Kamis, 27 Februari 2020

Sumedang, Bukan Hanya Tahu

Image result for ikon sumedang
Kota Sumedang (sumber : disparbnudpora.sumedangkab.go.id

Dalam setiap perjalanan pulang-pergi ke kampus Unsri yang jaraknya 32 KM dari kota tempat tinggalku, Palembang, mataku selalu disuguhi pemandangan yang serupa : tipikal lanskap kehijauan yang berasal dari lebak, rawa-rawa atau perkebunan warga sekitar Jalan Lintas Palembang-Kayuagung, sesekali dilatari beberapa deret ruko dan minimarket yang  biasanya menjual makanan ringan untuk menemani perjalananku. Dan salah satu makanan ringan tersebut, apalagi kalau bukan tahu Sumedang.

Semua orang tentu sudah mafhum dengan reputasi penganan gurih satu ini. Selain dijual pada gerai-gerai di pinggir jalan lintas provinsi, tahu Sumedang juga kerap dijajakan pedagang asongan di banyak terminal dan SPBU yang ada di sekitar Palembang. Aku pun heran, bagaimana bisa penganan sesederhana tahu bisa membawa nama Kabupaten Sumedang yang ada di seberang lautan sana ke Kota Palembang tempatku tinggal? Karena sejujurnya, jika bukan karena tahu Sumedang, mungkin aku tidak akan tahu apa dan dimana gerangan letak daerah yang bernama Sumedang ini.


Plang Kedai Tahu Sumedang di Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. (sumber : foursquare)

Usut punya usut, Sumedang ternyata adalah nama salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Bicara soal Jawa Barat, pikiran semua orang biasanya akan langsung menuju Kota Bandung, Bogor atau Cirebon, bukan Sumedang. Padahal, siapa sangka, Kabupaten Sumedang ternyata merupakan salah satu wilayah administratif yang sudah lama ada di wilayah Jawa Barat, bahkan jauh lebih dulu dari Kota Bandung, sehingga ada banyak jejak sejarah peradaban Pasundan yang menarik untuk ditelusuri di Sumedang. Belum lagi ditambah keindahan alam dan potensi wisatanya yang berlimpah, maka sudah seharusnya Kabupaten Sumedang ini, sebagaimana yang ditargetkan oleh bupatinya, menjadi kabupaten yang maju dan lebih dikenal lewat sektor pariwisatanya.

Apa saja sebenarnya yang membuat kabupaten ini layak dikenal lebih jauh oleh masyarakat Indonesia? Kali ini aku merangkumnya ke dalam beberapa poin, mulai dari sejarah hingga potensi sektor pariwisatanya di masa kini.


Sejarah Singkat Kabupaten Sumedang

Sumedang memiliki sejarah yang tidak singkat. Pada mulanya, Sumedang merupakan sebuah kerajaan yang bernama Tembong Agung, didirikan oleh Prabu Guru Adji Putih yang hidup pada abad ke-14 Masehi di Citembong Girang, Kecamatan Ganeas, Sumedang. Pada gilirannya, Kerajaan Tembong Agung berganti nama menjadi Kerajaan Himbar Buana (secara etimologis berarti menerangi alam), lalu berubah lagi menjadi Sumedang Larang. Konon kata Sumedang berasal dari istilah yang diucapkan oleh Prabu Tadjimalela, penguasa pertama Kerajaan Sumedang Larang, yang berbunyi “Insun Medal”. Terdapat beberapa penafsiran lebih lanjut yang dilakukan beberapa pihak tentang makna Insun Medal. Museum Prabu Geusan Ulun, misalnya, menerjemahkan Insun Medal dari Insun Madangan yang berarti ‘daya terang’. Sementara itu, Prof. Anwas Adiwilaga, berpendapat bahwa Insun Medal berasal dari ‘Sudan Medang’ (Su: bagus dan Medang: sejenis kayu jati yang banyak tumbuh di Sumedang dulu) dan pengertian ini bersifat etimologi. Ada juga yang berpendapat bahwa Insun Medal berarti ‘sesuatu yang tidak ada tandingnya’. Manapun referensinya, Insun Medal kini diabadikan menjadi motto Pemerintah Kabupaten Sumedang.


Image result for insun medal
Logo Kabupaten Sumedang, dengan Motto Insun Medal (sumber : geocities.ws)
Kerajaan Sumedang Larang mencapai kejayaannya di masa kepemimpinan Prabu Geusan Ulun. Pada puncak kejayaannya, Sumedang Larang memiliki daerah kekuasaan yang membujur dari pantai selatan hingga ke pantai utara Pulau Jawa, serta membentang dari Cisadane di barat hingga Kali Brebes di timur. Pada masanya kemudian, Sumedang Larang menjadi anak kerajaan dari Kesultanan Cirebon, yang kemudian berada di bawah kendali Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. Asimilasi budaya Sumedang Larang dan Mataram salah satunya bermuara pada perancangan pusat wilayah Sumedang yang mengikuti pola dasar kota-kota Mataraman lainnya, seperti pembuatan alun-alun kota. Di sisi lain, masuknya pengaruh Mataram ke Sumedang menjadikan Sumedang sebagai salah satu pintu masuk penyebaran ajaran Islam di Bumi Pasundan, selain Cirebon dan Banten. Sumedang juga menjadi pusat pemerintahan yang sangat berpengaruh di Jawa Barat, sebelum akhirnya Kota Bandung dibangun pada abad ke-19 oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Wilayah Kabupaten Sumedang terdiri dari gugusan dataran tinggi, dengan Gunung Tampomas sebagai puncak tertinggi di Kabupaten Sumedang. Sumedang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di sebelah utara, Kabupaten Majalengka di sebelah timur, Kabupaten Garut di selatan, serta Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang di sebelah barat. Sumedang juga dilintasi oleh Jalan Nasional Bandung-Cirebon, sehingga letaknya cukup strategis dan banyak dilalui oleh masyarakat. Kondisi tersebut cukup mendukung Sumedang untuk menjadi destinasi wisata bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang bermukim di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.
WISATA SEJARAH DAN EDUKASI DI SUMEDANG

Lingga dan Alun-alun Sumedang

Lingga di Alun-alun Sumedang (sumber : travelblog.id)

Sumedang memiliki ciri khas kota kuno di Pulau Jawa, yaitu adanya alun-alun sebagai pusat kota yang dikelilingi Masjid Agung, rumah penjara dan kantor pemerintahan. Di tengah alun-alun kota terdapat bangunan yang bernama Lingga, yaitu tugu peringatan yang dibangun pada tahun 1922 oleh Pangeran Siching dari Belanda yang dipersembahkan untuk Pangeran Aria Soeria Atmadja atas jasa-jasanya dalam mengembangkan Kabupaten Sumedang. Hingga saat ini, Lingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Sumedang dan tanggal 22 April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang.

