Sabtu, 23 November 2019

The Legend of Hj. Maimunah


Foto legendaris Kakek dan Nenek saat masih muda (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)

Pernah dengar tentang 30 Hari Bercerita?

30 hari Bercerita atau biasa disingkat HBC, merupakan tantangan menulis secara maraton sepanjang Bulan Januari setiap tahunnya. Bisa dipastikan setiap awal tahun, postingan bertagar #30hbc tidak sulit ditemukan berseliweran di feed instagram. Pengguna instagram yang mengikuti challenge ini diharuskan mengunggah satu foto beserta kisah menarik dalam captionnya, satu foto tiap satu hari per tanggal 1 Januari hingga 30 Januari. Beberapa penulis karbitan (seperti yang mengetik ini) biasanya memanfaatkan challenge 30 Hari Bercerita sebagai ‘angin’, baik untuk menajamkan kemampuan menulis, melatih konsistensi menulis maupun sekedar untuk meningkatkan reputasi dan jumlah pengikut instagram.

Tahun lalu tagar 30 Hari Bercerita adalah #30hbc2018 (sila search di instagram, dan kamu akan paham sendiri apa yang sedang kuocehkan saat ini). Ribuan post dengan tagar yang sama akan muncul saat kamu mencari di kolom search. Bisa dibayangkan betapa banyak dan kompaknya manusia Indonesia yang mengikuti event ini, dan itu berlangsung setiap tahun, dengan jumlah peserta yang makin banyak dari waktu ke waktu.

Hemat kata, aku termasuk salah satu yang terbawa arus tren satu ini. Awal Januari tahun lalu aku mengikuti challenge tersebut untuk pertama kalinya, setelah sebelumnya di Bulan Desember 2017, nenekku, Hj. Maimunah binti K.H. Ali Cholik menghadap Yang Maha Kuasa. Tekadku untuk mengikuti challenge tersebut hingga tuntas turut diiringi dengan sebuah penemuan langka : kumpulan album foto almarhumah nenek yang kutemukan di lemari peninggalannya. Maka muncullah sebuah ide tulisan yang tak habis-habis hingga tanggal 21 Januari : lika-liku kisah hidup Hj. Maimunah.

Oh, tentu kita semua memiliki nenek atau kakek yang istimewa. Maka biar kuperjelas : Nenekku sangat istimewa. Dan untuk itu, ceritanya lebih dari pantas untuk kutuliskan ulang berdasarkan semua pengetahuanku tentang hidupnya.

Cerita tentang Nenek dapat kalian telusuri di Instagram dengan tagar #redhobercerita. Aku mengikuti challenge 30HBC dengan menggunakan dua akun instagram yang berbeda, dan itu membuat beberapa orang kesulitan mengikuti ceritaku secara runtut.

Maka untuk mempermudah kalian untuk membacanya dan untuk merapikan kembali feed instagram akun sebelah (yang harusnya didedikasikan khusus untuk ilustrasi saja), maka aku merencanakan memindahkan tulisan tentang Nenek ke blog ini.


Nah, selamat membaca.

- - - - - - - - -

Nenek (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)

Meet Hj. Maimunah, our beloved grand mother.
.
Nenek kami berpulang menghadap Yang Maha Kuasa 21 Desember 2017 lalu (yang secara dramatis berbarengan dengan tanggal ulang tahun Papa). Namun sebelum itu, biar kuberitahu kalian, ia telah hidup dengan sangat menakjubkan.

Nenek lahir tahun 1935. Atau setidaknya, itulah yang tertera di KTP-nya. Tahulah kalian, orang zaman dulu sering kali hanya menerka-nerka tahun kelahiran mereka saat mendaftarkan diri ke Dinas Catatan Penduduk. Namun jika itu benar, maka nenek sudah hidup selama 82 tahun! Dan jika itu tidak benar sekali pun, nenek tetaplah menakjubkan, karena ia turut merasakan dua kali terjajahnya Indonesia.

Hidup di masa perang tentu sulit bukan main. Soal pakaian, jangan bayangkan semua orang bisa pergi ke luar rumah dengan mengenakan smart casual. Bisa punya baju saja alhamdulillah. Sebagai alternatif sandang, anak-anak pada masa itu mengenakan karung yang dicuci bersih, dipotong dan dijahit menjadi pakaian. Iya, karung. Dan bukan karung berserat sehalus karung beras yang biasa kita temukan di masa kini, melainkan karung goni yang biasa digunakan untuk membungkus gula atau gandum. Selebihnya, jangan harap mereka bermain keluar rumah menggunakan sehelai pakaian pun.

Tentang pangan pun tak jauh berbeda. Benar kata guru SD-ku dulu : Belanda menjajah lebih lama, tapi Jepang lebih kejam. Saat Jepang menginvasi Palembang, wilayah 10 Ilir tempat Nenekku bermukim menjadi salah satu wilayah yang paling terkena dampaknya. Pangan saat itu sangat sulit didapatkan. Walhasil, warga terpaksa mengantre untuk menerima ransum yang dibagikan oleh tentara Jepang tiap harinya. Tentu ransum yang dimaksud bukanlah cup mi ramen. Orang Palembang zaman dulu terbiasa ngemil beras kutuan yang dicampur dengan gilingan kulit talas. Kekurangan gizi? Hmm jawab saja sendiri.

Meski hidup sulit, sebagai anak-anak tentu Nenek tak lepas dari kegiatan bermain. Ia seorang gadis yang supel, terbuka, berteman dengan siapa pun. Silaturahmi yang nenek jalin dengan semua orang sejak masa kecilnya membuatnya dikenal semua orang di kampungnya, dan pada akhirnya membantunya tertolong dari berbagai kesulitan.

Nenek yang masih muda, bersama anjing peliharaannya. Kita namai saja Bombom
(sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)

Nenekku adalah orang yang, jika meminjam istilah orang Palembang, ‘setil’. Untuk kalian yang belum tau, setil adalah cara lain orang Palembang untuk menyebut gaul, keren, atau semacamnya. Tentu saja dalam kasus nenek, gaul yang dimaksud adalah gaul yang sesuai dengan kaidah ‘kegaulan’ yang ada pada masa pos-kemerdekaan. Macam mana pula kaidah kegaulan tersebut? Persisnya, aku tak tahu. Kau tanyelah Kak Ros kau.

Ia berteman dengan siapa pun, apa pun. Saat bermukim di Bengkulu setelah menikah dengan kakek, ia meramaikan rumah dengan memelihara sembilan ekor anjing, seekor kera siamang dan berbagai jenis burung yang entah lagi berapa ekornya. Demi berkunjung ke kediamannya, seorang tamu hendaknya menelepon tuan rumah terlebih dahulu dan memberitahukan perihal niat bertamunya, demi mencegah dirinya dari mendapatan gigitan anjing di pantat atau tungkai.

Setelah berkeluarga, nenek tak berniat dipanggil dengan sebutan yang lazim untuk perempuan berkeluarga pada masa itu seperti ‘Ibu’, ‘mama’, ‘bunda’ atau ‘emak’. Ia memilih sendiri jalan ninjanya, panggilan untuknya.

Ia memilih dipanggil ‘Mami’. Cik Mun dan Mang Hatta, Mami dan Papi. Pasangan yang menjalani lika-liku hidup berdua, berpindah-pindah dari Palembang ke Jakarta, lalu ke Bengkulu dan ke Palembang lagi. Dikelilingi keluarga tercinta, hewan piaraan tersayang dan rekan-rekan terpercaya, hidup mereka tak kurang suatu apa pun. Kecuali satu hal.

Mereka belum pula dikaruniai anak.

Nenek dan Kakek dalam busana pernikahan adat Palembang
(sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Aku tidak tahu persis bagaimana nenek dan kakek pertama kali bertemu. Namun satu yang kutahu pasti, pada masa muda mereka, belum ada yang namanya pacaran sebelum nikah. Orangtua zaman itu biasanya memadukan anak gadis atau anak bujang mereka dengan anak gadis atau anak bujang dari kerabat dekat. Setelah dipadukan, masalah lanjut atau tidak dikembalikan kepada anak-anak mereka. Kenalan, dekati bapaknya, lamar. Seorang gentleman, kakekku itu .

Kakek bernama lengkap Kemas Muhammad Hatta bin Kemas Muhammad. Untuk beberapa tahun aku sempat bertanya-tanya, jika kakek bergelar Kemas, lalu kenapa Mama tak bergelar Nyimas?
Aku lalu berkesimpulan bahwa gelar keturunan asli Palembang tersebut memang tidak wajib diletakkan di depan nama. Aku kenal beberapa orang yang seperti itu.

Berbeda dengan nenek yang tak bisa baca-tulis di kala itu, kakek adalah laki-laki yang rajin membaca. Bahkan di usianya yang senja dan meski daya penglihatannya makin terbatas, ia masih setia membaca koran Sumeks dan menonton berita di TV. "Metr* TV ini bagus beritanyo. Cuman sayang gambarnyo bae jahat", komentarnya pada suatu ketika.
.
Saat masih bujang, Kakek menjalankan sebuah usaha distribusi sembako yang berkantor di Bengkulu. Setelah menikah, usahanya terus berkembang, mengharuskannya berpindah-pindah tempat tinggal bersama Nenek. Terakhir, Kakek dan Nenek membangun sebuah rumah di depan rumah panggung keluarga besar Nenek di wilayah 10 Ilir untuk menetap di Palembang. Rumah inilah yang hingga saat ini kami sebut 'Rumah Nenek'



Nenek dan Kakek, menggendong Mama (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah) 

Kakek dan Nenek divonis tak bisa memiliki keturunan biologis.

Jika kalian tanya bagaimana perasaanku saat menulis ini, jujur saja, aku tidak malu. Tuhan Maha Adil. Dia memberi karunia-Nya pada siapa yang Dia kehendaki dan menahannya dari siapa yang Dia kehendaki.

Impotensi bukan aib, melainkan ujian. Bagi Kakek dan Nenek yang hidup di masa itu, dimana slogan “banyak anak banyak rejeki” masih harum-harumnya, ujian tersebut sangatlah berat. Mereka tentu baik-baik saja jika harus hidup berdua. Namun dalam tatanan sosial masyarakat pada masa itu, tak memiliki keturunan adalah sesuatu yang renyah untuk digunjingkan. Bukannya Kakek dan Nenek peduli dengan semua ocehan bau dari berbagai penjuru dan kolong rumah, bukan. Tapi nenek saat itu ‘kepunan’ untuk menggendong anak bayi, membesarkan anak-anaknya sendiri.

Maka Kakek dan Nenek, meski dalam kesibukan sehari-harinya mengumpulkan nafkah dan menata masa depan, mencoba mencari jalan keluar.

Hingga pada suatu ketika bertamulah seseorang ke rumah Nenek. Seorang lelaki berdarah Komering bernama Dung Ismail. Ismail tidak datang seorang diri. Ia membopong sesuatu yang bergerak dalam pelukannya. Ia membawa serta anaknya yang masih begitu kecil.

Kalian tahu persis apa yang berikutnya terjadi. Perekonomian Indonesia pada masa itu begitu suram, dan orang-orang kecil seperti Ismail menjadi salah satu korban hiperinflasi. Membesarkan anak yang masih kecil dalam kondisi tersebut membuat Ismail khawatir. Ia tak tega menimpakan kesulitan hidup pada anak bayinya yang tak berdosa.

