Sabtu, 29 September 2018

Peksimines : Pekan Seni Mahasiswa Ngenes



Wah, ini postingan pertama setelah enam bulan.

Sebagaimana biasanya seorang bloger iseng, pemilik blog ini juga sempat meninggalkan rutinitas menulis di blog ini tanpa perasaan bersalah. Alasannya mengerjakan skripsi (yang sebenarnya jarang sekali) lah, nulis di web lain lah, ikut kegiatan komunitas lah, makan-tedok-meseng lah.

Namun sebagaimana halnya juga bloger iseng, akan ada waktunya pemilik blog ini juga merasa ‘kebelet’ ingin menumpahkan kembali perasaannya lewat tulisan di blog ini. Alasan untuk melakukan comeback tersebut bisa muncul karena berbagai macam dorongan, misalnya, jatuh cinta. Tapi berhubung sudah lama sekali sejak aku ‘dijatuhkan’ cinta, macamnya dorongan satu ini sudah tidak relevan lagi untuk dijadikan alasan menulis. Jadi kita pakai saja misal yang lain : kecewa dan frustrasi karena tidak jadi ikut Peksiminas XIV.

Nah, ini baru benar. Selain karena alasannya lebih logis, hal tersebut memang BENAR-BENAR TERJADI.

Right. Postingan kali ini tergolong curhat. Jika menurut kalian stalking IG mantan masih lebih berfaedah, silakan tinggalkan blog ini dan lakukan aktivitas berdarah tersebut. Tapi jika tidak, plys don’t go. Q butuh didengarkan—er, dibaca.


Mengenal Peksiminas dan Peksi-peksi Lainnya

Apa itu Peksiminas? Jika kalian mahasiswa (atau pernah jadi mahasiswa) dan aktif di UKM kesenian, tentu Peksiminas ini bukan barang asing. Peksiminas sendiri singkatan dari Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Sebagaimana PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dan PMW (Pekan Mahasiswa Wirausaha), Peksiminas ini adalah event perlombaan mahasiswa berskala nasional yang cukup bergengsi. Bergengsi karena, mahasiswa yang bertanding dalam Peksiminas bukan lagi bertanding mewakili kampus masing-masing, melainkan provinsi masing-masing, dalam 19 tangkai lomba plus satu tangkai lomba eksibisi yang dipertandingkan. And guess, Semua tangkai lombanya bernuansa seni (ya iyalah!), mulai dari tari, vocal group, menyanyi solo, penampilan monolog, pembacaan puisi, lukis, penulisan lakon/puisi/cerpen dan bahkan komik strip.

FYI, aku pernah ikut serta di Peksiminas XIII dua tahun sebelumnya—Peksiminas memang digelar dua tahun sekali—di Kendari, Sulawesi Tenggara. Aku ikut serta di tangkai lomba komik strip. Dan walaupun tidak pulang membawa piala, itu merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan sepanjang masa kuliahku. Bukan hanya berkesempatan mewakili provinsi dalam perlombaan nasional, tapi aku juga berkesempatan menginjakkan kaki di bagian Timur Indonesia, yang entah bisa kukunjungi lagi atau tidak suatu hari nanti, juga bertemu komikus-komikus mahasiswa yang keren-keren dari seluruh penjuru Indonesia.

Sesi foto bersama peserta dan juri komik strip Peksiminas XIII di Kendari, Sulawesi Tenggara

Selain dengan umur yang lah begoyor, aku juga kini sudah duduk di tahun keenamku di Unsri. Dengan batas maksimal masa kuliah tujuh tahun, jelas ini tahun terakhirku bisa ikut serta di Peksiminas, dan keadaan tersebut secara tak langsung justru membuat peksiminas tahun ini jadi berkali-kali lebih berarti buatku. I mean, benar-benar teramat sangat sungguh berarti sekali luar biasa Allahuakbar bagiku.

Tapi untuk bisa bertanding mewakili Sumsel, sebelumnya aku harus bertanding di Peksimida, semacam seleksi daerah antar universitas di Sumsel untuk menentukan siapa delegasi yang pantas mewakili Sumsel dalam tiap tangkai lomba. Dan sebelum Peksimida Sumsel pun, ada Peksimika, seleksi tingkat kampus dalam tiap-tiap tangkai lomba. Lalu dibawah peksimika, ada lagi seleksi tingkat fakultas. Dengan kata lain untuk bisa ikut serta dalam tangkai lomba komik strip di Peksiminas, aku sebelumnya harus lolos ujian tiga lapis.

Atas kehendak Tuhan dan demi mempersingkat postingan ini, walhasil aku lolos di tingkat fakultas dan kampus tanpa ada hambatan yang berarti—selain jadwal pengumpulan karya dan pengumuman yang sempat mundur berkali-kali. Tinggallah Peksimida berdiri congkak di tengah perjalananku, menunggu untuk ditebas.

Namun justru disanalah nasib naas menimpa bukan hanya aku, tapi juga empat peserta peksimida lain dari Unsri.


Perkenalkan Roki, Si Biang Kerok #1

Peksimida Sumsel awalnya dijadwalkan berlangsung tanggal 12 hingga 15 September. Masing-masing lomba dikoordinir oleh universitas yang berbeda-beda, dan kebetulan lomba komik strip dan lukis dikoordinir oleh sebuah universitas swasta di Palembang, sebut saja Universitas Asdfasdfasdf. Lomba yang dijadwalkan berlangsung tanggal 12 tersebut diundur ke tanggal yang belum pasti. Kami mendapatkan informasi tersebut setelah mengontak langsung koordinator dari Universitas Asdfasdfasdf, sebut saja Roki.

Sekedar mengabarkan, Rektorat Unsri sebenarnya memiliki Bagian Kemahasiswaan yang bertugas mengakomodir segala keperluan informasi terkait minat dan bakat bagi seluruh mahasiswanya, termasuk tentang perlombaan akbar setaraf Peksimida dan Peksiminas. Namun dikarenakan satu atau lain hal yang menjengkelkan, maka aku dan Haikal—mahasiswa FE Unsri yang mewakili Unsri dalam lomba lukis—harus berkontak langsung dengan sang koordinator lomba, seorang pegawai kemahasiswaan Universitas Asdfasdfasdf, yang juga menjengkelkan.

Awal kami memulai hubungan (?) tersebut adalah tanggal 10 September. Dari responnya yang lamban dan terkesan sembarangan, bisa kutangkap bahwa Roki sebenarnya TIDAK MEMAHAMI TEKNIS PERLOMBAAN KOMIK STRIP secara umum. Dan berhubung aku bukan orang yang mudah menarik kesimpulan sembarangan tentang reputasi orang lain, berikut kulampirkan asbab analisisku.



Sama seperti tahun kemarin? Mungkin dia gagal paham kalau Peksimida hanya digelar dua tahun sekali. Dan seperti apa ‘sama’ yang ia maksud tersebut? Hanya Roki dan Tuhan yang tahu.

Dia bahkan nampak sembarangan menentukan ‘Asian Games 2018’ sebagai tema komik strip yang akan diperlombakan, which is, bertentangan dengan ketentuan tema umum Peksimida yang seharusnya mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan Peksiminas XIV di Yogyakarta—yang tahun ini mengusung tema ‘Merajut Budaya’.

Dude, i was just asking simple questions. Namun demi menengarai ketidaksiapan Si Roki terkait informasi seputar pelaksanaan lomba, akhirnya ia mengambil keputusan bahwa lomba komik strip dan lomba lukis ditunda dari jadwal tanggal 12 September 2018 hingga waktu yang belum ditentukan. 

Oh, baiklah. Kami akan menunggu dengan setia, sesuai yang ia minta.

Aku dan Haikal kembali menanyakan perkara tanggal tersebut kepada Roki pada tanggal 11 September, yang baru ia balas lewat hampir tengah malam tanggal 11 September.

Dia sempat bilang perlombaan akan dilakukan "jam 10. rencana". Silakan nilai sendiri sikap sembarangannya dalam menyusun ketentuan lomba 


Oh, baiklah. Kami akan menunggu dengan setia, sesuai yang ia minta (2).

Timbul rasa segan untuk kembali bertanya, karena ia menekankan perkataan NANTI KALAU SUDAH PASTI DIKABARI. Bisa jadi Si Roki ini akan menghubungi kami lagi pada tanggal 13, atau 14, atau 15, hari terakhir pelaksanaan Peksimida.

Tapi kabar yang ditunggu tersebut tak kunjung muncul.

Sebagai gantinya, yang muncul adalah inisiatif dari Haikal untuk menelepon Roki pada sore hari tanggal 14 September. Jawaban konyol bin ta’un pun melintas keluar dengan santai dari mulut Roki.

“Lomba komik strip dan lukis pelaksanaannya sudah selesai hari ini, dan sudah ada juaranya”

Iya, begitu. Tanpa ada permintaan maaf, rasa menyesal atau tendensi untuk mempertanggung jawabkan perkataannya yang menyuruh kami menunggu, ia bilang semuanya sudah usai. Tanpa ada solusi.

Oh, baiklah. Kami akan menunggu dengan seti—F U C K   I T  !!!

Tak berhenti mulutku merapal umpatan-umpatan lokal yang kerap dilempar supir angkot dan bus kota, namun fisikku sendiri lemas dan gemetar hebat. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku semarah itu sebelumnya. Tidak mengejutkan jika tekanan darahku ternyata naik lagi.

Hatiku menjerit—ini sungguhan. Dua tahun aku menunggu bisa kembali bertanding di Peksiminas. Aku bahkan tak henti mem-follow up informasi tentang Peksiminas XIV dari bagian kemahasiswaan Unsri dan bagian kemahasiswaan FE sejak bulan April, sejak mereka yang aku tanyai bahkan tidak paham Peksiminas apa yang aku maksud. Jika ada cara membuat kuliah semester 11-ku yang lapukan ini dapat lebih berharga dan berfaedah, mengikuti Peksiminas kembali adalah salah satu caranya. Tak akan kubiarkan peluang terakhir ini hilang hanya karena kelalaian seorang Roki yang wajahnya saja aku tidak kenal.

Namun entah mengapa, hatiku merasa familiar dengan kondisi ini.

Aneh. Sejak langkah kaki pertamaku dalam mengikuti seleksi tingkat fakultas, aku sudah merasa ada bayang-bayang kegelapan yang mengintai, siap mengandaskan harapanku menuju Peksiminas kapan saja. Aku menyalah-artikannya sebagai sindrom pra-kompetisi yang memang biasa terjadi. Ternyata itu bukan tekanan yang sama sekali berasal dari kompetisi. Itu firasat buruk, dan saat itu juga aku tahu apa arti firasat tersebut.

Aku dan Haikal tentu tidak putus akal sampai disitu. Aku menghubungi sendiri Roki, pura-pura tidak tahu tentang apa pun. Lalu setelah ia mengatakan hal yang sama kepadaku, maka aku, dengan elegansi yang masih bisa kupaksakan, berusaha meminta solusi dari dia sebagai koordinator lomba.

Roki bersikeras melemparku ke pihak Unsri dan BPSMI. Dan sejak itu, aku mulai mempertanyakan jenis kelaminnya.


Baru saat emosiku sedikit reda, aku mulai mampu berpikir rasional. Bisa jadi, Roki bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Bisa jadi, pihak kemahasiswaan Unsri—yang sejak awal juga memang sukses membuatku jengkel dengan birokrasinya yang berbelit dan terkentut-terpising—juga turut andil dalam kegagalanku dan Haikal ikut Peksimida. Bisa jadi, masih ada kesempatan untuk mengadakan lomba susulan, jika pihak Unsri bersedia menjembatani kami dan pihak Unvesitas Asdfasdfasdf sebagai koordinator lomba. Bisa jadi, rahasia awet muda adalah mengelap wajah dengan sempak bekas seperti kata Raditya Dika. Bisa jadi, bisa jadi.

Terlalu banyak bisa jadi tersebut membuat tidurku malam itu dirundung kegelisahan.


Perkenalkan Sobri, Si Biang Kerok #2

Esok paginya aku langsung tancap gas ke Gedung KPA Unsri Kampus Bukit, siap-siap memberondong pejabat Bagian Kemahasiswaan kami—sebut saja Sobri—dengan pertanyaan-pertanyaan ‘remeh’ seputar nasibku dan nasib Haikal. Namun Sobri ternyata tidak di tempat, karena ia dan pejabat Unsri lainnya sibuk mempersiapkan Peksimida Tangkai Lomba Tari dan Monolog di FH Tower—Unsri adalah koordinator lomba tari dan monolog, btw.

Dengan bantuan informasi dari teman-teman Peksimida yang masih setia mendukung dan mendoakan, akhirnya aku menyambangi FH Tower, berharap menemukan Sobri disana dan dapat menjeratnya dengan lapon* (kagak!).

Alhamdulillah, kami berjumpa. Saat Tim Tari Unsri selesai tampil dengan amat dramatis, aku mulai mendekati Sobri dan menanyakan perihal nasibku dan Haikal.
Saat kudekati, Sobri bahkan tidak mengenaliku sebagai peserta Peksimida. Dan jawaban yang diberikannya  sama tidak memuaskannya dengan ekspresi tak bersalah yang menghiasi wajahnya.

“Ya mau bagaimana lagi. Kami kan sibuk, nggak terpegang dengan semua informasi Peksimida. Harusnya kalian kontak langsung pihak Asdfasdfasdf”

Aku utarakan kalau kami sudah menghubunginya lebih dari sekali, dan kami diminta menunggu.

“Kan pihak Asdfasdfasdf bilang lombanya bukan tanggal 12, berarti kalau bukan tanggal 13, ya 14 atau 15. Disitu kalian nggak nangkepnya”

YO MAKMANO KAMI NAK TAHU TANGGAL BERAPO LOMBANYO KALAU KATEK YANG KASIH INFO? APO NAK TIAP HARI KAMI DATENGI ASDFASDFASDF UNTUK LOMBA?

“Ya kami nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Lombanya sudah selesai, pelaksananya Asdfasdfasdf”

Tapi ini dua tangkai lomba lho, Pak, sayangku, yang terhormat lagi dimuliakan. Dan kami sama-sama (seharusnya) mewakili nama Unsri.

“Tapi lombanya sudah pengumuman, sudah ada yang menang. Mau bagaimana lagi”

Argumen Sobri tidak masuk akal. Selain karena Sobri terkoneksi dengan semua penyelenggara Peksimida Sumsel di universitas lain, dia sendiri membuat grup whatsapp khusus peserta Peksimida Unsri dan memasukkan kami semua disana. Sobri bahkan rajin men-forward semua informasi terkait penyelenggaraan tiap tangkai lomba di grup tersebut. Hanya lomba komik strip, lukis, cerpen, penulisan puisi dan penulisan lakon yang tak pernah kebagian jatah informasi darinya. Lalu sekarang dia bilang itu bukan salahnya—yang jika dikontak secara personal pun akan selalu hanya membaca. 
Bertatap muka dengan Sobri yang kalem tanpa perasaan berdosa tersebut sukses menyakiti hatiku. Bukan main aku muntab.

Sobri, dan kebiasaan 'membaca'-nya yang luar biasa

Lalu ruangan itu mendadak gelap. Sorot beberapa lampu latar berkelindan di panggung dan tembok ruangan. Ternyata tim monolog dari Politeknik Sriwijaya (Polsri) hendak tampil. Sobri pun tak bisa diajak berdiskusi dengan kondusif—yang kalau dilanjutkan pun, bisa-bisa aku malah hanya tambah emosi dan mematahkan batang lehernya.

Aku mengangkat ranselku dan berjalan cepat menuju pintu di sebelah panggung, hendak keluar tanpa memperpanjang percakapan yang menguji kesabaran tersebut. Namun sialnya ruangan itu dikunci dari luar. Maka aku pun memaksa menggoyang-goyangkan dua daun pintu tersebut dengan kuat, hingga terdengar bunyi ‘KRAK’ yang ganjil.

Aku menyerah, lalu buru-buru duduk dengan canggung di kursi terdekat yang bisa kududuki. Bisa kurasakan belasan, kalau bukan puluhan pasang mata penonton dan peserta lomba di ruangan itu menatapku heran. Aku hanya diam. Pias. Aku memijit-mijit lenganku yang lemas, mengatur napas. Mataku basah, tapi aku berusaha cool. Dan, anjing, itu sulit sekali. Aku baru bisa keluar setelah akhirnya ada yang membuka kunci ruangan tersebut dari luar.


Perkenalkan Sapar, Biang Kerok #3

Hal yang mengisi kepalaku saat meninggalkan FH Tower masih sama dengan yang mengisi kepalaku ketika datang : aku belum menyerah. Masih ada peluang. Masih. Separuh harapan dan separuh keputusasaan menggantung dalam kata itu. Aku bahkan sampai mengunjungi Polsri yang tidak jauh dari FH Tower, mencari tahu apakah sekretariat BPSMI (Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia) Sumsel ada disana, karena sekretaris BPSMI masih berstatus pejabat Polsri. Tentu saja BPSMI bertanggung jawab sepenuhnya dalam penyelenggaraan Peksimida, termasuk tentang kebecusan semua koordinator lomba dalam melaksanakan tugasnya.

Setelah tahu bahwa BPSMI tidak bermarkas di Polsri, aku mendirikan sholat Zuhur dan menenangkan diri yang sebenarnya sudah tidak bisa tenang. Dengan sisa tenaga dan semangatku siang itu, aku mengontak salah seorang pejabat Unsri selain Pak Sobri yang juga bertanggung jawab dalam penyelenggaraan Peksimida. Kali ini, kukenalkan Sapar pada kalian.

Kepada Pak Sapar, aku utarakan semua rasa kecewaku, perasaan terzolimi kami, beserta harapan bahwa Unsri akan membantuku dan Haikal membalikkan nasib—atau setidak-tidaknya, membantu kami menjalin kontak dengan pihak Asdfasdfasdf agar ada sebentuk pertanggung jawaban atas nasib kami. Kuharap ia paham, karena ternyata ia merespon chat whatsapp-ku lebih cepat dari yang biasa dilakukan pejabat kampus.

Wejangan yang sangat membantu dari Pak Sapar


“Terima saja, sudah suratan Tuhan”

Kurang lebih itulah inti perbincangan kami yang khidmat tersebut.

Saat aku sudah siap menyelam lebih jauh lagi ke dalam kekecewaan, Pak Sapar mengirimiku kontak pejabat BPSMI yang mungkin bisa lebih mampu bertindak. Harapanku pun kembali bangkit.

Singkat cerita, dari tiga kontak pejabat BPSMI yang kukumpulkan dari semua orang dan kuhubungi, hanya ada satu orang yang merespon dengan tanggap—kontak yang diberikan Pak Sapar bahkan tidak membaca pesanku sama sekali sampai detik ini. Wakil Dekan III Universitas Ghjkghjkghjk yang meresponku tersebut bersedia mendiskusikan masalah kami dengan forum BPSMI dan menjanjikan menghubungiku keesokan harinya, pada Hari Ahad.

Mengherankan. Jika dalam kondisi yang normal saja aku harusnya berprasangka karena kembali disuruh menunggu, maka detik itu aku justru memutuskan untuk percaya kepada sang penjabat BPSMI—yang entah akan benar-benar membahas masalahku dengan rekan BPSMI-nya atau tidak. Entah apa yang membuatku bisa begitu yakin, namun aku hanya merasa akan ada hal baik yang terjadi. Maka sejak detik aku disuruh menunggu  hingga saat aku menerima telepon tersebut, aku menjadikannya doa yang kuaminkan. I have done everything i could. This is it.