Kini, alun-alun Sumedang memainkan peran yang serupa dengan Kota Tua Jakarta atau Alun-alun Semarang, yaitu sebagai titik kumpul bagi masyarakat maupun turis yang menyambangi Kabupaten Sumedang. Di sekitar alun-alun Sumedang, siapapun bisa dengan mudah menemukan kuliner khas Sumedang, seperti Soto Bongko. Selain itu, alun-alun Sumedang juga dapat menjadi titik awal untuk mempelajari sejarah Sumedang bagi turis dari luar wilayah Sumedang, karena letaknya yang berada tepat di tengah Kabupaten Sumedang dan berdekatan dengan objek-objek bangunan bersejarah lainnya.

Museum Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun pada awalnya dibentuk oleh Yayasan Pangeran Sumedang (YPS), yaitu lembaga yang mengurus, memelihara dan mengelola barang-barang wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja yang dulu menjabat Bupati Sumedang pada periode 1882 –1919.


Image result for museum geusan ulun
Tampak salah satu bangunan Museum Prabu Geusan Ulun (sumber : situsbudaya.id)
Museum ini pada awalnya bernama Museum Wargi-YPS yang didirikan pada tahun 1973 dan hanya dibuka untuk kalangan para wargi, yaitu keturunan dan seketurunan leluhur Pangeran Sumedang saja. Pada tahun 1974, Seminar Sejarah Jawa Barat sempat digelar di Sumedang. Seminar yang dihadiri ahli-ahli sejarah Jawa Barat tersebut menjadi momentum bagi YPS dan wargi keturunan dan seketurunan leluhur Pangeran Sumedang untuk mengganti nama museum tersebut menjadi Museum Prabu Geusan Ulun, yang menggunakan nama raja terakhir dari Kerajaan Sumedang Larang.
Hingga kini, Museum Prabu Geusan Ulun masih aktif beroperasi dan memamerkan berbagai jenis koleksi benda bersejarah mereka, meliputi koleksi objek-objek geologi, arkeologi, antropologi hingga filologi. Koleksi andalan Museum Prabu Geusan Ulun adalah Mahkota Binokasih dan Siger emas peninggalan langsung dari Raja Prabu Geusan Ulun yang berkuasa pada 1578 – 1601 masehi.



Image result for mahkota binokasih sumedang
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, salah satu koleksi andalan Museum Prabu Geusan Ulun (sumber : wikipedia)
Selain memajang inventaris peninggalam kerajaan Sumedang Larang, Museum Prabu Geusan Ulun juga berperan memelihara nilai budaya Sumedang lewat pengadaan pelatihan tari klasik, silat dan gamelan untuk anak-anak dan remaja setempat. Pihak museum juga rutin mengadakan Kirab Pusaka Leluhur Sumedang tiap tahunnya menjelang Bulan Maulud.


WISATA ALAM DI SUMEDANG
Bendungan Jatigede

Wacana pembangunan Bendungan Jatigede sebenarnya sudah ada sejak masa pendudukan Belanda di Sumedang. Rencana pembangunannya baru kembali menyeruak pada tahun 1963, tenggelam lagi, lalu muncul lagi pada tahun 2008, dimana bendungan ini akhirnya benar-benar mulai dibangun. Pembangunan bendungan ini menelan total dana mencapai US$ 467 juta.
Meski biaya pembangunannya amat mahal, bendungan dengan luas area 3035,34 hektar ini sukses menjadi bendungan terbesar kedua di Indonesia dan Asia Tenggara. Bendungan Jatigede menggenangi empat kecamatan di Sumedang, yaitu Kecamatan Jatigede, Kecamatan Jatinunggal, Kecamatan Wado dan Kecamatan Darmaraja, serta‎mampu mengairi lahan seluas 90.000 hektar, meliputi 24 kecamatan di Kabupaten Indramayu, Majalengka dan Cirebon. Bendungan Jatigede juga digunakan sebagai sarana penyediaan air baku, media pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas terpasang 110 MW dan produksi listrik rata-rata 580 GWH/tahun dan sebagai pengontrol banjir di daerah sekitar sungai Cimanuk bagian hilir seluas 14.000 hektar.


Image result for bendungan jatigede
Bendungan Jatigede (sumber : Nufus Nita Hidayati/ANTARA)
Selain memiliki manfaat teknis, Waduk Jatigede juga menawarkan keindahan alam yang terbentuk akibat proses penggenangan. Puncak-puncak bukit, seperti Tanjung Duriat yang berada di area genangan berpadu dengan hamparan air menciptakan pemandangan yang indah. Keindahan latar tersebut menjadikan Bendungan Jatigede sebagai situs pariwisata potensial bagi Sumedang.

Bendungan Jatigede juga kerap menjadi lokasi penyelenggaraan HardFest Pesona Jatigede, festival budaya dan pariwisata tahunan yang diselenggarakan pemerintah setempat dan Disbudpar Jawa Barat untuk mempromosikan potensi pariwisata Sumedang bagi turis lokal maupun mancanegara. Tahun ini, HardFest secara khusus bertujuan mendukung kampanye promosi  Bendungan Jatigede sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) potensial Jawa Barat di masa mendatang. Jika Bendungan Jatigede berhasil menjadi KEK, maka ia akan menjadi KEK pertama yang dimiliki Provinsi Jawa Barat.

Perkebunan Teh di Sumedang Selatan

Mengingat topografi wilayahnya yang tinggi, tidak mengherankan jika Sumedang memiliki banyak kebun teh. Pemandangan hijau kebun teh salah satunya dapat dijumpai di wilayah perkebunan teh Margawindu, di Perbukitan Margawindu, Desa Citengah. Perkebunan teh peninggalan Belanda ini berada di sisi selatan pusat Kabupten Sumedang dan dapat dicapai dalam kisaran waktu tempuh hanya 45 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Jalan menuju Perkebunan Margawindu juga melalui tempat wisata lain, seperti Wisata Air Cibingbin dan Air Terjun Cigorobog.


Image result for kebun teh margawindu
Pemandangan di Perkebunan Teh Margawindu (sumber : sumedangtandang.com)
Selain Margawindu, kebun teh lainnya di Sumedang juga dapat ditemui di wilayah Cibubut dan Cisoka, Sumedang Selatan. Sebagian besar kebun teh di Sumedang dimiliki dan dikelola oleh warga, sehingga tidak dibutuhkan tiket untuk masuk dan menikmati pemandangannya dari dekat. Kondisi tersebut juga dapat dijadikan alasan untuk menjalin interaksi antara turis dan warga setempat yang mengelola kebun teh tersebut.