Tuhan pun menggerakkan takdir melalui hatinya. Dengan kebesaran hati dan keikhlasan yang tak bisa diukur, Ismail dan istrinya merelakan bayi mereka untuk diangkat anak oleh Kakek dan Nenek. Bayangkan saja, wajah Nenek yang belum berkeriput saat itu tak henti-hentinya tersenyum, menggendong dan memilin-milin gemas jemari anak barunya.

Aku tak tahu persis siapa yang punya hajat, namun bayi perempuan tersebut kemudian diberi nama Lisnawati.

Nenek, Kakek dan Lisnawati yang sudah besar
(sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Nenek (yang sudah resmi dipanggil Mami) biasa memanggilnya Lis.

Pernah pada suatu ketika, Lis yang masih kanak-kanak bertengkar dengan salah satu sepupunya. Biasalah, namanya juga anak-anak. Namun kali ini, sepupu Lis mencakar bahunya, menyisakan luka yang tidak hilang sampai sekarang.

Lis pun pulang ke rumah sambil menangis. Ia memeluk Mami dan bertanya mengapa perlakuan semua orang padanya begitu berbeda. Mengapa hanya dia yang diperlakukan berbeda.

Setiap kali pertanyaan itu terlontar, Mami hanya mengelus kepala Lis dan berkata : jangan terlalu pikirkan kata-kata mereka. Mami tak berniat memberi tahu Lis tentang segalanya. Setelah Mami dan Papi mengadopsi Lis, keluarga besar Mami dan Papi berkomitmen untuk menjaga ucapan dan sikap mereka. Mereka mengajarkan anak-anak mereka untuk memperlakukan Lis sebagai keluarga, untuk tidak mengungkit muasal Lis meski mereka bertengkar sehebat apa pun. Sebagian tentu mampu memegang teguh komitmennya, namun sebagian lainnya kurang mampu memahami pentingnya menjaga kehormatan manusia lain.

Saat kalian membaca ini, bayangkan kalian berada di posisi Lis. Bayangkan bahwa keluarga yang menyayangi kalian selama ini sebenarnya adalah ‘keluarga orang lain’, sementara keluarga sejati kalian tengah menjalani hidup mereka sendiri di tempat yang terpisah. Di antara dua keluarga itu, dimana tempat kalian? And if not both, then which corner of this universe belong to you? Bayangkan betapa kosongnya jiwa kalian setiap kali kalian putus asa, dan hal menyakitkan inilah satu-satunya yang rajin muncul dan mengisi jiwa kalian saat itu. Betapa rasanya ingin menghilang dari dunia ini walau sebentar saja.

Syukurlah, Mami dan Papi menyayangi Lis dengan sepenuh hati kuadrat, tanpa kurang sedikit pun.

Kelak, dari rahim Lisnawati-lah aku akan lahir. Dan setiap kali aku merasa marah padanya, aku akan membayangkan masa kecilnya, membayangkan semua rasa sepinya. Dengan mengingatnya, marahku akan luruh menjadi iba, lalu menjadi sayang. Sejatinya orang-orang kesepian seperti kami hanya butuh pelukan, bukan lawan sparring.

- - - - - - - -

Mami dan Papi menyayangi Lis sepenuh hati kuadrat, tak kurang sedikit pun.

Mami mengajari Lis segala yang harus dia pahami dan kuasai sebagai seorang perempuan. Papi membanting tulang dan memeras keringat untuk menyekolahkan Lis hingga SMEA. Semuanya hanya demi satu tujuan : membuat Lis setara dengan teman-temannya, untuk menyenangkan hatinya. Bahkan Mami dan Papi mengangkat salah seorang keponakan laki-laki mereka menjadi anak asuh, agar Lis punya adik dan tidak kesepian di rumah.

Pun demikian, selalu ada perasaan yang mengganjal di hati Lis. Semacam hajat yang perlu dituntaskan. Hajat tersebut lalu menuntunnya pada nama Dung Ismail. Namun di era Orde Baru dan dengan akses informasi yang begitu terbatas, segala hal tentang keluarga kandungnya begitu samar-samar, begitu tak terjangkau. Lis tak bisa mencari tahu segalanya seorang diri.

Dan pada saat itulah, seorang superhero baru bergabung dengan Tim Avengers. Namanya Mashudi Supardi. Alter-ego-nya dikenal dengan nama Papa. 
Jika dibandingkan dengannya, Lis masih jauh lebih beruntung karena dibesarkan oleh Papi dan Mami.

Mashudi Supardi (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Mashudi lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga Jawa. Pada era Presiden Soekarno, keluarga besarnya bertransmigrasi dari wilayah Brebes ke Kota Palembang, tepatnya ke Kelurahan 9 Ilir. Ayahnya seorang petani dan ibunya mengurus rumah tangga. Ditambah dengan jumlah saudaranya yang berjibun, tentu hidupnya penuh dengan keterbatasan finansial. Mashudi sudah merasakan kesulitan hidup sejak ia masih kecil.

Namun Mashudi adalah anak yang cerdas. Ia rajin bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah Qur’aniyah di wilayah Sayangan. Sekedar informasi, MI, MTs dan MA pada masa itu tidak mengajarkan ilmu eksak dan sosial-ekonomi seperti sekarang, melainkan hanya ilmu agama Islam dan bahasa. Jadi bayangkan saja seperti apa terkejutnya Mashudi ketika ia melanjutkan sekolah ke SMA Negeri. Ia kontan menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya yang rajin juara kelas, sebut saja Bambang.

Bambang selalu mendapat nilai fisika di atas tujuh, sementara Mashudi tak pernah lebih dari empat. Bambang memperolok Mashudi tiap kali itu terjadi, mengatainya tolol. Suatu hari, Mashudi pulang ke rumah membawa nilai empatnya dan bertekad membalik nasibnya. Ia belajar dengan keras. Pada kesempatan berikutnya, Bambang mendapat nilai tujuh, dan Mashudi sembilan. Terdiamlah seisi semesta kelas mereka. Semenjak saat itu, titik balik kehidupan Mashudi dimulai.

Asal tahu saja, dokter sudah lama menjadi cita-cita yang mainstream, bahkan sejak zaman Mashudi jalan kaki dari rumahnya di 9 Ilir ke SMAN 4 di Plaju. Mashudi menjadi salah satu yang mencita-citakannya. Namun karena ekonomi keluarganya yang sulit, ayahnya yang sakit-sakitan dan adik-adiknya yang harus diberi makan, Mashudi mau tak mau mengurungkan cita-citanya. Ia mengambil jurusan sosial-ekonomi pertanian (sekarang Agribisnis) Unsri di ujian Sipenmaru. Ia lolos.

Sepuluh tahun setelah itu, ia resmi mendapat gelar insinyur pertanian dan merintis perusahaannya sendiri : CV. Panji Ksatria.

Mashudi Supardi dan Lisnawati di hari akad pernikahan (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)

Saat mama masih bersekolah di SMEA (sekarang SMKN 3), Papa sudah berkuliah di Kampus Pertanian Unsri.

Aku tidak tahu persis bagaimana awal pertemuan mereka, dan aku sungguh sungkan menanyakannya. Seolah sudah pengaturan default-ku untuk mengenali Mama sebagai wanita gemuk yang penyayang, dan mengenali Papa sebagai laki-laki berkulit legam yang dulu sering  menjajaniku ciki. Geli rasanya jika aku membayangkan bahwa mereka dulu pernah muda dan bercinta. Tapi ada satu hal yang aku tahu soal kencan pertama mereka, seperti kata Papa :
“Mama kau dulu pake baju bola-bola (polka dot)”.

Selain tempat bersekolah mereka yang dekat, tempat tinggal mereka juga hanya sepelemparan batu. 9 Ilir tempat tinggal Papa hanya satu kelang dari 10 ilir tempat Mama tinggal. Papa pun sangat gampang berkenalan dan mengakrabkan diri dengan keluarga Mama, termasuk dengan Mami dan Papi. Bahkan Mama dan Om Erwin, sepupu yang menjadi adik asuhnya, hadir saat wisuda Papa.

Menjelang pernikahan mereka, Mama dan Papa mencari tahu tentang keluarga kandung Mama, tentang Dung Ismail dan keluarga besarnya. Namun tidak banyak informasi yang mereka dapatkan—atau mungkin mereka tahu, tapi tidak menceritakannya pada siapa pun?

Informasi terakhir yang mereka peroleh adalah bahwa keluarga Dung Ismail pada saat itu tengah bermukim di Pulau Jawa, sementara Dung Ismail sendiri sudah lama meninggal. Mama tak punya lagi kesempatan untuk bertemu ayah kandungnya. Sejak saat itu, nama Dung Ismail menjadi topik yang tidak tersentuh lagi di bawah atap rumah Mami, seolah terkubur bersama jasad pemiliknya.
Papa dan Mama menikah pada 3 April 1986. Papi menjadi wali bagi Mama, sebagaimana tertulis di buku nikah Mama dan Papa. Namun sebagaimana orang Arab pada masa Rasulullah memanggil anak angkat mereka, Papa mengucap ijab qabul dengan menyebut nama orangtua kandung Mama : Lisnawati binti Dung Ismail.

(sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)

Setelah Mama menikah, kehidupan Mami dan Papi mulai memasuki masa tua.
Mereka kemudian memperoleh panggilan baru : Nenek dan Kakek.

Keseharian Nenek dan Kakek mau tak mau juga berubah mengikuti usia fisik mereka. Kakek menutup usahanya, berhenti merokok dan menjadi kakek-kakek biasa yang selalu mengenakan kain sarung dan duduk di teras rumah tiap pagi, menyapa tetangga yang lewat kalau bukan membaca koran. Di hari-hari tertentu, Kakek akan duduk dekat sekali dengan layar TV tabungnya untuk menyaksikan Film Warkop di RCTI. Ia lalu tertawa-tawa, terbahak-bahak, sebelum akhirnya terbatuk-batuk. Sementara Nenek, sebagaimana nenek-nenek lain pada umumnya, tiap pagi selalu menyapu teras, menyeduh teh untuk Kakek, lalu sesekali berjalan kaki ke Pasar Kuto untuk memilih sendiri lauk makan mereka. Jika bawaannya terlampau banyak, Nenek akan pulang ke rumah naik becak.

Meski hidup tak lagi semeriah dulu, sejatinya Nenek dan Kakek masih memiliki sebuah cita-cita yang belum terlambat untuk dikejar : naik haji. Demi cita-cita itu, mereka berdua yang sudah renta tekun berhemat, berpuasa sunnah, menyisihkan sebagian uang harian mereka dan menyimpannya di gerobok (lemari) legendaris tempat kutemukan semua album foto mereka ini. Tak terhitung dulu betapa seringnya Kakek membuka gerobok itu dan membongkar kembali tumpukan uangnya tiap kali aku minta jajan. Lucunya, Kakek selalu memberi sesering apa pun aku meminta. Ia tidak pernah marah, walau semua uang itu ia tabung dengan susah payah.

Good guy Kakek. Sudah hampir 14 tahun. Aku jadi rindu.

- - - - - - - -

Siapa yang tidak suka hujan? Aku suka.
Sebagian besar orang lain juga demikian.

