Jumat, 06 Desember 2019

Pengaruh Motivasi Sri Izzati Terhadap Kecepatan A. Redho Nugraha dalam Menemukan Kembali Cita-cita di Tengah Quarter Life Crisis (Sebuah Blogpost Penutup)


Ilustrasi Sri Izzati dan Dimi, biola kesayangannya (sumber : arsip pribadi)

Ini blogpost ketigaku tentang Izzati.

Mungkin setelah aku bilang begitu, akan ada di antara kalian yang mulai berpikir kalau aku freak -_- but i won’t mind it.

Ingat kan apa yang dulu kubilang tentang pentingnya rasa ingin tahu? (Ingat dong. Ya kan? Plys) Terkadang kita hanya perlu memelihara rasa ingin tahu agar tetap cukup ‘bertenaga’ dalam menyongsong hari esok. Rasa ingin tahu adalah bahan bakar dalam menjalani hidup yang penuh ketidakpastian. Rasa ingin tahu tersebut bisa saja muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan liar seperti : bagaimana rasanya makan salju puncak Gunung Kilimanjaro yang dicampur sirup Marjan? Berapa lama waktu yang akan kuhabiskan jika mau mengelilingi Indonesia dengan bersepeda? Bagaimana rasanya tinggal di negara dengan empat musim? Dan bagiku dulu (juga belakangan ini), rasa ingin tahuku tengah berkitar pada sosok bernama Izzati.

Ada batas keras yang memisahkan antara kagum dan mengidolakan, dan sejujurnya, aku tidak gampang mengidolakan seseorang. Tapi jika kalian selesai membaca tulisan ini dan langsung browsing tentang Sri Izzati, mungkin kalian akan paham betapa mudahnya mengidolakan sosok satu ini. Dan di Indonesia Raya ini, aku bukan satu-satunya anak manusia yang mengidolakan Izzati.

Oh, tentang skripsiku? Tentu saja akhirnya skripsi itu menyelesaikan dirinya sendiri (bohong). Ternyata dibutuhkan sangat banyak dorongan dan motivasi untuk meledakkan jalan keluar dari terowongan gelap bernama low self-esteem. Kalau kalian tanya apa penyesalanku saat menamatkan kuliah di masa 5 tahun 8 bulan, kurasa inilah salah satunya : kenapa tidak kukerjakan skripsiku sejak dulu, saat teman-teman dekatku belum tamat semua? Ternyata skripsi, serta beberapa bentuk lainnya dari cobaan hidup ini dapat jauh lebih cepat dituntaskan jika dikerjakan bersama-sama teman. Ini adalah anti-tesis dari kalimat bijak “If you want to go fast, go alone, but if you want to go far, go together”. I go alone, yet, i am still slow. Mungkin memang tidak seharusnya aku selalu memegang teguh kata-kata bijak yang kutemukan secara random dari internet.

Maka setelah keluar dari terowongan, terbentanglah jagad luas tak terbayangkan di depanku. A whole new world, kalau kata Aladdin. Kartu Pengenal Mahasiswaku kuserahkan kepada Rektorat Unsri, dan resmilah aku menjadi pengangguran, kondisi yang takut kuhadapi selama ini. Tapi alhamdulillah, aku belajar mengatasinya. Hanya orang-orang gesit, anak-anak orang kaya dan orang-orang bernasib baik yang bisa langsung berjaya setelah tamat kuliah, dan aku akhirnya belajar menerima bahwa aku bukan salah satu dari orang-orang itu. Menganggur adalah kondisi temporer, batinku. Dan siapa sangka, setelah mampu berdamai dengan diri sendiri, all iz well. Aku bisa berpikir lebih lurus dan jernih dalam merencanakan langkahku berikutnya. Ternyata berdamai dengan diri sendiri bisa seindah itu.

Di tengah padang sabana tersebut, aku menemukan banyak titik bifurkasi. Salah satunya adalah pilihan retoris : cari tantangan atau kemapanan? Masa depan begitu tidak pasti, sobat. Baru tahun lalu dr. Ryan Thamrin meninggal karena maag kronis di usia 39, dalam keadaan bujang, sehingga ibunya lah yang merawatnya selama sakit. Tak bisa kubayangkan kalau kemalangan serupa menimpaku di usia 30-an dan jika aku sudah tidak punya orangtua lagi. Maka tentu aku harus bisa mengurus diriku sendiri dengan menggunakan tabungan yang bejibun, dan itu berarti aku harus mapan terlebih dulu sebelum sakit. Ini hanya salah satu skenario buruk dari kumpulan skenario buruk lainnya ya, sobat, tolong jangan diaminkan. Toloong (nodong pistol).

Meski demikian, sulit kubayangkan aku akan menghabiskan seumur hidupku, banting-tulang bekerja di lingkungan kantor pemerintahan atau perusahaan swasta, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hampir tidak berhubungan langsung dengan kebahagiaanku. Lalu setelah aku punya duit ekstra yang tidak tahu mau aku apakan lagi, aku mungkin akan memberangkatkan haji kedua orangtuaku (yang ini silakan diaminkan), menikah, membangun keluarga seperti orang lain pada umumnya, kemudia hidup menggantungkan diri pada pesangon pensiun yang cair setiap bulan setelah anak-anakku sudah mandiri. Betapa monoton dan teraturnya. Betapa tidak spesialnya.

Aku lebih doyan membayangkan skenario yang ini : Aku menghidupi diri lewat menulis apa saja, mulai dari cerpen di majalah sastra, opini di koran, artikel di media online, buku kumcer dan kumpulan sajakku sendiri, lalu menabung uangnya untuk membeli kamera baru, kemudian mendaftar kelas fotografi dan melamar menjadi fotografer media online atau LSM yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Tentu saja itu baru bagian indah-indahnya saja, belum termasuk risiko terkena serangan jantung atau penyakit kronis lainnya di usia 30-an dan terpaksa harus pensiun dini, atau risiko diterkam harimau sumatera saat sedang meliput di Taman Nasional Sembilang. Hidup jadi freelancer bagai hidup seperti bangsa Viking : bebas, liar, natural, all you can eat, hanya saja dengan risiko membujang sepanjang karier karena dipandang sebelah mata oleh calon mertua. Sungguh opportunity cost yang sangat telak bagi tuna asmara seumur hidup macam aku.

“Oh, kenapa pula harus memilih salah satu? Tidak bisakah aku menjalani dua macam karier?”

Pertanyaan di atas berasal dari lubuk hatiku yang terdalam, dan itu, adalah bukti bahwa betapa Tuhan sebenarnya sudah bersifat Maha Adil, tapi sebenarnya manusialah yang selalu tamak akan pilihan.

But if you think again, bukankah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya ada dalam pertanyaan itu sendiri?

Kenapa pula harus memilih salah satu? Iya, kenapa?

Tidak bisakah aku menjalani dua macam karier? Siapa bilang tidak bisa?

Mungkin saja, sebenarnya aku tak perlu memilih salah satu sejak awal. Aku bisa memilih dua-duanya, kerja di kantoran dan tetap menulis. Iya, tidak mustahil. Akan sangat sulit sebenarnya, tapi tidak mustahil.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak berbelok ke kanan atau ke kiri, tapi tetap berjalan lurus. Sepertinya aku mau jadi pegawai kantoran yang menulis novel saja.

- - - - - - - -

Mungkin sejak blogpost sebelumnya, kalian bertanya-tanya dalam hati, apa sih sebenarnya hubungan antara quarter life crisis-ku dan Sri Izzati? Well, as much as i can relate, EVERYTHING.

Bisa dibilang, minat menulisku—termasuk di blog ini yang sempat kuterlantarkan hampir satu tahun—kembali bangkit setelah aku mencari tahu kembali tentang Sri Izzati.

Penulis KKPK? Pemegang rekor MURI? Itu semua baru stepping stone awal Izzati. Kenyataannya, setelah aku menyimpan buku 2 of Me di lemariku 10 tahun yang lalu, Izzati tidak pernah berhenti membuat orang-orang di sekitarnya terkejut dan kagum. Izzati terus menulis dan menerbitkan buku hingga ia kelas X SMA. Ia lalu ikut serta dalam pertukaran pelajar ke Waupaca, Negara Bagian Wisconsin, Amerika Serikat, lewat program Rotary Young Exchange. Ia masuk kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 2013, lalu menerima penghargaan “Young Inspiring Writer” dari Penerbit DAR! Mizan di tahun yang sama. 