Taman Hutan Raya Gunung Kunci

Jawa Barat memiliki tiga Taman Hutan Raya (Tahura), yakni Tahura Djuanda di Bandung, Tahura Pancoran Mas di Depok, serta Tahura Gunung Kunci dan Gunung Palasari di Sumedang. Tahura Gunung Kunci terletak berdampingan dengan Tahura Gunung Palasari dan hanya dipisahkan jalan raya. Meski disebut ‘gunung’, Tahura Gunung Kunci sebenarnya hanya berupa sebuah bukit kecil. Di dalam kawasan Gunung Kunci, terdapat bangunan bersejarah berwujud  sebuah benteng pertahanan yang dulunya dibangun Pemerintah Kolonial Belanda.

Image result for gunung kunci
Taman Hutan Raya Gunung Kunci, Sumedang (sumber : gpswisataindonesia.info)
Tahura Gunung Kunci sudah dijadikan objek wisata alam yang dikelola oleh Perum Perhutani sejak tahun 2004. Tahura dengan luas 3,67 hektar ini bersebelahan dengan kawasan Gunung Palasari yang luasnya 31,22 hektar. Konon, Belanda membangun benteng pertahanan di Gunung Kunci untuk mengawasi kegiatan pemerintahan pribumi, mengingat posisi benteng Gunung Kunci yang langsung menghadap ke arah alun-alun Sumedang dari puncak bukit.
Dalam catatan sejarah, benteng Gunung Kunci disebut Pandjoenan. Namun masyarakat sekitar mengenalnya sebagai Gunung Kunci. Mungkin merujuk pada simbol kunci dan tulisan G. Kuntji pada muka goa.

Hingga kini, gua tempat pertahanan yang ditinggalkan Belanda masih ada dan dapat dimasuki pengunjung Tahura Gunung Kunci. Namun sayang, kerusakan konstruksinya membuat bagian dalam gua tersebut menjadi gelap dan lembab. Warga setempat percaya kerusakan gua tersebut terjadi karena Belanda sengaja menghancurkannya saat penjajah Jepang menduduki Sumedang, namun ada versi cerita lain yang menyatakan bahwa gua tersebut rusak karena serangan Jepang.

Image result for gunung kunci
Pintu Masuk ke benteng yang ada di Gunung Kunci (sumber : radarcirebon.com)
Tahun 2019 lalu, beberapa investor sempat melirik potensi pengembangan Tahura Gunung Kunci menjadi situs wisata alam, karena terlepas dari keberadaan bentengnya, Gunung Kunci menawarkan pemandangan hijau yang asri dari puncak bukitnya. Peluang tersebut dapat diambil dan dimanfaatkan Pemkab Sumedang untuk mengembangkan objek wisata tahura yang lebih modern, namun tetap mempertahankan kealamian dan keasriannya.


Wisata Air Terjun (Curug)


Image result for air terjun cigorobog
Pemandangan Curug Cigorobog (sumber : qupas.id)
Kondisi geografis Sumedang yang dikepung dataran tinggi memberikan Sumedang banyak wisata alam yang spektakuler. Salah satunya adalah wisata curug atau air terjun. Terdapat setidaknya 10 wisata air terjun populer di seluruh Kabupaten Sumedang, antara lain Curug Cinulang, Curug Dipongkor, Curug Cigorobog, Curug Sabuk, Curug Ciputrawangi, Curug Gorobog, Curug Ciwalur, Curug Kencana, Curug Cihonje dan Curug Cigarugak.


Gunung Tampomas

Pada awalnya, Gunung Tampomas dikenal penduduk sekitar dengan nama Gunung Gede. Gunung Tampomas diulas di dalam naskah kuno Bujangga Manik yang ditulis pada abad ke-15. Nama ‘tampomas’ konon mulai digunakan sejak kejadian meletusnya gunung tersebut pada masa silam. Mengetahui bencana yang mungkin ditimbulkan letusan gunungnya, seorang pangeran dari Kerajaan Sumedang Larang menaiki puncak gunung tersebut dan menancapkan kujang emas miliknya di puncak gunung tersebut. Sejak saat itulah, nama ‘tampomas’ yang berarti ‘menerima emas’ digunakan untuk menyebut Gunung Tampomas.

Image result for gunung tampomas
Gunung Tampomas alias Gunung Gede (sumber : radarcirebon.com)

Selain itu, berbagai legenda klenik lainnya turut mewarnai kisah tentang Gunung Tampomas. Prabu Siliwangi, salah satu raja Kerajaan Pajajaran konon pernah melakukan pertapaan di Gunung Tampomas. Legenda tesebut kerap dikait-kaitkan warga sekitar dengan keberadaan beberapa situs bebatuan yang ada di Gunung Tampomas, seperti Batu Kasur yang dipercaya sebagai tempat beristirahat Prabu Siliwangi dalam bertapaannya.

Puncak Gunung Tampomas berada di ketinggian 1.684 meter di atas permukaan laut, menjadikannya dataran tertinggi yang ada di Kabupaten Sumedang. Terlepas dari segala kisah-kisah mistis yang menyertainya, Gunung Tampomas adalah destinasi wisata alam yang sayang sekali dilewatkan siapapun yang mengunjungi Sumedang, terutama turis yang menggemari olahraga hiking. Pemandangan Kota Sumedang dapat terlihat jelas dari puncak Gunung Tampomas. Kondisi hutannya yang masih asri dan udaranya yang bersih menawarkan alternatif baru dalam menikmati indahnya alam Sumedang.


WISATA KULINER DI SUMEDANG

Soto Bongko
Selain wisata alamnya yang mempesona, Sumedang juga diperkaya dengan keberadaan kuliner khasnya. Sebagaimana wilayah lain di Jawa, Sumedang pun memiliki soto khasnya sendiri yang dinamai Soto Bongko. Nama bongko sendiri berarti ‘gumpalan besar’, mengacu pada lontong berukuran jumbo yang menjadi komposisi utamanya. Secara umum, soto bongko yang dijual di Sumedang dibuat dari paduan lontong, tahu, taoge rebus, bawang goreng dan kuah kari kental yang gurih. Penikmat soto bongko juga dapat menambahkan kecap manis sesuai selera. Soto bongko yang dapat dengan mudah ditemui di sekitar alun-alun Sumedang dan Pasar Sumedang ini biasanya disajikan dengan kerupuk emping dan sambal sebagai pelengkap.


Image result for soto bongko sumedang
Soto Bongko khas Sumedang, dengan kupat tahu dan kuah kari kental (sumber : rancahpost.com)
Salah satu warung soto bongko yang ramai dikunjungi pembeli adalah warung Soto Bongko Rusnandar yang ada di Pasar Sumedang. Kepada pembelinya yang tidak suka kuah santan, Rusnandar juga menawarkan soto bongko dengan kuah kacang. Kuliner ini biasanya disantap sebagai sarapan, namun tidak jarang juga warga Sumedang menikmatinya untuk makan siang.