Tapi siapa yang suka petir? Aku tidak suka.
Selain anjing dan hantu, petir termasuk dalam daftar ketakutanku di masa kecil.

Syukurlah, Tuhan menciptakan cahaya yang mampu merambat lebih cepat dari suara dan petir. Ketika kilat menyambar, aku pun punya kesempatan untuk mengambil bantal terdekat dan membenamkan kepalaku di dalamnya. Walaupun jika dianalisis, bantal di kepala sebenarnya tak memberikan proteksi apa pun dari sambaran petir. Lantas apa gunanya aku bersembunyi di bawah bantal? Entahlah. Naluri anak kecilku dulu beranggapan bahwa ada bahaya yang bisa kuhindari jika aku tidak mendengarkan suara guruh.

Oke, cukup soal petir dan ketakutanku.

Pernah suatu malam saat Nenek menginap di rumah kami, hujan yang sangat lebat turun disertai geledek beruntun. Kami sekeluarga langsung mematikan TV dan berkumpul di satu ruangan.

“Kalau hujan deres macem ini, Edo tuh jangan lepas baco Surat Qulhu”, ujar Nenek. Nenek tak pernah lelah menyampaikan pesan itu di tiap kesempatan, sebagaimana orangtuanya mengajarinya dulu saat Nenek masih kecil.

FYI, Qulhu yang Nenek maksud adalah tiga surat terakhir di Alquran. Tentang fadhilah membaca Surat Qulhu ini kita semua pasti tahu. Atau? Go google it.

Saat Nenek masih kecil, tentara Jepang rajin menculiki anak-anak gadis warga kampung 10 Ilir. Mereka tak ragu membunuh yang melawan. Sebuah keluarga bahkan tewas meledak bersama rumah mereka yang dijatuhi mortir.

Nenek dan adik-adiknya yang masih kecil pada masa itu bersembunyi di kolong rumah panggung mereka. Bacaan yang tak putus Nenek rapal saat itu tak lain adalah Surat Qulhu. Kemudian secara ajaib, Nenek dan adik-adiknya lolos dari penggeledahan tentara Jepang.

Sebagai ganti grup whatsapp keluarga, orang-orang zaman dahulu menyampaikan pesan moral kepada keluarga mereka melalui nasihat turun-temurun. Bedanya, mereka bukan copas dari grup sebelah, namun copas dari pengalaman pribadi di masa lampau.

- - - - - - - -

Sejak sistem kuota diberlakukan bagi jamaah haji di seluruh dunia, Indonesia hanya bisa memberangkatkan tak lebih dari 200.000 orang jamaah haji tiap tahunnya. Itu berarti jika kalian daftar haji tahun ini sementara kuota haji sudah penuh, maka kalian akan mendapatkan nomor porsi di kloter tahun depan, dan jika kuota tahun depan juga penuh, maka kalian akan terdaftar di kuota tahun depannya lagi dan begitulah seterusnya. Terakhir kubaca, rata-rata daftar tunggu haji di Indonesia adalah 17 tahun.

Nenek dan Kakek dalam perjalanan haji, tahun 1995 (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Sebelum saat itu, warga Indonesia yang punya kemampuan ekonomi bisa dengan merdeka menentukan kapan dan berapa kali mereka mau berangkat haji sepanjang hidupnya. Itu mungkin karunia yang tidak akan terulang lagi, kecuali jika Dajjal dan Imam Mahdi sudah muncul. Dua diantara orang Indonesia yang sempat merasakan karunia tersebut adalah Nenek dan Kakek.

Cita-cita Nenek dan Kakek untuk berangkat haji terwujud tahun 1995. Mereka berangkat bersama salah seorang adik ipar dan dua keponakan laki-laki Nenek.

Nenek dan Kakek sudah lumayan tua pada waktu itu. Baik penglihatan dan pendengaran mereka sudah cukup payah, belum ditambah kaki yang nyeri jika lama berjalan dan penyakit diabetes Kakek. Bayangkan betapa sulitnya mereka melaksanakan ibadah haji dengan kondisi demikian. Namun di lain sisi, pikirkan juga apa yang membuat mereka mampu melaksakan semua rukun haji mereka.

Ini kuncinya : mereka menjalani semuanya bersama. Saling mengiringi, saling membantu, saling menjaga diri. Ibadah haji pada waktu itu bisa jadi adalah bulan madu mereka yang paling romantis. Jika bulan madu artis hollywood hanya romantis, bulan madu Nenek-Kakek romantis dan barokah. Artis hollywood mah kalah.

Sepulangnya dari tanah suci, Kakek kembali menabung. Kakek berniat untuk umroh, bertamu kembali ke Baitullah, kembali melihat Ka'bah.
Tapi Kakek tak perlu menunggu tabungannya cukup. Tahun 2005, ia mendapat tiket VVIP untuk kembali melihat Ka'bah, kali ini dari tempat yang lebih indah. Masalahnya hanya, ia tak diberi tiket pulang.

Kali ini Kakek bukan hanya bertamu ke Baitullah, tapi juga bertamu pada Pemiliknya.
Kakek berpulang menghadap Yang Maha Kuasa.

- - - - - - - -

Tahukah kalian bahwa kematian datang dengan membawa tanda?
Tanda pertama muncul satu tahun sebelum kehadirannya.
Tanda berikutnya muncul 40 hari sebelum kedatangannya.
Dan seterusnya.
Pun demikian, hanya sebagian kecil orang yang bisa merasakannya dari awal hingga kematian itu tiba di depan mata.

Kakek yang tua, ompong dan penuh keceriaan (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Sebelum meninggal, Kakekku sendiri sempat melakukan beberapa hal yang aneh.
Pada suatu pagi dia berjalan sendirian ke Pasar Kuto dan membeli beberapa helai sarung baru. .
"Untuk jago-jago, siapo tau besok perlu", begitu jawabnya ketika ditanya Nenek.

Rumah Nenek yang biasanya diramaikan perdebatan dan pertengkaran Nenek dan Kakek, entah mengapa hari itu aman terkendali. Suatu siang, Nenek menyajikan lauk makan siang untuk Kakek, lalu Kakek meresponnya dengan kata-kata yang tak terduga :

"Alangke cantiknyo bini aku hari ini".

Lalu Nenek yang pendengarannya kurang bagus, entah bagaimana, bisa mendengar pujian Kakek dengan sangat jelas. Mungkin penghuni langit saat itu sedang bersekongkol untuk membuat Nenek kesengsem.

Pagi berikutnya, Kakek terbangun lebih cepat. Ia sholat Subuh di kursi favoritnya seperti biasa, lalu duduk bersandar ke tembok setelah selesai. Nenek yang terbangun beberapa saat setelahnya tak mengamati apa yang terjadi. Ia baru sadar setelah mendekati Kakek. Ada yang salah.
Kakek tidak lagi bernapas.

Izrail menjemput Kakek saat Raqib dan Atit tengah bersiap untuk mengirim catatan amalan Kakek ke langit.

Teman..

Meski aku tak menyaksikannya langsung, aku tahu Kakek sudah pergi dengan sangat damai.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.

- - - - - - - -

Kakek meninggal tahun 2005.
Nenek tahun 2017.
Itu berarti Nenek menjanda 12 tahun lamanya.
Selama itu pula ia menjaga harta, tempat tinggal dan rumah tangga yang ditinggalkan suaminya dengan sebaik mungkin. Seorang diri. Memikirkan cerita mereka mengingatkanku pada pasangan keluarga Frederickson di film kartun “UP!”, hanya saja dengan versi Mr. Frederickson yang meninggal duluan.

Nenek beberapa saat sebelum pesta pernikahannya (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Jika kalian pernah pacaran untuk waktu yang saaaaaaaaaaaangat lama lalu putus, susah move on, ingatlah kawan, luka yang kalian terima tidak sebanding dengan orang-orang seperti Nenek dan Kakek yang kehilangan teman hidupnya di usia tua. Setidaknya, mantan kalian tidak meninggalkan wasiat untuk dipenuhi, utang untuk dilunasi, waris untuk dibagikan dan anak-cucu untuk dijaga juga dibesarkan. Di luar semua urusan materiil itu pun, kehilangan teman hidup juga berarti kesepian total bagi mereka. Sementara pacar? Bagi kalian yang masih muda, masih ada banyak waktu untuk mencari pengganti.

Dan syukurnya, meski hidup sendiri, Nenek dikaruniai tubuh yang sehat dan sifat mandiri. Nenek tak pernah bisa diam. Dia akan menyapu, mengepel, mencuci dan menyikat apapun, juga mencabut rumput dan memasak sendiri makanannya kapan pun ia punya kesempatan.

Nenek juga dikaruniai umur yang panjang. Ia masih sempat menimang dan membesarkan langsung dua orang cicit perempuannya, alias keponakanku. Banyak kakek dan nenek di dunia ini yang merasa diberi kesempatan kedua untuk membesarkan anak saat mereka mendapat cucu, tapi aku tak tahu bagaimana rasanya diberi kesempatan ketiga. Nenek tahu.

Nenek selalu sehat dan bertenaga. Ia jarang sakit. Malah saat cucu-cucunya sakit, Neneklah yang merawat mereka.

Oke, mungkin aku bisa meralat tentang rasa kesepiannya.

Boy, she has lived a really blessed life.


- - - - - - - - -

Awal tahun 2017, Nenek dioperasi lasik. Itu membuatnya sedikit terhibur. Namun penglihatannya yang makin jelas membuatnya mulai mencemaskan beberapa hal yang sebelumnya tidak dicemaskannya. Salah satunya adalah pertumbuhan dua orang cicitnya yang masih kecil.

Cek (kakak perempuan) dan kakak iparku adalah pekerja kantoran. Bank tempat mereka bekerja hampir kolaps karena suatu atau lain hal dan itu mengharuskan mereka bekerja lebih keras dan lebih lama. Terkadang mereka pulang lewat tengah malam, atau masuk bekerja di hari libur. Cek tentu tak bisa membesarkan anaknya dengan maksimal dalam kondisi tersebut.

Nenek saat memimpin penaklukan Hungaria beribadah haji (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)

Sebagai gantinya, Nenek menjadi pengasuh keponakanku saat Cek dan suaminya bekerja. .
Nenek? Di usianya yang lebih dari 80 tahun?

Nenek selalu sehat dan bertenaga. Aku sudah bilang itu tiga kali dalam rangkaian cerita ini. Namun kenyataannya, sepanjang apa pun umur seseorang, dia tetap saja menua. Kemampuan fisiknya menurun dari waktu ke waktu.

Cek pernah membayar pengasuh untuk menjaga kedua anaknya, karena kami sepakat Nenek sudah terlalu tua untuk mengurus dua anak kecil yang sedang nakal-nakalnya. Tapi Nenek bersikeras dengan pendapatnya. Nenek tak pernah percaya pada pengasuh bayaran.
Keadaan ini sering kali menjadi pangkal perdebatan. Ditambah pendengaran Nenek yang buruk, terkadang perdebatan mereka seolah naik level menjadi ‘pertengkaran’. Tak jarang semuanya berakhir dengan Nenek yang terdiam, demi melihat anak dan cucunya berteriak padanya, memojokkannya. Dan hampir tiap kali itu terjadi, air matanya mengalir sendiri tanpa sadar.