Tahun berikutnya, ia kembali menerbitkan buku, kali ini buku teenlit berjudul “Satu Keping” yang meski memperoleh review yang nadanya beragam di Goodreads, tapi sukses menjadi obat rindu bagi fans Izzati di seluruh Indonesia (sayang sekali aku baru tahu soal buku ini lima tahun setelahnya :’) )

Buku terbaru Sri Izzati yang terbit tahun 2014 lalu. Aku belum punya sih *terus?*
*yha siapa tau ada yang mau beliin*

Izzati juga punya grup musik instrumental sendiri semasa ngampus, namanya Suara Dawai. Dan coba tebak alat musik apa yang ia mainkan? Biola! Jika kalian perempuan, muslim, cerdas, hapal Pancasila, taat pada orangtua dan pandai bermain biola, itu saja sudah cukup untuk membuatku bertekuk lutut. Dan Izzati punya semua itu.

Prestasi pamungkasnya di bangku kuliah mungkin adalah saat Izzati menjadi Duta Bahasa Jawa Barat tahun 2016. Ia dan Alvian Rifaldhi Yasin, alumnus UPI, sukses menjadi perwakilan Jabar dalam ajang Duta Bahasa Indonesia. Tentu saja predikat duta bahasa hanya disematkan kepada mereka yang punya kontribusi khusus bagi dunia literasi, dan kontribusi Izzati bagi dunia literasi mewujud dalam sebuah project bernama penarasa.id—silakan searching sendiri, surprise yourself. Tak jarang Izzati juga berkolaborasi dengan anak muda lain yang produktif dan influental dalam project-nya, salah satunya Andhyta F. Utami atau yang biasa disebut teman-teman indie-ku dengan nama Afutami, alumnus Harvard Kennedy School dan konsultan World Bank di bidang makroekonomi—silakan  searching sendiri, surprise yourself (2).

Berbeda denganku, sebelum mengerjakan skripsi, Izzati sudah tahu persis apa yang hendak ia teliti sebagai tugas akhirnya. Aku sendiri belum paham kenapa Izzati seolah memiliki kesan khusus dengan kisah patah hati, namun sepertinya kegelisahannya akan hal tersebut bermuara secara produktif lewat tugas akhirnya. Ia meneliti tentang pengaruh writing therapy terhadap kondisi emosional mahasiswa-mahasiswi UI yang mengalami patah hati—yang di dalam blog-nya, ia ceritakan sebagai proses yang sangat njelimet dan hampir membuatnya putus asa, meski berakhir dengan bahagia jua. Izzati pun menutup masa studinya di tahun keempat, lalu lanjut menekuni project Penarasa, Suara Dawai, hingga ia akhirnya bekerja di Gojek Indonesia sebagai UX Writer—yang jika Izzati tidak bekerja disana, mungkin aku tidak akan pernah tertarik mencari tahu pekerjaan apakah gerangan UX Writer itu.

Rangkuman prestasi Izzati dalam lima paragraf di atas sebenarnya hanya ringkasan dari seluruh informasi yang bisa kalian temukan dengan mudah di google, karena banyak sekali blog pribadi dan media online yang menulis tentang Izzati, dan semuanya bernada suportif dan apresiatif (alhamdulillah!). Bahkan ada beberapa fans garis keras Izzati yang sengaja membuat fanspage facebook menggunakan namanya dan mengunggah foto-fotonya, hanya untuk membagikan ulang keseharian Izzati dan berbagi kekaguman mereka pada Izzati dengan banyak orang. Kita tentu saja pernah melakukan hal-hal gila selama masa pubertas, dan yang dilakukan fans-fans Izzati ini mungkin salah satu contohnya. Dan aku bersyukur sekali, tidak ada yang membuat patung lilin Izzati untuk disembah beramai-ramai. Tolong. Jangan sampai ada.

Beberapa butir (?) fanspage facebook yang memakai nama Izzati, tapi sebenarnya tidak dikelola Izzati. Harus kita akui, terkadang kita memang gemar melakukan hal-hal absurd saat mengagumi seseorang.