Kopi Sumedang
Sebagai wilayah dengan topografi dataran tinggi, tidak mengherankan jika Sumedang memiliki produk kopi arabikanya sendiri. Bahkan di masa lampau, kopi Sumedang sempat diekspor ke Negeri Kincir Angin, Belanda. Meski demikian, kini pamor kopi Sumedang tidak lagi mentereng. Penggemar kopi dari seluruh Indonesia lebih mengenal produk kopi Gayo dan Toraja. Bahkan banyak pengunjung Sumedang yang tidak mengetahui bahwa Sumedang memiliki komoditas kopi andalannya sendiri.
Image result for kopi sumedang
Ilustrasi kopi arabika Sumedang (sumber : trubus.id)
Tahun lalu, KBRI Pretoria bekerjasama dengan PT. Pupuk Kujang mendatangkan Kopi Geulis, UMKM dari Kota Sumedang untuk mengikuti salah satu pameran kopi dan cokelat terbesar di dunia yang sudah ketujuh kalinya diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan. Pameran ini setiap tahunnya berhasil menarik minat kurang lebih 30.000 pengunjung dan diikuti oleh lebih dari 230 peserta yang berasal dari industri hospitality, coffee maker manufacturer dan restoran. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan dalam  memperkenalkan kembali kopi Sumedang kepada pasar internasional. Selain itu, Kopi Geulis Kopi Sumedang juga memenangkan predikat gold untuk tingkat nasional pada Agroofood & Halal Expo 2019 di Senayan, Jakarta.

Tak dinyana, Kabupaten Sumedang sebenarnya adalah salah satu dari empat sentra penghasil kopi arabika di Jawa Barat sejak perkebunan kopi didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Kota Sumedang juga berusaha mengejar ketertinggalan tersebut dengan membuka Jurusan Kopi di salah satu sekolah kejuruan di daerahnya, sekolah pertama dan percontohan di Indonesia.
Produksi kopi yang dihasilkan masyarakat Sumedang dalam setahun rata-rata tidak kurang dari 300 ton. Namun, 95% produksi kopi Sumedang dijual petani secara gelondongan ke luar daerah hingga mancanegara dengan harga Rp. 6500/kg (matang dari kebun). Harga jual tersebut berada jauh di bawah harga jual olahan roasting kopi tersebut yang dapat mencapai Rp. 200.000/kg.

Demi meningkatkan nilai tambah komoditas kopi, kesejahteraan petani kopi dan kemajuan industri kopi Sumedang, pemerintah dapat mengambil langkah strategis, dimulai dengan pengenalan kembali kopi Sumedang bagi masyarakat Sumedang itu sendiri. Pengenalan tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langkah awal yang sederhana, seperti mengganti produk kopi kemasan yang biasa diminum di lingkungan dinas dan pemerintahan Kabupten Sumedang dengan kopi arabika Sumedang yang diproduksi langsung oleh petani kopi Sumedang. Sementara di sisi hulu industri kopi, pemerintah dapat memfasilitasi petani kopi dalam mencari pasar yang sesuai, serta meningkatkan kapasitas mereka untuk dapat menjual produk kopi dalam kemasan dan cap dagangnya sendiri, sehingga nilai tambah produk kopi Sumedang dapat menjadi lebih tinggi.


Image result for kopi sumedang
Kopi Geulis, salah satu produk UMKM andalan Sumedang dalam pameran produk kopi dan cokelat di Johannesburg, Afrika Selatan, tahun 2019 lalu (sumber : kastara.id)

Saat ini, sudah banyak pengusaha yang berusaha memperkenalkan kembali kopi Sumedang dengan membuka kedai kopi di wilayah Kabupaten Sumedang. Contohnya adalah Kedai Kopi 151 di Jalan Prabu Geusan Ulun No.151 dan Waroeng Kopi Boehoen di Jalan Mayor Abdurrahman nomor 138, Sumedang.

Tahu Sumedang
Kuliner Sumedang yang paling populer tentu saja adalah tahu Sumedang. Tahu goreng gurih yang biasa disajikan dengan sambal petis ini pada awalnya dijual oleh keluarga imigran Tiongkok di Sumedang di bawah naungan nama ‘Tahu Bungkeng’.


Image result for tahu bungkeng
Tahu sumedang goreng (sumber : ksmtour.com)
Sejarah kepopuleran Tahu Bungkeng dimulai sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1917.  Seorang warga keturunan Tionghoa, Ong Kino, pada mulanya mengolah tahu goreng untuk dinikmati bersama kerabat terdekatnya saja. Namun pada suatu ketika, saat Ong Kino sedang menggoreng tahu di depan rumahnya, Bupati Sumedang, Pangeran Aria Soeria Atmadja kebetulan sedang berlalu di depan rumahnya dengan mengendarai sebuah dokar. Penasaran dengan apa yang dimasak Ong Kino, Sang Bupati pun berhenti di depan rumah Ong Kino dan mencicipi tahu buatannya. Sang Bupati, yang konon perkataannya bertuah dan kerap jadi kenyataan, ternyata menyukai penganan berbahan baku kedelai tersebut. Sang Bupati pun menyarankan agar Ong Kino menjual dan memasarkan tahu tersebut, karena menurut Sang Bupati, tahu tersebut pasti akan laku keras. Semenjak saat itu, Ong Kino mulai menjual tahu Sumedang dengan nama Tahu Bungkeng, dan dagangannya selalu ramai dirubung pengunjung.

Hingga kini,kedai Tahu Bungkeng masih beroperasi di Sumedang, tepatnya di Jalan Sebelas April No. 53, Kotakaler, Kecamatan Sumedang Utara. Usaha yang berusia lebih dari 100 tahun itu kini diteruskan oleh Suriadi, cucu dari Ong Kino. Meski kini ada banyak gerai tahu Sumedang lain yang berjualan di seluruh Sumedang dan Indonesia, Suriadi tidak ambil pusing. Ia dan usahanya hanya berfokus dalam menjaga keaslian dan kelezatan citarasa resep tahu yang diwariskan keluarga kakeknya. Suriadi pun kerap turun tangan dalam mengolah langsung dagangannya, mulai dari perendaman kedelai hingga proses penggorengan.


Image result for tahu bungkeng
Suasana di Kedai Tahu Bungkeng Sumedang yang tengah ramai dijunjungi pembeli (sumber : rajarasa.id)

Selain rasanya yang gurih, tekstur tahu Sumedang juga unik karena renyah di bagian luar, namun empuk di dalam. Keunikan lainnya juga terdapat dalam pengemasannya. Tahu Sumedang yang dijual dalam jumlah besar biasanya dikemas dalam wadah anyaman bambu yang bernama bongsang, semacam keranjang yang dapat menampung 25 hingga 100 buah tahu. Harganya pun terjangkau. Satu porsi tahu Sumedang yang berisi 20 tahu umumnya hanya dihargai Rp. 10.000.