“Caca sayang dak samo Buyut?”, tanyaku pada keponakanku yang pertama. Caca menjawab ‘iya’.

"Kalo sayang cubo peluk Buyut, cium Buyutnyo”, aku membujuk. Lalu Caca dengan polosnya menurut, memeluk Nenek yang tengah menangis, menciumi pipi Nenek. Air mata Nenek urung jatuh ke pipi. Senyumnya merekah. Nenek memeluki cicitnya penuh sayang.

Teman, ini rumit. Ini bukan lagi tentang benar atau salah.

- - - - - - - -

Saat itu aku kuliah semester tujuh.

Banyak sekali yang sudah berubah dari 10 Ilir.


Dalam 20 tahun terakhir, Kampung 10 Ilir telah menjelma menjadi pemukiman padat penduduk. Isu penggusuran adalah cerita lama, sudah ada sejak Eddy Santana menjabat Walikota Palembang. Pernah beberapa tahun sebelumnya, sekelompok orang misterius yang membawa jeriken minyak tanah tampak berkeliaran di lorong-lorong kampung pada malam hari. Sebagian warga percaya mereka adalah preman yang dibayar orang-orang proyek untuk membakar rumah-rumah kayu di 10 Ilir. Tanpa rumah yang berdiri di atasnya, harga tanah di 10 Ilir akan jatuh. Hal itu akan memudahkan orang-orang proyek dalam melakukan pembebasan lahan. Untungnya usaha pembakaran rumah tersebut tak pernah berhasil.

Lalu entah sejak kapan persisnya, deretan rumah panggung di sebelah Selatan rumah Nenek kini sudah rata dengan tanah.

Pemerintah akhirnya sukses membebaskan lahan tanpa membakar satu rumah pun. Mereka hanya butuh uang, uang yang sangat banyak. Dan kini lihatlah! Aku bisa melihat langsung Ampera dari lantai dua rumah Nenek. Tapi sebagai gantinya, kini salah satu pemukiman bersejarah di Palembang luluh-lantak, persis Desa Konoha pasca serangan Pain.

Dibohonginyo kami selamo ini”, Nenek tiba-tiba berkata lirih. Matanya menatap keluar jendela, ke tempat beberapa ekskavator dan buldozer sedang dengan tekunnya menggilasi tanah. “Ngomongnyo nak buat kolam, ngelebari jalan. Taunyo nak dibangunnyo hotel”. Tentang isu satu ini, entah siapa yang menghembuskannya. Aku pada saat itu masih tak tahu mana yang benar.

Salah satu rumah yang terkena penggusuran saat itu adalah rumah Mang Ujuk, adik laki-laki bungsu Nenek. Mang Ujuk membeli rumah baru di wilayah Lemabang dari uang kompensasi yang dia dapat. Bermukim di lingkungan baru bukanlah pilihan yang menyenangkan bagi orang setua Mang Ujuk. Dia terkadang mencari-cari alasan untuk berkunjung dan menginap di rumah Nenek, demi tetap berada di kampung tempat ia hidup sepanjang umurnya.

Kapitalisme memang kejam.

- - - - - - - -


Berbagai kegiatan dan kejadian di kampus turut berperan dalam menyedot konsentrasiku. Aku jarang sekali ke rumah Nenek. “Edo tuh cubolah ke rumah Nenek sekali-sekali. Kangen Nenek tuh samo Edo”, bujuk Papa dalam banyak kesempatan. Mama dan papa masih sering mengunjungi Nenek di akhir pekan, namun aku hampir tak pernah ikut.

Baiklah. Setelah aku selesai menjadi surveyor PIHPS di BI, aku putuskan untuk mengunjungi Nenek. Aku sengaja turun angkot di Pasar Kuto untuk membeli makanan kecil dengan uang pesangonku, kemudian berjalan kaki ke rumah Nenek yang tak terlalu jauh dari sana.

Nenek, seperti biasa, saat kehabisan pekerjaan rumah untuk dikerjakan, akan berbaring di atas kasur sambil berkipas. Ia tidak terlalu memperhatikan aku yang menyelinap masuk lewat dapur. Nenek lumayan kaget dengan kedatanganku, tapi juga senang. Meski mulut Nenek selalu pedas dalam mengomentari makanan apa pun, tapi dia bisa menahan diri ketika mencicipi makanan yang kubeli. Dia tahu aku membelinya dari hasil kerjaku sendiri. Duh, senangnya.

Sembari duduk di dekat jendela, aku lamat-lamat mengamati Nenek. Wajahnya penuh keriput. Semua rambutnya putih. Nenek sudah sangat tua. 12 tahun menjanda, menghuni rumah ini seorang diri. Seperti apa rasanya, Nek?

Awal tahun 2017, Nenek dioperasi lasik. Hal tersebut cukup menghiburnya. Nenek jadi bisa mengenali orang lain dari jarak jauh, membaca running text di siaran berita M*tro TV, membaca tajuk berita di koran.

But with great power, comes great trouble. Penglihatannya yang lebih terang bukan hanya mempermudahnya dalam berbagai urusan, tapi juga membawakannya kecemasan baru. Nenek jadi melihat beberapa hal yang selama ini luput dari matanya yang rabun, yang sebelumnya tidak mencemaskannya. Salah satunya adalah tentang nasib Kampung 10 Ilir yang digusur.

Bayangkan kampung tempat kalian tinggal seumur hidup, sekarang tengah dihancurkan di depan mata kalian sendiri. Dan satu-satunya hal yang bisa kalian lakukan hanyalah menyaksikan.

Berbagai kecemasan Nenek berkumpul di pikirannya. Beberapa bulan sejak Nenek dioperasi lasik, Nenek jatuh sakit.

- - - - - - - -

Bagian ini adalah bagian yang paling memilukan untuk diceritakan ulang.

Nenek jatuh sakit. Nenek jarang sakit, dan tak pernah parah. Sakitnya kali ini adalah sebuah anomali.

Saat aku mengunjunginya, Nenek hanya mampu berbaring di atas kasur. Dia hanya bangun ketika hendak makan atau buang hajat, dan itu pun harus dibantu. Semua persendiannya sakit, semua gerakan tubuhnya membuatnya semakin kesakitan. Puncaknya, Nenek bahkan harus dibantu untuk sekedar mengubah posisi tidur.

Fisik Nenek menyusut. Tangan dan kakinya yang dulu gempal dan kuat kini hanya tulang yang dibalut kulit. Matanya kuyu. Suatu kali saat baru terbangun, dia menatapku yang tengah duduk di dekat jendela. Hanya penglihatannya saja yang masih jelas.

"Edo....", panggilnya lemah.

Aku langsung melompat menghampirinya, lalu mendekatkan mulutku ke telinganya.

"Kenapo, Nek?"

"Edo kapan wisuda?"

Aku diam sejenak, memikirkan jawaban paling diplomatis.

"April, Nek, insya Allah" dustaku, setengah berharap itu benar. Kata-kata itu terdengar menyedihkan.

Nenek diam sejenak. Ia menatap kosong ke luar jendela, menembus tembok yang dibangun orang proyek di antara rumahnya dan lokasi penggusuran. Ia menerawang jauh, seolah melihat sesuatu.

"Sudah. Dak sampe Nenek kalo nak selamo itu".

Hatiku mencelos.
Nenek sudah melihat pertanda-Nya. Ia bersiap untuk pamit.

(sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Demi mendengar kata-kata Nenek, aku mengubah isi doaku setiap usai sholat.
Aku tak lagi hanya meminta dipermudah dalam pengerjaan skripsi. Aku minta agar Nenek hadir di hari wisudaku, bersama Mama dan Papa. Aku minta umur Nenek dipanjangkan, tubuhnya disehatkan.
Namun tak peduli sekhusyuk apa pun aku meminta, tetap saja ada sesuatu yang nengganjal dalam hati.

Nenek menolak hampir semua jenis makanan yang disuapi Mama. Puncaknya adalah Nenek harus diopname. Jika nutrisi tak bisa masuk lewat mulutnya, maka jawabannya hanya kantong dan selang infus. Mama akhirnya mengambil cuti, memutuskan menemani dan merawat Nenek selama yang dia bisa.

Psikis Nenek ikut terkuras bersama bobot tubuhnya. Nenek mulai berbicara hal-hal yang tidak kami pahami.

"Hari apo ini?", tanyanya sebangun dari tidur. Kami menjawabnya sesuai kalender.

"Aku nih kalo bukan Hari Rabu, Hari Jumat", ujarnya lemah. "Aku nak pegi jauh. Kawan aku yang ngajak".

Papa masih bisa menanggapinya dengan positif. "Nenek nih lah tuo, Dho. Lah pikun. Dak paham lagi apo yang diomonginyo", kata Papa padaku.

Padahal aku tahu, di dalam hati masing-masing, kami semua menarik kesimpulan yang sama. Hanya tak ada mulut yang cukup tega untuk mengatakannya langsung.

Mungkin memang lebih baik begitu.

- - - - - - - -



Papa mendapat telepon sebelum tengah malam dari Mama. Telepon yang sangat singkat.

Setelah Papa menutup telepon, aku dan Papa langsung melompat masuk ke dalam mobil. Mobil melaju kencang melewati jalan Kol. H. Burlian. Papa menyetir setengah kalap. Kami hampir menabrak beton pembatas jalan, lupa bahwa jalan raya yang kami lewati tengah dialihkan karena pembangunan lintasan LRT. Sepanjang jalan, jantungku berdebar tak karuan. Perutku kebas. Aku tahu apa yang sedang terjadi di rumah Nenek yang kami tuju. .
Sesampainya di rumah Nenek, semua orang sudah ramai berkumpul. Adik-adik dan keponakan-keponakan Nenek duduk dan berdiri di sekitar tempat Nenek berbaring. Salah satunya, Mak Idah, menggenggam tangan Nenek sambil merapal ayat-ayat suci. Mama sendiri duduk di sebelah Nenek, berusaha menyuapkan air putih ke mulut Nenek yang terbuka demi membasahi tenggorokan Nenek yang kering.

Aku sudah sering melayat, tapi itu pertama kalinya kulihat langsung sakaratul maut terjadi di depan mataku. Nenek seperti tertidur, namun napasnya tersengal. Alih-alih tertelan, air yang disuapi Mama hanya tertahan di pangkal lidah Nenek, menggelembung karena terdorong napasnya.

Aku duduk di antara Mak Idah dan Mama, menatapi Nenek yang pucat sambil menunggu dengan gusar apa yang akan terjadi. Kaki Nenek sudah dingin. Setelah lama berada dalam keadaan itu, air yang ada di mulut Nenek akhirnya berhenti menggelembung. Nenek menelannya.

Tapi sebagai gantinya, Nenek berhenti bernapas.

Mama mengusap dahi Nenek dan memanggil-manggil namanya. Memanggil-manggil tempat berbaktinya yang semata wayang, satu-satunya ibu yang dia kenal di dunia. Mama memanggil Nenek, seperti anak kecil memanggil orangtuanya yang hendak berangkat kerja, cemas orangtuanya hanya akan pergi lalu tak kembali. Malangnya, kali ini orangtua yang dia panggil benar-benar tak akan kembali.

Ikhlasken... Sudah, Lis, ikhlasken....”, bisik Mak Idah.