Tajuk tulisan-tulisan tentang Izzati di internet biasanya dibubuhi kata-kata “Izzati, Penulis Cilik yang Tidak Cilik Lagi”. Jika dilihat dari segi kuantitas dan dampak prestasinya, tentu saja ada sangat banyak anak muda lain di Indonesia ini yang jauh lebih ‘berprestasi’ dari Izzati. Dan sejujurnya sejak awal, prestasi-prestasi yang ditorehkan Izzati bukanlah hal yang paling membuatku kagum padanya.

Izzati adalah pribadi yang rendah hati—lagi-lagi, aku bukan orang pertama yang pernah menulis begini tentangnya. Atau, aku lebih suka memakai istilah ini : she has a truly beautiful soul. Jiwa yang cantik dan kemampuan menulis buku di usia delapan tahun, sama sekali bukan bakat alami atau hasil belajar semata. Semua itu adalah buah dari didikan yang tulus dan total dari orangtua Izzati. Sering sekali dalam postingan instagram dan tumblr-nya, Izzati menggambarkan betapa besar jasa orangtua dalam membentuk dirinya yang dikenal semua orang sekarang, dan betapa seringnya ia mendoakan orangtuanya agar selalu sehat dan panjang umur. Jika aku dan Izzati punya 1.000.000.000.000.000 perbedaan, mungkin ini yang paling mencolok. Orangtua Izzati sepertinya adalah orang-orang yang sadar untuk melibatkan langsung anak-anak mereka dalam mengambil keputusan bersama, dan hal tersebut diadaptasi Izzati saat ia dewasa. Ia melibatkan dan menempatkan peran serta orangtuanya saat ia mengambil banyak keputusan. Sebagai umpan balik, orangtuanya memberikan back up mati-matian untuk keputusan apapun yang Izzati ambil, atau hal baik apa pun yang Izzati usahakan. Dan sobat, tidak semua keluarga di dunia ini memiliki kesadaran dan kemampuan koordinasi sebaik itu. Bahkan banyak anak dan orangtua di sekitarku harus melewati hard time(s), bertengkar, merajuk, mendendam, membalas, terluka, lelah, memaafkan, lalu akhirnya berdamai satu sama lain hanya demi untuk memposisikan ulang diri mereka dengan lebih tepat di dalam keluarga. Melirik keluarga Izzati, aku jadi paham model orangtua macam apa yang ingin aku contoh jika nanti aku diberi kesempatan berkeluarga.


 Probably my most favorited pictures of Soekarsono family so far (sumber : instagram srizzati)

Orangtua Izzati tidak hanya mengajari Izzati untuk menjadi baik hati dan cerdas, tapi mendidik Izzati untuk menjadi baik hati dan cerdas. Dan mendidik, seharusnya memang dilakukan dengan memberi teladan, bukan memberi perintah. Ada keterbukaan dan pengertian tak terbatas di antara keduanya, sehingga hubungan anak-orangtua tidak lagi berbentuk rantai komando, tapi berbentuk seutas garis koordinasi halus yang bernama ‘kasih sayang’. Tidak ada keterpaksaan dalam kepatuhan Izzati kepada orangtuanya. Sifat-sifat baik yang Izzati miliki sesungguhnya ia petik dari teladan yang orangtuanya contohkan. Dan bentuk hubungan mereka tersebut, tentu saja adalah privilege tak ternilai yang hanya dimiliki keluarga-keluarga paling beruntung di seluruhdunia, jauh melampaui nilai privelege lain yang bersifat materiil. (Jika Izzati membaca tulisan ini dan bertemu denganku suatu saat nanti, aku harap ia tidak menggamparku karena sudah sotoy luar biasa).

Dalam salah satu postingan blog-nya, Izzati bahkan meminta maaf kepada para pembacanya hanya karena ia hendak menyebut satu kata yang menurutnya kurang sopan. Coba tebak kata apa itu? Congor. Yep. Like, really? Does she even really need to apologize? Dia juga pernah minta maaf karena hendak memakai kata ‘heavy-ass’ dalam salah satu instastory-nya, atau terang-terangan menolak menggunakan kata ‘skripshit’ untuk menyebut skripsinya yang desperatif, karena menurutnya kata-kata tersebut tidak menyenangkan. Aku kenal banyak sekali orang yang tanpa tedeng aling-aling akan menyebut kata-kata lain yang lebih cocok dipakai untuk menyulut emosi, dan mereka bahkan tidak merasa bersalah karenanya—malah mungkin sebenarnya akulah salah satu orang yang kumaksud—dan orang ini malah bilang permisi sebelum bilang congor? Siapa lagi yang bertanggung jawab atas kemuliaan akhlak ini kalau bukan orangtua Izzati?