Keindahan alam, keragaman kuliner dan dalamnya jejak sejarah yang ada di Sumedang menjadikan Kabupaten di Jawa Barat ini sebagai destinasi wisata potensial di masa mendatang, baik bagi turis lokal maupun mancanegara. Sudah saatnya semua orang melirik Sumedang, bukan hanya karena tahunya, tapi karena seluruh hal yang bisa ditawarkan Sumedang selain tahunya yang gurih dan menggoda. Karena sebagaimana tahu Sumedang itu sendiri, Kabupaten Sumedang seperti menunggu untuk dicicipi.



REFERENSI :

https://beritabaik.id/read?editorialSlug=gallery-foto&slug=1544662858660-pesona-keindahan-waduk-jatigede-sumedang

http://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php/patanjala/article/view/276/222

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sumedang

https://jurnalbumi.com/blog/taman-hutan-raya-gunung-kunci/

https://kemlu.go.id/portal/id/read/495/berita/indonesia-perkenalkan-kopi-sumedang-dalam-pameran-kopi-cokelat-terbesar-di-afrika

http://sumedangtandang.com/sumedang/profil/sejarah.html

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/fupload/Profil%20Museum%20Prabu%20Geusan%20Ulun%20Sumedang.pdf

https://www.genpi.co/travel/7380/menguak-fakta-tersembunyi-gunung-tampomas

http://www.indramayujeh.com/berita-terbaru/sumedang-miliki-biji-kopi-terbaik/

https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/kuliner/15/11/13/nxqjwk365-sejarah-lahirnya-tahu-sumedang

https://www.wartakini.co/2016/12/sudut-indah-kota-sumedang-sang-insun-medal


Thresnawaty S., Euis. (2011). Sejarah Kerajaan Sumedang Larang. Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Patanjala , Vo.3, No.1 : 154-168

Jumat, 06 Desember 2019

Pengaruh Motivasi Sri Izzati Terhadap Kecepatan A. Redho Nugraha dalam Menemukan Kembali Cita-cita di Tengah Quarter Life Crisis (Sebuah Blogpost Penutup)


Ilustrasi Sri Izzati dan Dimi, biola kesayangannya (sumber : arsip pribadi)

Ini blogpost ketigaku tentang Izzati.

Mungkin setelah aku bilang begitu, akan ada di antara kalian yang mulai berpikir kalau aku freak -_- but i won’t mind it.

Ingat kan apa yang dulu kubilang tentang pentingnya rasa ingin tahu? (Ingat dong. Ya kan? Plys) Terkadang kita hanya perlu memelihara rasa ingin tahu agar tetap cukup ‘bertenaga’ dalam menyongsong hari esok. Rasa ingin tahu adalah bahan bakar dalam menjalani hidup yang penuh ketidakpastian. Rasa ingin tahu tersebut bisa saja muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan liar seperti : bagaimana rasanya makan salju puncak Gunung Kilimanjaro yang dicampur sirup Marjan? Berapa lama waktu yang akan kuhabiskan jika mau mengelilingi Indonesia dengan bersepeda? Bagaimana rasanya tinggal di negara dengan empat musim? Dan bagiku dulu (juga belakangan ini), rasa ingin tahuku tengah berkitar pada sosok bernama Izzati.

Ada batas keras yang memisahkan antara kagum dan mengidolakan, dan sejujurnya, aku tidak gampang mengidolakan seseorang. Tapi jika kalian selesai membaca tulisan ini dan langsung browsing tentang Sri Izzati, mungkin kalian akan paham betapa mudahnya mengidolakan sosok satu ini. Dan di Indonesia Raya ini, aku bukan satu-satunya anak manusia yang mengidolakan Izzati.

Oh, tentang skripsiku? Tentu saja akhirnya skripsi itu menyelesaikan dirinya sendiri (bohong). Ternyata dibutuhkan sangat banyak dorongan dan motivasi untuk meledakkan jalan keluar dari terowongan gelap bernama low self-esteem. Kalau kalian tanya apa penyesalanku saat menamatkan kuliah di masa 5 tahun 8 bulan, kurasa inilah salah satunya : kenapa tidak kukerjakan skripsiku sejak dulu, saat teman-teman dekatku belum tamat semua? Ternyata skripsi, serta beberapa bentuk lainnya dari cobaan hidup ini dapat jauh lebih cepat dituntaskan jika dikerjakan bersama-sama teman. Ini adalah anti-tesis dari kalimat bijak “If you want to go fast, go alone, but if you want to go far, go together”. I go alone, yet, i am still slow. Mungkin memang tidak seharusnya aku selalu memegang teguh kata-kata bijak yang kutemukan secara random dari internet.

Maka setelah keluar dari terowongan, terbentanglah jagad luas tak terbayangkan di depanku. A whole new world, kalau kata Aladdin. Kartu Pengenal Mahasiswaku kuserahkan kepada Rektorat Unsri, dan resmilah aku menjadi pengangguran, kondisi yang takut kuhadapi selama ini. Tapi alhamdulillah, aku belajar mengatasinya. Hanya orang-orang gesit, anak-anak orang kaya dan orang-orang bernasib baik yang bisa langsung berjaya setelah tamat kuliah, dan aku akhirnya belajar menerima bahwa aku bukan salah satu dari orang-orang itu. Menganggur adalah kondisi temporer, batinku. Dan siapa sangka, setelah mampu berdamai dengan diri sendiri, all iz well. Aku bisa berpikir lebih lurus dan jernih dalam merencanakan langkahku berikutnya. Ternyata berdamai dengan diri sendiri bisa seindah itu.

Di tengah padang sabana tersebut, aku menemukan banyak titik bifurkasi. Salah satunya adalah pilihan retoris : cari tantangan atau kemapanan? Masa depan begitu tidak pasti, sobat. Baru tahun lalu dr. Ryan Thamrin meninggal karena maag kronis di usia 39, dalam keadaan bujang, sehingga ibunya lah yang merawatnya selama sakit. Tak bisa kubayangkan kalau kemalangan serupa menimpaku di usia 30-an dan jika aku sudah tidak punya orangtua lagi. Maka tentu aku harus bisa mengurus diriku sendiri dengan menggunakan tabungan yang bejibun, dan itu berarti aku harus mapan terlebih dulu sebelum sakit. Ini hanya salah satu skenario buruk dari kumpulan skenario buruk lainnya ya, sobat, tolong jangan diaminkan. Toloong (nodong pistol).