Suara isakan mulai buyar. Aku mundur sejenak, memberi ruang bagi kerabat yang ingin mendekap Nenek.

Lewat kematian, Nenek beristirahat dari sakitnya.

Lewat kematian, Nenek beristirahat.


Nenek dan Mama (sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Ketika harapan terakhir hilang, maka demikian pula dengan semua kekhawatiran.

Melihat Nenek menderita sakit dalam beberapa bulan sebelumnya jauh lebih memilukan dari melihat Nenek meninggal. Dan justru lewat kematian, siapa tahu, Tuhan bukan hanya menghapus semua rasa sakit Nenek, tapi juga segala kekhawatirannya. Tak ada lagi rasa khawatir akan cucu-cicitnya, pun rasa khawatir akan penggusuran 10 Ilir. Tak ada lagi rasa sepi karena kehilangan Papi. Semua derita duniawinya terangkat bersamaan dengan jiwanya sendiri. Nenek sudah terbebas dari segala kekhawatirannya akan hidup di dunia.

Sebelumnya aku selalu cemas Nenek tak akan dapat hadir di hari wisudaku.
Tapi sekarang aku tak perlu lagi mencemaskannya, karena hal itu tak mungkin lagi terjadi. Tak ada lagi harapan, berarti juga tak ada lagi kekhawatiran. Terkadang hidup bisa sangat kejam dengan hanya menyisakanmu satu pilihan, yang paling pahit. But it is okay to deal with it. Sering kali menelan pilihan terpahit justru satu-satunya cara untuk mengakhiri segala kecemasan, angan-angan yang menyakitkan.

Sore itu Om Erwin, A’boi dan aku menurunkan jasad Nenek ke liang kubur. Sebelumnya aku masih cemas demi membayangkan pertanyaan terakhir Nenek padaku : kapan aku akan wisuda? Tapi setelah kami menimbunkan tanah kubur di atas jasad Nenek, rasa cemas itu raib, seolah ikut terkubur. Aku bisa wisuda kapan pun, tapi pertanyaan yang akan Nenek hadapi di dalam kubur ini akan jauh lebih besar dan pantas untuk dicemaskan siapa pun yang hadir di pemakaman Nenek.

Nenek sudah mencintai kami semua dengan sepenuh hati kuadrat, tak kurang sedikitpun. Padahal siapa pula kami ini? Keturunan kandungnya saja bukan. Tapi Nenek tak peduli. Nenek cinta kami, titik. Dan sekarang kami hanya mampu membalas semua cintanya lewat doa.

Nenek, terima kasih.
Eh, tidak. Terima kasih saja tidak cukup.
Tapi apa lagi yang bisa kami beri?
Hanya Tuhan Yang Maha Kaya yang sanggup membalas segala kebaikan Nenek dan Kakek.
Tenang-tenang ya Nek, Kek, dalam penantian kalian.
Yang damai.

(sumber : arsip keluarga Hj. Maimunah)
Allahummaghfirlahum, warhamhum, wa afihi wa’fu anhum.

Jumat, 23 Agustus 2019

Sebuah Puisi Tentang Tahi Kucing

Ilustrasi dari Tahi-tahi no Mi, salah satu jenis buah iblis yang belum pernah diperkenalkan Eiichiro Oda. Konon, pemakan buah ini dapat membiaskan kemampuan panca indranya sendiri  hingga ke titik yang tidak terduga.
Suara kentut jadi suara terompet, tahi ayam jadi rasa cokelat.
Ya gitu.


Ketahuilah, sesungguhnya cinta adalah buah iblis yang sebenar-benarnya, seburuk-buruknya.

Buah terkutuk.

Terlahir dalam wujud paling menggemaskan, namun sesungguhnya paling mematikan.

Begitu tak memilih tempat untuk tumbuh.
Begitu gemar bertunas di waktu yang tak seharusnya,
merambati hati sesukanya,
berbuah semaunya,
untuk orang yang tidak semestinya,


Alih-alih menyajikan dirimu pada orang yang peduli untuk menyelipkan tip di bawah piring makan, atau sebarang senyum terima kasih di depan meja kasir,
kau malah memanjakan sukma mereka yang hanya menyantapmu, namun bahkan tak sudi menatap aku yang kau jadikan inang untuk tumbuh.


Dan sekarang, buah jalang, lagi-lagi kau menempatkanku dalam posisi yang teramat sulit.

Di tengah kecamuk kebencianku akanmu, kau berbunga dengan begitu indahnya,
menjebakku dalam dua pilihan yang sama-sama pahit :
membunuhmu, saat kecantikanmu tengah mekar dengan jelitanya;
Atau membiarkanmu tumbuh agar dapat kunikmati cantikmu, sedikit lagi,
bersama kehancuran hatiku, sekali lagi.
Seperti dulu.
Seperti selalu.


Haruskah kusalahkan hatiku yang terlampau subur untuk kau tumbuhi bersama sobat-sobat jalangmu yang lain : harapan dan rasa kesepian?

Atau mestikah kusalahkan diriku sendiri, pemilik hati tersebut, yang tak kunjung tegas mencerabuti akar apa pun yang tumbuh di dalamnya?

Atau (tentu saja) perlukah kusalahkan orang lain yang memetikmu tanpa perasaan berdosa, lalu mengunyah buahmu dengan nikmat di depanku, untuk kemudian mereka ludahkan kembali ke depan wajahku?


Kau pahit, cinta.
Hal manis apapun tentangmu merupakan tak lebih dari delusi fiktif yang kau pancarkan  dari kulit dan onakmu,
yang membuat orang-orang tertipu.

Termasuk aku.

Buktinya, sekarang aku kembali mengunyahmu dengan asyik.

Wah kamu manis, ya.

Kemudian pahit.

Kemudian aku tersungkur,
Mati (suri),
Menunggu
seseorang datang untuk mengobati,
atau sangkakala membangkitkanku kembali.


Dan kita sama-sama mafhum, aku tak pernah butuh sangkakala maupun orang lain untuk bisa bangkit kembali.
Aku akan bangun sendiri, mengobati diri,
setelah kau bunuh berkali-kali,
seperti selama ini.
Hanya agar esok hari kau bisa tumbuh lagi di hati ini.
Lalu aku, kembali terkunci dalam pilihan-pilihan tolol yang kuciptakan sendiri : mematikanmu dengan tega, atau membiarkanmu hidup lebih lama lagi, agar nanti buahmu kucicipi kembali.


Satu-satunya faedah dari memeliharamu adalah aku dapat belajar (sedikit) soal takdir.
Bahwa sebagian orang yang singgah di kehidupanku, terkadang tidak hadir untuk membawa perubahan apapun, apalagi kebahagiaan.
Jauh panggang dari api.

Sebagian datang, hanya karena mereka ditakdirkan demikian, sebelum akhirnya mereka pergi ke tempat yang teramat jauh yang tidak bisa dijangkau lagi dengan jemari atau hati.

Sebagian pertemuan, mungkin, memang diciptakan untuk sebuah kesia-siaan.

Dan aku, di titik-titik masa depan, tak lagi harus menanggapinya dengan nelangsa atau terkejut, seperti saat kutulis puisi ini.

Mungkin kali berikutnya kutemui seseorang yang mampu menyetrumku dengan tatapannya, aku tak perlu lagi berseru : ini dia cinta, dialah yang seharusnya memakan buahmu bersamaku!

Aku cukup bilang : ini semua tahi kucing, dan aku sudah cukup makan tahi kucing seumur hidupku. 

Titik.





~Palembang, 18 Agustus 2019.

Sabtu, 12 Januari 2019

RODA


Aku memiliki banyak pengalaman menyenangkan dan tidak menyenangkan terkait nilai akademik. Kedua jenis pengalaman tersebut bermuara pada satu kesimpulan : nilai yang tercetak di atas selembar kertas sama sekali tidak bisa dipercaya!

Di bangku SMP, aku siswa yang sama sekali tidak menonjol secara akademik. Hasil UN SMP-ku bahkan mencengangkan : nilai totalku dari 4 pelajaran hanya 28,00! Jika nilai itu saja cukup untuk mengukur kecerdasan, maka bayangkan betapa tololnya aku dibanding teman-temanku yang lain (yang dipersenjatai kunci jawaban UN).

Memasuki bangku SMA, roda nasib pun berputar. Dalam ujian saringan masuk sekolahku, aku menduduki peringkat kedua. Itu berarti nilaiku memuncaki nilai 278 siswa lainnya di sekolahku, beserta ratusan siswa lainnya yang tidak lolos ujian saringan. Mata semua orang tertuju padaku, seolah-olah aku adalah orang jenius yang selama ini tidak mereka sadari keberadaannya. Konyol sekali. Padahal baru beberapa bulan sebelumnya aku jadi siswa paling tolol karena masalah yang sama, yaitu nilai. Maka bukannya bangga, aku justru mulai curiga dengan nasib yang menungguku di bangku SMA.

Kecurigaanku terbukti. Memasuki tahun ajaran pertama, roda nasib kembali berputar tanpa ampun. Aku gagal maning. Dua semester berturut-turut peringkat raporku terjun bebas ke Lubang Tartarus, jauh tertinggal dari teman-teman ‘kelas unggulan’-ku yang lainnya. Dan pandangan semua orang  lagi-lagi berubah. Dari dianggap bibit unggul, aku kini dianggap bibit gagal. Bapakku bahkan sampai tidak menegurku beberapa minggu saat tahu anaknya masuk Jurusan IPS. Aku nelangsa.

Tapi lagi-lagi, roda nasib itu terus saja berputar tanpa peduli. Aku menutup tahun terakhirku di SMA dengan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan sama sekali : aku memperoleh nilai UN IPS terbaik tingkat Madrasah Aliyah di seluruh Sumsel. Sejak hari itu, semua orang menatapku dengan cara yang berbeda. Mereka yakin sekali bahwa orang yang paling cerdas di antara mereka kini tengah berdiri di hadapan mereka, dan di suatu tempat di masa depan, orang ini akan membawa faedah kepada semua yang berteman dengannya.

Tahi kucing.

Aku tidak akan tertipu lagi.

Aku yakin sekali bahwa roda nasib akan kembali berputar di masa kuliahku dan kembali membantingku ke bawah. Mungkin dengan sangat keras.

Dan siapa yang (tidak) sangka, ternyata itu terjadi sekarang saat aku sedang berhadapan dengan skripsi. IPK-ku cum laude, tapi masa kuliahku melebihi lima tahun karena skripsiku yang sempat mangkrak. Tidak bisa kuhitung banyaknya orang-orang yang mengataiku dari belakang (tapi ketahuan). Tidak sedikit juga dari mereka yang setiap berjumpa akan bertanya “Kenapo kau nih dak lulus-lulus? Padahal dulu pinterlah kau dari aku”, seolah balap-balapan tamat ini menunjukkan siapa yang paling paripurna kecerdasannya. Astaga. Bisa-bisanya mereka merasa superior, sementara mereka sendiri juga masih pengangguran saat menanyakan kenapa skripsiku tak kunjung kholas.

Akhirnya aku mafhum bagaimana nasib dan permainan roda-rodaannya bekerja. Selama ini semua orang bisa dengan sangat enteng berkata “Nasib itu seperti roda. Kadang kita di atas, kadang kita di bawah”, tapi sama sekali keliru memaknainya lahir batin. Sama seperti nilai-nilai bagus yang pernah kuperoleh seumur hidupku, tanpa dimaknai dengan bijak, perumpamaan tersebut hanyalah perumpamaan.

Kita seringkali lalai menyadari bahwa kondisi ‘atas’ dan ‘bawah’ tersebut sebenarnya adalah kemenangan dan kekalahan yang dipergilirkan di antara semua orang sepaaaaaanjang hidupnya. Kita lebih suka berputus asa saat roda konyol ini menempatkan kita di bawah, lalu merasa jumawa saat roda ini dengan ogah-ogahan mengangkat kita ke atas. Dan yang paling konyol adalah, kita seringkali merasa terkunci dalam kondisi fana tersebut dan merasa semuanya tidak akan berubah.

Padahal jauh di luar nasib dan putaran rodanya, ada kekuatan Maha Besar yang bukan hanya kuasa menggerakan roda tersebut, namun juga segalanya. Kabar baiknya : pemilik kekuatan pemutar roda  itu selalu tahu kapan waktu terbaik untuk menempatkan semua orang di atas atau di bawah.

Maka dari sana, kutarik kesimpulan keduaku : nilai mungkin bisa menunjukkan siapa yang pintar, tapi tidak bisa menunjukkan siapa yang paling pintar. Begitu pula dengan pengalaman organisasi, soft skill, hard skill, kecepatan tamat kuliah, kecepatan mendapat pekerjaan, nominal gaji dan kualitas-kualitas lainnya yang sering kita percaya sebagai  parameter keberhasilan, tidak selalu bisa menunjukkan siapa yang paling segalanya.

Keberhasilan sebenarnya adalah ketika kita bisa bersikap dengan tepat dalam segala keadaan, baik ketika berada di bawah maupun di atas.

Lalu kenapa aku belum tamat-tamat juga?

Bisa jadi karena aku memang belum pantas diberhasilkan. Atau mungkin, roda tersebut patah setelah membantingku ke bawah. Butuh waktu untuk memperbaikinya.

Sabar ya netijen. Jangan nanya soal skripsi melulu.

Sabtu, 29 September 2018

Peksimines : Pekan Seni Mahasiswa Ngenes



Wah, ini postingan pertama setelah enam bulan.

Sebagaimana biasanya seorang bloger iseng, pemilik blog ini juga sempat meninggalkan rutinitas menulis di blog ini tanpa perasaan bersalah. Alasannya mengerjakan skripsi (yang sebenarnya jarang sekali) lah, nulis di web lain lah, ikut kegiatan komunitas lah, makan-tedok-meseng lah.

Namun sebagaimana halnya juga bloger iseng, akan ada waktunya pemilik blog ini juga merasa ‘kebelet’ ingin menumpahkan kembali perasaannya lewat tulisan di blog ini. Alasan untuk melakukan comeback tersebut bisa muncul karena berbagai macam dorongan, misalnya, jatuh cinta. Tapi berhubung sudah lama sekali sejak aku ‘dijatuhkan’ cinta, macamnya dorongan satu ini sudah tidak relevan lagi untuk dijadikan alasan menulis. Jadi kita pakai saja misal yang lain : kecewa dan frustrasi karena tidak jadi ikut Peksiminas XIV.

Nah, ini baru benar. Selain karena alasannya lebih logis, hal tersebut memang BENAR-BENAR TERJADI.

Right. Postingan kali ini tergolong curhat. Jika menurut kalian stalking IG mantan masih lebih berfaedah, silakan tinggalkan blog ini dan lakukan aktivitas berdarah tersebut. Tapi jika tidak, plys don’t go. Q butuh didengarkan—er, dibaca.


Mengenal Peksiminas dan Peksi-peksi Lainnya

Apa itu Peksiminas? Jika kalian mahasiswa (atau pernah jadi mahasiswa) dan aktif di UKM kesenian, tentu Peksiminas ini bukan barang asing. Peksiminas sendiri singkatan dari Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Sebagaimana PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dan PMW (Pekan Mahasiswa Wirausaha), Peksiminas ini adalah event perlombaan mahasiswa berskala nasional yang cukup bergengsi. Bergengsi karena, mahasiswa yang bertanding dalam Peksiminas bukan lagi bertanding mewakili kampus masing-masing, melainkan provinsi masing-masing, dalam 19 tangkai lomba plus satu tangkai lomba eksibisi yang dipertandingkan. And guess, Semua tangkai lombanya bernuansa seni (ya iyalah!), mulai dari tari, vocal group, menyanyi solo, penampilan monolog, pembacaan puisi, lukis, penulisan lakon/puisi/cerpen dan bahkan komik strip.

FYI, aku pernah ikut serta di Peksiminas XIII dua tahun sebelumnya—Peksiminas memang digelar dua tahun sekali—di Kendari, Sulawesi Tenggara. Aku ikut serta di tangkai lomba komik strip. Dan walaupun tidak pulang membawa piala, itu merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan sepanjang masa kuliahku. Bukan hanya berkesempatan mewakili provinsi dalam perlombaan nasional, tapi aku juga berkesempatan menginjakkan kaki di bagian Timur Indonesia, yang entah bisa kukunjungi lagi atau tidak suatu hari nanti, juga bertemu komikus-komikus mahasiswa yang keren-keren dari seluruh penjuru Indonesia.

Sesi foto bersama peserta dan juri komik strip Peksiminas XIII di Kendari, Sulawesi Tenggara

Selain dengan umur yang lah begoyor, aku juga kini sudah duduk di tahun keenamku di Unsri. Dengan batas maksimal masa kuliah tujuh tahun, jelas ini tahun terakhirku bisa ikut serta di Peksiminas, dan keadaan tersebut secara tak langsung justru membuat peksiminas tahun ini jadi berkali-kali lebih berarti buatku. I mean, benar-benar teramat sangat sungguh berarti sekali luar biasa Allahuakbar bagiku.

Tapi untuk bisa bertanding mewakili Sumsel, sebelumnya aku harus bertanding di Peksimida, semacam seleksi daerah antar universitas di Sumsel untuk menentukan siapa delegasi yang pantas mewakili Sumsel dalam tiap tangkai lomba. Dan sebelum Peksimida Sumsel pun, ada Peksimika, seleksi tingkat kampus dalam tiap-tiap tangkai lomba. Lalu dibawah peksimika, ada lagi seleksi tingkat fakultas. Dengan kata lain untuk bisa ikut serta dalam tangkai lomba komik strip di Peksiminas, aku sebelumnya harus lolos ujian tiga lapis.

Atas kehendak Tuhan dan demi mempersingkat postingan ini, walhasil aku lolos di tingkat fakultas dan kampus tanpa ada hambatan yang berarti—selain jadwal pengumpulan karya dan pengumuman yang sempat mundur berkali-kali. Tinggallah Peksimida berdiri congkak di tengah perjalananku, menunggu untuk ditebas.

Namun justru disanalah nasib naas menimpa bukan hanya aku, tapi juga empat peserta peksimida lain dari Unsri.


Perkenalkan Roki, Si Biang Kerok #1

Peksimida Sumsel awalnya dijadwalkan berlangsung tanggal 12 hingga 15 September. Masing-masing lomba dikoordinir oleh universitas yang berbeda-beda, dan kebetulan lomba komik strip dan lukis dikoordinir oleh sebuah universitas swasta di Palembang, sebut saja Universitas Asdfasdfasdf. Lomba yang dijadwalkan berlangsung tanggal 12 tersebut diundur ke tanggal yang belum pasti. Kami mendapatkan informasi tersebut setelah mengontak langsung koordinator dari Universitas Asdfasdfasdf, sebut saja Roki.

Sekedar mengabarkan, Rektorat Unsri sebenarnya memiliki Bagian Kemahasiswaan yang bertugas mengakomodir segala keperluan informasi terkait minat dan bakat bagi seluruh mahasiswanya, termasuk tentang perlombaan akbar setaraf Peksimida dan Peksiminas. Namun dikarenakan satu atau lain hal yang menjengkelkan, maka aku dan Haikal—mahasiswa FE Unsri yang mewakili Unsri dalam lomba lukis—harus berkontak langsung dengan sang koordinator lomba, seorang pegawai kemahasiswaan Universitas Asdfasdfasdf, yang juga menjengkelkan.

Awal kami memulai hubungan (?) tersebut adalah tanggal 10 September. Dari responnya yang lamban dan terkesan sembarangan, bisa kutangkap bahwa Roki sebenarnya TIDAK MEMAHAMI TEKNIS PERLOMBAAN KOMIK STRIP secara umum. Dan berhubung aku bukan orang yang mudah menarik kesimpulan sembarangan tentang reputasi orang lain, berikut kulampirkan asbab analisisku.



Sama seperti tahun kemarin? Mungkin dia gagal paham kalau Peksimida hanya digelar dua tahun sekali. Dan seperti apa ‘sama’ yang ia maksud tersebut? Hanya Roki dan Tuhan yang tahu.

Dia bahkan nampak sembarangan menentukan ‘Asian Games 2018’ sebagai tema komik strip yang akan diperlombakan, which is, bertentangan dengan ketentuan tema umum Peksimida yang seharusnya mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan Peksiminas XIV di Yogyakarta—yang tahun ini mengusung tema ‘Merajut Budaya’.

Dude, i was just asking simple questions. Namun demi menengarai ketidaksiapan Si Roki terkait informasi seputar pelaksanaan lomba, akhirnya ia mengambil keputusan bahwa lomba komik strip dan lomba lukis ditunda dari jadwal tanggal 12 September 2018 hingga waktu yang belum ditentukan. 

Oh, baiklah. Kami akan menunggu dengan setia, sesuai yang ia minta.

Aku dan Haikal kembali menanyakan perkara tanggal tersebut kepada Roki pada tanggal 11 September, yang baru ia balas lewat hampir tengah malam tanggal 11 September.

Dia sempat bilang perlombaan akan dilakukan "jam 10. rencana". Silakan nilai sendiri sikap sembarangannya dalam menyusun ketentuan lomba 


Oh, baiklah. Kami akan menunggu dengan setia, sesuai yang ia minta (2).

Timbul rasa segan untuk kembali bertanya, karena ia menekankan perkataan NANTI KALAU SUDAH PASTI DIKABARI. Bisa jadi Si Roki ini akan menghubungi kami lagi pada tanggal 13, atau 14, atau 15, hari terakhir pelaksanaan Peksimida.

Tapi kabar yang ditunggu tersebut tak kunjung muncul.

Sebagai gantinya, yang muncul adalah inisiatif dari Haikal untuk menelepon Roki pada sore hari tanggal 14 September. Jawaban konyol bin ta’un pun melintas keluar dengan santai dari mulut Roki.

“Lomba komik strip dan lukis pelaksanaannya sudah selesai hari ini, dan sudah ada juaranya”

Iya, begitu. Tanpa ada permintaan maaf, rasa menyesal atau tendensi untuk mempertanggung jawabkan perkataannya yang menyuruh kami menunggu, ia bilang semuanya sudah usai. Tanpa ada solusi.

Oh, baiklah. Kami akan menunggu dengan seti—F U C K   I T  !!!

Tak berhenti mulutku merapal umpatan-umpatan lokal yang kerap dilempar supir angkot dan bus kota, namun fisikku sendiri lemas dan gemetar hebat. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku semarah itu sebelumnya. Tidak mengejutkan jika tekanan darahku ternyata naik lagi.

Hatiku menjerit—ini sungguhan. Dua tahun aku menunggu bisa kembali bertanding di Peksiminas. Aku bahkan tak henti mem-follow up informasi tentang Peksiminas XIV dari bagian kemahasiswaan Unsri dan bagian kemahasiswaan FE sejak bulan April, sejak mereka yang aku tanyai bahkan tidak paham Peksiminas apa yang aku maksud. Jika ada cara membuat kuliah semester 11-ku yang lapukan ini dapat lebih berharga dan berfaedah, mengikuti Peksiminas kembali adalah salah satu caranya. Tak akan kubiarkan peluang terakhir ini hilang hanya karena kelalaian seorang Roki yang wajahnya saja aku tidak kenal.

Namun entah mengapa, hatiku merasa familiar dengan kondisi ini.

Aneh. Sejak langkah kaki pertamaku dalam mengikuti seleksi tingkat fakultas, aku sudah merasa ada bayang-bayang kegelapan yang mengintai, siap mengandaskan harapanku menuju Peksiminas kapan saja. Aku menyalah-artikannya sebagai sindrom pra-kompetisi yang memang biasa terjadi. Ternyata itu bukan tekanan yang sama sekali berasal dari kompetisi. Itu firasat buruk, dan saat itu juga aku tahu apa arti firasat tersebut.

Aku dan Haikal tentu tidak putus akal sampai disitu. Aku menghubungi sendiri Roki, pura-pura tidak tahu tentang apa pun. Lalu setelah ia mengatakan hal yang sama kepadaku, maka aku, dengan elegansi yang masih bisa kupaksakan, berusaha meminta solusi dari dia sebagai koordinator lomba.

Roki bersikeras melemparku ke pihak Unsri dan BPSMI. Dan sejak itu, aku mulai mempertanyakan jenis kelaminnya.


Baru saat emosiku sedikit reda, aku mulai mampu berpikir rasional. Bisa jadi, Roki bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Bisa jadi, pihak kemahasiswaan Unsri—yang sejak awal juga memang sukses membuatku jengkel dengan birokrasinya yang berbelit dan terkentut-terpising—juga turut andil dalam kegagalanku dan Haikal ikut Peksimida. Bisa jadi, masih ada kesempatan untuk mengadakan lomba susulan, jika pihak Unsri bersedia menjembatani kami dan pihak Unvesitas Asdfasdfasdf sebagai koordinator lomba. Bisa jadi, rahasia awet muda adalah mengelap wajah dengan sempak bekas seperti kata Raditya Dika. Bisa jadi, bisa jadi.

Terlalu banyak bisa jadi tersebut membuat tidurku malam itu dirundung kegelisahan.


Perkenalkan Sobri, Si Biang Kerok #2

Esok paginya aku langsung tancap gas ke Gedung KPA Unsri Kampus Bukit, siap-siap memberondong pejabat Bagian Kemahasiswaan kami—sebut saja Sobri—dengan pertanyaan-pertanyaan ‘remeh’ seputar nasibku dan nasib Haikal. Namun Sobri ternyata tidak di tempat, karena ia dan pejabat Unsri lainnya sibuk mempersiapkan Peksimida Tangkai Lomba Tari dan Monolog di FH Tower—Unsri adalah koordinator lomba tari dan monolog, btw.

Dengan bantuan informasi dari teman-teman Peksimida yang masih setia mendukung dan mendoakan, akhirnya aku menyambangi FH Tower, berharap menemukan Sobri disana dan dapat menjeratnya dengan lapon* (kagak!).

Alhamdulillah, kami berjumpa. Saat Tim Tari Unsri selesai tampil dengan amat dramatis, aku mulai mendekati Sobri dan menanyakan perihal nasibku dan Haikal.
Saat kudekati, Sobri bahkan tidak mengenaliku sebagai peserta Peksimida. Dan jawaban yang diberikannya  sama tidak memuaskannya dengan ekspresi tak bersalah yang menghiasi wajahnya.

“Ya mau bagaimana lagi. Kami kan sibuk, nggak terpegang dengan semua informasi Peksimida. Harusnya kalian kontak langsung pihak Asdfasdfasdf”

Aku utarakan kalau kami sudah menghubunginya lebih dari sekali, dan kami diminta menunggu.

“Kan pihak Asdfasdfasdf bilang lombanya bukan tanggal 12, berarti kalau bukan tanggal 13, ya 14 atau 15. Disitu kalian nggak nangkepnya”

YO MAKMANO KAMI NAK TAHU TANGGAL BERAPO LOMBANYO KALAU KATEK YANG KASIH INFO? APO NAK TIAP HARI KAMI DATENGI ASDFASDFASDF UNTUK LOMBA?

“Ya kami nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Lombanya sudah selesai, pelaksananya Asdfasdfasdf”

Tapi ini dua tangkai lomba lho, Pak, sayangku, yang terhormat lagi dimuliakan. Dan kami sama-sama (seharusnya) mewakili nama Unsri.

“Tapi lombanya sudah pengumuman, sudah ada yang menang. Mau bagaimana lagi”

Argumen Sobri tidak masuk akal. Selain karena Sobri terkoneksi dengan semua penyelenggara Peksimida Sumsel di universitas lain, dia sendiri membuat grup whatsapp khusus peserta Peksimida Unsri dan memasukkan kami semua disana. Sobri bahkan rajin men-forward semua informasi terkait penyelenggaraan tiap tangkai lomba di grup tersebut. Hanya lomba komik strip, lukis, cerpen, penulisan puisi dan penulisan lakon yang tak pernah kebagian jatah informasi darinya. Lalu sekarang dia bilang itu bukan salahnya—yang jika dikontak secara personal pun akan selalu hanya membaca. 
Bertatap muka dengan Sobri yang kalem tanpa perasaan berdosa tersebut sukses menyakiti hatiku. Bukan main aku muntab.

Sobri, dan kebiasaan 'membaca'-nya yang luar biasa

Lalu ruangan itu mendadak gelap. Sorot beberapa lampu latar berkelindan di panggung dan tembok ruangan. Ternyata tim monolog dari Politeknik Sriwijaya (Polsri) hendak tampil. Sobri pun tak bisa diajak berdiskusi dengan kondusif—yang kalau dilanjutkan pun, bisa-bisa aku malah hanya tambah emosi dan mematahkan batang lehernya.

Aku mengangkat ranselku dan berjalan cepat menuju pintu di sebelah panggung, hendak keluar tanpa memperpanjang percakapan yang menguji kesabaran tersebut. Namun sialnya ruangan itu dikunci dari luar. Maka aku pun memaksa menggoyang-goyangkan dua daun pintu tersebut dengan kuat, hingga terdengar bunyi ‘KRAK’ yang ganjil.

Aku menyerah, lalu buru-buru duduk dengan canggung di kursi terdekat yang bisa kududuki. Bisa kurasakan belasan, kalau bukan puluhan pasang mata penonton dan peserta lomba di ruangan itu menatapku heran. Aku hanya diam. Pias. Aku memijit-mijit lenganku yang lemas, mengatur napas. Mataku basah, tapi aku berusaha cool. Dan, anjing, itu sulit sekali. Aku baru bisa keluar setelah akhirnya ada yang membuka kunci ruangan tersebut dari luar.


Perkenalkan Sapar, Biang Kerok #3

Hal yang mengisi kepalaku saat meninggalkan FH Tower masih sama dengan yang mengisi kepalaku ketika datang : aku belum menyerah. Masih ada peluang. Masih. Separuh harapan dan separuh keputusasaan menggantung dalam kata itu. Aku bahkan sampai mengunjungi Polsri yang tidak jauh dari FH Tower, mencari tahu apakah sekretariat BPSMI (Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia) Sumsel ada disana, karena sekretaris BPSMI masih berstatus pejabat Polsri. Tentu saja BPSMI bertanggung jawab sepenuhnya dalam penyelenggaraan Peksimida, termasuk tentang kebecusan semua koordinator lomba dalam melaksanakan tugasnya.

Setelah tahu bahwa BPSMI tidak bermarkas di Polsri, aku mendirikan sholat Zuhur dan menenangkan diri yang sebenarnya sudah tidak bisa tenang. Dengan sisa tenaga dan semangatku siang itu, aku mengontak salah seorang pejabat Unsri selain Pak Sobri yang juga bertanggung jawab dalam penyelenggaraan Peksimida. Kali ini, kukenalkan Sapar pada kalian.

Kepada Pak Sapar, aku utarakan semua rasa kecewaku, perasaan terzolimi kami, beserta harapan bahwa Unsri akan membantuku dan Haikal membalikkan nasib—atau setidak-tidaknya, membantu kami menjalin kontak dengan pihak Asdfasdfasdf agar ada sebentuk pertanggung jawaban atas nasib kami. Kuharap ia paham, karena ternyata ia merespon chat whatsapp-ku lebih cepat dari yang biasa dilakukan pejabat kampus.

Wejangan yang sangat membantu dari Pak Sapar


“Terima saja, sudah suratan Tuhan”

Kurang lebih itulah inti perbincangan kami yang khidmat tersebut.

Saat aku sudah siap menyelam lebih jauh lagi ke dalam kekecewaan, Pak Sapar mengirimiku kontak pejabat BPSMI yang mungkin bisa lebih mampu bertindak. Harapanku pun kembali bangkit.

Singkat cerita, dari tiga kontak pejabat BPSMI yang kukumpulkan dari semua orang dan kuhubungi, hanya ada satu orang yang merespon dengan tanggap—kontak yang diberikan Pak Sapar bahkan tidak membaca pesanku sama sekali sampai detik ini. Wakil Dekan III Universitas Ghjkghjkghjk yang meresponku tersebut bersedia mendiskusikan masalah kami dengan forum BPSMI dan menjanjikan menghubungiku keesokan harinya, pada Hari Ahad.

Mengherankan. Jika dalam kondisi yang normal saja aku harusnya berprasangka karena kembali disuruh menunggu, maka detik itu aku justru memutuskan untuk percaya kepada sang penjabat BPSMI—yang entah akan benar-benar membahas masalahku dengan rekan BPSMI-nya atau tidak. Entah apa yang membuatku bisa begitu yakin, namun aku hanya merasa akan ada hal baik yang terjadi. Maka sejak detik aku disuruh menunggu  hingga saat aku menerima telepon tersebut, aku menjadikannya doa yang kuaminkan. I have done everything i could. This is it.


Anti-klimaks

Telepon tersebut memang masuk keesokan malamnya. Si pejabat BPSMI. Ia sebelumnya mengirimkan foto berupa tangkapan layar percakapan di grup panitia Peksimida. Dan aku temukan sebuah fakta menarik darisana : Pihak pertama yang bertanggung-jawab akan nasibku dan Haikal sebenarnya adalah Pak Sapar, orang yang dengan entengnya menyuruhku menerima suratan takdir!

Melalui sambungan telepon, Sang Pejabat BPSMI menyampaikan kabar yang, entah, aku tidak bisa memilah dengan logis lagi apakah itu kabar buruk, kabar yang paling buruk atau kabar buruk yang harus kuikhlaskan. Ia awalnya membesarkan hatiku, lalu menceritakan hasil komprominya bersama rekan-rekan BPSMI-nya yang lain. Ia terdengar sangat berhati-hati dengan pilihan katanya, waspada seandainya kata-kata yang salah ia pilih malah sukses meledakkan hatiku yang tengah serapuh cangkang umang-umang.

Intinya, ia menyampaikan bahwa setidaknya terdapat tiga alasan utama mengapa BPSMI tak bisa menyelenggarakan lomba ulang untukku dan Haikal :

1. Pihak Universitas Asdfasdfasdf nyatanya terbukti telah mem-forward informasi pengubahan tanggal lomba komik strip dan lukis di grup koordinator pelaksana Peksimida Sumsel. Di dalam grup tersebut terdapat perwakilan dari semua universitas di Sumsel yang mengikutsertakan mahasiswanya di Peksimida. Dan coba tebak? Pak Sapar dan pejabat Unsri lainnya ternyata ada di grup itu!! Itu setidaknya membuktikan bahwa kelalaian utama dalam menyebarkan informasi terdapat di pihak Unsri, bukan hanya pada Roki yang lupa mengabariku dan Haikal.

2. Berbeda dengan tangkai lomba lainnya, hasil lomba komik strip dan lukis langsung diumumkan di tempat pelaksanaan usai lomba tersebut digelar. Dengan kata lain, sejak Si Bangsat Roki mengabariku dan Haikal bahwa lomba kami sudah selesai dilaksanakan, pada saat itu pula pemenang lomba komik strip dan lukis telah dibai’at sebagai delegasi Sumsel menuju Peksiminas XIV.

3. Pelaksanaan terakhir Peksimida Sumsel adalah tanggal 15 September, satu hari sebelum kuterima telepon dari pejabat BPSMI. Dan seandainya aku menerima telepon tersebut pada tanggal 15, pihak Asdfasdfasdf tetap saja tidak bisa mengadakan lomba kembali, karena itu berarti mengubah berita acara, mengadakan penjurian ulang dan menarik kembali pengumuman satu hari sebelumnya.

Aku terkesiap. Sepanjang Pejabat BPSMI menyampaikan laporannya, aku terus berubah posisi dari duduk ke berdiri, kemudian berjalan, lalu bersandar, kemudian berjalan lagi lalu duduk lagi. Pejabat BPSMI lagi-lagi membesarkan hatiku, bilang bahwa seandainya aku bisa ikut lomba susulan pun, dan katakanlah, menang, maka mau dikemanakan Si Juara I lomba komik strip Peksimida? Itu hanya memindahkan sakit hatiku padanya. Aku tertegun. Dia benar.

Dalam kesempatan terakhir melalui sambungan telepon itu, aku kembali bertanya tentang ada-tidaknya peluangku dan Haikal untuk bertanding mewakili Unsri.

“Tidak”, jawabnya tegas, namun juga hati-hati.

Akhirnya kuputuskan untuk menghormati keputusan BPSMI. Kusalami tangan Si Pejabat dari jauh, mengucap terima kasih dan salam.
Sang Pejabat bilang, semoga beruntung di Peksimida berikutnya, lalu kujawab bahwa aku sudah semester 11. Ia tertawa garing—“Ya Allah alangke kesian nasib budak ini, lah lamo tamat, urung pulo melok Peksimida”, mungkin begitu isi batinnya ketika ia tertawa.


Penulis Cerpen, Penulis Lakon dan Penulis Puisi yang juga Tidak Beruntung

Syahdan, demikianlah aku berdamai dengan rencana Tuhan. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain ikhlas—Haikal sudah jauh-jauh waktu ikhlas karena dia masih duduk di semester tiga, lebih ringan baginya disuruh menunggu dua tahun lagi. Sudah kuusahakan semua yang kubisa, sudah kuhubungi semua yang (kupikir) terlibat langsung dalam Peksimida. Aku tetap hancur. Berat badanku bahkan sampai turun empat kilo akibat tiga hari yang emosional tersebut. But live must go on
Setidaknya mereka yang menang dan akan mewakili Sumsel di Peksiminas adalah mahasiswa-mahasiswa terbaik dari yang bertanding—dan dari yang diberi kesempatan bertanding—dan khusus untuk delegasi yang berasal dari Unsri, aku bangga pada mereka. Jika memang ada pihak yang harusnya babak-belur dan merasa bersalah, mereka adalah ketiga biang kerok yang melenyapkan kesempatan bertandingku, Haikal dan tiga orang perwakilan Unsri lainnya dalam tangkai lomba penulisan cerpen, penulisan lakon dan penulisan puisi.

Ah, aku bahkan belum menyebut mereka sama sekali.

Rencanaku meminta lomba susulan sebenarnya terinspirasi dari mereka. Ketiga penulis muda ini bernasib sama seperti kami, ditelantarkan kemahasiswaan kampus, diabaikan, sekedar disuruh berlomba tanpa diharapkan menang sama sekali. Perbedaannya adalah, mereka memperoleh kesempatan untuk mengikuti lomba susulan, karena Universitas koordinator lomba mereka merasa bertanggung jawab dan bersedia mengakomodir mereka.

Atau setidaknya itulah cerita yang kudengar.

Malam harinya usai aku menerima telepon dari Pejabat BPSMI, salah satu dari mereka—sebut saja Boim—meneleponku dan menanyakan nasibku dan Haikal. Kubilang bahwa kami sudah gulung layar dan lempar jangkar, urung ikut Peksimida. Lalu Boim menceritakan nasibnya yang tak jauh berbeda.
  
Pihak penyelenggara lomba kepenulisan Peksimida—silakan masukkan nama alias kalian sendiri untuknya, aku kehabisan ide—memang memberikan Boim dan kawan-kawannya kesempatan bertanding susulan. Namun pertandingan susulan tersebut nampaknya hanya penghibur semata, karena sebelum karya mereka benar-benar selesai dinilai, SK untuk pemenang lomba kepenulisan malah telah selesai dicetak. Dengan kata lain, sebenarnya tanpa mereka ikut bertanding susulan pun, sudah ada pemenang dari setiap tangkai lomba kepenulisan. Mereka dianaktirikan Unsri dan dianakbawang-kan pihak penyelenggara. Anjir.

Saat mendengar kabar tersebut, perasaan lega dan gondok tumbuh berebut tempat di dalam hatiku. Lega, karena ternyata aku dan Haikal tidak dianak-tirikan sendirian oleh universitas, dan itu berarti kami berlima telah sukses merealisasikan beberapa buah peribahasa adiluhung di Bumi Pertiwi : 

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Makan sama kenyang, mulas sama boker.

Intinya, kesadaran kolektif untuk memperjuangkan keadilan itu muncul di antara kami, dan sayangnya, justru di detik-detik terakhir.

Gondok, karena jika diingat dengan seksama, pangkal dari segala masalah mereka (dan kami) adalah kelalaian pihak kampus kami sendiri. Sama seperti aku dan Haikal, lomba yang diikuti Boim dan kawan-kawannya juga berubah jadwal, dan mereka tidak mendapatkan informasi apa pun darimana pun tentang jadwal perlombaan yang sudah pasti, hingga mereka menghubungi sendiri pihak penyelenggara hanya untuk tahu bahwa lombanya telah selesai.

Kelebat perkataan-perkataan menyesakkan para biang kerok melintas-balik di dalam kepalaku.

“Mau bagaimana lagi?”

“kami kan sibuk”

“Hubungi langsung saja pihak Unsri”

“Ikhlaskan”

“Jadikan pelajaran berharga, SIAPKAN DIRI UNTUK PEKSIMIDA BERIKUTNYA”    

“Terimalah, sudah suratan takdir”

SURATAN TAKDIR GUNDULMU AMBLAS ?! BISA-BISANYA MENYURUH ORANG LAIN IKHLAS ATAS KELALAIAN YANG KAU PERBUAT !!

Bagiku masalah ikhlas adalah urusanku dengan Tuhan, dan cepat atau lambat, aku pun akan ikhlas dengan kejadian yang terlanjur dituliskan dalam ‘past tense’. Percayalah, aku terlatih untuk menerima keadaan seperti itu. Aku sudah sering kalah, gagal, direndahkan dan dibuat tak punya pilihan selain merelakan keadaan. Namun itu hanya setelah aku berusaha sekuat tenaga, dan dalam kejadian kali ini, aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk berusaha.

Tapi aku juga terlatih dalam memahami sumber emosiku, dan setidaknya ada satu hal yang kupahami tentang amarahku kali ini : kemarahan ini tidak ada hubungannya dengan siapa pun yang menang  dan beruntung dalam Peksimida. Aku hanya marah pada mereka yang dzolim. Aku marah pada mereka yang memiliki kuasa, namun lebih memilih menutup mata. Aku marah karena tidak diberi hak yang sama untuk bertanding seperti peserta lainnya. Aku marah, karena untuk semua usaha dan penantianku yang hanya untuk mendapatkan hak bertanding yang remeh tersebut, jawaban yang kuperoleh hanyalah ‘ikhlaskan’ dan cengiran-cengiran kuda, dan jawaban itu justru berasal dari orang-orang lalai yang seharusnya bertanggung jawab dan meminta maaf.

Dan tidak ada sebutir permintaan maaf pun yang hadir ke pangkuanku—dan kami—hingga detik ini. Dalam pandanganku, AKU MARAH UNTUK HAL YANG SANGAT WAJAR.

Satu-satunya argumentasi yang layak dan santun hanya kuperoleh dari Pejabat BPSMI yang mau repot-repot meluangkan waktunya untuk membahas ‘permasalahan remeh’ kami. Itu sudah cukup untuk membanting setir pikiranku kembali ke  jalan yang lurus.

Namun yang bersalah, menurutku harus tetap menanggung perbuatannya. Jika bukan dengan penyesalan dan permintaan maaf, maka ‘sentuhan’ Tuhan tentu lebih dari cukup. Tuhan Maha Adil. Maka berbeda dengan tangan manusiaku yang kecil dan cenderung tebang pilih, hukuman-Nya tidak akan pernah melewati batas wajar, juga tidak pernah meleset.

Nah, sampai jumpa Jogja—walau kita belum bertemu. Semoga di lain hari aku tahu rasanya menggerayangi jalananmu di malam hari, atau bagaimana rasanya bersenyawa dengan detak kehidupanmu di lain waktu. Dan kali itu, tanpa perlu membawa jaket almamater dari kampus yang kusayangi.




catatan kaki :
*lapon : untaian jaring kawat yang kerap digunakan untuk menjerat hama celeng. Biasanya digunakan pemilik ladang singkong / kebun di Sumatera untuk melindungi tanamannya dari serangan celeng.

*BPSMI : Badan Penyelenggara Seni Mahasiswa Indonesia. Koordinator Wilayah BPSMI di Sumsel bertanggung jawab dalam menyelenggarakan seleksi Peksimida Sumsel. Anggota BPSMI merupakan pejabat universitas-universitas di Sumsel yang terlibat dan/atau ikut serta di dalam pelaksanaan Peksimida.

*Semua pihak eksternal yang namanya disebutkan dalam tulisan ini (selain Haikal, Polsri, Unsri dan BPSMI) merupakan nama samaran.