Anti-klimaks

Telepon tersebut memang masuk keesokan malamnya. Si pejabat BPSMI. Ia sebelumnya mengirimkan foto berupa tangkapan layar percakapan di grup panitia Peksimida. Dan aku temukan sebuah fakta menarik darisana : Pihak pertama yang bertanggung-jawab akan nasibku dan Haikal sebenarnya adalah Pak Sapar, orang yang dengan entengnya menyuruhku menerima suratan takdir!

Melalui sambungan telepon, Sang Pejabat BPSMI menyampaikan kabar yang, entah, aku tidak bisa memilah dengan logis lagi apakah itu kabar buruk, kabar yang paling buruk atau kabar buruk yang harus kuikhlaskan. Ia awalnya membesarkan hatiku, lalu menceritakan hasil komprominya bersama rekan-rekan BPSMI-nya yang lain. Ia terdengar sangat berhati-hati dengan pilihan katanya, waspada seandainya kata-kata yang salah ia pilih malah sukses meledakkan hatiku yang tengah serapuh cangkang umang-umang.

Intinya, ia menyampaikan bahwa setidaknya terdapat tiga alasan utama mengapa BPSMI tak bisa menyelenggarakan lomba ulang untukku dan Haikal :

1. Pihak Universitas Asdfasdfasdf nyatanya terbukti telah mem-forward informasi pengubahan tanggal lomba komik strip dan lukis di grup koordinator pelaksana Peksimida Sumsel. Di dalam grup tersebut terdapat perwakilan dari semua universitas di Sumsel yang mengikutsertakan mahasiswanya di Peksimida. Dan coba tebak? Pak Sapar dan pejabat Unsri lainnya ternyata ada di grup itu!! Itu setidaknya membuktikan bahwa kelalaian utama dalam menyebarkan informasi terdapat di pihak Unsri, bukan hanya pada Roki yang lupa mengabariku dan Haikal.

2. Berbeda dengan tangkai lomba lainnya, hasil lomba komik strip dan lukis langsung diumumkan di tempat pelaksanaan usai lomba tersebut digelar. Dengan kata lain, sejak Si Bangsat Roki mengabariku dan Haikal bahwa lomba kami sudah selesai dilaksanakan, pada saat itu pula pemenang lomba komik strip dan lukis telah dibai’at sebagai delegasi Sumsel menuju Peksiminas XIV.

3. Pelaksanaan terakhir Peksimida Sumsel adalah tanggal 15 September, satu hari sebelum kuterima telepon dari pejabat BPSMI. Dan seandainya aku menerima telepon tersebut pada tanggal 15, pihak Asdfasdfasdf tetap saja tidak bisa mengadakan lomba kembali, karena itu berarti mengubah berita acara, mengadakan penjurian ulang dan menarik kembali pengumuman satu hari sebelumnya.

Aku terkesiap. Sepanjang Pejabat BPSMI menyampaikan laporannya, aku terus berubah posisi dari duduk ke berdiri, kemudian berjalan, lalu bersandar, kemudian berjalan lagi lalu duduk lagi. Pejabat BPSMI lagi-lagi membesarkan hatiku, bilang bahwa seandainya aku bisa ikut lomba susulan pun, dan katakanlah, menang, maka mau dikemanakan Si Juara I lomba komik strip Peksimida? Itu hanya memindahkan sakit hatiku padanya. Aku tertegun. Dia benar.

Dalam kesempatan terakhir melalui sambungan telepon itu, aku kembali bertanya tentang ada-tidaknya peluangku dan Haikal untuk bertanding mewakili Unsri.

“Tidak”, jawabnya tegas, namun juga hati-hati.

Akhirnya kuputuskan untuk menghormati keputusan BPSMI. Kusalami tangan Si Pejabat dari jauh, mengucap terima kasih dan salam.
Sang Pejabat bilang, semoga beruntung di Peksimida berikutnya, lalu kujawab bahwa aku sudah semester 11. Ia tertawa garing—“Ya Allah alangke kesian nasib budak ini, lah lamo tamat, urung pulo melok Peksimida”, mungkin begitu isi batinnya ketika ia tertawa.


Penulis Cerpen, Penulis Lakon dan Penulis Puisi yang juga Tidak Beruntung

Syahdan, demikianlah aku berdamai dengan rencana Tuhan. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain ikhlas—Haikal sudah jauh-jauh waktu ikhlas karena dia masih duduk di semester tiga, lebih ringan baginya disuruh menunggu dua tahun lagi. Sudah kuusahakan semua yang kubisa, sudah kuhubungi semua yang (kupikir) terlibat langsung dalam Peksimida. Aku tetap hancur. Berat badanku bahkan sampai turun empat kilo akibat tiga hari yang emosional tersebut. But live must go on
Setidaknya mereka yang menang dan akan mewakili Sumsel di Peksiminas adalah mahasiswa-mahasiswa terbaik dari yang bertanding—dan dari yang diberi kesempatan bertanding—dan khusus untuk delegasi yang berasal dari Unsri, aku bangga pada mereka. Jika memang ada pihak yang harusnya babak-belur dan merasa bersalah, mereka adalah ketiga biang kerok yang melenyapkan kesempatan bertandingku, Haikal dan tiga orang perwakilan Unsri lainnya dalam tangkai lomba penulisan cerpen, penulisan lakon dan penulisan puisi.

Ah, aku bahkan belum menyebut mereka sama sekali.

Rencanaku meminta lomba susulan sebenarnya terinspirasi dari mereka. Ketiga penulis muda ini bernasib sama seperti kami, ditelantarkan kemahasiswaan kampus, diabaikan, sekedar disuruh berlomba tanpa diharapkan menang sama sekali. Perbedaannya adalah, mereka memperoleh kesempatan untuk mengikuti lomba susulan, karena Universitas koordinator lomba mereka merasa bertanggung jawab dan bersedia mengakomodir mereka.

Atau setidaknya itulah cerita yang kudengar.

Malam harinya usai aku menerima telepon dari Pejabat BPSMI, salah satu dari mereka—sebut saja Boim—meneleponku dan menanyakan nasibku dan Haikal. Kubilang bahwa kami sudah gulung layar dan lempar jangkar, urung ikut Peksimida. Lalu Boim menceritakan nasibnya yang tak jauh berbeda.
  
Pihak penyelenggara lomba kepenulisan Peksimida—silakan masukkan nama alias kalian sendiri untuknya, aku kehabisan ide—memang memberikan Boim dan kawan-kawannya kesempatan bertanding susulan. Namun pertandingan susulan tersebut nampaknya hanya penghibur semata, karena sebelum karya mereka benar-benar selesai dinilai, SK untuk pemenang lomba kepenulisan malah telah selesai dicetak. Dengan kata lain, sebenarnya tanpa mereka ikut bertanding susulan pun, sudah ada pemenang dari setiap tangkai lomba kepenulisan. Mereka dianaktirikan Unsri dan dianakbawang-kan pihak penyelenggara. Anjir.

Saat mendengar kabar tersebut, perasaan lega dan gondok tumbuh berebut tempat di dalam hatiku. Lega, karena ternyata aku dan Haikal tidak dianak-tirikan sendirian oleh universitas, dan itu berarti kami berlima telah sukses merealisasikan beberapa buah peribahasa adiluhung di Bumi Pertiwi : 

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Makan sama kenyang, mulas sama boker.

Intinya, kesadaran kolektif untuk memperjuangkan keadilan itu muncul di antara kami, dan sayangnya, justru di detik-detik terakhir.

Gondok, karena jika diingat dengan seksama, pangkal dari segala masalah mereka (dan kami) adalah kelalaian pihak kampus kami sendiri. Sama seperti aku dan Haikal, lomba yang diikuti Boim dan kawan-kawannya juga berubah jadwal, dan mereka tidak mendapatkan informasi apa pun darimana pun tentang jadwal perlombaan yang sudah pasti, hingga mereka menghubungi sendiri pihak penyelenggara hanya untuk tahu bahwa lombanya telah selesai.

Kelebat perkataan-perkataan menyesakkan para biang kerok melintas-balik di dalam kepalaku.

“Mau bagaimana lagi?”

“kami kan sibuk”

“Hubungi langsung saja pihak Unsri”

“Ikhlaskan”

“Jadikan pelajaran berharga, SIAPKAN DIRI UNTUK PEKSIMIDA BERIKUTNYA”    

“Terimalah, sudah suratan takdir”

SURATAN TAKDIR GUNDULMU AMBLAS ?! BISA-BISANYA MENYURUH ORANG LAIN IKHLAS ATAS KELALAIAN YANG KAU PERBUAT !!

Bagiku masalah ikhlas adalah urusanku dengan Tuhan, dan cepat atau lambat, aku pun akan ikhlas dengan kejadian yang terlanjur dituliskan dalam ‘past tense’. Percayalah, aku terlatih untuk menerima keadaan seperti itu. Aku sudah sering kalah, gagal, direndahkan dan dibuat tak punya pilihan selain merelakan keadaan. Namun itu hanya setelah aku berusaha sekuat tenaga, dan dalam kejadian kali ini, aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk berusaha.

Tapi aku juga terlatih dalam memahami sumber emosiku, dan setidaknya ada satu hal yang kupahami tentang amarahku kali ini : kemarahan ini tidak ada hubungannya dengan siapa pun yang menang  dan beruntung dalam Peksimida. Aku hanya marah pada mereka yang dzolim. Aku marah pada mereka yang memiliki kuasa, namun lebih memilih menutup mata. Aku marah karena tidak diberi hak yang sama untuk bertanding seperti peserta lainnya. Aku marah, karena untuk semua usaha dan penantianku yang hanya untuk mendapatkan hak bertanding yang remeh tersebut, jawaban yang kuperoleh hanyalah ‘ikhlaskan’ dan cengiran-cengiran kuda, dan jawaban itu justru berasal dari orang-orang lalai yang seharusnya bertanggung jawab dan meminta maaf.