Meski demikian, sulit kubayangkan aku akan menghabiskan seumur hidupku, banting-tulang bekerja di lingkungan kantor pemerintahan atau perusahaan swasta, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hampir tidak berhubungan langsung dengan kebahagiaanku. Lalu setelah aku punya duit ekstra yang tidak tahu mau aku apakan lagi, aku mungkin akan memberangkatkan haji kedua orangtuaku (yang ini silakan diaminkan), menikah, membangun keluarga seperti orang lain pada umumnya, kemudia hidup menggantungkan diri pada pesangon pensiun yang cair setiap bulan setelah anak-anakku sudah mandiri. Betapa monoton dan teraturnya. Betapa tidak spesialnya.

Aku lebih doyan membayangkan skenario yang ini : Aku menghidupi diri lewat menulis apa saja, mulai dari cerpen di majalah sastra, opini di koran, artikel di media online, buku kumcer dan kumpulan sajakku sendiri, lalu menabung uangnya untuk membeli kamera baru, kemudian mendaftar kelas fotografi dan melamar menjadi fotografer media online atau LSM yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Tentu saja itu baru bagian indah-indahnya saja, belum termasuk risiko terkena serangan jantung atau penyakit kronis lainnya di usia 30-an dan terpaksa harus pensiun dini, atau risiko diterkam harimau sumatera saat sedang meliput di Taman Nasional Sembilang. Hidup jadi freelancer bagai hidup seperti bangsa Viking : bebas, liar, natural, all you can eat, hanya saja dengan risiko membujang sepanjang karier karena dipandang sebelah mata oleh calon mertua. Sungguh opportunity cost yang sangat telak bagi tuna asmara seumur hidup macam aku.

“Oh, kenapa pula harus memilih salah satu? Tidak bisakah aku menjalani dua macam karier?”

Pertanyaan di atas berasal dari lubuk hatiku yang terdalam, dan itu, adalah bukti bahwa betapa Tuhan sebenarnya sudah bersifat Maha Adil, tapi sebenarnya manusialah yang selalu tamak akan pilihan.

But if you think again, bukankah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya ada dalam pertanyaan itu sendiri?

Kenapa pula harus memilih salah satu? Iya, kenapa?

Tidak bisakah aku menjalani dua macam karier? Siapa bilang tidak bisa?

Mungkin saja, sebenarnya aku tak perlu memilih salah satu sejak awal. Aku bisa memilih dua-duanya, kerja di kantoran dan tetap menulis. Iya, tidak mustahil. Akan sangat sulit sebenarnya, tapi tidak mustahil.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak berbelok ke kanan atau ke kiri, tapi tetap berjalan lurus. Sepertinya aku mau jadi pegawai kantoran yang menulis novel saja.

- - - - - - - -

Mungkin sejak blogpost sebelumnya, kalian bertanya-tanya dalam hati, apa sih sebenarnya hubungan antara quarter life crisis-ku dan Sri Izzati? Well, as much as i can relate, EVERYTHING.

Bisa dibilang, minat menulisku—termasuk di blog ini yang sempat kuterlantarkan hampir satu tahun—kembali bangkit setelah aku mencari tahu kembali tentang Sri Izzati.

Penulis KKPK? Pemegang rekor MURI? Itu semua baru stepping stone awal Izzati. Kenyataannya, setelah aku menyimpan buku 2 of Me di lemariku 10 tahun yang lalu, Izzati tidak pernah berhenti membuat orang-orang di sekitarnya terkejut dan kagum. Izzati terus menulis dan menerbitkan buku hingga ia kelas X SMA. Ia lalu ikut serta dalam pertukaran pelajar ke Waupaca, Negara Bagian Wisconsin, Amerika Serikat, lewat program Rotary Young Exchange. Ia masuk kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 2013, lalu menerima penghargaan “Young Inspiring Writer” dari Penerbit DAR! Mizan di tahun yang sama. 

Tahun berikutnya, ia kembali menerbitkan buku, kali ini buku teenlit berjudul “Satu Keping” yang meski memperoleh review yang nadanya beragam di Goodreads, tapi sukses menjadi obat rindu bagi fans Izzati di seluruh Indonesia (sayang sekali aku baru tahu soal buku ini lima tahun setelahnya :’) )

Buku terbaru Sri Izzati yang terbit tahun 2014 lalu. Aku belum punya sih *terus?*
*yha siapa tau ada yang mau beliin*

Izzati juga punya grup musik instrumental sendiri semasa ngampus, namanya Suara Dawai. Dan coba tebak alat musik apa yang ia mainkan? Biola! Jika kalian perempuan, muslim, cerdas, hapal Pancasila, taat pada orangtua dan pandai bermain biola, itu saja sudah cukup untuk membuatku bertekuk lutut. Dan Izzati punya semua itu.

Prestasi pamungkasnya di bangku kuliah mungkin adalah saat Izzati menjadi Duta Bahasa Jawa Barat tahun 2016. Ia dan Alvian Rifaldhi Yasin, alumnus UPI, sukses menjadi perwakilan Jabar dalam ajang Duta Bahasa Indonesia. Tentu saja predikat duta bahasa hanya disematkan kepada mereka yang punya kontribusi khusus bagi dunia literasi, dan kontribusi Izzati bagi dunia literasi mewujud dalam sebuah project bernama penarasa.id—silakan searching sendiri, surprise yourself. Tak jarang Izzati juga berkolaborasi dengan anak muda lain yang produktif dan influental dalam project-nya, salah satunya Andhyta F. Utami atau yang biasa disebut teman-teman indie-ku dengan nama Afutami, alumnus Harvard Kennedy School dan konsultan World Bank di bidang makroekonomi—silakan  searching sendiri, surprise yourself (2).

Berbeda denganku, sebelum mengerjakan skripsi, Izzati sudah tahu persis apa yang hendak ia teliti sebagai tugas akhirnya. Aku sendiri belum paham kenapa Izzati seolah memiliki kesan khusus dengan kisah patah hati, namun sepertinya kegelisahannya akan hal tersebut bermuara secara produktif lewat tugas akhirnya. Ia meneliti tentang pengaruh writing therapy terhadap kondisi emosional mahasiswa-mahasiswi UI yang mengalami patah hati—yang di dalam blog-nya, ia ceritakan sebagai proses yang sangat njelimet dan hampir membuatnya putus asa, meski berakhir dengan bahagia jua. Izzati pun menutup masa studinya di tahun keempat, lalu lanjut menekuni project Penarasa, Suara Dawai, hingga ia akhirnya bekerja di Gojek Indonesia sebagai UX Writer—yang jika Izzati tidak bekerja disana, mungkin aku tidak akan pernah tertarik mencari tahu pekerjaan apakah gerangan UX Writer itu.

Rangkuman prestasi Izzati dalam lima paragraf di atas sebenarnya hanya ringkasan dari seluruh informasi yang bisa kalian temukan dengan mudah di google, karena banyak sekali blog pribadi dan media online yang menulis tentang Izzati, dan semuanya bernada suportif dan apresiatif (alhamdulillah!). Bahkan ada beberapa fans garis keras Izzati yang sengaja membuat fanspage facebook menggunakan namanya dan mengunggah foto-fotonya, hanya untuk membagikan ulang keseharian Izzati dan berbagi kekaguman mereka pada Izzati dengan banyak orang. Kita tentu saja pernah melakukan hal-hal gila selama masa pubertas, dan yang dilakukan fans-fans Izzati ini mungkin salah satu contohnya. Dan aku bersyukur sekali, tidak ada yang membuat patung lilin Izzati untuk disembah beramai-ramai. Tolong. Jangan sampai ada.

Beberapa butir (?) fanspage facebook yang memakai nama Izzati, tapi sebenarnya tidak dikelola Izzati. Harus kita akui, terkadang kita memang gemar melakukan hal-hal absurd saat mengagumi seseorang.

Tajuk tulisan-tulisan tentang Izzati di internet biasanya dibubuhi kata-kata “Izzati, Penulis Cilik yang Tidak Cilik Lagi”. Jika dilihat dari segi kuantitas dan dampak prestasinya, tentu saja ada sangat banyak anak muda lain di Indonesia ini yang jauh lebih ‘berprestasi’ dari Izzati. Dan sejujurnya sejak awal, prestasi-prestasi yang ditorehkan Izzati bukanlah hal yang paling membuatku kagum padanya.

Izzati adalah pribadi yang rendah hati—lagi-lagi, aku bukan orang pertama yang pernah menulis begini tentangnya. Atau, aku lebih suka memakai istilah ini : she has a truly beautiful soul. Jiwa yang cantik dan kemampuan menulis buku di usia delapan tahun, sama sekali bukan bakat alami atau hasil belajar semata. Semua itu adalah buah dari didikan yang tulus dan total dari orangtua Izzati. Sering sekali dalam postingan instagram dan tumblr-nya, Izzati menggambarkan betapa besar jasa orangtua dalam membentuk dirinya yang dikenal semua orang sekarang, dan betapa seringnya ia mendoakan orangtuanya agar selalu sehat dan panjang umur. Jika aku dan Izzati punya 1.000.000.000.000.000 perbedaan, mungkin ini yang paling mencolok. Orangtua Izzati sepertinya adalah orang-orang yang sadar untuk melibatkan langsung anak-anak mereka dalam mengambil keputusan bersama, dan hal tersebut diadaptasi Izzati saat ia dewasa. Ia melibatkan dan menempatkan peran serta orangtuanya saat ia mengambil banyak keputusan. Sebagai umpan balik, orangtuanya memberikan back up mati-matian untuk keputusan apapun yang Izzati ambil, atau hal baik apa pun yang Izzati usahakan. Dan sobat, tidak semua keluarga di dunia ini memiliki kesadaran dan kemampuan koordinasi sebaik itu. Bahkan banyak anak dan orangtua di sekitarku harus melewati hard time(s), bertengkar, merajuk, mendendam, membalas, terluka, lelah, memaafkan, lalu akhirnya berdamai satu sama lain hanya demi untuk memposisikan ulang diri mereka dengan lebih tepat di dalam keluarga. Melirik keluarga Izzati, aku jadi paham model orangtua macam apa yang ingin aku contoh jika nanti aku diberi kesempatan berkeluarga.


 Probably my most favorited pictures of Soekarsono family so far (sumber : instagram srizzati)

Orangtua Izzati tidak hanya mengajari Izzati untuk menjadi baik hati dan cerdas, tapi mendidik Izzati untuk menjadi baik hati dan cerdas. Dan mendidik, seharusnya memang dilakukan dengan memberi teladan, bukan memberi perintah. Ada keterbukaan dan pengertian tak terbatas di antara keduanya, sehingga hubungan anak-orangtua tidak lagi berbentuk rantai komando, tapi berbentuk seutas garis koordinasi halus yang bernama ‘kasih sayang’. Tidak ada keterpaksaan dalam kepatuhan Izzati kepada orangtuanya. Sifat-sifat baik yang Izzati miliki sesungguhnya ia petik dari teladan yang orangtuanya contohkan. Dan bentuk hubungan mereka tersebut, tentu saja adalah privilege tak ternilai yang hanya dimiliki keluarga-keluarga paling beruntung di seluruhdunia, jauh melampaui nilai privelege lain yang bersifat materiil. (Jika Izzati membaca tulisan ini dan bertemu denganku suatu saat nanti, aku harap ia tidak menggamparku karena sudah sotoy luar biasa).

Dalam salah satu postingan blog-nya, Izzati bahkan meminta maaf kepada para pembacanya hanya karena ia hendak menyebut satu kata yang menurutnya kurang sopan. Coba tebak kata apa itu? Congor. Yep. Like, really? Does she even really need to apologize? Dia juga pernah minta maaf karena hendak memakai kata ‘heavy-ass’ dalam salah satu instastory-nya, atau terang-terangan menolak menggunakan kata ‘skripshit’ untuk menyebut skripsinya yang desperatif, karena menurutnya kata-kata tersebut tidak menyenangkan. Aku kenal banyak sekali orang yang tanpa tedeng aling-aling akan menyebut kata-kata lain yang lebih cocok dipakai untuk menyulut emosi, dan mereka bahkan tidak merasa bersalah karenanya—malah mungkin sebenarnya akulah salah satu orang yang kumaksud—dan orang ini malah bilang permisi sebelum bilang congor? Siapa lagi yang bertanggung jawab atas kemuliaan akhlak ini kalau bukan orangtua Izzati?

Di lain kesempatan, Izzati juga pernah menceritakan saat ia ditegur ibunya karena berkata “sayang sekali langitnya mendung, padahal kalau ga mendung pasti lebih cantik”. Ibunya bilang, “Semua ciptaan Allah itu indah, dan bisa jadi mendung yang katanya ga cantik itu, sebenarnya adalah berkah yang dinanti-nantikan sebagian orang”. Izzati pun mingkem dan manggut-manggut. Pelajaran baru baginya. Alamak, alangkah bijaksananya keluarga kecil mereka ini, bahkan dalam menanggapi perkara langit yang mendung. Semoga Allah selalu menjaga orang-orang baik ini dalam iman dan Islam.

Tidak sering aku temukan perempuan yang cerdas yang tidak tinggi hati. Butuh lebih dari sekedar kesabaran level medioker dan lip-service level adiluhung untuk menjadi orang cerdas yang suportif dan apresiatif, even to the one who does not feel to deserve it, dan salah satu dari orang-orang seperti ini adalah Izzati. Dia mampu menciptakan kesan bersahabat tanpa perlu merendahkan diri, namun juga membuat orang segan tanpa perlu membangun jarak. Orang dengan aura serupa yang pernah kutemui langsung adalah Profesor Bernadette, dosen Ekonomi Industri-ku dulu. Di hadapannya, aku merasa bagai Raja Kera Tampan Sun Go Kong saat tengah menghadap Dewi Kwan Im : tunduk, patuh dan jinak. Entah apa akan sama jadinya jika aku bertemu langsung dengan Izzati.