Di lain kesempatan, Izzati juga pernah menceritakan saat ia ditegur ibunya karena berkata “sayang sekali langitnya mendung, padahal kalau ga mendung pasti lebih cantik”. Ibunya bilang, “Semua ciptaan Allah itu indah, dan bisa jadi mendung yang katanya ga cantik itu, sebenarnya adalah berkah yang dinanti-nantikan sebagian orang”. Izzati pun mingkem dan manggut-manggut. Pelajaran baru baginya. Alamak, alangkah bijaksananya keluarga kecil mereka ini, bahkan dalam menanggapi perkara langit yang mendung. Semoga Allah selalu menjaga orang-orang baik ini dalam iman dan Islam.

Tidak sering aku temukan perempuan yang cerdas yang tidak tinggi hati. Butuh lebih dari sekedar kesabaran level medioker dan lip-service level adiluhung untuk menjadi orang cerdas yang suportif dan apresiatif, even to the one who does not feel to deserve it, dan salah satu dari orang-orang seperti ini adalah Izzati. Dia mampu menciptakan kesan bersahabat tanpa perlu merendahkan diri, namun juga membuat orang segan tanpa perlu membangun jarak. Orang dengan aura serupa yang pernah kutemui langsung adalah Profesor Bernadette, dosen Ekonomi Industri-ku dulu. Di hadapannya, aku merasa bagai Raja Kera Tampan Sun Go Kong saat tengah menghadap Dewi Kwan Im : tunduk, patuh dan jinak. Entah apa akan sama jadinya jika aku bertemu langsung dengan Izzati.

Segala angan-angan panjangku tentang menemui idolaku ini lagi-lagi berujung pada satu pertanyaan yang sama :

Apa benar aku dan Izzati dulu pernah sekelas saat kelas 1 di SD Muhammadiyah 6 Palembang?

Meski aku sejujurnya sudah tidak terlalu peduli lagi tentang jawaban pertanyaan itu, tapi sebagaimana alergi yang kumat, rasa ingin tahu yang dulu pernah ada itu kini kembali muncul, minta digaruk. Maka kuputuskan untuk memastikannya lagi dengan cara yang paling mutakhir dan praktis : menanyai kembali teman-teman SD-ku satu per satu lewat DM instagram.

Berikut aku lampirkan beberapa hasil investigasi (?) dadakanku :

 
Gak bisa disalahin, memang Gandhi ini suka amnesia darisananya *digampar Gandhi*


Yak, lagi-lagi meleset, Bung




"Tiba-tiba nge-DM tengah malem, bukannya nanya kabar dulu malah nanya soal orang lain. Teman macam apa kamu dho??" (Thifal, di dalam pikiranku)



Mulai pesimis, Bung



Izati Mayasipun? Apa itu nama sejenis saus pasta?



Sepertinya kali ini saya yang amnesia, penonton. Ternyata Izzati bukan pindah ke Bandung, tapi ke Surabaya



Aku bahkan mengontak beberapa instagram yang bernama Izzati Ammayasifun, just in case...
(Yha tapi tentu saja DM-nya gak dibalas)



Singkat cerita, setelah gali-gali info sana-sini, akhirnya dapatlah kutarik kesimpulan sebagai berikut :

1.      Nama lengkap teman SD-ku dulu adalah Izzati Ammayasifun
2.      Sri Izzati dan Izzati Ammayasifun adalah dua orang yang berbeda
3.      Izzati pindah ke Surabaya, bukan Bandung (butuh penelitian lebih lanjut)
4.      Dari teman-teman SD-ku, hanya satu orang yang punya cukup banyak kenangan dengan Izzati untuk mengingat tentang Izzati, dan dia satu-satunya pelaku sejarah yang kesaksiannya bisa dianggap valid untuk menjadi landasan pengambilan kesimpulan ini *mendadak ilmiah*
5.      Aku sudah keliru sekali menganggap Sri Izzati adalah teman sekelasku saat SD. Maafkan aku ya, netizen *digampar online berjamaah*
6.      Aku tidak bisa menemukan Izzati Ammayasifun di instagram, karena aku sudah terlanjur mencocokkan wajahnya dengan wajah Sri Izzati saat masih kecil :’) Aku tidak ingat lagi seperti apa rupa Izzati Ammayasifun yang asli *digampar online lagi*
7.      Mau dia teman SD-ku atau bukan, Sri Izzati tetap saja mengagumkan.