Dan tidak ada sebutir permintaan maaf pun yang hadir ke pangkuanku—dan kami—hingga detik ini. Dalam pandanganku, AKU MARAH UNTUK HAL YANG SANGAT WAJAR.

Satu-satunya argumentasi yang layak dan santun hanya kuperoleh dari Pejabat BPSMI yang mau repot-repot meluangkan waktunya untuk membahas ‘permasalahan remeh’ kami. Itu sudah cukup untuk membanting setir pikiranku kembali ke  jalan yang lurus.

Namun yang bersalah, menurutku harus tetap menanggung perbuatannya. Jika bukan dengan penyesalan dan permintaan maaf, maka ‘sentuhan’ Tuhan tentu lebih dari cukup. Tuhan Maha Adil. Maka berbeda dengan tangan manusiaku yang kecil dan cenderung tebang pilih, hukuman-Nya tidak akan pernah melewati batas wajar, juga tidak pernah meleset.

Nah, sampai jumpa Jogja—walau kita belum bertemu. Semoga di lain hari aku tahu rasanya menggerayangi jalananmu di malam hari, atau bagaimana rasanya bersenyawa dengan detak kehidupanmu di lain waktu. Dan kali itu, tanpa perlu membawa jaket almamater dari kampus yang kusayangi.




catatan kaki :
*lapon : untaian jaring kawat yang kerap digunakan untuk menjerat hama celeng. Biasanya digunakan pemilik ladang singkong / kebun di Sumatera untuk melindungi tanamannya dari serangan celeng.

*BPSMI : Badan Penyelenggara Seni Mahasiswa Indonesia. Koordinator Wilayah BPSMI di Sumsel bertanggung jawab dalam menyelenggarakan seleksi Peksimida Sumsel. Anggota BPSMI merupakan pejabat universitas-universitas di Sumsel yang terlibat dan/atau ikut serta di dalam pelaksanaan Peksimida.

*Semua pihak eksternal yang namanya disebutkan dalam tulisan ini (selain Haikal, Polsri, Unsri dan BPSMI) merupakan nama samaran.

Selasa, 06 Maret 2018

Mochi, dan Mengapa Menelantarkan Anak Kucing adalah Perbuatah Jahiliyah


Mochi

Bukan, ini bukan 30 hari bercerita.

But this story worths a minute in your life, so you gotta read it.

Beberapa hari yang lalu aku melihat makhluk lucu satu ini terlantar tak jauh dari rumahku, bersama dengan saudaranya yang berbulu kuning. Sudah bukan opini lagi jika tanah kosong satu ini menjadi tempat favorit bagi oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk membuang anak kucing. Seolah anak kucing itu sampah dan tempat ini TPS-nya.

Aku punya perasaan, tapi aku juga bukan penyayang kucing. Ini dilematik. Tapi akhirnya kuputuskan untuk membiarkan saja mereka berlarian kesana-kemari mencari induk mereka—yang sebenarnya tidak ikut dibuang bersama mereka. Saat itu aku hendak membiarkan alam melaksanakan seleksinya. Masalah anak-anak kucing ini bisa bertahan atau tidak di alam liar, adalah bagian dari hukum alam tak terelakkan yang sepenuhnya diatur Tuhan.

Syahdan, tak lama setelah kuketahui keberadaan mereka, turunlah hujan yang sangat deras. Aku sedang membilas cucian di garasi, ketika kudengar ngeongan anak kucing yang semakin nelangsa. Aku pasti sudah tidak punya hati jika kubiarkan mereka di tengah hujan tersebut, maka aku mengambil payung dan menyongsong suara mereka. Sayangnya, hanya satu anak kucing yang bisa kutolong waktu itu. Si Kecil Hitam ini kemudian kunamai Mochi.

Aku mengeringkan seluruh tubuhnya dengan handuk dan tisu, lalu menaruhnya di dalam sebuah kardus yang beralaskan kertas koran. Mochi sangat lincah, tapi juga sangat kecil. Usianya mungkin belum genap tiga minggu.

Berhubung aku bukan pemungut anak kucing profesional, maka aku hanya mengurusi Mochi semampuku. Aku menyuapinya susu formula dengan menggunakan suntikan tinta printer—tanpa jarum, tentu saja. Dia tidak terlalu suka dan selalu berpaling tiap kali aku suapi.

Sekali lagi, aku bukan pemungut anak kucing profesional. Mochi mungkin tidak bisa tumbuh dengan baik jika aku yang merawatnya, sehingga aku mencari orang yang hendak mengadopsi dan merawat Mochi dengan layak. Syukurlah ada Bunda Kucing @dinaanggraini, yang siap menampung Mochi bersama belasan—atau puluhan?—anak kucingnya yang lain. Paling tidak jika bersama dia, Mochi punya banyak teman seangkatan yang bernasib serupa, Mochi tidak akan kesepian.

Hal aneh mulai kusadari keesokan harinya. Aku menemukan luka bolong di kaki kiri depannya, bagian tubuh yang sering ia kibas-kibaskan. Aku tidak terlalu memperhatikan kakinya saat aku mengeringkan tubuh Mochi, tapi sepertinya luka itu ia peroleh saat masih terlantar. Selain itu, bagian anusnya tidak pernah kering meski selalu kulap dengan tisu dan kain handuk. Kupikir itu hanya disebabkan Mochi belum bisa berdikari dalam hal perbokeran karena masih terlalu kecil. Aku mencoba membantunya dengan tisu yang dibasahi air hangat, namun ia juga tak kunjung boker. Huft.

Malamnya, Mochi makin jarang bergerak dan bersuara. Ini sangat mencemaskan. Salah satu instagram pecinta kucing yang kukontak menyarankanku membawanya ke @zero_animal_clinic, karena klinik hewan satu ini menyediakan jasa pemeriksaan hewan gratis bagi kucing/ anjing liar yang ditemukan terlantar kurang dari tiga hari. Keesokan paginya, aku pun membawa Mochi ke klinik tersebut dengan penuh rasa was-was.

Aku menjelaskan dengan singkat kepada dokter tentang apa yang kutahu soal kondisi Mochi. Salah seorang dokter yang bertugas lalu mengamati bagian anusnya, lalu berkata dengan cemas : “Di anusnya... ada belatung”. Aku tercekat. Singkat cerita, belatung itu pun dikeluarkan dari sana. Dan coba tebak ada berapa belatung? Tujuh ekor. Semuanya bersarang di liang pembuangan Mochi yang sebenarnya kecil sekali. Aku sempat lemas, tapi juga lega karena tindakanku membawa Mochi kesini ternyata sudah tepat. Mochi kemudian diberi salep, vitamin dan suntikan obat.

Mochi yang tidak banyak bergerak setelah diperiksakan ke klinik

Setelah meregistrasikan Mochi, aku memperoleh penjelasan singkat dari resepsionis. Program Rescue Kucing dan Anjing Liar tersebut dilakukan untuk menekan jumlah kucing dan anjing terlantar di jalanan Palembang. Setelah obat Mochi habis, aku harus kembali membawa Mochi ke klinik tersebut agar Mochi bisa mendapat vaksin dan disterilkan. Obat dan salep Mochi pun kuperoleh dengan gratis. Terpujilah mereka yang bekerja di Zero Animal Clinic. Aku pun pulang dengan perasaan tenang, lalu kuserahkan Mochi pada Dina untuk ia rawat.

Tapi ini bukan cerita berakhir bahagia. Belum 24 jam setelahnya, Mochi mati. Iya. Setelah semua usaha dengan menghangatkan tubuhnya, memberinya susu khusus anak kucing, meminumkannya obat dari klinik dan membalurkan salep pada luka dan anusnya, Mochi tetap tidak bisa bertahan. Kuharap orang yang membuangnya sekarang dapat membaca tulisan ini dan sadar dengan hasil perbuatan tangannya. Semoga dia bisa tetap hidup dengan nyaman dan bahagia setelah membaca ini.

Dan bagi siapa pun yang membaca ini, semoga mata kalian ikut terbuka. Jika aku lebih cepat sadar dan paham bagaimana cara menyelamatkan hewan malang seperti Mochi, mungkin Mochi bisa tertolong, bahkan mungkin saudara berbulu kuningnya juga bisa tertolong.

Gagasan klinik hewan untuk mensterilkan kucing liar pada awalnya memang terdengar kejam, tapi aku mulai paham. Bayangkan jika semua kucing terlantar yang dibawa berobat ke klinik tersebut dapat disterilkan, maka berapa banyak potensi kucing terlantar yang bisa dikurangi? Jika kalian merasa kontra dengan gagasan ini, ada cara lain untuk memperbaiki keadaan, yaitu dengan memperluas pandang kita masing-masing. Pertama-tama, JANGAN BUANG ANAK KUCING SEMBARANGAN!

Meski tidak ada surga bagi hewan yang mati, tapi Tuhan Maha Adil. Mochi tidak perlu lagi merasa sakit, dan ceritanya akan jadi pelajaran bagiku dan semua orang. Semoga kita semua tidak turut menanggung dosa karena membiarkan Mochi-Mochi lainnya menderita di sekitar kita.








Senin, 05 Maret 2018

Mengulik Secuil Sejarah dari Rumah di Kampung Kapitan


Hari itu merupakan hari ketiga sekaligus hari terakhir Festival Cap Go Meh di Kampung Kapitan. Aku sudah tak asing lagi dengan nama pemukiman Tionghoa satu ini. Aku pernah  mengunjunginya saat masih kelas XI SMA—hampir genap tujuh tahun yang lalu—dan tidak banyak yang bisa kutemui disana, selain dua bubungan rumah unik berarsitektur cina-belanda dan sepetak lapangan kosong tak terurus di depannya. Bahkan sebuah kasur buras dengan gamblang tampak dijemur di beranda salah satu rumah. Apakah Kampung kapitan yang kutuju saat ini adalah tempat yang sama dengan tujuh tahun lalu? Dari beberapa foto ‘paling up’ yang kutemukan di instagram, sepertinya tidak. Kampung Kapitan sudah diresmikan menjadi cagar budaya pada tahun 2013 lalu, dan tentulah Pemkot Palembang telah banyak membenahinya.

