Kamis, 21 November 2019

Pengaruh Motivasi dari Penulis Cilik Sri Izzati Terhadap Signifikansi Peningkatan Minat Menulis Ahmad Redho Nugraha (Sebuah Blogpost)


Ilustrasi Mamah Dedeh Sri Izzati saat masih cilik. (sumber : arsip pribadi A. Redho Nugraha)


Aku suka menulis (tapi lebih suka tidur, sih).

Di dalam curriculum vitae-ku, tiga kata oncak* ini selalu membuntut di belakang kata ‘hobi’ : membaca, menulis dan menggambar. Menggambar adalah aktivitas tak terpisahkan dariku sejak kecil. Jika menggambar adalah sesosok makhluk, maka bayangkan saja ia adalah seorang raja cilik yang punya takhta dan istananya sendiri di dalam kepalaku—dia istimewa. Aku sudah suka menggambar bahkan sebelum aku bisa membaca dan menulis.

Sementara membaca dan menulis, bagiku adalah dua aktivitas yang berkaitan erat sekali. Tentu aku bukan satu-satunya orang yang mengawali kegemaran menulisku dengan kegemaran membaca. Sebagian orang yang pernah terinsipirasi oleh penulis favoritnya pasti pernah, setidaknya sekali, terpikir untuk melakukan hal yang sama untuk menginspirasi orang lain : menulis. Maka benarlah kata mereka (siapa?), bahwa untuk membuat seseorang kecanduan membaca buku, cukup berikan dia satu buku yang bagus. Kurasa prinsip yang sama juga berlaku jika kita (siapa??) ingin membuat seseorang mulai menjadi penulis. Karena, sungguh agung pekerjaan para penulis. Mereka mencairkan gagasan dan imajinasi mereka, lalu memerasnya ke atas lembar-lembar  kosong, merangkainya ulang dengan ulung menjadi tulisan-tulisan indah semata agar buah pikir mereka yang brilian tidak berakhir di satu kepala saja, melainkan kepala semua orang yang membaca tulisan mereka. Dan tak jarang, beberapa kepala tersebut akan kembali melakukan hal yang sama, agar lebih banyak orang yang dapat menikmati gagasan segar yang sebelumnya mereka tuangkan. Dalam mata rantai transfer gagasan tersebut, aku adalah salah satu si pemilik kepala, dan tulisan yang pertama menginspirasiku adalah tulisan J.K. Rowling.

Siapa sih yang tidak suka Harry Potter? (Siapa?? Sini biar kuracuni). Dan sebagaimana bagi setiap orang yang baru gemar membaca, Harry Potter berdampak besar terhadap minat menulisku. Aku pernah menulis cerbung di buku tulis (yang cuma sampai 3 chapter), sebelum akhirnya aku punya diary (yang sebenarnya sangat tidak rahasia karena banyak sekali orang yang membacanya), dan gaya tulisanku pada waktu itu benar-benar terpengaruh novel-novel terjemahan Harry Potter yang kubaca. 
Aku juga sempat mencoba mencampur hobi menggambar dan menulisku, lalu muncullah komik-komik jelek di lembaran-lembaran kertas HVS.

Meski produk-produk tersebut sangat diapresiasi teman-temanku yang membacanya, tapi sebenarnya aktivitas menulisku masih karbitan. Semangat menulis yang kuperoleh dari J.K. Rowling dan Harry Potter baru mampu mengantarkanku untuk sebatas merasa ‘puas’ saat tulisanku dibaca teman-teman dekatku. Pada saat itu aku belum tertarik menekuni hobi menulisku dengan lebih serius, misalnya dengan mencoba mengirim tulisanku ke media cetak, atau dengan bergabung ke organisasi kepenulisan atau kelompok wartawan remaja di beberapa media lokal yang ada di Palembang pada waktu itu. Menulis novel sendiri? Apalagi. Jauh panggang dari api. Meski sempat terbersit cita-cita ingin melihat buku yang kutulis berada di jajaran rak buku ‘Fiksi’ di Gramedia, tapi cita-cita itu masih seperti slogan yang tertulis pada sampul buku tulisku : Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit! Maka menerbitkan tulisanku dalam bentuk buku, bagiku waktu itu sama saja seperti berusaha menggantung sesuatu di langit. Siapapun orang pertama yang menulis slogan itu mungkin perlu membaca lagi kalimatnya dari perspektif yang baru. Bukankah mustahil menggantung sesuatu di langit? Dan meskipun bisa, buat apa? Bukankah jadi makin sulit untuk menggapainya? -_-

Aku akhirnya hanya lanjut menulis dengan motif iseng dan pamer. Iya, menulis menjadi semacam wahana baru untuk narsis, dan aku yakin kita sepakat tentang betapa narsisnya kita semua saat menjelang remaja. Bagiku pada masa itu, diary adalah bentuk konvensional dari media sosial yang baru populer macam Friendster dan Facebook. Aku tidak ragu-ragu menunjukkan tulisan di diary-ku pada teman-temanku, bahkan juga pada seorang mahasiswa yang sedang melakukan PPL di SMP-ku (soal ini, pernah kubahas di salah satu postingan lain di blog ini). Tak bisa dipungkiri, aktivitas pamer tulisan tersebut merupakan sebuah kombinasi yang kalis dari rasa percaya diri, tidak tahu malu dan kehausan akan perhatian. Geez, i was that hopeless, yes.

Jika perlu kutambahkan, penyebab lainnya adalah karena pada saat itu aku belum punya sosok penulis profesional yang menjadi panutan utamaku. Sepanjang masa SMP, aku lebih doyan membaca komik-komik Jepang dan hanya bersentuhan dengan sedikit karya-karya penulis prosa—J.K. Rowling, kalau bukan Andrea Hirata yang popularitasnya baru saja meroket berkat Laskar Pelangi. Aku baru menjadi pembaca yang ‘agak’ rajin di bangku SMA, saat aku mulai berkenalan dengan Tere-Liye, Ahmad Fuadi, juga karya-karya berikutnya dari J.K. Rowling dan Andrea Hirata.

Tapi itu babak cerita yang lain lagi. Mari mundur sedikit ke masa SMP, saat aku memperoleh suntikan semangat dari seseorang yang mungkin kalian sudah kenal. Buahnya adalah, minat menulisku yang muncul kembali dalam wujud lebih solid, bertahun-tahun setelahnya.

Pernah pada suatu ketika saat aku kelas IX—atau VIII? Aku tidak ingat persis—aku dan temanku (sebut saja Patton) tidak langsung pulang ke rumah selepas bel pulang sekolah berbunyi. Kami ‘minggat’ ke sebuah bazar buku di PSCC.

Aku harap kalian mafhum kalau kubilang, pada masa itu duit jajan harianku hanya lima ribu perak, dan sulit sekali bagiku untuk memperoleh buku bacaan yang bagus dengan cara membeli—kecuali tankoubon komik Jepang yang harganya waktu itu masih 18.500. Maka hampir setiap kali aku dan Patton menyambangi toko buku, kami hanya melihat-lihat saja, kalau bukan aku menemani Patton membeli buku terbaru Raditya Dika. Dan hari itu pun, aku dan Patton berkunjung ke bazar buku hanya untuk melihat-lihat, atau membeli buku kalau tertarik (only for Patton).

Kunjungan kami ke bazar buku hari itu tentu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tanpa kurencanakan, aku berhenti di depan rak buku yang memuat tulisan-tulisan fiksi. Dari sampul buku-bukunya yang penuh warna dan karakter kartun, bisa kupastikan rak tersebut menampung buku-buku  fiksi untuk anak-anak. Aku iseng saja membalik-balik beberapa buku yang lumayan tipis. Tulisan “Kecil-Kecil Punya Karya” tercetak di sampul depannya, tepat di atas judul buku. Sementara di sampul belakang, kutemui profil penulis bukunya yang—sesuai tajuk depannya—memang masih cilik-cilik. Aku mengambil beberapa buku lainnya yang juga berlabel Kecil-Kecil Punya Karya. Sepertinya Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) adalah semacam program dari Penerbit DAR! Mizan untuk menghimpun penulis-penulis cilik dari seantero nusantara, karena semua penulis buku-buku tersebut tidak ada yang berusia lebih dari 12 tahun. Bahkan salah satunya berusia delapan tahun. WUT?

Waktu itu umurku sudah 14 tahun dan sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik membeli ataupun membaca buku fiksi anak-anak itu—needless to say, that will cost my allowance, too. Tapi salah satu buku berlabel KKPK dengan judul ‘2 of Me’ yang kupegang membuatku berubah pikiran. Pandanganku tertumbuk pada foto seorang anak perempuan kecil berjilbab yang tersenyum simpul di sampul belakangnya. Beberapa baris deskripsi singkat di bawahnya menjelaskan kepadaku siapa gadis cilik itu.

Sampul depan buku Seri KKPK '2 of Me' karya Sri Izzati. (sumber : istimewa)


Sri Izzati, 10 tahun.

Sri Izzati lahir di Bandung, 18 April 1995. Putri pasangan Bapak Setyo Utomo Soekarsono dan Ibu Hetty yang masih bersekolah di SD Istiqomah Bandung ini mulai menulis sejak kelas dua SD, akan tetapi baru disadari orangtuanya beberapa bulan kemudian.

Izzati yang jago bermain piano ini telah menulis novel berjudul “Powerful Girl”, lho. Bahkan, karena novel tersebut, ia mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai 
“Penulis Novel Tercilik”. Hebat, kan?

Gadis kecil yang suka main sandiwara-sandiwaraan, main sepeda, menggambar dan main boneka ini, ingin tulisannya dibaca teman-teman seusianya. Buku “2 of Me” (DAR! Mizan, 2006) ini, Izzati persembahkan untuk teman-teman. Met baca en semoga suka, ya ....


Kenyataan bahwa buku tersebut best seller, dan Izzati baru berusia 11 tahun saat buku tersebut diterbitkan bukan dua-duanya hal yang membuatku terkejut. Nama dan wajah yang dimilikinya terasa tidak asing bagiku. Tidak banyak anak perempuan yang bernama Izzati, kan? Dan aku punya satu teman bernama Izzati yang dulu pernah satu kelas denganku, saat kelas 1 di SD Muhammadiyah 6 Palembang. Dan Izzati yang kukenal itu, seingatku, penampilannya persis dengan foto yang sekarang hanya berjarak satu kilan dari ujung hidungku. Dan demi melihat tahun kelahirannya, aku tahu bahwa kami satu angkatan. Jangan-jangan?

Patton menatapku curiga, seolah-olah aku om-om ber-fetish aneh yang tertangkap basah sedang belanja boneka Barbie. Langsung saja aku ceritakan padanya soal si Izzati ini. Kami pun lalu berdiri saja disitu, sembari aku membalik-balik kembali kumpulan buku-buku KKPK lainnya dengan campuran perasaan kagum, iri juga penasaran. Ternyata 2 of Me bukan satu-satunya buku yang pernah ditulis Izzati. Ada Let’s Bake Cookies dan Kado untuk Ummi, yang masing-masing ia rampungkan di usia sembilan dan delapan! Allah Maha Besar!

Sejauh yang bisa aku ingat tentang masa kelas 1 SD-ku, Izzati yang kukenal memang sedikit istimewa. Dia siswi yang supel, cerdas dan selalu bicara menggunakan Bahasa Indonesia, ciri utama ia berasal dari keluarga yang terpelajar. Selebihnya, aku tidak tahu lagi, karena kami memang tidak pernah duduk berdekatan dan di tahun berikutnya kami sekolah, dia pindah ke Bandung. Yeah, Bandung. Kota yang bagiku dulu sering tertukar dengan Lampung, sebelum aku mengenal atlas.

Benarkah Sri Izzati ini adalah orang sama yang aku kenal? Aku tidak yakin nama lengkapnya Sri Izzati—atau lebih tepatnya, aku tidak ingat siapa nama lengkap teman sekelasku dulu. Perasaan bangga yang ganjil merayapiku seperti laron yang berhinggapan di sekitar lampu neon. Perasaan bangga macam itu biasanya kalian rasakan saat tahu salah satu teman sekolahan kalian sekarang sudah jadi orang hebat. Maksudku, orang ini memecahkan rekor MURI di usia delapan tahun, dan aku (mungkin) pernah sekelas dengannya saat SD dulu. Meski prestasinya tidak serta-merta terciprat kepadaku, aku tak bisa menahan diri untuk turut merasa bangga dan senang.

Pada buku karangan Sri Izzati yang lainnya, aku temukan fotonya yang sudah tampak sedikit lebih dewasa, mungkin dua tahun lebih tua. Di sampul belakangnya ia juga tersenyum simpul, tapi kali ini ia menggunakan kacamata. Mungkin efek samping dari kegemarannya membaca dan menulis sepanjang umurnya yang masih belia.

Aku menimang-nimang buku-buku tersebut dengan bimbang, seolah-olah hanya dengan demikian, seekor makhluk ajaib akan keluar dari dalamnya dan meyakinkanku untuk membeli buku itu. Aku kagum betul pada Izzati yang menulis novel-novel tersebut, tapi juga sanksi jika dia benar-benar Izzati yang kukenal. Tapi bukankah tanpa kukenal pun, ia tetap mengagumkan? Usia delapan tahun, dan menerbitkan bukunya sendiri? Apa hal besar yang pernah kulakukan saat seusianya? Cebok sendiri sesudah buang air besar di WC sekolah—yang kotor dan jorok luar biasa? Prestasinya seolah menumbuk harga diriku menjadi bubuk-bubuk bernama insecurity, tetapi untuk alasan yang baik. Aku bukan hanya terlecut, tapi juga termotivasi.

Akhirnya kuputuskan mengeluarkan lembaran uang simpananku dari dalam tas, lalu kubawa ke kasir. Tanpa kurencanakan sebelumnya, aku membeli buku 2 of Me karya penulis cilik fenomenal Sri Izzati. Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik pada ceritanya—yang sepertinya memang ditargetkan untuk menghibur pembaca anak-anak perempuan, tapi aku tertarik menyelami semesta tulisan Izzati. Aku ingin tahu karya seperti apa yang dapat ditelurkan seorang anak 10 tahun, dan apa yang membuatnya bisa menulis bukunya sendiri dan aku tidak. Mungkinkah aku menulis dengan sama baiknya di usia 14 tahun? Atau jika aku berusaha lebih keras mulai dari saat itu, kira-kita karya macam apa yang dapat aku hasilkan? Izzati sepertinya adalah bukti hidup bahwa semua orang bisa menulis, di usia berapa pun, dalam keadaan apa pun, selagi ia mau berusaha keras dan konsisten. Demi membayangkan ia sekarang seumuran denganku, aku jadi berdebar-debar. Keajaiban apa lagi yang bisa ia ciptakan di usia 14 tahun?

Keluar dari Gedung PSCC, tanpa kami sadari hari sudah gelap. Aku dan Patton ternyata lupa waktu. Kami yang saat itu masih mengenakan seragam SMP, segera pulang naik angkot. Pada masa itu aku masih anak baik-baik yang akan dicari orangtua jika tidak pulang ke rumah hingga lepas waktu Maghrib (percaya kan? Percaya plys. Kalo gak, kugebuk >:( ). Sampai di rumah pun, aku dimarahi habis-habisan oleh Bapak hahaha.

Aku tak nak membahas detil tentang bagaimana isi dari buku 2 of Me yang kubaca—Silakan saja beli sendiri bukunya di mizanstore jika kalian penasaran, sekalian tambah-tambah royalti Izzati hehehe. Yang jelas, aku punya cukup alasan positif untuk mengaguminya, dan alasan itu ditambah lagi dengan sangkaan bahwa dia adalah teman satu kelasku saat SD. Konyol memang. Bagaimana aku bisa merasa kagum pada orang yang belum tentu benar-benar teman sekelasku—dan kalau pun memang betul, juga belum tentu mengingatku? Setelah kupikirkan lebih lama, mungkin kekagumanku pada Izzati telah bersenyawa dengan unsur lain yang bernama ‘rasa ingin tahu’. Maka benarlah kata orang-orang itu (siapa???), kita cukup memelihara  rasa ingin tahu di dalam diri kita agar mampu terus menjalani hidup. Rasa ingin tahu itu sendiri, tanpa perlu dipasangkan dengan jawabannya, adalah sebentuk motivasi yang sustainable, sesuatu yang persis kubutuhkan untuk berkembang pada waktu itu.

Benarkah Sri Izzati adalah teman SD-ku? Mungkin aku tidak benar-benar ingin tahu jawabannya secepat itu. Untuk sekarang, biarlah ia menjadi somebody i looked up to. Biarlah pertanyaanku terjawab di waktu yang tepat, nanti, saat aku sudah bisa mengejarnya sebagai penulis juga. Untuk sekarang, aku hanya perlu mencukupkan diriku dengan pertanyaan, sembari berharap dan berdoa akan bisa berjumpa dengan Izzati suatu hari nanti, agar bisa kudapatkan jawaban itu langsung dari orangnya.





(bersambung...)

*oncak : sebutan orang Palembang untuk sesuatu yang diandalkan. 
Contoh : Kaunih kalo sholat pasti baco surat oncak, kalo dak Al-Falaq, Al-Ikhlas
(Kamu kalau sholat pasti surat andalannya kalau gak Al-Falaq, ya Al-Ikhlas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar