Minggu, 04 Juni 2017

Laporan Magang (Non-formal)


 
Gambar 1. Gedung Direktorat Jenderal Pajak Kanwil Sumsel dan Babel


Dari judulnya saja mungkin kalian sudah paham ini tulisan apa.
Ini bukan blog milik mahasiswa STAN yang khusus mem-posting tugas kuliahnya di internet. Ini hanya blog iseng yang isinya juga iseng.
Adapun tulisan ini adalah salah satu bentuk tanda mata dari si mahasiswa semester akhir ini, yang sudah diberi kesempatan magang di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Ilir Barat Palembang.

----
 
“Redho kuliah dimana?”

“Unsri, kak”

“Ambil jurusan apa?”

“Jurusan Ekonomi Pembangunan, Kampus Indralaya, Angkatan 2013, NIM 01021181320068 Semester 8, konsentrasi Ekonomi Syariah, Status Single, Golongan Darah O”, babatku, memutus tali kelambu obrolan basa-basi tersebut. Si kakak ber-oh panjang. Hening sesaat. Lalu ia membuka mulut lagi.

“Gak magang dimana, gitu?”

Gantian aku yang diam, memikirkan jawaban yang paling mudah untuk dipahaminya. Hal-hal berbau kuliah praktik seperti KKN dan kawan-kawannya memang sudah lama binasa dari kurikulum wajib jurusan kami. Lagian, Ekonomi Pembangunan? Coba gantian aku yang tanya, instansi mana yang secara spesifik membutuhkan tenaga kerja magang dengan latar belakang pendidikan EP? Aku pun bingung, tak tahu jawabannya.

Dialog di atas memang hanya fiksi. Tapi, pertanyaan terakhir itu memang sering beberapa kali dilontarkan padaku. Hingga pada suatu hari, ajakan itu pun datang.

“Dho, galak dak mekot magang di Kantor Pajak?”, ajak Ayu, teman seangkatanku di EP.

“Galak, yu”

Lalu sekonyong-konyong, aku dan dua teman sejurusan lain sudah resmi menjadi peserta praktik kerja lapangan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Ilir Barat Palembang. Nasib memang ajaib. Belum sudah aku memikirkan macam apa bentuk korelasi antara jurusan kuliah kami dengan yang akan kami kerjakan disini, lalu tiba-tiba kami sudah berada disini : berpakaian persis karyawan Kantor Pajak, masuk pagi, pulang sore, membantu karyawan-karyawan yang asli dengan mengerjakan hal-hal sepele yang insya Allah membantu mereka. Hanya penghasilannya saja yang tidak sama, sigh.

Pemagangan kami direncanakan berlangsung selama satu bulan pas. Berawal tanggal 20 Maret, berakhir 20 April. Jika dibagi per pekan, totalnya ada lima pekan, dan setiap usai satu pekan kami akan dirotasi dari satu seksi ke seksi lain. Maka dari hari pertama pun, aku dan kedua temanku yang lainnya (Ayu dan Desti) sudah didudukkan di tempat yang berbeda-beda.


Tragedi

Walau berkacamata dan berbadan kurus—stereotype karyawan kantor, taulah—tapi aku sama sekali bukan orang yang cocok bekerja di kantor. Aku tidak teliti, pelupa, gagap. Salah print, salah ketik, salah ambil barang, salah tulis, salah pilih gebetan (nggak lah) sudah biasa sekali terjadi. Lalu seolah memahami itu tanpa perlu kucontohkan di hari pertama bekerja, Pak Ali, Kasi Umum KPP  Pratama Ilir Barat langsung menempatkanku di Seksi Pelayanan. Seksi? Dan melayani. Oh, yeah.

Jika bank punya nasabah yang harus dilayani, KPP sehari-harinya harus berhadapan dengan WP (Wajib Pajak), dan Seksi Pelayanan adalah garis terdepan KPP dalam melayani para WP dari balik loket TPT (Tempat Pelayanan Terpadu). Tentunya aku tidak ikut melayani WP, tapi cukup duduk di sudut lain Seksi Pelayanan, di ruang kantor yang disekat selapis tembok di belakang TPT. Dan untuk memperjelas suasana, saat itu aku adalah secuil upil yang bahkan tidak hapal apa kepanjangan KPP (Tentunya tak ada training khusus yang menjelaskan segala SOP dan JD kepada anak magang, buat apa?). Kagok. Apa yang biasanya dilakukan anak magang di hari pertamanya? Aku mencoba berbasa-basi, mencoba akrab dengan semua orang disana.

“Dek, kau kuliah boleh gondrong yo?”, tanya seorang bapak berkumis yang duduk di pojok ruangan secara tiba-tiba.

“He-eh, iyo Pak”, jawabku sambil mesem-mesem. Iya, rambutku saat itu masih panjang dan kukuncir seperti biasa saat berangkat ke kampus. Ehm, sepertinya aku tahu arah pembicaraan ini.

“Saran aku kau potong be rambut itu”.

Tuh, kan.

“Ini lingkungan kantor, jadi penampilan memang harus formal. Lagian dak enak gek diliat anak-magang yang dari SMK, mereka liat kau sebagai contoh, gek mereka ngikut-ngikut cak itu. Kalo lah di luar silakan nak manjangke rambut, terserah kau”, katanya tegas.

Glek. Aku hanya mengiyakan dengan lemah, takut kena sepak dari sini saat tengah membawa nama baik Unsri. Q kalah. Potong rambut menjadi agenda pertamaku sepulang magang hari pertama.

 
Gambar 2. Remah-remah kejayaan masa lalu

JD Khusus

Nah, cukup soal potongan rambut baruku yang sekarang mirip Remus Lupin.

Ternyata kami mulai magang di saat yang tepat. Hari itu tanggal 20 Maret 2017, dan Program Pengampunan Pajak akan berakhir di akhir Bulan Maret, berbarengan juga dengan hari terakhir pelaporan SPT online. (What on the earth SPT online is? Oh darling, go google it)

Singkat cerita, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tengah sibuk-sibuknya pada saat itu. Bayangan tentang hari-hari magang yang penuh waktu menganggur, seperti yang kubaca di blog seorang mahasiswa perpajakan sebelum aku mulai magang, sirna sudah.

Dari yang aku ketahui, magang sebenarnya adalah kata yang halus untuk menyebut ‘nguli di kantor’. Pekerjaan kami seharusnya tak jauh dari mengantar surat, mengetik ini, mencetak itu, memfotokopi ini, mengecap surat itu, menempel stempel ini, menghancurkan berkas itu, mengirim faksimili, mengangkat telepon dan pekerjaan-pekerjaan teknis bersifat repetitif lainnya yang jika dikerjakan oleh karyawan sendiri, akan cukup menghabiskan banyak waktu. Namun berhubung aku laki-laki yang identitasnya selalu dikaitkan dengan pekerjaan yang ‘lebih berat’dari perempuan, maka aku pun diperintahkan mengerjakan sesuatu yang agak berbeda. ‘JD Khusus’, kalau aku menyebutnya.

Gambar 3. Mesin pencetak nomor antrean. Sudah tugasnya untuk macet di saat-saat genting 
mencetak nomor antrean bagi WP yang hendak mengisi E-filing

“Nah, berdirilah disini, lalu panggil orang-orang yang duduk disitu waktu ada meja yang kosong”, kurang lebih begitulah perintah Pak Zaheddy, Kasi Pelayanan di hari pertamaku magang. Aku tak terlalu paham, tapi mengangguk dengan ketakziman yang dibuat-buat. Aku duduk menghadap loket TPT yang jauuuh di seberang sana. Di sebelah kananku ada beberapa baris meja kantor yang disusun sedemikian rupa—yang, sebut saja, hot desk—tempat beberapa petugas dari KPP Ilir Barat duduk menghadap laptop sembari melayani WP yang duduk di sebelah mereka. Sementara di sebelah kiriku, adalah beberapa baris susunan kursi tempat para WP yang sudah mengambil nomor antrean, menunggu nomornya dipanggil. Di tempatku berdiri, adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tidak berhenti berkeringat dalam seragam hitam putihnya, masih bingung dengan tugas barunya.

Setiap WP memiliki tiga kewajiban : menghitung, membayar dan melaporkan pajaknya—bener gak sih? CMIIW. Untuk melaporkan pajak, seorang WP tiap tahunnya harus mengisi formulir yang juga disebut SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) yang metode pengisiannya dilakukan secara online, mulai efektif sejak tahun 2014 lalu. Sementara deretan hot desk yang disusun tersebut adalah bentuk pelayanan ekstra KPP Ilir Barat terhadap WP yang tidak / belum paham tentang tata cara pengisian SPT online—bisa juga disebut e-filing, umumnya WP yang berusia lanjut, gaptek, tidak punya smartphone / laptop, mengalami masalah saat mengisi sendiri, atau sekedar malas mengisi sendiri—iya, yang begini juga banyak. Setiap tahun, normalnya tenggat pelaporan SPT online jatuh pada tanggal 31 Maret. Singkatnya, tugasku adalah memanggili nomor antrean para WP yang hendak mengisi SPT online tersebut, demi membantu mengurai antrean yang panjang akibat dari budaya orang Palembang yang suka ‘terkentut terpising’ dalam menyelesaikan segala urusannya.

Kuakui, aku memang lambat terbiasa dengan segala jenis pekerjaan baru. Di awal pekerjaanku, aku memanggil WP tanpa pelantang apapun. Hanya berteriak dari tempatku berdiri. Aku baru berhenti saat seorang WP mengeluhkan suaraku yang terlalu kecil. Setelahnya, baru aku mencari cara lain untuk memanggil WP dengan lebih baik.

Gambar 4. Sesuai EYD, alat di sebelah kanan disebut PELANTANG. Adapun di sebelah kiri, adalah senjata darurat Ranger Merah di saat nomor antrean WP menembus angka 500

Di lain hari, aku mengganti pelantang TOA dengan senjata lain yang berteknologi lebih mutakhir : mikrofon. Jangkauan suaranya jelas lebih jauh, bahkan terdengar sampai ke Ruang Seksi Pelayanan. Lalu, sejak saat itulah  reputasi recehku sebagai pemanggil WP terkenal sampai ke lantai tiga gedung DJP.

“Kamu ini yang manggilin e-filing di lantai satu itu, ya?”.

“Nah, ini dia selebriti kita”.

“Redho suaranya kereeen, daleeem. Cocok nian pake mic”.

“Bangso rajin kau nih. Agak tebantu gawean kami semenjak kau yang manggilin WP”.

“Nikahi adek, Bang!” ß ßß  dusta

Duh, sebegitunya?

Aku pun tak paham pada awalnya. Tapi mengingat pemanggil WP bukanlah posisi formal yang selalu diisi orang lain setiap saat, bisa jadi kegunaan pemanggil WP ini baru tampak menonjol saat aku ‘didudukkan’ disini. What a coincidence. Bahkan aku dibuat stay satu pekan lebih lama di Seksi Pelayanan demi melakoni tugas ini, urung dirotasi. “Karena Seksi  Pelayanan membutuhkanmu, Redho”, bujuk Ayu, karyawati dari bagian Sekretariat saat kutanya alasannya. Aku hanya nyengir-nyengir kuda. Begini pun tak apa, pikirku. Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan dengan becus? Hahaha.

Gambar 5. Nomor antrean E-Filing. Konon katanya jika terkumpul hingga 2000 lembar, bisa ditukarkan dengan merchandise cantik (bohong)
 Aku juga tertolong karena ditempatkan sebagai pemanggil WP. Ada banyak hal yang dapat aku pelajari. Selain mendapat pengalaman disemprot WP, aku juga mendapat kesempatan berkenalan dengan anak-anak OJT (On Job Training), yaitu mereka yang baru lulus STAN di akhir tahun 2016 lalu dan kini sedang purna-tugas di KPP Ilir Barat.

Iya. Mereka yang bertugas piket di hot desk, yang awalnya kupanggil ‘kakak’ dan ‘mbak’ ternyata seumuran denganku—bahkan sebagian orang lebih muda 1 – 2 tahun dariku -_-  dari sanalah sense of belonging itu muncul (ceilah), meski kami jelas beda kasta. Walau jam magangku berakhir pukul empat sore, terkadang aku tetap tinggal mengimbangi mereka bertugas hingga pukul lima sore, hingga WP yang mengantre benar-benar musnah dari muka bumi. Feedback-nya? Pfft. Aku jadi seperti berlangganan snack dua kali sehari, pagi dan sore, kecipratan jatah mereka. Malah terkadang secangkir Krusher nyasar hinggap di hadapanku, entah siapa yang membelikannya. Alhamdulillah.

 
 Gambar 6. Pemberian orang-orang baik hati. Semoga rejeki mereka selalu lancar.


Di Seksi Lain

Di pekan ketiga, aku dipindah ke Seksi Ekstensifikasi. Dan semangat kerjaku berubah drastis semenjak dipindah kesitu.

“Lho, kenapo? Padahal menurutku kerjaan di Eksten itu paling asyik kalo buat cowok. Sejauh yang kuliat sih”, ungkap Ayu, agak terkejut saat kubilang aku ‘belum’ nyaman di tempat baruku. Untuk pekerjaan-pekerjaan di KPP Ilir Barat yang berkaitan dengan anak magang seperti kami, Ayu yang bertugas di Sekretariat memang koordinatornya.

Alasanku tidak cepat betah di Seksi Ekstensifikasi adalah karena aku merasa gabut disana. Gabut, di tengah pekerjaan Seksi Ekstensifikasi yang sebenarnya banyak. Gabut, karena aku harus bersaing dengan seorang anak magang dari SMK yang bernama unik : Suhur.

Suhur ini bisa jadi model anak buyung di abad 21. Ia selalu ‘ngantor’ dari pagi, pulang tepat waktu.   Kemeja seragamnya selalu dimasukkan ke celana. Bicaranya sedikit. Dia selalu pakai topi sekolah saat keluar kantor, makan bekal yang dibawa dari rumah dan langsung cabut ke masjid tiap kali terdengar azan. Manusia yang efisien, efektif. Berbeda dengan kami yang hanya magang lima pekan secara sukarela, siswa SMK wajib magang selama tiga bulan. Dan Suhur, jika ditotalkan, sudah enam pekan lamanya ‘mengabdi’ di Seksi Ekstensifikasi. Dia seolah selalu tahu apa yang harus dan bisa dia kerjakan disana, bahkan saat aku hanya duduk melamun karena tak ada kerjaan.

 
Gambar 7. Suhur, dengan pose Boboiboi Halilitar.
Sumber : facebook

Suhur juga jadi ujung tombak karyawan di Seksi Ekstensifikasi untuk pekerjaan-pekerjaan remeh yang merepotkan, seperti membeli tisu ke warung, membeli molten cake di KFC atau sekedar mengambil inventaris kantor di Bagian Umum. Namun di sisi lain, dia juga diandalkan untuk pekerjaan teknis yang biasa dilakukan pegawai lainnya, seperti pembuatan kode E-billing, pencetakan NPWP, perekaman data WP dan geo-tagging. Atau dalam kalimat yang lebih ringkas, dia bisa semuanya, sehingga aku tak dibutuhkan sama sekali. Bisa dipastikan dari delapan jam magangku dalam sehari, tiga jamnya bisa kuhabiskan hanya untuk main Onet, satu jamnya untuk bengong.

Selain diandalkan untuk pekerjaan kantor, peran vital Suhur lainnya di Seksi Ekstensifikasi adalah sebagai sumber bahan bully bagi pegawai disana. Hiburan karyawan, selain karaoke dan menonton bioskop. Tapi tetap saja, mereka semua akrab, dan aku hanya duduk di pojokan ruangan, ikut tertawa tanpa diajak. Sigh. Mungkin beginilah perasaan Kurama saat dipaksa berebut tempat dengan seekor katak.

 Gambar 8. Berkenalan dengan elektronik kantor. Dari kiri ke kanan : card printer, 
printer, paper shredder (my favorite)

Di pekan keempat, aku dipindah ke Seksi Penagihan. Aku membayangkan wajah pegawai yang bercodet dan penuh luka gores, tapi kenyataannya berbeda sama sekali. Kasinya, Pak Azwir, lembut tenan. Pegawai lainnya di ruangan tersebut juga santai dan sedikit bicara. Kecuali Kak Burlian, Si Juru Sita yang suka mengajak ngobrol. “Katek gawe nian kak di Seksi Penagihan. Aku waktu itu be cuma duduk-duduk melamun”, begitu pesan Suhur saat aku hendak pindah dari Seksi Ekstensifikasi. Ternyata benar adanya. Ritual main Onet-ku masih berlanjut, meski pindah ruangan. Hanya saja tanpa keberadaan anak magang lain disana, aku jadi lebih ‘terdayagunakan’. Seorang pegawai yang nampak baru dipindahkan ke Seksi Penagihan, Kak Agung, setidaknya cukup sering menyuruhku mengantar surat ke seksi lain dan mengirimkan faksimili.

Di pekan kelima, aku kembali dipindah ke Seksi Pelayanan. What a relief! Aku kembali bertemu dengan Kak Fika, Kak Puput, Kak Firman, Mbak Yus, Mbak Jenni, Pak Zul dan Pak Nopri—yang dulu menyuruhku potong rambut. Bisa dibilang, aku dan semua anak magang paling betah bekerja di seksi ini. Banyak pekerjaan, banyak makanan, banyak canda dan bahan obrolan.


Penutup

"Kito magang nih dak dibayar ruponyo, dho"

Hmm, baiklah.

Sejak awal aku memang tak terlalu berharap tentang upah. Memang tidak semua tempat kerja menjanjikan bayaran bagi anak magang. Mendapat kesempatan belajar di tempat magang sendiri, adalah sepak terjang yang unik bagi mahasiswa EP seperti kami.

 Gambar 9. Antrean WP yang kembali hening setelah tenggat pengisian SPT online diperpanjang. Ya itulah orang Palembang, sukanya terkentut terpising.

Pada akhirnya, melihat antrean WP yang semakin bekurang justru berhasil menghadirkan kepuasan yang baru. Mungkin karena diri ini sempat menjadi bagian yang kontributif dalam proses tersebut.

Lalu... Duh, bingung mau nulis apa lagi hahaha.

Syahdan, demikianlah kiranya kisah para pemburu sertifikat pengalaman ini. Semoga tulisan ini menghibur bagi yang membaca, dan menjadi pengingat bersama bahwa kematian itu begitu dekat (???)

Sebagai bonus, turut kulampirkan cinderamata dari kami yang magang untuk anak-anak OJT :)

Gambar 10. Cinderamata
Baris atas dari kiri ke kanan : Idris, Deswita, Kak Nur, Kak Imam, Kak Dico, Kak Tino, Kak Jo
Baris bawah dari kiri ke kanan : Belinda, Fifi, Apri, Roro, Wili, Amel
Paling kanan : Ayu

Minggu, 22 Januari 2017

CATATAN VOLUNTRIP SUMSEL 2.0 (Bagian 2)


Meski hujan sudah reda saban hari, tapi awan-awan kelabu masih bergelantungan di atas kami. Aku bangkit dari leyeh-leyeh di masjid, berjalan keluar. Genta dan kawan-kawan sudah pergi entah kemana. Terakhir kulihat mereka membawa handuk di pundak, tapi tak kutemukan seorang pun mengantre di depan pintu toilet masjid, selain serombongan peserta perempuan yang hendak menumpang mandi. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke gedung sekolah sesegera mungkin, walau sendirian.

Lihatlah hasil karya langit beberapa menit lalu. Jalanan tanah yang tadinya padat dipijak kini berubah lunak, licin, lengket. Sudah tidak jelas lagi bentuk dan warna sepatu ini setelah melaluinya.

Usai separuh jalan, aku sudah berada tepat di belakang dua orang gadis yang juga sedang berjalan menuju gedung sekolah. Mereka menoleh ke belakang tak seberapa lama, seolah kompak memutuskan untuk menatapku, seperti hendak mengatakan sesuatu. Tentu ini bukan soal aku yang belum mandi—memang sudah kuniatkan untuk tidak mandi di Voluntrip hari pertama. Salah seorang dari mereka berperawakan kurus, berkulit gelap, berhidung mancung dan berambut keriting, sementara yang lainnya berkulit putih, berkacamata dan mengenakan jilbab warna abu-abu. Entah mengapa, aku merasa familiar dengan kedua wajah ini, terutama yang berkacamata—bisa jadi itu karena aku punya sentimen khusus pada perempuan berkacamata, entahlah. Seolah kompak, mereka lalu urung berkata-kata, lebih memilih kembali menyusuri jalan setapak menuju sekolah.


- - - - - - - -


Sesuai yang kubayangkan semalam, lapangan SDN 03 Sumber Marga Telang tersebut menjelma sempurna menjadi arena karapan sapi. Beberapa panitia dan peserta yang hendak melewatinya bahkan sudah sadar bahwa tak ada bedanya beralas kaki atau tidak. Maka sepanjang hari itu, kakiku kubiarkan bermain riang bersama licak tanah, membayar denda masa kecilku yang belum lunas. 

 
Aku dan Tanah Becek


Lalu hujan turun lagi. Oh, not that i care. Tapi panitia panik bukan kepalang. Dapur darurat yang mereka dirikan di belakang gedung sekolah tadi subuh kini roboh ditiup angin. Alamat sarapan kami tertunda sampai siang nanti. Sementara sebagian besar peserta terjebak hujan di masjid, kami yang berada di sekolah bergotong-royong memindahkan peralatan masak ke gedung kelas 4 dan 5 yang (disangka) tidak dipakai untuk pembagian rapor hari itu. Selang beberapa jam, satu-dua orang peserta mulai mengeluh lapar. Aku ongkang-ongkang kaki di teras kelas. Mereka tak tahu, perutku sudah kuselamatkan dengan sebungkus S*** Roti pagi tadi.

Perhatianku berikutnya tertumbuk pada gadis berkacamata dan rekannya yang berambut ikal yang kutemui tadi pagi. Secara mengejutkan, mereka menghampiriku.

“Kak Redho, kan?”

“Iyo dek”, jawabku, lalu tertawa garing. Ternyata memang kami pernah bertemu -_- malah pernah berkenalan dengan yang berkacamata. “Kalian nih anak Effects yo?”, tanyaku untuk memastikan.

“Dinda kak yang anak Effects, aku bukan. Hehehe”, ujar si rambut ikal—yang tak lama setelahnya kuketahui bernama Fatma, pengurus BEM FE Unsri.

“Iyo kak Effects kito nih, madaki lupo”, jawab Dinda yang berkacamata. Aku tertawa semakin garing. Duh -_- sepertinya aku kebanyakan makan mecin.

Lalu kami membuka obrolan tentang Bo. Effects, BEM FE, Voluntrip, juga tentang darimana Fatma mengenalku.

“Iyolah, kakak kan Ketum Kinerja, taulah”, ujar Fatma. Lalu aku tersanjung. Baru kali ini kudengar Kinerja sepopuler itu di antara mahasiswa FE.

Melegakan. Ternyata bukan hanya aku dan Genta yang berasal dari FE Unsri di sini. Ditambah mereka berdua, masih ada satu orang lagi pengurus BEM bernama Lulu yang mengikuti Voluntrip.

Usai semua barang diangkut ke dapur baru kami, Kak Lala dari DMC (Disaster Management Centre) Dompet Dhuafa Sumsel segera melanjutkan memasak dengan hati yang kalut. Bayu megap-megap. Bagaimana dengan nasib agenda kami hari ini?

“Pernah dengar dari penduduk lokal, kalo hujannya deras, biasanya siswa tidak masuk sekolah”, katanya lemah. Melihat kondisi jalan yang becek dan tidak adanya tempat berteduh di sepanjang jalan ke sekolah, wajar jika mereka enggan bersekolah dalam cuaca seperti ini. Aku ikut merasa bersalah demi mendengar hal tersebut, walau bukan aku yang menurunkan hujan. Kami akhirnya hanya pasrah dan menunggu.

Hujan baru berubah jadi gerimis menjelang pukul delapan. Beberapa peserta yang tadi terjebak hujan di masjid kini sedikit demi sedikit, berduyun-duyun kembali ke gedung sekolah. Diantara barisan mereka, adalah salah satu sosok berseragam safari pramuka dengan kopiah tersongkok di kepala. 


Pak Guru dan Jarnawi, Ketupel Voluntrip 2.0

Dialah salah seorang pahlawan di SD ini, pak guru tercinta SDN 03 Sumber Marga Telang.
Bayu dan panitia lainnya menyalami tangan pak guru, segera setelah sepatu trackers-nya menginjak teras keramik gedung sekolah. Sejenak, secara konyol terlintas di pikiranku tentang SD Muhammadiyah di cerita Laskar Pelangi, dan sosok ini tak lain adalah Pak Harfan, kepala sekolah di SD tersebut. Namun ternyata bukan. Lega dan mengejutkan mendengar darinya, bahwa ia bukan kepala sekolah dan juga bukan satu-satunya guru di SDN 03 SMT. Sang Kepala Sekolah legendaris ternyata berdomisil di Palembang, dan kini pasti tengah mengendarai motor di tengah hujan demi tiba di lokasi pengabdiannya ini. Masya Allah.

Sementara itu di kejauhan, sudah nampak sosok-sosok mungil berseragam pramuka, berdiri ragu-ragu nun jauh di pinggir jalan beraspal. Merekalah putra-putri tunas harapan Kabupaten Banyuasin : siswa-siswi SDN 03 Sumber Marga Telang! Mereka tampak canggung, demi melihat sekumpulan laki-laki dan perempuan asing berdiri di teras sekolah favorit mereka. Bayu melambaikan tangan dan berteriak-teriak girang. “Dak apo-apo dek, kesinilah!”. Namun bisa kulihat mereka justru tampak makin ragu, menempelkan tubuh ke kaki orangtua mereka. Akhirnya peserta dan panitia pun beramai-ramai turun ke jalan setapak yang becek, menjemput mereka satu demi satu. Beberapa anak yang masih sangat kecil bahkan digendong ke sekolah oleh panitia dan peserta, sementara mereka yang cukup besar memilih berjalan sendiri—dengan bertelanjang kaki, sembari menyandang tas punggung dan sepasang sepatu yang diikat.


  
Siswa-siswi SDN 03 Sumber Muara Telang dalam perjalanan ke sekolah

Suasana suram beberapa waktu lalu sirna sudah, berganti haru. Lalu, haru berganti menjadi sibuk. Setelah anak-anak ini dikumpulkan, tugas kami yang sebenarnya baru dimulai. Beberapa peserta yang dulu mendaftar sebagai inspirator, kini mulai sibuk dengan alat peraga mereka masing-masing. Beberapa bahkan tampak kelabakan. Salah satu yang tampak kelabakan adalah Genta.

“Aku kemarin niatannyo nak ceramah, dho, tapi panitianyo bilang bukan cak itu kelas inspirasi. Harusnyo aku bantu buka pikiran anak-anak ini buat bercita-cita lebih tinggi, sekolah lebih jauh”, curhat Genta, yang sekarang menyusun ulang rencananya. Ia kebagian menjadi inspirator siswa kelas tiga, yang isinya tak lebih dari selusin murid. Aku hanya mengangguk-angguk sok paham. Untungnya aku kemarin mendaftar ke bagian ‘Bersih-Bersih Masjid’, yang aktivitasnya baru dimulai besok.

Sembari menunggu siswa-siswi yang masih terus berdatangan, kepala sekolah yang belum tiba, serta inspirator yang masih menyiapkan diri, semua siswa yang sudah datang akhirnya dikumpulkan di satu lokal kelas yang paling bagus untuk bermain games. Selaku inisiator adalah Kak Hardi, alumni Bina Darma angkatan 2010 dengan kemampuan komunikasinya yang—menurutku—paten sekali, terutama dengan anak-anak. Kemampuan bersosialisasi macam itu sering kali sukses membuatku iri. Tapi tak apa. Aku yang menganggur pun lalu melakukan yang disebut orang Palembang ‘nyari kepacakan’. Meminjam ponsel Genta, hilir-mudik kesana-sini, mengambil beberapa foto kegiatan. Begini-begini, aku tetap wartawan kampus. I’m gonna make a good writing from this event. Yiihaa.



Selang beberapa lama, tibalah kepala sekolah yang dinantikan. Dengan kumis melintang, kopiah hitam, seragam pramuka lengkap dan sepatu boots, macamnya bapak ini sudah niat sekali untuk mengajar di pedalaman Banyuasin. Kami menyalami tangannya, sembari ia mengellingi lokal kelas SD-nya yang salah satunya kini kami sulap sedemikian rupa menjadi dapur umum. Ia manggut-manggut, mengucapkan terima kasih pada kami yang sudah repot-repot melakukan semua ini.

“Kami turut senang jika ada orang-orang intelek seperti kalian yang sudi datang ke sekolah kami”, begitulah kurang lebih pesan kepala sekolah dengan khidmat. Kalimat itu menggema, memantul-mantul di dalam kepala Bayu. Alhamdulillah ia tahan untuk tidak menangis.

Usai cengkerama yang tidak seberapa lama, Pak Kepala Sekolah pun mulai mengambil alih kemudinya. Ia memberikan instruksi kepada panitia dan peserta inspirator terkait jumlah dan letak masing-masing lokal kelas. It’s necessary to tell, gedung SD tersebut tidak berada dalam satu kesatuan. Beberapa lokal kelas terpisah dari bangunan utama, tempat kami menginap semalam sebelumnya. Hanya bangunan utama sekolah tersebut yang memiliki jendela, pintu, lantai yang dikeramik dan tembok yang dicat. Sisa bangunan kelas yang lain beratapkan seng, bertembok batako, berlantai tanah dan tidak dilengkapi pintu maupun jendela. Aku terperangah saat menyaksikan langsung keadaan kelas tersebut. Di sebelah papan tulis, terdapat sebuah pintu—lubang seukuran pintu, tepatnya—yang mengarah langsung ke rawa-rawa di belakang sekolah. Bagaimana siswa-siswi SD disini dapat tahan belajar dalam kondisi seperti itu? Coba tanyakan pada keping papan dan bongkah batako di tembok kelas itu, merekalah saksi-saksinya.

Keadaan salah satu ruang kelas SDN 03 SMT

Setelah games Kak Hardi usai, semua siswa-siswi SDN 03 SMT dipecah menjadi beberapa kelompok sesuai kelas mereka masing-masing. Mereka lalu diarahkan ke kelas-kelas yang kosong untuk menerima penyampaian motivasi dari kakak-kakak inspirator. Aku sendiri masih pura-pura sibuk dengan kamera ponsel Genta, mengambil gambar kesana-kemari. Beberapa inspirator tampak  benar-benar ‘niat’ dalam menghidupkan suasana kelasnya. Di sebelah ruang kelas tiga yang diisi oleh Genta, sekelompok ukhti bercerita tentang ‘macam-macam profesi’ dengan menggunakan boneka tangan dan panggung kecil dari kotak kardus. Anak-anak SD yang polos itu pun menyaksikan dengan takzim.

Kelas Inspirasi baru usai menjelang pukul sebelas siang, ditutup dengan penempelan kertas bertuliskan impian anak-anak tersebut di backdrop Voluntrip 2.0.


Semoga semua impian baik kalian jadi kenyataan ya, dek

- - - - - - -


Menjelang siang, barulah dilakukan penyampaian kata sambutan formal oleh Jarnawi (Ketua Pelaksana Voluntrip 2.0), Kak Reza (Ketum DDV Sumsel) dan Kepala Sekolah SDN 03 SMT. Setelahnya, semua juara dari tiap kelas di SDN 03 SMT pun dipanggil satu per satu ke depan tiang bendera dengan menggunakan pengeras suara TOA, untuk menerima bingkisan hadiah dari panitia dan peserta Voluntrip 0.2.

 

Kami berdiri melingkari semua murid dan wali murid yang turut hadir di lapangan tanah tersebut. Meski sederhana, namun ritual pembagian hadiah juara kelas tersebut tentunya berlangsung menyenangkan. Semua orang senang. Bahkan mamang-mamang penjual eskrim dan roti yang kini ikut hadir mendengarkan sambutan kepala sekolah.

Di semua generasi, pembagian rapor dan hadiah juara kelas adalah hari yang paling ditunggu. Semacam seremoni kecil untuk melepas anak-anak, sebelum mereka semua dengan liar menghabiskan waktu libur dua minggu tanpa perlu menatap buku pelajaran, hanya bermain saja. Eh, itu sih pikiranku saat seumuran mereka. Tapi sepertinya tetap relevan hingga masa kini.

Usai semua kata sambutan, siswa-siswi SDN 03 SMT masih ‘belum diizinkan’ pulang. Mereka harus mengikuti berbagai lomba anak-anak yang sudah kami siapkan, seperti lomba memasukkan paku ke dalam botol, balap kelereng, estafet air dan lain sebagainya. Dinda sendiri menjadi penanggung jawab lomba estafer air, yang lapaknya ternyata kurang diminati dibandingkan perlombaan yang lain. “Wuu, dak laku”, guyonku. Lalu Dinda menggerutu, tapi belum menyerah dengan usahanya menarik perhatian adik-adik.


Dinda dan Estafet Air yang akhirnya laku keras '0')/

Agenda Voluntrip di hari pertama, diluar dugaan, ternyata berjalan dengan sangat lancar. Tak ada keluhan dari peserta, selain tentang letak kakus yang jauh dan perut yang keroncongan. Selain itu, semua tugas kami lakukan dengan senang hati. Termasuk Kak Lala, yang sedari pagi tadi tak lepas dari dapur, dibantu beberapa rekan Voluntrip. Sarapan kami akhirnya siap menjelang pukul 12 siang. Beberapa orang yang merasa sarapannya sangat terlambat urung menggerutu, karena mulut mereka sudah lebih dulu dipenuhi bihun tumis. Kami mengantre makan dan berbagi tempat duduk yang sangat terbatas, persis penghuni Lembaga Permasyarakatan. But that was all fun. Buktinya, kami masih bisa makan sambil tertawa. Sejatinya, inilah alasan utama acara ini dinamai Voluntrip, menurutku.

Aku mengingat-ingat kembali rundown acara Voluntrip yang dibagikan panitia pada saat technical meeting lalu. Seharusnya kami berangkat meninggalkan sekolah ini pukul dua siang, lalu berpindah ke lokasi kedua, yaitu bagian lain Desa Karang Anyar di seberang Sungai Musi. Aku melongo menatap arloji. Sudah lewat pukul dua saat kami selesai membersihkan sekolah dan lapangannya. Panitia akhirnya menggenapkan jadwal keberangkatan menjadi pukul empat sore, ba’da ashar.

Aku sudah menduga kami akan menuju ke lokasi berikutnya dengan perahu. Tapi darimana kami akan menaikinya? Dermaga yang paling dekat dari sekolah ini empat kilometer jauhnya, itu yang kudengar. Aku sempat mengira kami akan diangkut beberapa kali dengan mobil panitia, tapi ada kabar buruk.

Mobil sikoknyo mogok, dak biso distarter gara-gara lampunyo dak dimatii dari semalem. Jadi sekarang tinggal ado mobil pick-up buat ngangkut barang kito”, demikianlah info yang kami dapat dari Jarnawi, Ketua Pelaksana Voluntrip 2.0. Kabar buruk lainnya, Jarnawi tak akan bisa ikut mengiringi kami ke desa di seberang karena besoknya sudah harus berangkat ke Yogyakarta dalam rangka PKL jurusannya.

Meski demikian, sebagian peserta nampaknya tidak terlalu memikirkan bagaimana kelanjutan cerita kami hari itu. Kami hanya beramai-ramai menggotong tas dan koper untuk diletakkan di tengah lapangan, sebelum menaikannya ke atas bak mobil. Setelah semua barang diangkut dan mobil berangkat ke dermaga—yang katanya—terdekat, kami lalu berjalan kaki meninggalkan sekolah. Kali ini, aku menggabungkan diri dengan Genta, Fatma, Dinda dan Lulu.

“Bagaimana dek Voluntrip ini? Nambah item dak kulit kamu?“, kataku memecah hening, mengingat sejak siang tadi cuaca mendung sudah berganti menjadi terik.

“Asli kak”, jawab Fatma dan Dinda hampir bersamaan, lalu tertawa. “Nak diputihi lagi lamo pasti”.
Setelah semuanya sampai di jalan beraspal, Kak Hardi yang ikut berjalan paling belakang mulai memberi aba-aba.

“Pelabuhan yang kito tuju lumayan jauh, sekitar tigo kilometer dari sini. Soal transportasi lagi diijoke samo panitia. Tapi daripada cuma nunggu, mending kito bejalan kaki bae ke lokasinyo, biar menghemat waktu. Cakmano galo-galo?”

Dari segenap rombongan yang sebagian besar diisi perempuan, tidak ada yang mengeluh atau hendak protes. Mungkin mereka malah menganggap ini bagian lain dari Voluntrip yang harus mereka lewati. Bagian yang menyenangkan, malah. Aku pun oke dengan rencana itu.

Maka sore itu, kami melepas sisa tenaga yang kami punya dalam perjalanan baru yang panjang. Beberapa dari kami menyempatkan diri menoleh ke bangunan SDN 03 Sumber Marga Telang untuk terakhir kalinya hari itu, dalam tema siraman cahaya matahari sore yang dramatis. Beberapa bahkan melambai dan berpamitan konyol, seolah bangunan itu adalah makhluk hidup. Namun mengingat bahwa gedung itu tak lagi akan dikunjungi manusia dalam dua minggu ke depan, perasaan kesepian yang hampa tiba-tiba menyelimutiku.

Sampai jumpa SDN 03 Sumber Marga Telang. Semoga kali berikutnya kami kesini, keadaanmu jauh lebih baik, agar lebih banyak lagi siswa yang dapat belajar dibawah naungan atapmu.


(Bersambung . . . . )



By the way, jarak sebenarnya dari sekolah ke dermaga adalah 10 kilometer. Itu yang tidak kami tahu.

Kamis, 05 Januari 2017

CATATAN VOLUNTRIP SUMSEL 2.0 (Bagian 1)


Aku lahir di kota, besar di kota.

Aku tidak punya dusun untuk dikunjungi ketika lebaran, dan tidak pernah sebelumnya terpikir untuk punya satu.

Apa pula pentingnya punya  kampung halaman, saat kau sendiri lahir dan besar di kota?
Bukankah perkotaan merupakan sentral gravitasi peradaban? Maka dengan lahir dan tinggal disini, tak banyak yang perlu aku cari lagi. Mengadu nasib hanya tinggal sebatas kemauan dan pilihan.

Bruk. Aku baru benar-benar insaf dari pemikiran seperti itu setelah duduk di bangku kuliah.

Kawan, ketahuilah, selain Palembang ada tiga kotamadya di Sumatera Selatan, ditambah 13 kabupaten.
Semuanya perlu dibangun dan disejahterakan.
Semuanya tengah menunggu untuk dibangun dan disejahterakan.

Lalu bagian mananya yang dramatis?
Ketahuilah, sebagian sarjana dan pemimpin berdarah Sumsel justru lahir dan didewasakan oleh alam dan kearifan lokal wilayah perkampungan, jauh dari riuh-gemuruh ibukota.
Semangat dan tekad untuk belajarlah yang mendorong mereka untuk terus bermetamorfosis.

Umpamakanlah seorang dusun menjalani kronologi hidup seperti ini :
SD di dusun
SMP di ibukota kecamatan
SMA di Ibukota Provinsi
Sarjana di luar pulau
Pascasarjana di luar negeri
Mengantarkan namanya sendiri ke tempat-tempat yang jauh, menancapkan taringnya di puncak-puncak yang tinggi, agar bisa berkenalan dengan orang asing hanya demi berkata : Saya asli Tulung Selapan.

Jika hidup ini soal berbangga-bangga, maka bukankah uraian di atas adalah kronologi yang paling ideal untuk disematkan dalam CV? Mobilitas sosial vertikal, kata orang.
Jikalau pun tidak, lalu bukankah empunya CV diatas adalah orang yang lebih berilmu? Karena ekshalasi hidupnya yang begitu dinamis, berbeda dengan orang yang lahir dan sebatas menetap saja di satu kota sepanjang hidupnya, macam aku.

Pffft.

Hal ini sempat (dan mungkin masih) mengganggu pikiranku.

Jika orang desa bisa menjadi lebih berilmu dengan belajar di kota, maka apakah orang kota pernah memikirkan yang sebaliknya : melengkapi kolom ilmu yang hilang dengan belajar dari desa?
Hmm. Mungkin tidak. Kecuali sebagian kecil secuil upil.

Sebatas untuk urusan asmara, kita memang tidak boleh melihat ke belakang.

Tapi untuk urusan satu ini? Mungkin melihat ke belakang justru akan memunculkan titik bifurkasi baru. An alternative thought.

Mungkin dengan melihat ke belakang, ke daerah-daerah di Sumsel yang lebih tertinggal, kita akan bisa menyadari banyak hal yang luput dari jangkauan mata kita. Sesuatu yang halus. Semacam semut-semut hitam yang mati terinjak di bawah sepatu kita tanpa kita sadari.

Mungkin justru hanya dengan melihat ke belakang, kesadaran yang baru dalam diri kita akan terbangkitkan. Kesadaran bahwa kita sendiri sudah terlalu ‘modern’, sehingga sering gagal memahami hal-hal yang sebenarnya sederhana. Hal-hal seperti kejujuran, ketulusan hati, serta pentingnya bersyukur untuk hal-hal yang kecil, yang indahnya, masih dimiliki dan dipelihara dengan apiknya oleh masyarakat pedesaan.

Mungkin dengan melihat ke belakang, kita bisa tahu betapa timpangnya pembangunan ekonomi di Sumsel.

Lalu tiba-tiba diri ini sudah mendaftar Voluntrip Sumsel 0.2.
Entahlah.
Mungkin jiwa ini sudah lelah karena terlalu kekota-kotaan.
Lelah tiap hari, dimanapun, selalu berhadapan dengan satu pernyataan Wak Alex yang mahligai lagi konkret : Palembang macet sampai 2017.


-----


Bus yang kami tumpangi merongrong nelangsa. Kami terlempar-lempar di tempat duduk masing-masing. Aku sendiri yang duduk di bangku tembak terkulai ke depan dan ke belakang saat kantuk menampari pelupuk mata. Ini persis perjalanan ke Indralaya, hanya saja lebih lama satu jam dan berlangsung di malam hari. Bagian lainnya yang berbeda (dan melegakan) adalah tidak ada kemacetan sepanjang jalan. Riuh kemacetan terakhir yang kami dengar ada di Jalan M.P. Mangkunegara, di depan Giant Kenten, dan itu sudah lebih dari satu jam yang lalu. Mungkin itu juga saat terakhir kami melihat gemerlap pelita untuk malam ini. Disini bahkan tidak ada lampu jalan. Yang menemani mesin bus mahasiswa ini dalam orkestranya hanyalah suara jangkrik di kejauhan, serta sosok-sosok gelap tinggi tak bergerak yang mengapit kami dari sisi kiri-kanan jalan.
Aku akhirnya bangun sempurna. Aku bangun karena penat dengan bangku yang tidak ada sandarannya ini. Sementara peserta lain yang gondrong di depanku (namanya Ilham, mahasiswa FH Unsri) sudah lama terjaga, mengambil beberapa gambar selama perjalanan. Ia dari bagian dokumentasi, katanya.

“Adek-adek, mohon perhatiannyo yo. Sekolah yang nak kito tuju ini ado di sebelah kiri jalan, sudah ado panitia yang nunggu disitu. Tapi berhubung sekolahnyo katek listrik, jadi mohon bantuannyo untuk ngeliati kalo-kalo sekolah itu lah telewat”, kata seseorang yang duduk di bangku depan (tak lama setelahnya, aku tahu namanya Bayu, panitia Voluntrip 0.2).

Maka setelah itu, ukhti-ukhti yang duduk di dekat jendela kiri pun ramai-ramai mengarahkan senter masing-masing ke arah kiri jalan. Sebagian penumpang lain memenuhi bus tersebut dengan bisik-bisik tak sedap. Jika diringkas, kurang lebih isinya adalah : Kito nginep di sekolah? Katek listrik? Cakmano ini Mamak?

Bus pun berhenti sejenak. Kak Reza, Ketum Dompet Dhuafa Volunteer Sumsel turun dari bus dan masuk jauh ke jalan setapak di sebelah kiri jalan, menuju sebuah bangunan yang berada jauh di tengah kegelapan. Kami pun was-was demi melihat bangunan tersebut—yang lebih mirip gubuk daripada sekolah, tanpa pencahayaan sama sekali. Beberapa saat kemudian dia kembali, lalu bilang itu bukan sekolah yang dituju. Kami lega.

Baik, mungkin aku perlu bercerita sedikit tentang sekolah ini. Kegiatan pertama kami di Voluntrip 0.2. kali ini adalah Program Kelas Inspirasi dan Lomba Anak-anak yang akan diselenggarakan besok, Sabtu 19 Desember 2016, bertepatan dengan hari pembagian rapor siswa-siswi SDN 03 Sumber Marga Telang, Desa Karang Anyar, Banyuasin. Hal yang baru kuketahui malam ini adalah ternyata kami akan menginap di SD tersebut, alih-alih di Balai Desa. Jumlah total kami lebih dari 60 orang dan menumpangi dua unit bus angkutan mahasiswa. Seharusnya sudah ada panitia yang berjaga dan siap menjemput kami di sekolah tersebut, namun nomor ponselnya tidak aktif saat dihubungi. Sekarang kami tersesat di tengah jalan menuju Pelabuhan Tanjung Siapi-api.

Bus kembali melaju, namun kali ini lebih pelan. Kini lebih banyak senter yang diarahkan ke pepohonan dan bebatangan yang menghalau sisi kiri jalan. Lalu bus yang kami tumpangi memutar jalan, kembali menyisir sisi jalan. Sempat berhenti beberapa saat untuk bertanya ke rumah penduduk yang dekat dengan jalan, sebelum akhirnya berputar lagi ke arah sebelumnya. Supir dan kondektur bus menggerutu. Kami juga.

Akhirnya sekolah yang kami tuju berhasil ditemukan. Aku menatap arlojiku.

Pukul 22.00.

Sudah waktunya gogoleran malas di atas kasur, jika ini di rumah. Tapi masih ada banyak tas dan bawaan penumpang lainnya yang perlu diturunkan dari atap bus. Masih banyak peserta lainnya yang belum kukenal dan perlu kuajak berkenalan jika waktunya memungkinkan. Masih ada satu mobil milik panitia yang terjerumus di jalan tanah dan perlu kami dorong bersama. Wah, masih ada malam yang panjang untuk dilewati. Tapi terlebih lagi, aku masih penasaran seperti apa sekolah yang akan kami huni malam ini.


-----


Diesel sudah dinyalakan. Kami duduk-duduk bersila di tengah lapangan upacara SDN 03 Sumber Marga Telang, di bawah siraman cahaya lampu emergency seukuran tiang gawang. Beberapa peserta juga sudah berebut mencolokkan charger ponsel di kabel terminal yang diulurkan panitia. Kami duduk dan mengobrol, menunggu entah apa yang belum datang. Seingatku tadi ada yang bilang sebagian panitia yang membawa perlengkapan acara belum tiba di lokasi.
Aku, Genta dan beberapa kolega baru kami yang lainnya kini duduk beralaskan tikar, beratapkan langit malam yang cerah, membayangkan bagaimana kami akan tidur malam ini. Aku sih oke jika harus tidur di bawah cuaca seperti ini. Tapi setelah ingat kalau ini musim hujan, aku pikir-pikir lagi.

Aku memandang berkeliling. Lapangan upacara tersebut sebenarnya hanya lapangan tanah biasa, dengan tiang bendera yang pendek di salah satu sisinya. Sementara lokal-lokal SD—yang sulit kukenali karena gelap—tersebut ternyata dibangun terpisah-pisah, tidak menyatu di satu gedung. Di luar bangunan buatan manusia tersebut, adalah rawa-rawa dan sungai yang mengepung komplek SD dari sisi selatan, barat dan utara. Aku getir demi membayangkan seandainya harus buang air besar di tengah malam. Aku tidak melihat toilet ataupun kakus dalam perjalanan kemari di sepanjang jalan setapak tadi. Haruskah aku boker langsung di sungai? Wah, akan jadi pengalaman pertama yang tak terlupakan. Tapi semoga saja tidak perlu terjadi.

Sembari menunggu panitia yang lain tiba, kami menyalakan api unggun untuk mengusir nyamuk dan bergantian pergi ke surau yang agak jauh dari sekolah. Letaknya ada di sisi jalan yang berbeda. Perlu berjalan sekitar 200 meter melalui jalan setapak dari tanah untuk mencapainya. Syukurnya, ada listrik dan toilet disana, walaupun kami tetap harus wudhu dengan air rawa karena antrean ke toilet yang segera membludak.

“Jadi teringet di Menwa dulu pas Diksar. Kami dibilangi : kalau nak tedok lemak, di rumah bae”, kata Genta, dalam obrolan kawanan lelaki kami yang isinya hanya 10 orang. Aku tertawa. Itu benar. Aku ingat tujuanku kemari. Jika keadaan seperti ini saja sudah membuatku ingin pulang, berarti aku salah tempat, atau malah salah jenis kelamin. Aku datang untuk mengumpulkan lebih banyak pengalaman menginap di desa, meski tidak gratis.

Sepulangnya dari masjid, kami kembali duduk di atas tikar di halaman sekolah. Namun kali ini kami ditemani salah seorang penduduk lokal. Aku lupa namanya—ampuni aku, Pak. Dia membantu menyalakan api unggun dan kini menemani kami ngobrol. Umurnya mungkin sudah hampr 60 tahun, namun garis wajah yang keras khas petani tergurat di wajahnya.

“Bapak kira tadi ada apa ramai-ramai, ternyata siswa-siswi dari sekolah ya”, sambut Bapak itu lega. God, aku sudah meniatkan diri untuk mengingat namanya, tapi tetap saja lupa -_- mulai sekarang sebut saja Pak Syamsul.

Pak Syamsul sumringah bukan kepalang. Aku awalnya kurang paham kenapa Pak Syamsul repot-repot keluar dari balik selimutnya untuk menyambut kami seorang diri, di tengah udara malam seperti ini. Namun demi mendengar ceritanya, tentang gedung sekolah yang sering dijadikan arena nyabu di malam hari oleh orang-orang luar desa, aku bersedia untuk mafhum. Ditambah dengan pemandangan jalan yang sepi dari manusia sejauh mata memandang, juga lampu jalan yang tak kunjung dibangun pemerintah, bisa kumengerti bahwa kedatangan kami beramai-ramai ini bisa jadi semacam hiburan kecil bagi Pak Syamsul, karena tidak terjadi setiap hari.

Maka di saat banyak peserta dan panitia sudah tenggelam oleh kantuk dan aktivitas bongkar muat perlengkapan dari mobil panitia—yang baru sampai beberapa waktu sebelumnya—aku dan Genta masih setia mengobrol dengan Pak Syamsul.

“Jadi manusia itu memang harus baik nak kepada semua orang, biar orang lain juga baik sama kita. Tidak bisa kita hidup sendirian di dunia ini”, ujar Pak Syamsul, menutup ceritanya tentang rombongan preman hulu ledak sengketa lahan di wilayah tersebut 15 tahun yang lalu. Di kisahnya, preman tersebut justru mundur bukan karena perlawanan dari masyarakat setempat, tapi karena keramahan Pak Syamsul dalam menyambut mereka. Dari empati, lahir rasa segan. Dari rasa segan, lahir rasa hormat. Demikianlah. Wallahu a’lam.

Di tengah penantian kami para peserta, obrolan semacam ini seharusnya sangat menghibur. Aku antusias bertanya pada Pak Syamsul, apakah ia bisa berbahasa Bugis seperti kebanyakan orang yang tinggal di Daerah Jalur?

“Bapak malah lebih bisa Bahasa Bugis daripada Bahasa Palembang”, jawabnya polos. Memang sudah bukan rahasia, banyak transmigran dari Sulawesi yang bertempat tinggal di sepanjang jalan menuju Tanjung Siapi-api. Beberapa bahkan sudah menetap lebih dari 40 tahun, berkeluarga, menelurkan generas kedua menuju generasi ketiga. Pak Syamsul sendiri bercerita tentang anaknya yang berjumlah 10 orang. Aku jadi teringat Tauhid, teman kuliahku yang juga dari Jalur. Dia anak bungsu dari 10 saudara. Aku sempat berpikir Pak Syamsul ini adalah bapaknya, ternyata bukan.
Aku lalu gantian bercerita tentang perjalananku ke Kendari beberapa bulan sebelum itu. Tentang Suku Bajo yang lahir, hidup dan mati di atas geladak kapal, hingga puluhan generasi. Pak Syamsul terperangah.

“Terakhir Bapak di Sulawesi waktu umur dua tahun. Sesudah itu tidak pernah lagi. Tidak ingat apa-apa. Hanya dengar cerita dari orang-orang”, tanggapnya.
Menjelang tengah malam, akhirnya aktivitas bongkar muat usai sudah. Panitia menggiring kami untuk beristirahat di kelas—yang tentu terpisah bagi ikhwan dan akhwat. Geng lelaki mengambil tempat di ruangan paling ujung, yang tak lain adalah ruang guru merangkap perpustakaan SD. Aku sempat kaget demi mendengar bahwa ruangan-ruangan tersebut tidak dikunci selepas pembelajaran selesai. Tidak ada gerendel, atau gembok, atau kunci, atau apapun. Cukup dengan memanjat jendela, kami bisa masuk, sebelum akhirnya menarik pintu kelas dari dalam agar terbuka.

Setelah mengambil tempat masing-masing di lantai ruangan, kami tak banyak buang waktu. Ovi dan seorang peserta lainnya membalurkan lotion anti nyamuk ke seluruh tubuh, sebelum membungkus diri dalam sarung dan jaket. Aku pun sama, sementara Genta berguling di sudut ruangan di dekatku, mengecek notifikasi terakhir di ponselnya. Ponselku sendiri? Sudah lama mati, itu pun aku tak peduli. Yang aku tahu, sinyal T**i sudah berubah simbol menjadi coret sejak kami melalui perbatasan Banyuasin. “Apa pula asyiknya bermain gadget setelah akhirnya jauh dari rumah?”, hiburku pada diri sendiri—yang sebenarnya, hanya malas berebut colokan dengan panitia dan peserta lain.
Aku membalik tubuh ringkih ini ke kiri dan ke kanan, berusaha keras mencari posisi yang paling nyaman untuk tidur. Mungkin akan cukup sulit jika aku tidak mengantuk berat.


-------


Jam empat pagi keesokan harinya, aku terbangun karena dua hal : alarm yang memang kusetel, lalu efek magis lotion nyamuk yang tidak lagi ajeg, sirna. Habis kaki dan tangan ini dilibas prajurit rawa-rawa itu. Beberapa saat menggaruk, aku akhirnya sadar bahwa bibir atasku bengkak—entah apa yang menggigitnya.

Aku hendak duduk dan mengumpulkan sukma. Namun di kejauhan, kudengan bunyi gemuruh dari langit. Dalam hitungan detik, bunyi itu diiringi tetesan air yang mengguyur. Hujan. Mampus, pikirku. Terbayang bagaimana air rawa dan sungai meluap, membanjiri jalan setapak kemarin menjadi licak tanah.

Bagaimana kita akan pergi ke masjid untuk sholat Shubuh?

Entahlah. Ini masih jam empat.

Kito jingokke bae”, batinku, lalu mencoba tidur—walau sudah mustahil.

(...bersambung)

Kondisi lapangan dan jalan setapak menuju bangunan utama SD