Pemandangan Rumah Kapitan dari taman di depannya

Cap Go Meh sendiri pada intinya adalah puncak perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Secara harfiah, Cap Go Meh berarti ‘lima belas malam’, mengacu pada malam ke-15 setelah perayaan Imlek. Cap Go Meh sering pula diidentikkan dengan purnama pertama setelah tahun baru. Dan pada tahun 2018, hari terakhir Cap Go Meh jatuh pada tanggal 2 Maret, hari yang sama ketika aku berdiri di tubir dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) dan menunggu sebuah perahu ketek merapat ke daratan.


Dermaga 7 Ulu, tempat perahu ketek bertambat
Sebuah umbul-umbul tampak berkibar-kibar di atap perahu ketek tersebut. “Festival Cap Go Meh Kampung Kapitan”, begitu bunyinya, yang kurang lebih berarti, tidak perlu bayar jika naik perahu itu ke Kampung Kapitan.

Tak lama setelah ketek menempel di bibir dermaga, tiga orang siswi SMA meloncat keluar. “Rame dak dek di seberang?”, tanyaku tiba-tiba, membuat mereka yang tengah bercanda tiba-tiba terdiam. “Lumayanlah”, jawab salah seorang dari mereka. Syukurlah, pikirku. Aku hampir mengira bahwa aku terlambat datang, mengingat siang itu aku satu-satunya manusia yang hendak naik ketek menyeberang ke Kampung Kapitan.

Aku masuk ke perahu ketek yang tak seberapa besar tersebut. Diiringi beberapa tarikan mesin diesel oleh pemilik perahu, maka turbin perahu tersebut berputar, mendorong kami menjauh dari dermaga BKB.

Tentang Kampung Kapitan

Konon di masa Kesultanan Palembang Darussalam dulu, tidak semua masyarakat Kota Palembang diizinkan membangun tempat tinggal di atas darat. Hanya segelintir dari kaum berdarah pribumi yang berhak. Selain itu, adalah kaum-kaum proletar yang hanya diperbolehkan bermukim di atas rumah rakit. Salah satu darinya adalah kaum Tionghoa yang pada saat itu masih menjadi kaum pendatang.

Seiring waktu, kaum Tionghoa yang bermukim di atas rakit terus bertambah jumlahnya, hingga akhirnya mereka mulai merambah tepian Sungai Musi dan membangun rumah panggung. Rumah panggung tersebut kemudian terus bertambah jumlahnya hingga berkembang menjadi sebuah  pemukiman. Pun demikian, tidak semua tionghoa pada masa itu mampu membangun rumah panggung. Menegakkan bubungan rumah panggung adalah bukti eksistensial seseorang dalam sebuah tatanan masyarakat, atau dalam kata lain merupakan simbol kekayaan yang tak terbendung. Salah satu tionghoa kaya yang mampu melakukannya pada masa itu adalah Mayor Tjoa Kie Tjuan.

Tanpa menerawang lewat google, sebenarnya tidak banyak hal yang aku ketahui tentang Mayor Tjoa Kie Tjuan ini. Ringkasnya, beliau adalah seorang tionghoa yang pertama kali ditunjuk pemerintah kolonial Belanda sebagai kepala administrasi kependudukan, khusus untuk warga keturunan tionghoa di Palembang. Penunjukkan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda tersebut menyusul runtuhnya Kesultanan Palembang Darussalam pada masa yang sama, yaitu pada tahun 1821-1825. Belanda mengukuhkan kampung tionghoa di Seberang Ulu yang kini dikenal dengan nama Kampung Kapitan demi mempermudah proses administrasi mereka dalam penarikan pajak dan pungutan lainnya dari masyarakat tionghoa. Kata Kapitan sendiri diambil dari nama pangkat yang dimiliki oleh pejabat tionghoa lain setelah Mayor Tjoa Kie Tjuan, yaitu Kapitan Tjoa Ham Lien. Di masa kini, pangkat kapitan tersebut kiranya serupa dengan pangkat kapten. Setidaknya terdapat tiga macam jabatan hierarkis yang mungkin dimiliki oleh pejabat tionghoa, yaitu : mayor, kapitan dan letnan. Nama Kampung Kapitan sendiri diambil dari nama seorang pejabat lain yang berkuasa setelah Mayor Tjoa Kie Tjuan, yaitu Kapitan Tjoa Ham Liem. Kegiatan Kapitan Tjoa Ham Liem dalam melayani masyarakatnya berpusat di rumah panggung utama yang ada di Kampung Kapitan.


Cantiknya Kampung Kapitan Kini

Benar rupanya, Kampung Kapitan sudah bermetamorfosis. Jika dulu hanya ada lapangan kosong tak terurus di depan Rumah Kapitan, maka kini sebuah taman kecil dan tugu dari batu telah hadir mempercantik kampung tersebut. Lagu berbahasa mandarin terdengar saat aku memasuki kompleks Kampung Kapitan, berkejaran dengan aroma hio yang menguar di udara. Puluhan lampion tergantung melintang di berbagai penjuru kampung. Sayangnya aku berkunjung di siang hari, sehingga tidak berkesempatan menyaksikan cantiknya nyala lampion-lampion tersebut. Selain lampion, pemilik Rumah Kapitan dan penyelenggara Festival Cap Go Meh di Kampung Kapitan turut memajang beberapa koleksi bersejarah dari leluhur pemilik rumah, seperti altar sembahyang, sepeda ontel tua, baju khas zaman kekaisaran Tiongkok dan sebuah becak cina (rickshaw) yang dijadikan latar selfie oleh pengunjung festival.


Lampion yang menghiasi Rumah Kapitan (sumber : redaksi)
Berbagai stand makanan digelar selama festival. Bagian uniknya adalah, ternyata penyelenggara acara sudah menyiapkan alat pembayaran khusus untuk berbelanja di festival tersebut, berupa uang mainan yang disebut ‘uang kapitan’. Selama festival berlangsung, penjaja makanan di lokasi festival hanya akan menerima pembayaran dalam bentuk uang kapitan tersebut. Uang kapitan sendiri memiliki satuan yang serupa seperti uang rupiah biasa, mulai dari 5 hingga 100. Namun lagi-lagi, karena aku datang di hari terakhir festival, uang kapitan ini sudah tidak banyak dipakai lagi. Walhasil, aku bisa mendapatkan sebotol teh manis dengan membayar 5000 perak saja.


Ada Apa di Dalam Rumah Kapitan?

Puas mengelilingi bagian luarnya, aku pun melangkah masuk ke bagian dalam Rumah Kapitan. Setidaknya kini terdapat lima unit rumah berarsitektur serupa di dalam kompleks Kampung Kapitan, dengan dua diantaranya dijadikan sentral dalam festival ini. Dua rumah utama ini sungguh unik, karena selain bentuknya yang seolah dibuat serupa, keduanya tersambung lewat sebuah selasar kayu yang berfungsi seperti lorong penghubung. Dari jauh, kedua rumah tersebut seolah tampak seperti satu rumah. Usut punya usut, ternyata dulunya pernah berdiri satu rumah lagi yang serupa, sehingga total terdapat tiga rumah kembar yang berjejer, hanya saja rumah ketiga tersebut sudah lama dirobohkan.


Pemandangan Rumah Kapitan dari luar (sumber : redaksi)
Di beranda salah satu rumah, sebuah altar dan sepeda ontel terpajang. Beberapa baris kursi cantik disusun rapi di beranda dan ruang tamunya. Rumah satu ini sengaja dikhususkan untuk tamu-tamu istimewa dalam penutupan Festival Cap Go Meh di Kampung Kapitan tersebut sore harinya kemudian. Sementara di rumah satu lagi yang kayunya berwarna lebih gelap, beberapa meja disusun rapi di dekat pintu masuknya. Tadinya disana telah digelar cek kesehatan gratis bagi masyarakat setempat. Akhirnya kuputuskan untuk masuk ke rumah satu ini saja.

Rumah Kapitan mengingatkanku pada rumah Baba Ong Boen Tjit yang pernah kukunjungi beberapa waktu sebelumnya. Bedanya, Rumah Ong Boen Tjit berbentuk rumah panggung kayu yang berdiri persis di tepian sungai, sementara Rumah Kapitan berdiri di atas tanah yang lebih keras dan tembok lantai dasarnya dibangun dari batu bata. Jelas terdapat asimilasi arsitektur bangunan Belanda, Tionghoa dan Melayu pada Rumah Kapitan. Arsitektur Melayu Palembang tampak pada adanya kekijing (undakan) yang membagi ruangan-ruangan di dalam rumah menjadi beberapa segmen.

Di ruang tamu, terpajang beberapa foto hitam putih dan lukisan. Beberapa bingkai yang tergantung di tembok juga diisi dengan berbagai sertifikat penghargaan dan ucapan terima kasih. Salah satunya menyatakan bahwa Rumah Kapitan diresmikan sebagai cagar budaya sejak tahun 2013. Penghargaan lainnya diberikan oleh berbagai instansi dan lembaga pendidikan yang kerap melakukan kunjungan studi ke Kampung Kapitan setelah peresmian tersebut. Di salah satu sisi rumah juga terdapat infografis sejarah berdirinya Kampung Kapitan, disumbangkan oleh mahasiswa Program Studi Teknik Arsitektur Universitas Sriwijaya. Kampung Kapitan dibentuk pada tahun 1825, tepat setelah Kesultanan Palembang Darussalam runtuh.


Infografis sejarah Kampung Kapitan (sumber : redaksi)
Masuk ke ruangan tengah, sebuah altar persembahan tergelar. Beberapa hio tampak belum lama ditancapkan, seolah berlomba cepat habis dengan lilin-lilin di sekitarnya. Di ruangan berikutnya, terdapat sebuah beranda lain dan ruangan terbuka di tengah rumah. Menurutku pribadi, bagian ini adalah yang paling eksentrik dari Rumah Kapitan, mengingat umur rumah tersebut sendiri sudah hampir mencapai 200 tahun dan model ruangan tersebut sebenarnya terbilang cukup modern—atau setidaknya, sangat familiar dengan desain rumah masa kini. Beranda tempatku berdiri berbentuk persegi panjang, mengitari sepetak lahan kosong tak beratap yang terletak di lantai dasar. Terdapat sepasang tangga di kanan-kiri beranda untuk turun kesana. Di seberang beranda tempatku berdiri, terdapat ruangan lain yang nampak  seperti kamar dan ruang keluarga. Di sisi kiri beranda, terdapat dapur yang terbuka, ruang makan dan kamar mandi, sementara sisi di sisi kanan ada selasar kayu yang menghubungkan rumah tersebut dengan Rumah Kapitan lain di sebelahnya.

Meja sembahyang di ruang tengah Rumah Kapitan (sumber : redaksi)
Di beranda inilah, aku berjumpa dengan Koh Eng Sui, pria ramah berusia 69 tahun yang mengurus rumah tersebut. Eng Sui adalah keturunan ke-14 dari Sang Kapitan itu sendiri. Eng Sui dengan antusias menceritakan berulang-ulang tentang detil dan sejarah Rumah Kapitan kepada tiap pengunjung yang tak henti berdatangan. Ketika ditanya sebanyak apa kira-kira jumlah keluarga Sang Kapitan hingga kini, ia menggambarkannya dengan sebuah analogi.

“Bayangin kereta penumpang jalur Palembang-Lampung, yang satu gerbong bisa muat sampai 60 orang. Nah, semua gerbongnya penuh dari pangkal sampai ujung. Dan itu yang mengisinya baru generasi ke-14 dan ke-15 saja”, tuturnya bersemangat.


Eng Sui, generasi ke-14 dari pemilik Rumah Kapitan


Harapan Pasca Festival Cap Go Meh

Seiring dengan waktu, kapitan memang mulai kehilangan fungsi dan perannya dalam masyarakat Palembang. Struktur masyarakat menjadi semakin kompleks dan mengharuskan pemerintah kolonial Belanda untuk melakukan berbagai reformasi dalam bidang administrasi publik, salah satunya adalah dengan menghapuskan jabatan-jabatan khusus yang berfokus pada ras tertentu.

Namun walau tak lagi aktif berfungsi sebagaimana mestinya, keberadaan Kampung Kapitan nyatanya tetap menancapkan pengaruh yang kuat dalam masyarakat Palembang, khususnya bagi komunitas tionghoa. Pasca kemerdekaan, umat Kong Hu Chu yang hendak melakukan sembahyang Cap Go Meh di Pulau Kemaro biasanya terlebih dahulu mengunjungi Kampung Kapitan. Namun lagi-lagi, tradisi tersebut lambat-laun juga ditinggalkan. Salah satu visi utama dari digelarnya Festival Cap go Meh di Kampung Kapitan adalah untuk menganulir hal tersebut.

Kunjungan turis ke Kampung Kapitan sebenarnya belum terlalu tinggi. Bahkan tidak semua warga Palembang yang bermukim di Seberang Ulu pernah berkunjung ke destinasi wisata bersejarah satu ini. Hal tersebutlah yang  hendak diubah oleh Pemkot Palembang melalui Festival Cap Go Meh di Kampung Kapitan. Berbagai teknik promosi yang unik dilancarkan, dimulai dengan transportasi air gratis, uang kapitan, stand dan bazar makanan, kontes foto serta peminjaman pakaian khas Kerajaan Tiongkok. Salah satu hal yang diharapkan ke depannya selain peningkatan kunjungan turis, adalah semakin populernya lagi Kampung Kapitan di antara masyarakat Palembang.



(Artikel yang sama juga dimuat di situs srivijaya.id)

Minggu, 31 Desember 2017

Bertukar Diari dengan Mahasiswa PPL





 

Tidak ada makna khusus dari judul tulisan kali ini. Aku sepenuhnya hendak bercerita tentang pengalamanku bertukar diari dengan seorang mahasiswa PPL saat aku masih duduk di bangku SMP.

Kenapa pula aku tiba-tiba ingin membagikannya?

Sepulang dari ENJ, aku sudah tahu kehidupan macam apa yang siap menyambutku (akan kuceritakan tentang ENJ ini di tulisan lainnya, nanti). Tidak ada lagi rutinitas kuliah yang padat seperti tiga tahun pertamaku di kampus. Aku akan punya banyak waktu untuk merenung. Merenungkan kapan akan kuakhiri masa kuliah ini, misalnya.

Separuh isi angkatanku di kampus sudah ‘minggat’ dari bangku kuliah. Perjuangan skripsi tentu menjadi sesuatu yang berbeda sama sekali. Berhadapan dengan dosen pembimbing skripsi kini tidak lagi bersama teman seangkatan. Perbaikan dan revisi pun harus kulakukan seorang diri. Bayangkan saja rasanya, orang-orang yang dulunya selalu bisa diganggu setiap saat untuk mengerjakan berbagai hal bersama, kini tak bisa lagi diganggu karena kesibukannya yang sudah berbeda. Kali ini semuanya harus benar-benar diselesaikan sendirian.
S-E-N-D-I-R-I-A-N. Harga yang mungkin setimpal untuk sebuah penundaan.

Setelah ini  harus menyelesaikan skripsi, itu sudah pasti. Tapi bagaimana cara mengembalikan diri ini ke ‘jalur’ tersebut? Bagaimana caranya kembali mengerjakan skripsi, setelah setahun ini aku ‘pergi’ begitu jauh dan mengerjakan hal yang begitu berbeda? Akhirnya kuputuskan untuk membangkitkan semangatku terlebih dahulu.

Lalu aku teringat akan sesuatu : suatu hajat yang dulu pernah dipendam, dan terus dipendam hingga aku tak lagi ingat untuk melaksanakannya. Aku masuk  ke kamarku, lalu mengambil seonggok karung yang tersandar malas di samping lemari baju. Aku membawanya ke depan TV dan menumpahkan isinya, berusaha menemukan apa yang dulu pernah ingin sekali kutuliskan menjadi sebuah cerita pendek. Karung tersebut sendiri berisi buku-buku pelajaran SMA dan beberapa barang pribadiku yang tidak kususun ulang setelah aku pindah rumah. Aku yakin sekali pernah melihatnya di dalam karung itu : sebuah bundel mirip tugas makalah yang tidak dijilid. Tapi sepertinya aku keliru. Mungkin aku tidak pernah memasukannya ke karung tersebut sebelum aku pindah rumah.

Aku pun mengulangi pencarianku. Aku membuka semua buku pelajaran SMA yang kutemukan, juga semua buku tulis yang ada di dalam karung tersebut. Lalu, setumpuk kertas lusuh berhamburan saat aku membuka sebuah buku tulis bersampul kertas manggis warna ungu. Aku memungutnya, membaca tulisannya yang ditulis dengan pensil 2B. Meski bukan itu yang aku cari, namun tulisan di kertas-kertas tersebut ternyata berkaitan erat dengan apa yang kupikir bisa membangkitkan semangatku lagi.

Aku memasukkan kembali sisa-sisa barang lainnya ke dalam karung, lalu berkonsentrasi membaca tulisan di lembaran-lembaran kertas tadi. Aku langsung mengenalinya sebagai tulisanku sendiri. Astaga, jelek sekali. Rasanya seperti membaca linimasa facebook-ku sendiri di tahun 2011. Hampir tidak ada sisi yang tidak menggambarkan kealayan seorang remaja puber, hingga aku hampir tiba di ujung tulisan tersebut.

“Hai guys, namaku Berti”

Aku menarik napas panjang. Mengenang sejenak pemilik nama tersebut dan mengapa dulu aku ingin menuliskannya menjadi sebuah cerita pendek.

- - - - - - - -

Palembang, September 2010

Kedatangan mahasiswa PPL ke sekolah kami sudah seperti agenda tahunan yang tidak pernah terlewatkan. Sejak beberapa minggu sebelumnya, puluhan mahasiswa PPL dari salah satu universitas di Palembang sudah mulai tampak mondar-mandir di segenap penjuru SMPN 19 Palembang, lengkap dengan jaket almamater mereka yang berwarna biru mentereng. Aku selalu berharap ada kesan lebih baik yang mereka tinggalkan pada kami, karena tiap saat mereka mampir ke kelas kami di luar jam mengajar mereka, hal yang mereka lakukan hanyalah menyuruh kami agar tidak berisik. Padahal jika boleh menilai, job description itu sudah ditempati dengan sempurna oleh Bu Jum, Waka Kesiswaan SMPN 19. Jika ada yang coba-coba  menggantikan perannya yang agung, maka akan lebih terdengar seperti lelucon.

“Nata, ngapoi kau tegak-tegak depan kelas? MASUK!”, pekiknya menggelegar. Bu Jum bahkan tidak perlu repot-repot menghampiri langsung murid nakal bernama Nata. Ia hanya berkacak pinggang di depan ruang guru, bicara dengan pelantang suara, sementara Nata yang apes tengah berdiri di depan kelasnya yang terpisah jarak satu lapangan upacara dari tempat Bu Jum berdiri. Yap. Bu Jum mampu mengenali Nata dari jarak sejauh itu.

“Chandra, kau jugo ngapoi keluar kelas?”, tegur Jumainah yang Agung. Lalu seolah takut akan murka langit yang mungkin menimpanya, Chandra yang cebol langsung menuruti kata-kata dari sosok tak terlihat tersebut

Peristiwa diatas biasa ditemui saat guru SMPN 19 menggelar rapat di jam pelajaran. Ruang-ruang kelas tentu kosong tanpa ada yang mengawasi.

Namun dalam suasana PPL Mahasiswa FKIP Universitas xxx, tentu Bu Jum bisa lebih santai. Ia merasa hanya perlu mengutus beberapa orang mahasiswa PPL untuk mengisi kekosongan jam pelajaran kami dengan kegiatan apapun. Bisa saja perkenalan formal, perkenalan ‘tidak formal’, brainstroming, games dan lain sejenisnya. Dan semua itu pun, tak selalu diindahkan oleh seisi kelas. Maklum, anak SMP.

Dua orang mahasiswa PPL masuk ke ruang kelasku, kelas IX.4 yang sedang kacau kala itu. Aku yang tadinya pura-pura tidur mau tak mau kembali mengangkat kepalaku saat mereka memperkenalkan diri. Tak lama kemudian demi memperoleh perhatian kami, mereka mengambil spidol dan memperkenalkan 10 jenis kecerdasan manusia kepada kami lewat papan tulis. Bahasan khas guru BK. Kami lalu diajak mengidentifikasi kecerdasan apa saja yang ada pada diri kami masing-masing.

Tidak semua penghuni kelas memperhatikan mereka. Namun bagiku sendiri, ini bahasan yang menarik. Aku suka psikologi. Suatu saat nanti aku ingin menjadi psikolog—atau setidaknya inilah isi pikiran seorang remaja SMP yang labil kala itu. Pfft. Aku mengeluarkan diariku dan mulai menyalin kata-kata di papan tulis.

What? Diari?

Ya, kalian tidak salah dengar baca.
Jika semua manusia generasi Y pernah lebay, maka aku tentunya paling lebay saat masih di bangku SMP. Dulu aku pernah memiliki sebuah diari—satu lagi anomali masa remajaku, tak salah lagi. Lembaran-lembaran aib yang kusebut diari tersebut sebenarnya tak lebih dari buku catatan biasa berisi tulisan-tulisan sembarangan tentang berbagai hal. Salah satu hal sembarangan yang kutulis tersebut adalah materi yang dijelaskan mahasiswa PPL barusan. Hal yang membuatku ragu menyebut buku catatan tersebut sebagai diari adalah karena buku catatan tersebut tidak benar-benar pribadi sebagaimana diari seharusnya. Sebaliknya, aku malah bangga sekali saat ada yang membacanya. Jika dihitung-hitung, mungkin separuh isi kelas IX.4 sudah turut menikmati kealayan isinya. Duh. Jika kalian juga generasi Y, kalian pasti paham bagaimana seorang anak SMP bisa begitu alay, begitu ingin diperhatikan. Menulis buku harian yang dibaca orang banyak jaman then kurang lebih sama seperti menulis status alay di sosial media jaman now, versi primitif dari sebuah ‘pencitraan’. Bahkan pada saat itu aku tak ambil pusing jika pengalaman-pengalaman pribadi yang kutulis di dalam diari tersebut turut dibaca oleh semua orang. Termasuk soal kisah seseorang yang pernah kusukai saat kelas VIII dulu.

Setelah gagal membuat seisi kelas lebih tenang melalui materinya, kakak-kakak PPL tersebut akhirnya beralih ke mode persuasif. “Adek-adek boleh ngobrol, tapi jangan ribut, ya!”.
As if we could, LOL. “Boleh mengobrol tapi tidak boleh ribut” sama saja seperti “boleh menghidupkan percon santak tapi jangan sampai suaranya terdengar tetangga”. Tentu saja bujukan tersebut tidak ampuh. Di sisi lain,  kami belum paham betapa terpojoknya posisi mahasiswa FKIP ketika dikacangi siswa-siswanya sendiri. Akhirnya mereka menyerah dan  lebih memilih berinteraksi dengan kami satu per satu. Ditambah dengan dua orang mahasiswa PPL lainnya yang baru bergabung ke kelas IX.4, mereka pun berkeliling kelas dan menanyakan jenis kecerdasan apa yang kami pikir ada pada diri kami.

Pada saat yang sama di mejaku, aku tengah—lagi-lagi—menunjukkan tulisan di diariku kepada temanku. Kami pada saat itu tengah mengobrolkan apa bedanya kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, sebelum akhirnya seorang kakak PPL perempuan menghampiri meja kami dan mengajak kami berkenalan. Obrolan kami berujung pada sepetak benda yang tergeletak di dekat sikutku.

“Apa itu dek?”, tanya kakak PPL seraya menunjuk diariku. Mungkin sampulnya yang kutempeli gambar karakter komik Tsubasa Reservoir Chronicle membuat perhatiannya tertaut.

“Ini... Diari, kak”, jawabku seperempat hati, ragu dengan efek jawabanku sendiri.

Tulisannyo bagus, kak! Baco be kalo galak!”, pungkas Harry yang duduk di sebelahku saat itu. Hampir saja aku berteriak ‘GILO’ ke arahnya, namun Si Kakak PPL keburu memintaku untuk menunjukkan diari tersebut. Aku pun menyerahkannya tanpa perlawanan.

Si Kakak PPL membolak-balik buku tersebut di depan wajahnya, sementara aku mengamatinya. Rambutnya yang pendek sebahu tampak kasar, namun lurus. Alisnya tebal. Kulit wajahnya putih dipoles bedak tipis. Aku tidak bisa menerka apa isi kepalanya saat membaca tulisanku.
Aneh, aku merasa malu. Menunjukkan tulisanku ke orang yang lebih tua ternyata tidak sama dengan menunjukkannya ke teman-temanku. Kami pun hening beberapa saat, lalu Si Kakak PPL menurunkan buku diariku dan memandangku langsung.

“Adek,” katanya. Aku masih mengamati. “bukunya boleh kakak pinjam, kan?”

Apa pilihanku selain bilang iya? Tentu saja aku meminjamkannya begitu saja, lalu bel pulang sekolah pun memutus pertemuan kami hari itu. Teman-temanku cengar-cengir. Kakak PPL berjalan keluar kelas. Ia tahu namaku Redho. Tapi aku—bodohnya—tidak tahu namanya. Bahkan tak sempat terpikir untujk menanyakannya.

- - - - - -

Sebenarnya aku sudah berhenti menulis cerita pribadiku di buku tersebut sejak akhir kelas VIII lalu. Tulisan yang bisa dibaca semua orang pada saat itu hanyalah kejadian-kejadian lama. Aku sendiri tak paham kenapa Si Kakak PPL mau meminjamnya. Hal lain yang tak kupahami? Aku mau saja meminjamkan diari itu pada orang yang jangankan aku tahu namanya, wajahnya saja aku langsung lupa.

Sebagai informasi, aku  awalnya mendapatkan diari tersebut dari kakak perempuanku. Dia membelikanku buku catatan berbentuk agenda karena menurutnya aku akan butuh ruang mencatat yang bisa diperbarui untuk beberapa tahun ke depan. Syukurlah dia tidak tahu jika pada akhirnya buku tersebut akan berfungsi ekstra sebagai diari laknat penampung berbagai aib pemiliknya.

Beberapa hari setelah meminjamkan diariku, aku kembali dihampiri seorang mahasiswa PPL perempuan ketika hendak keluar kelas di jam istirahat. Ternyata ia adalah Si Kakak yang kemarin.

“Redho!”, panggilnya, “Bukunya bagus!”

I’m sorry, what?

“Kakak sampe gak yakin kalo itu tulisan kamu. Rasanya bukan kayak tulisan anak SMP. Kakak suka”, ujarnya girang. Ia tersenyum sangat lebar, menunjukkan gigi-giginya yang putih dan rapi.
Aku terdiam di tempatku berdiri. Kaku. Seolah-olah aku baru mendapat tendangan tepat di selangkangan.

“Hah? Madaki, Kak?”, akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutku.

“Boleh kan kakak pinjem agak lama sedikit?”, Ia bertanya. Aku mengangguk-angguk. “Kakak juga punya tulisan yang begini, tapi kakak simpan di komputer. Nanti kakak kasih liat, barengan waktu kakak balikin bukumu”.

Lagi-lagi aku hanya mengangguk, tersenyum. Bingung bagaimana harus menanggapi, sementara Ia terus memuji apa yang kutulis—memangnya bagian mana dari diariku yang pantas dipuji? Untuk pertama kalinya aku berani mempertanyakan hal itu.

Si Kakak lalu mengucapkan sampai jumpa dan kembali ke ruang guru setelah bel masuk istirahat berbunyi, sementara aku masih dilanda berbagai perasaan. Canggung, juga bingung, tapi senang. Begitu senang hingga aku lupa lagi menanyakan namanya.

- - - - - - - -

Di hari-hari berikutnya aku tak lagi memusingkan soal nama Si Kakak. Ia sepertinya orang yang bisa dipercaya, disamping, memang menyenangkan rasanya diperhatikan secara khusus oleh seorang perempuan (walau beda usia kami bisa jadi sekitar tujuh atau delapan tahun). Kami sering berpapasan di teras sekolah, di kantin, ruang guru, dan hampir setiap saat kami bertemu selalu dia yang menyapaku duluan. Beberapa mahasiswa PPL lain bahkan ikut mengenaliku, entahlah, tapi sepertinya Si Kakak menceritakan soal aku dan buku diari itu kepada teman-teman mahasiswanya. Duh.

Tentang Si Kakak, teman-teman sekelasku pun ikut tahu. Beberapa bahkan meniupkan angin-angin busuk di telingaku, bilang bahwa Si Kakak menyukaiku. Anggapan seperti itu kalau bukan disebut gila, tentu sinting namanya. Si Kakak itu seumuran dengan kakak perempuanku, hoi!

Meski demikian, aku dan mental remaja puberku pada saat itu memang merasakan sesuatu yang ganjil dalam perhatian yang diberikan Si Kakak. Mustahil rasanya jika Si Kakak bisa merasa bersahabat denganku hanya karena ia suka dengan diariku. Adakah faktor lain yang membuatnya menjadi demikian? Aku tidak punya ide.

- - - - - - - -

Upacara bendera Senin pagi itu dirapel dengan kegiatan pelepasan mahasiswa PPL. Memang tidak ada pesta yang tidak berakhir, walau bagi beberapa siswa SMPN 19, pestanya justru baru dimulai. Sejak awal memang tidak semua mahasiswa PPL mampu mendapatkan tempat di hati para siswa, dan tidak semua siswa cukup peduli untuk memberi kesempatan. Pelepasan mahasiswa PPL berarti terbebasnya kembali siswa-siswa SMP untuk kembali berbuat liar di jam pelajaran kosong—jika tidak tertangkap Bu Jum.

Bagiku sendiri, pelepasan mahasiswa PPL berarti perpisahan dengan Si Kakak. Aku sendiri tak terlalu memikirkannya, toh, kami belum genap sebulan saling kenal, tak banyak pengalaman bersama yang membekas bagiku. Tentang diariku, aku tahu Si Kakak akan mengembalikannya sebelum ia benar-benar pergi dari SMPN 19. Aku hanya tak menduga tempat dan waktunya.

Di tengah jam pelajaran Bahasa Inggris yang diasuh Bu Maimun (Almh.), sekonyong-konyong Si Kakak mengetuk pintu kelas dan meminta izin masuk. Si Kakak lalu masuk ke ruang kelas IX.4, menghampiri tempat dudukku dan mengembalikan diariku saat itu juga. Di depan semua orang, yes. Seisi kelas pun menyorakiku, sementara Si Kakak dengan senyum canggung cepat-cepat keluar kelas digiring puluhan pasang mata yang tak henti menatapnya. Namun kejutannya belum berhenti sampai disitu.

Di jam istirahat, seorang teman (aku lupa siapa) memberikanku sesuatu yang tampaknya dititipkan Si Kakak kepadaku. Ternyata itu adalah tulisan Si Kakak yang dulu pernah ia ceritakan. Wah, aku bahkan lupa sama sekali tentang hal itu.

Namun sebelum aku sempat membaca isinya, Harry segera merampas benda tersebut dan membacanya mendahuluiku. Diiringi wajah sok serius, ia membalik lembaran-lembaran kertas tersebut dengan cepat. “Apo ini? Puisi galo isinyo! Masih bagusan tulisan kau dho, kalo cak itu”, kritiknya seketika, lalu segera mengoper benda tersebut kepadaku. Dari yang kulihat, aku bahkan ragu bahwa Harry benar-benar membaca isi tulisan Si Kakak. Aku pun memasukkan tulisan berharga Si Kakak ke dalam ranselku. Biar aku baca saat sendirian di rumah nanti.

- - - - - - - -

Setelah mencuci kaki dan tangan, aku langsung meletakkan tasku di samping tempat tidur, lalu membaringkan tubuh di atas kasur. Aku mengangkat lembaran-lembaran kertas yang diberikan Si Kakak di depan wajahku untuk mengamatinya dengan lebih seksama. Aku teringat perkataan Si Kakak tentang ‘tulisan di komputer’. Ternyata benda yang tengah kutatap tersebut adalah diarinya yang selama ini ia cicil di komputer, dan baru  ia cetak semalam. Si Kakak bahkan hanya sempat menjepret kertas tersebut seadanya.

Sejujurnya, pada saat itu aku tidak terlalu tertarik untuk membacanya. Namun dengan segala minat yang bisa kukumpulkan pada saat itu, aku pun tergerak untuk membaca lembar pertama dengan perlahan. Lembar pertama berisi sebuah puisi—yang menyerupai narasi. Subjektif, namun aku belum paham untuk siapa puisi tersebut ditulis.

Lembar kedua pun sama.

Begitu pula dengan lembar ketiga dan keempat.

Aku mulai bosan, karena aku belum mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan Si Kakak kepadaku. Mungkin perkataan Harry di sekolah tadi ada benarnya. Namun aku mengubah posisi berbaring dan melanjutkan membaca.

Hai, namaku Berti

Aku berhenti sejenak di baris itu. Berusaha memahami.

Ternyata nama Si Kakak adalah Berti! Aha!

Tapi bukan Berti yang dulu. Waktu telah mengubahku”.

Tulisan Kak Berti telah masuk ke bagian yang menceritakan hidupnya secara langsung.

Kak Berti adalah seorang gadis desa biasa. Ia putri dari seorang ayah bernama Syahili, dan seorang ibu bernama Warsih (nama alias). Selain dirinya sendiri, rumahnya diramaikan dengan ketiga adik kecilnya yang, lucunya, ia representasikan dengan sebutan Comel, Cimol dan Cimut. Bersama dengan kedua orangtuanya yang bekerja sebagai tenaga  pengajar, keluarga kecil mereka hidup bahagia dalam kesederhanaan dan kecukupan.

Bagian-bagian berikutnya dari diari Kak Berti banyak berkisah tentang kesehariannya di masa lalu yang sering ia lalui bersama adik-adiknya, terutama Cimut Si Adik Bungsu. Kak Berti bercerita tentang dirinya yang bersepeda ontel di jalanan kampung sambil membonceng Cimut, tentang ia dan Cimut yang berlari-larian dalam hujan berpayungkan daun pisang, juga tentang ia dan Cimut yang makan buah pisang dari kebun paman mereka. Ia tak terlalu banyak menyebut Cimol dan Comel.

Namun tidak semua bagian diari tersebut bercerita tentang adik-adiknya. Di satu halaman, Kak Berti beralih menceritakan tentang dirinya. Tentang Berti yang tumbuh remaja. Tentang Berti yang tidak lagi bermain bersama adik-adiknya. Tentang Berti yang mulai mengenal ego, aku, gengsi dan pernak-pernik emosional masa remaja lainnya. Tentang Berti yang hanya peduli pada dirinya sendiri, mengabaikan Si Cimut yang rindu main bersama kakaknya.

Lalu hidup mereka sekeluarga dihentak gelombang besar bernama perceraian. Ayahnya, Syahili, pergi meninggalkan keluarga mereka. Kak Berti menggambarkan bahwa ibunya mencintai Syahili dengan sepenuh hati dikali dua, sementara Syahili tak sampai penuh hati mencintai Warsih. Syahili menikahi ibunya, karena dengan itulah langkahnya untuk mendapatkan promosi gelar dapat terbuka lebih lebar. Adapun kelahiran dari keempat buah hati, mungkin bagi Syahili tak lebih dari bentuk kontribusi langsungnya bagi bonus demografi. Toh, setelah mendapatkan gelar sarjananya, apa lagi yang ia inginkan dari seorang Warsih? Mereka pun resmi membelah dua bahtera yang sudah lama diarungi bersama.

Aku terhenyak membaca bagian tersebut. Setelah semua usaha penjelasan yang berputar-putar dengan puisi dan lain sebagainya, semua fakta ini disampaikan dengan begitu gamblang. Aku seketika iba pada Kak Berti, terlebih lagi pada Si Cimut yang kini terpisah dari Kak Berti. Dan saat aku berusaha memposisikan diriku di tempat Kak Berti, yang mampu kurasakan hanyalah menatap keluarga yang retak tersebut dari sudut pandang Si Cimut. Iya, mungkin itu yang Kak Berti lihat dariku. Mungkin ia melihat versi lain Cimut dalam diriku, yang dulu tidak sempat ia lihat tumbuh menjadi seorang remaja. Mungkin Kak Berti ingin menebus pengabaiannya dulu pada Si Cimut, sementara yang bisa ia temukan di dekatnya pada saat itu hanya aku dan diari tempatku terkadang mengadu. Mungkin dalam imajinasi Kak Berti, Cimut kini tengah bersekolah di suatu SMP dan juga suka menulis diari yang alay sepertiku, entah dimana.

Usai menuntaskan bacaanku, aku menangkupkan diari Kak Berti di depan dadaku, lalu meletakkan pergelangan tanganku melintang di depan kepala. Aku merenungkan sejenak arti semua ini sebelum muncul berbagai pertanyaan. Dimana Si Cimut sekarang? Bagaimana keadaan Kak Berti dan adik-adiknya? Lalu di atas semuanya, aku merasakan sebuah koneksi yang unik tengah terbentuk antara aku dan Kak Berti. Aku seketika paham. Semua perasaannya adalah kekalutan yang bermuara pada tulisan, seperti air yang mengalir dan menggenang di sebuah bendungan. Bendungan tersebut adalah diari ini. Pada masa-masa yang sulit, tentu lelah rasanya menampung semua kekalutan tersebut seorang diri, sehingga ia merasa perlu mengucurkan sedikit kekalutannya kepada orang lain, berbagi. Dan dia memilihku untuk menjadi teman berbaginya.

Aku gusar di tempat tidurku. Mungkin terlalu banyak air bendungan Kak Berti yang kuraup. Bagaimana jika itu aku, keluargaku yang pecah berantakan? Bagaimana jika aku yang terpisah dengan kakak perempuanku? Hal-hal tersebut tentu tak perlu terjadi hanya agar aku paham bagaimana rasanya. Aku memejamkan mata, membayangkan bahwa aku adalah Si Cimut.



Terima kasih Kak Berti.


Terima kasih sudah hadir dan memberi tahu bagaimana cara seorang kakak menyayangi adiknya


Terima kasih sudah ada dan berbagi


Terima kasih... 




----Fin----