Segala angan-angan panjangku tentang menemui idolaku ini lagi-lagi berujung pada satu pertanyaan yang sama :

Apa benar aku dan Izzati dulu pernah sekelas saat kelas 1 di SD Muhammadiyah 6 Palembang?

Meski aku sejujurnya sudah tidak terlalu peduli lagi tentang jawaban pertanyaan itu, tapi sebagaimana alergi yang kumat, rasa ingin tahu yang dulu pernah ada itu kini kembali muncul, minta digaruk. Maka kuputuskan untuk memastikannya lagi dengan cara yang paling mutakhir dan praktis : menanyai kembali teman-teman SD-ku satu per satu lewat DM instagram.

Berikut aku lampirkan beberapa hasil investigasi (?) dadakanku :

 
Gak bisa disalahin, memang Gandhi ini suka amnesia darisananya *digampar Gandhi*


Yak, lagi-lagi meleset, Bung




"Tiba-tiba nge-DM tengah malem, bukannya nanya kabar dulu malah nanya soal orang lain. Teman macam apa kamu dho??" (Thifal, di dalam pikiranku)



Mulai pesimis, Bung



Izati Mayasipun? Apa itu nama sejenis saus pasta?



Sepertinya kali ini saya yang amnesia, penonton. Ternyata Izzati bukan pindah ke Bandung, tapi ke Surabaya



Aku bahkan mengontak beberapa instagram yang bernama Izzati Ammayasifun, just in case...
(Yha tapi tentu saja DM-nya gak dibalas)



Singkat cerita, setelah gali-gali info sana-sini, akhirnya dapatlah kutarik kesimpulan sebagai berikut :

1.      Nama lengkap teman SD-ku dulu adalah Izzati Ammayasifun
2.      Sri Izzati dan Izzati Ammayasifun adalah dua orang yang berbeda
3.      Izzati pindah ke Surabaya, bukan Bandung (butuh penelitian lebih lanjut)
4.      Dari teman-teman SD-ku, hanya satu orang yang punya cukup banyak kenangan dengan Izzati untuk mengingat tentang Izzati, dan dia satu-satunya pelaku sejarah yang kesaksiannya bisa dianggap valid untuk menjadi landasan pengambilan kesimpulan ini *mendadak ilmiah*
5.      Aku sudah keliru sekali menganggap Sri Izzati adalah teman sekelasku saat SD. Maafkan aku ya, netizen *digampar online berjamaah*
6.      Aku tidak bisa menemukan Izzati Ammayasifun di instagram, karena aku sudah terlanjur mencocokkan wajahnya dengan wajah Sri Izzati saat masih kecil :’) Aku tidak ingat lagi seperti apa rupa Izzati Ammayasifun yang asli *digampar online lagi*
7.      Mau dia teman SD-ku atau bukan, Sri Izzati tetap saja mengagumkan.

Jika kupikir-pikir lagi, kesotoyanku 10 tahun lalu saat mencocok-cocokkan Sri Izzati dengan Izzati Ammayasifun tidak merugikanku sedikit pun—tapi mungkin merugikan orang-orang yang meluangkan waktu membaca blogpost ini hahaha. Justru kesotoyanku itulah yang membujukku untuk membeli buku 2 of Me, yang lalu kemudian membawaku ke dalam pencarian tentang identitas Sri Izzati yang sesungguhnya. Pada gilirannya, siapa sangka, meski aku tidak betulan mengenal Sri Izzati, dialah yang ternyata menggiringku kepada motivasi dan cita-cita baru untuk menulis.

Sekali lagi akan kukatakan, terkadang kita memang hanya perlu memelihara rasa ingin tahu agar tetap cukup ‘bertenaga’ dalam menyongsong hari esok. Dan lihatlah sekarang, aku sungguh bertenaga (metaphorically). Kepalaku tak henti-hentinya kebanjiran ide-ide tulisan baru sejak aku 'menemukan' Izzati. Semoga saja ide-ide tersebut awet dan bisa aku eksekusi dalam waktu dekat.

Jika kuanalogikan dengan sosok lain, rasa kagumku pada Izzati mungkin mirip-mirip seperti rasa kagum para fans Sherina Munaf. Sherina terkenal sejak kecil lewat penampilannya di film “Petualangan Sherina” yang kemudian membuatnya diidolakan oleh anak-anak seumurannya. Lalu para fans-nya tumbuh dewasa, lupa bahwa Sherina juga sebenarnya hidup di linimasa yang sama dengan mereka. Saat Sherina tampil kembali di depan mereka dalam versi dewasanya, para fansnya yang juga sudah dewasa kembali menemukannya, lalu kembali jatuh hati padanya dengan cara yang berbeda. Mereka seolah menemukan kembali mainan kesayangan mereka yang pernah hilang saat mereka masih kecil, terbungkus serpihan debu nostalgia yang kemudian bereaksi keras dengan rasa kagum mereka yang baru, membentuk senyawa baru yang bersifat adiktif. Senyawa baru dari rasa kagum macam itu, mungkin obatnya hanya satu : bertemu dan bertegur sapa langsung dengan ia yang diidolakan. Kurang lebih demikianlah bentuk rasa kagumku pada Izzati. Bedanya, aku mengenalnya lewat tulisan, dan kini aku kembali mengenalnya lewat tulisan juga. Maka alangkah eloknya, kupikir, jika memang aku bernasib bisa berjumpa dan berkenalan dengan Izzati nanti, itu juga karena urusan tulis-menulis. Dan  inilah pangkal sumbu semangatku dalam kembali menulis. Setelah Tere-Liye dan Andrea Hirata, kini penulis Indonesia favoritku yang belum pernah kutemui tinggal Dee Lestari dan Sri Izzati. Semoga saja Allah beri aku umur yang cukup, semangat menulis yang langgeng dan kesempatan yang gemilang untuk menemui mereka kelak, di waktu dan tempat yang tepat.

Untuk sekarang, menulis blogpost tentang Izzati dan menggambar wajahnya adalah dua-duanya hal yang bisa kulakukan untuk mengapresiasi segala motivasi yang—tanpa ia sadari—ia suntikkan kepadaku lewat teladannya dalam berkarya. Aku merasa ia bertanggung jawab untuk motivasi menulisku yang kembali muncul dengan mneggebu-gebu, dan untuk itu, aku harus menyampaikan terima kasihku langsung kepadanya, kontan. Tapi nanti. Sekarang, tugasku hanya berproses, agar hal tersebut menjadi mungkin.

Nah, doakan saya ya, teman-teman! //lari ke Benteng Takeshi


S E L E S A I (mungkin)