Jika kupikir-pikir lagi, kesotoyanku 10 tahun lalu saat mencocok-cocokkan Sri Izzati dengan Izzati Ammayasifun tidak merugikanku sedikit pun—tapi mungkin merugikan orang-orang yang meluangkan waktu membaca blogpost ini hahaha. Justru kesotoyanku itulah yang membujukku untuk membeli buku 2 of Me, yang lalu kemudian membawaku ke dalam pencarian tentang identitas Sri Izzati yang sesungguhnya. Pada gilirannya, siapa sangka, meski aku tidak betulan mengenal Sri Izzati, dialah yang ternyata menggiringku kepada motivasi dan cita-cita baru untuk menulis.

Sekali lagi akan kukatakan, terkadang kita memang hanya perlu memelihara rasa ingin tahu agar tetap cukup ‘bertenaga’ dalam menyongsong hari esok. Dan lihatlah sekarang, aku sungguh bertenaga (metaphorically). Kepalaku tak henti-hentinya kebanjiran ide-ide tulisan baru sejak aku 'menemukan' Izzati. Semoga saja ide-ide tersebut awet dan bisa aku eksekusi dalam waktu dekat.

Jika kuanalogikan dengan sosok lain, rasa kagumku pada Izzati mungkin mirip-mirip seperti rasa kagum para fans Sherina Munaf. Sherina terkenal sejak kecil lewat penampilannya di film “Petualangan Sherina” yang kemudian membuatnya diidolakan oleh anak-anak seumurannya. Lalu para fans-nya tumbuh dewasa, lupa bahwa Sherina juga sebenarnya hidup di linimasa yang sama dengan mereka. Saat Sherina tampil kembali di depan mereka dalam versi dewasanya, para fansnya yang juga sudah dewasa kembali menemukannya, lalu kembali jatuh hati padanya dengan cara yang berbeda. Mereka seolah menemukan kembali mainan kesayangan mereka yang pernah hilang saat mereka masih kecil, terbungkus serpihan debu nostalgia yang kemudian bereaksi keras dengan rasa kagum mereka yang baru, membentuk senyawa baru yang bersifat adiktif. Senyawa baru dari rasa kagum macam itu, mungkin obatnya hanya satu : bertemu dan bertegur sapa langsung dengan ia yang diidolakan. Kurang lebih demikianlah bentuk rasa kagumku pada Izzati. Bedanya, aku mengenalnya lewat tulisan, dan kini aku kembali mengenalnya lewat tulisan juga. Maka alangkah eloknya, kupikir, jika memang aku bernasib bisa berjumpa dan berkenalan dengan Izzati nanti, itu juga karena urusan tulis-menulis. Dan  inilah pangkal sumbu semangatku dalam kembali menulis. Setelah Tere-Liye dan Andrea Hirata, kini penulis Indonesia favoritku yang belum pernah kutemui tinggal Dee Lestari dan Sri Izzati. Semoga saja Allah beri aku umur yang cukup, semangat menulis yang langgeng dan kesempatan yang gemilang untuk menemui mereka kelak, di waktu dan tempat yang tepat.

Untuk sekarang, menulis blogpost tentang Izzati dan menggambar wajahnya adalah dua-duanya hal yang bisa kulakukan untuk mengapresiasi segala motivasi yang—tanpa ia sadari—ia suntikkan kepadaku lewat teladannya dalam berkarya. Aku merasa ia bertanggung jawab untuk motivasi menulisku yang kembali muncul dengan mneggebu-gebu, dan untuk itu, aku harus menyampaikan terima kasihku langsung kepadanya, kontan. Tapi nanti. Sekarang, tugasku hanya berproses, agar hal tersebut menjadi mungkin.

Nah, doakan saya ya, teman-teman! //lari ke Benteng Takeshi


S E L E S A I (mungkin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar