jamur truffle. Segala hal di luar kaca stoples perlahan-lahan membesar, memanjang, meninggi, menua, dan beberapa diantaranya juga secara bersamaan menjadi makin antik dan cantik—sementara aku tetaplah liliput. Saat akhirnya aku bisa keluar dari stoples tersebut, dunia di luar stoples telah menjadi begitu asing untuk kukenal dan terlalu raksasa untuk kujelajahi lagi. Aku ingin masuk lagi ke dalam stoples waktuku, tapi itu tidak akan menolongku. Aku harus berkenalan langsung dengan dunia baru ini jika ingin melanjutkan hidup.

Kondisi yang tidak kuketahui namanya itu kentara sekali kurasakan saat aku memasuki awal usia 20 tahun, karena sebenarnya aku punya satu hobi aneh yang tidak pernah kumasukkan ke dalam CV : mengumpulkan teman-teman lamaku, kemudian bercengkrama kembali dengan mereka.
Kebiasaan mengumpulkan teman lama ini lazimnya muncul saat liburan semester kuliah, menjelang akhir Bulan Ramadan atau di hari-hari ketiga hingga kelima lebaran Idul Fitri, saat semua orang biasanya pulang dari perantauan masing-masing, atau sedang libur dari kampus dan tempat kerjanya.

Aku selalu yakin, setiap manusia sebenarnya punya kecenderungan untuk mengoleksi sesuatu, apa pun itu. Sejarah sendiri mencatat bahwa manusia setidaknya pernah mengoleksi kulit kerang, tembikar, fosil dinosaurus, perangko, materai, uang koin kuno, buku novel, poster Westlife, kaos jersey bertanda tangan, botol saus, keju, anggur,  merchandise event jejepangan, kotak korek api, bantal peluk, model kit gunpla, batu akik, action figure, benih tanaman, nomor telepon rumah teman-teman sekelas, pin BBM, mantan pacar, mantan istri, warisan orangtua, janin yang diawetkan serta koleksi-koleksi lainnya yang tidak masuk akal dan beberapa di antaranya bahkan sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai barang koleksi pribadi. Maka kegemaranku mengumpulkan teman-temanku dalam satu grup media sosial atau dalam satu tempat makan, cocoklah dikategorikan ke dalam salah satu jenis koleksi yang aneh tersebut. Aku menikmatinya, mulai dari proses mencari kontak mereka lewat media sosial, mengajak mereka mengobrol satu per satu lewat chat, menanyakan domisili dan kesibukan mereka sekarang, hingga ke tahap menggabungkan mereka dalam satu wadah chatroom atau grup di media sosial. Seolah-olah mereka adalah pokemon yang bisa kukoleksi menggunakan bola monster. Bonus dari terkumpulnya mereka, adalah terjalinnya kembali interaksi yang sudah lama sekali tidak terjadi di antara mereka, yang kemungkinan dapat berlanjut ke acara kopi darat yang lebih intim dan lepas. Ah, indahnya pertemanan dan berumur panjang!

Tim Bukber Kelas E SD Muhammadiyah 6 Alumni Tahun 2007.
Dari kiri ke kanan : Dina, Bininya Ekik, Meli, Ekik, Nessya, Egi, Adit, Mujadid, Bimo, Orang Ganteng
(sumber : instagram ahmadredhonugraha. Di-follow yha!)


Aku sendiri terkadang tak menyangka bahwa sudah lama sekali aku (atau mereka) terkurung di dalam stoples waktu. Beberapa teman SD yang kutemui tidak ingat lagi kepadaku, sementara aku masih mengingat mereka berdasarkan hal terakhir yang kami lakukan bersama, modus operandi yang dulu pernah mereka pakai menjahiliku, nomor telepon rumah mereka hingga nama lengkap bapak dan emak mereka kalau perlu—waktu SD kami sering sekali mengejek satu sama lain memakai nama orangtua. Jangan ditiru ya, gais.

Mujadid, misalnya. Nama Bapaknya Syaiful, dan dulu dia kurus bukan main. Nilainya juga selalu jeblok di kelas. Tapi saat kami bertemu? Badannya jauh lebih tinggi dan berotot. Dia berkuliah di jurusan arsitektur STT Telkom Bandung, dan tengah bersiap lepas landas meninggalkan kampusnya demi menyongsong karier sebagai desainer interior. Tidak pernah kubayangkan dulu kalau anak lelaki yang tampak kurang gizi itu akan berkutat dengan maket dan mahir menggunakan Autocad. Sementara di sisi lain, aku masih merasa sama seperti terakhir kami berkumpul saat SD : kecil, pucat, ingusan, cengeng dan kagetan (padahal sih sudah tinggi, ganteng dan karismatik *heh). Waktu memang gaib dan ajaib.

Jika melihat sejenak ke belakang, hobi yang aneh ini sebenarnya sudah kumulai sejak SMP, dan korban kegabutanku tak lain adalah teman-teman SD-ku yang nomor telepon rumahnya masih kusimpan. Saat SD, telepon rumah adalah alat komunikasi paling mutakhir yang fungsinya amat vital dalam menyokong keberlangsungan kehidupan akademik yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan. Singkat kata, untuk menanyakan masalah PR.

Tentu saja kami tidak bisa saling tanya PR lagi saat duduk di bangku SMP. Maka sebagai gantinya, aku kerap mengganggu teman-teman SD-ku hanya untuk mengobrol tentang apa pun, mulai dari obrolan basa-basi soal dimana mereka bersekolah dan kemana mereka pindah rumah, tentang cinta monyet SMP atau tentang ketololan-ketololan yang pernah kami perbuat semasa SD dulu.

Tanpa bisa kupahami dengan nalar remaja SMP-ku pada waktu itu, saat menghubungi teman-teman SD-ku via telepon, aku sebenarnya tengah berusaha menjalin kembali koneksi pertemananku dengan orang-orang yang ada di masa laluku. Bukan karena motif ingin pinjam uang, mengajak bergabung MLM atau mengadakan arisan ala-ala yang berkonsep skala ponzi, tetapi murni karena aku berusaha mengapresiasi pertemanan yang sudah terlanjur ada. Bahkan terkadang, aku juga berinisiatif mengorganisir acara buka bersama di Bulan Ramadhan atau halal bi halal agar kami dapat bertemu fisik. Aku akan menawarkan diri untuk mengurus semuanya,  mulai dari menghubungi mereka satu per satu via media sosial, mencocokkan jadwal kami, meluangkan waktuku, memilih tempat berkumpul dan melakukan reservasi tempat. Yang belum bisa kulakukan adalah mentraktir mereka, semata-mata karena aku masih bokek.

Entahlah, ada kesenangan tersendiri yang kuperoleh saat kembali bertukar kata dengan mereka, saat kembali menjadi bagian dari kelompok pertemanan masa bocil. Kesenangan itu, ternyata menjelma menjadi semacam obsesi yang belum mampu kuterjemahkan sepenuhnya. Aku seperti orang yang mengendarai sepeda motor di jalan lurus bernama hidup, namun mataku selalu terpaku pada kaca spion. Perhatianku sering kali, bahkan hampir selalu, terkunci pada momen-momen yang sudah aku lewatkan dan tidak mungkin terulang lagi. Aku masih menjalani hidupku dengan wajar dan berisi, namun seolah ada seutas tali yang mengikat punggungku dengan pasak di masa lampau, aku jadi sangat sering menoleh ke belakang. Mungkin tidak berlebihan jika kukatakan, aku manusia yang terikat pada masa lalu. Dan sebagaimana tidak ada gunanya aku masuk kembali ke dalam stoples waktu, maka cara terdekat bagiku untuk menghadirkan kembali masa lalu, adalah dengan mendatangkan para pelaku dan saksinya ke hadapanku di masa kini. Maka kukira, darisanalah awal mula hobiku dalam mengumpulkan teman-teman SD-ku saat liburan.


. . . . . . .


Tak lama setelah kubaca buku 2 of Me tulisan Izzati, aku kembali ke rutinitasku seperti biasa : sekolah dengan ekstra jam tambahan untuk menghadapi UN SMP, sambil sesekali mencuri-curi waktu untuk menggambar komik. Setelah lulus dari SMPN 19, aku ternyata hampir lupa sama sekali dengan pertanyaanku dulu tentang Izzati, karena sebentar-sebentar kemudian hidupku sudah diisi oleh kesibukan-kesibukan dan kecemasan-kecemasan baru yang muncul bertubi-tubi seperti gerbong KRL : ujian seleksi masuk SMAN 3 (yang gagal maning), ujian masuk MAN 2, Masa Orientasi Sekolah (aku ditunjuk menjadi ketua rombongan, yang lalu ditunjuk lagi menjadi ketua kelas), seabrek tugas baru yang bermacam-macam di ekskul majalah sekolah yang baru kuikuti, setoran komik mingguan untuk rubrik Xpressi di Sumeks, penjurusan IPA/IPS—yang kalau kukenang lagi, rasanya belum pernah aku seserius itu memikirkan masa depan sebelumnya—juga bumbu-bumbu cinta monyet di puncak masa puberku. Belum lagi ditambah Try Out Akbar, simulasi-simulasi SBMPTN dan lusinan lomba-lomba komik dan mading yang kuikuti sepanjang masa SMA. Lalu diujung semua itu, tentu saja Ujian Nasional 20 paket soal pertama kali dalam sejarah Indonesia telah menantiku dengan mulut terbuka, siap menerkam.

Pada waktu itu aku luput sekali dari melihat ke belakang, mengenang sejenak betapa dulu semangatku untuk menjadi penulis sempat tersundut berkat seorang penulis cilik bernama Izzati. Aku bahkan lupa nama Izzati. Aku hanya ingat nama Indi, Fira, Ria, Hana, Rani, Lesti, Siti dan Ayudhia,  karena nama-nama itu pernah singgah sejenak di hatiku, lalu pergi begitu saja, macam TransMusi berhenti di halte transit. Aku juga tak habis pikir kenapa aku dulu bisa begitu bucin saat dihantam masa puber, meloncat-loncat dari satu gebetan ke gebetan lain. Untung saja nama-nama di atas hanya nama-nama samaran 3h3h3.

Dan akhirnya, saat semua kecemasanku tentang sekolah telah berlalu, rasa penasaranku tentang Izzati ternyata sudah terlanjur sirna. Aku tetap tidak tahu apakah Sri Izzati adalah teman sekelasku waktu kelas satu SD dulu. Aku mulai meragukan pentingnya menjawab pertanyaan itu. Memangnya kenapa kalau iya? Kenapa kalau tidak? Toh, sejak awal tak penting siapa Izzati, aku dan dia adalah dua individu yang berbeda dan tidak terhubung. Mungkin pada akhirnya dia akan jadi penulis—atau jadi apapun yang ia mau, lalu aku mungkin akan menjadi pegawai bank atau perusahaan sekuritas, mengalah pada nasib yang sering tidak koheren dengan minat dan bakat. Pada akhirnya, hidup kami tetap tidak akan ada hubungannya sama sekali, bukan?

Akhirnya tanpa benar-benar mengambil keputusan untuk menjawab pertanyaanku atau tidak, aku meneruskan saja hidupku sendiri. Kuliah di Jurusan Ekonomi Pembangunan Unsri, mengumpulkan teman dan pengalaman, lalu pada waktunya nanti, mencari pekerjaan tetap untuk meneruskan hidupku, dan jika perlu, membangun keluargaku sendiri seperti orang-orang normal lainnya.


. . . . . .


Menginjak umur kepala dua, kegemaranku mengenang masa lalu pun menemukan muara baru. Aku sangat terbantu dengan berkembangnya teknologi komunikasi yang semakin hari  semakin efisien (bye, telepon rumah!). Segala bentuk komunikasi dengan teman-teman SD-ku, baik dalam bentuk obrolan basa-basi, rencana kopi darat, undangan nikahan dan sejenisnya cukup berlangsung di dalam satu wadah grup media sosial yang bisa kami akses lewat ponsel masing-masing. Merencanakan apa pun menjadi jauh lebih gampang.

Hanya saja, keberadaan solusi adiluhung satu ini tentu saja memiliki kendalanya tersendiri. Tidak semua orang suka merespon di grup medsos. Layaknya pesan broadcast, tak jarang grup medsos menjadi koran online. Jika ada yang melontarkan pertanyaan di grup, jangan harap akan ada anggota grup yang langsung menanggapi. Lebih sering begini : pertanyaan itu hanya dibaca oleh seisi grup. 
Pada saat itu juga aku sadar, bahwa masyarakat Indonesia yang melek sosmed sejatinya punya ‘minat baca’ yang tinggi.

Tapi aku tidak hendak ambil pusing dengan kondisi tersebut, karena hidupku di awal 20 tahun sendiri sudah dipenuhi hal-hal lain yang (lagi-lagi) membuatku pusing. Salah satunya skripsi. Saat aku mengerjakannya, baru aku sadar bahwa skripsi bukan sekedar naskah penelitian akademik yang akan diujikan agar seseorang mendapatkan gelar sarjana. Skripsi adalah cobaan yang diturunkan oleh Tuhan kepada hamba-hamba-Nya, serta-merta untuk menguji siapa-siapa di antara mereka yang konsisten menjalani hidup dan tidak gampang putus asa saat dijepit omelan dosen dan orangtua. Skripsi adalah ujian krisis eksistensial yang mengawali quarter life crisis. Skripsi adalah __________ (silakan isi sendiri sesuai kehendak hati kalian).

Kak Imron, salah satu dosen jurnalisitk di UIN Raden Fatah yang kukenal, pernah bilang begini : ngerjain skripsi itu cukup dua bulan, malasnya yang dua tahun. Tapi setelah aku menyelesaikan skripsiku sendiri, aku tergelitik untuk mengoreksi kata-kata itu. Ternyata malasnya bisa sampai dua setengah tahun, atau bahkan lebih—untuk teman-teman seangkatanku yang belum tamat kuliah dan sedang membaca ini, jangan gebuk aku plys.

Tentu saja ‘malas’ hanya kata yang kugunakan untuk menyederhanakan keadaan sebenarnya. Penghalang sebenarnya bagiku untuk tamat adalah ketakutanku sendiri untuk tamat, atau lebih tepatnya, ketakutan untuk menghadapi apa-apa yang niscaya akan dihadapi semua orang setelah meninggalkan bangku kuliah. Dan itu, sobat, itulah salah satu bagian tubuh dari binatang yang bernama quarter life crisis yang sebenarnya masih lebih besar lagi dan sulit kudeskripsikan secara utuh. But my point is, aku sangat butuh dukungan orang-orang terdekatku untuk menghadapi semua itu. Sayangnya dalam kondisiku saat itu, keluargaku mengambil peran sebagai penuntut, bukan pendukung. Semakin mereka menuntut, semakin aku ‘malas’ tamat, dan semakin besar pula tekanan yang mereka berikan setelahnya. Ini semacam lingkaran setan versi mahasiswa tingkat akhir. Adapun teman-teman terdekatku pada waktu itu semakin pisah-jalur saja dari hidupku karena kegiatan kami yang semakin berbeda. Not to say, aku juga sebenarnya sungkan membebani mereka.

Saat itulah kupikir hobi mengumpulkan teman-teman SD-ku dapat membantuku untuk kembali bangkit, lalu menuntaskan tanggung jawab akademikku—atau paling tidak, memberiku sedikit pencerahan tentang kehidupan pasca kampus yang akan kuhadapi. Tapi sayangnya, hal tersebut agak muluk untuk terwujud, karena sama sepertiku, teman-teman SD-ku juga menghadapi pertempuran mereka masing-masing. Beberapa dari mereka yang merantau bahkan memutuskan untuk tidak kembali ke Palembang untuk fokus menyelesaikan studi mereka, atau untuk mendapatkan pekerjaan di Jakarta atau Bandung. Aku terhenyak. Aku keliru menganggap bahwa aku satu-satunya yang menghadapi krisis. Sepertinya aku harus berhenti mengharapkan solusi dan motivasi dari orang lain, lalu mulai berusaha menciptakannya sendiri. Yaelah, emang mudah, tong?

Aku pun iseng mengamati grup Line Kelas 6E SD Muhammadiyah 6. Tentu saja tidak semua teman SD-ku berhasil kukumpulkan disana. Selain karena tidak semua teman SD-ku main Line, beberapa dari mereka memang tidak bersekolah cukup lama di kelas E, mungkin hanya satu hingga dua tahun. Tapi apa salahnya kukumpulkan juga mereka? Mumpung gabut.

Akhirnya aku mencari mereka satu per satu lewat facebook dan instagram, lalu kuhubungi mereka. Thifal, pindah dari SD Muhamadiyah saat naik kelas 2. Dinda, pindah dari SD Muhammadiyah saat naik kelas 3. Dina dan Iqbal, baru masuk ke kelas E saat masuk kelas 5. Sementara Jelly, enam tahun sekelas denganku, tapi kemudian pindah ke Riau setelah tamat SD dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Dia bahkan lupa nama semua teman-teman SD-nya, kecuali Lilia—yang baru masuk ke kelas E saat kami kelas 5.

Itu bahkan belum semuanya. Masih banyak teman-temanku yang bahkan pindah sekolah saat kenaikan kelas 2 atau kelas 3. Misalnya Ivan, Gianu, Fajar, lalu.... Izzati?

Aku flashback sejenak. Rekor MURI. Penulis tercilik. Novel anak-anak. Bandung.

Bagaimana bisa aku lupa? Sebelumnya semangat menulisku sempat terlecut karena keajaiban orang ini dan rasa ingin tahuku tentangnya. Aku masih punya satu pertanyaan yang hendak aku tanyakan kepadanya : pernahkah kamu bersekolah di SD Muhammadiyah 6 saat kelas 1 SD? Pertanyaan yang dulu sempat, dan kini kembali menjadi obsesi. Aku harus menemukan orang ini, dan melihat sendiri keajaiban apa lagi yang ia kembali ciptakan sejak karya-karyanya di KKPK.

Mengingat facebook yang saat itu tengah ditinggalkan oleh lumayan banyak penggunanya (yang beralih ke twitter), aku pun mencari Izzati lewat instagram. Dan siapa tahu, sesungguhnya, dia begitu mudah ditemukan.

Dengan melihat ava instagram-nya aku sudah langsung tahu kalau dia Izzati yang dulu menghiasi sampul belakang novel 2 of Me, belum lagi jika melihat jumlah followers-nya yang di atas 10.000 (sekarang sudah 18.000 lebih). Izzati yang kulihat mungkin tengah berada dalam versi terbaik dirinya : jelita, cemerlang dan ceria. Ia tersenyum sumringah di hampir semua fotonya yang ada di instagram. Senyum Izzati adalah senyum yang, dengan melihatnya saja, orang lain akan merasakan dorongan emosional untuk ikut tersenyum. Dia bukan lagi anak ajaib. Dia adalah versi dewasa dan terbaik dari anak ajaib. Dan dia, ternyata masih terus mengukir hal-hal ajaib sejak aku membaca bukunya delapan tahun sebelum itu.

Langsung saja kutekan tombol ‘ikuti’ tanpa ragu. Tapi saat hendak menekan tombol ‘kirim pesan’, barulah aku berpikir ulang.

Apa aku serius mau meminta kontak Line orang ini, lalu memasukannya ke Grup 6E? Dia kelihatannya sama sekali bukan orang biasa-biasa saja. Bagaimana jika dia bukan Izzati yang dulu sekelas denganku? Kalaupun benar dia orangnya, bagaimana jika dia tidak ingat satu pun teman sekelasnya dulu? Apa faedah yang ia akan peroleh dengan menyapa kembali teman-teman SD-nya? Betapa kentangnya situasi yang mungkin tercipta jika aku mengundang orang yang salah ke dalam grup. “Grup paan neh? Maaf mz, salah orang”, mungkin begitulah responsnya kelak.

Aku pun menahan diri. Setelah beberapa hari mengamati aktivitasnya lewat instastory-nya, setelah kudapatkan kesan bahwa Izzati cukup ‘bersahabat’ untuk membalas pesanku, aku pun memberanikan diri mengiriminya pesan.


Assalammualaikum Izzati [Sep 25, 7:39 AM]


Hening (ya iyalah).


Excuse my curiosity, weren’t we in the same elementary school? [Sep 25, 8:43 AM]


Sok Inggris heuh. Tapi itu karena aku berusaha meningkahi story terbarunya yang ditulis dalam Bahasa Inggris.


I even bought one of your book when i was in junior high school :’D [Sep 28, 8:36 AM


Lalu hening. Hening yang tidak bertepi. Hening yang masih bergeming hingga saat ini.

Ternyata tidak semudah itu, Fergusso.

Hm. Ya. Gitu. Ok. Sip. Suuzon, eh, husnuzon aja. Mungkin dia abis kuota (GA MUNGKIN SIH)




Bersambung (lagi) (?)....

1 komentar: