Senin, 27 November 2017

Mengintip ke Dalam Rumah Ong Boen Tjit, Saudagar Tionghoa Kaya dari Abad ke-18




     Perjalanan saya hari itu mengingatkan saya pada kisah Borno, si pengemudi perahu tradisional sepit dalam novel “Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah” gubahan Tere-Liye. Meski secara pribadi saya kurang puas dengan ending ceritanya yang ‘mengambang’, tapi harus saya akui ada beberapa elemen dalam prosa tersebut yang melekat dengan jelas dalam kepala saya hingga saat ini, bisa jadi karena kedekatannya dengan kehidupan saya—seorang warga Palembang—sehari-hari. Elemen-elemen tersebut hadir dalam bentuk deru suara mesin perahu, air sungai yang kecokelatan, gelombang air yang menyapu tubir dermaga, juga aroma hio yang menguar dari balik tembok papan rumah panggung kayu. Iyap! Kami tengah menyelami budaya hidup orang sungai. Bedanya, Borno hidup di pinggiran Sungai Kapuas, sementara Ong Boen Tjit dan anak-cucunya hidup di pinggiran Sungai Musi.

     Nah, Siapa pula Si Ong Boen Tjit ini?

     Saya pun turut memikirkan pertanyaan yang sama hingga saya temukan jawabannya hari itu.
Berkat informasi dari seorang kolega, hari Ahad lalu saya berangkat ke dermaga BKB (Benteng Kuto Besak) untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut, di tengah siang hari  yang, kalau meminjam istilah orang Palembang, panas bedengkang. Sesuai dengan yang dijanjikan pengurus GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Sumatera Selatan selaku penyelenggara acara bertajuk ‘Pasar Baba Boen Tjit’ pada hari itu, maka sebuah perahu ketek pun datang menghampiri kami di dermaga untuk mengantarkan kami dengan gratis ke Rumah Ong Boen Tjit yang baru-baru ini sangat tersohor. Moda transportasi yang cuma-cuma tersebut tentu direspon dengan antusias oleh calon pengunjung Pasar Baba Boen Tjit.

Perjalanan menggunakan perahu ketek menuju Rumah Baba Boen Tjit di Kelurahan 3-4 Ilir. Kedatangan kami langsung disambut anak-anak penduduk sekitar
     Perjalanan kami pun berlangsung singkat. Rasanya baru lima menit saya duduk di perahu, dan tahu-tahu saja kami semua sudah bertambat di sisi lain Sungai Musi. Kediaman Ong Boen Tjit ternyata tak terlalu jauh jika ditempuh lewat jalur air.
    Turun dari perahu ketek, saya segera menuju alun-alun tempat diselenggarakannya Pasar Baba Boen Tjit. Sebuah tirai dari daun nipah kering tergelar melintang di pintu masuk alun-alun, melambai-lambai ditiup angin seolah menyambut kedatangan kami.

 
Alun-alun di depan rumah Ong Boen Tjit yang menjadi lokasi Pasar baba Boen Tjit 

     Beberapa stand penjual makanan tampak berjejer di satu sisi, menawarkan berbagai jajanan khas Palembang, mulai dari penganan ringan seperti kue kumbu, bluder, kemplang dan pempek panggang  hingga ke kudapan berat seperti lakso, celimpungan dan pempek kapal selam. Di sudut lain tampak sebuah panggung kecil, sementara dihadapannya telah disusun beberapa meja dan kursi berukuran kecil khusus untuk pengunjung yang akan mengikuti rangkaian kegiatan Pasar Baba Boen Tjit hingga petang hari nanti.
     Sebagai pembukaan, Pasar Baba Boen Tjit menyuguhkan pentas seni tari, drama dan musik untuk menghibur para pengunjung. Para penari dari Sanggar Seni Elok Emas dengan piawai membuka acara hari itu dengan menampilkan Tari Peranakan, ditutup dengan riuh tepuk tangan penonton. Usai tarian, pengunjung kembali dihibur dengan penampilan musik M-MKR Band dari UIN Raden Fatah Palembang, lalu diakhiri dengan pementasan drama “Legenda Antu Banyu” oleh Tim Drama Stisipol Candradimuka Palembang.

 
Penampilan Tari Peranakan oleh Sanggar Seni Elok Emas

     Namun bagi saya, semua rangkaian hiburan tersebut adalah sekedar appetizer penggelitik perut sebelum saya mengenyangkan diri dengan hidangan utamanya : the legendary house of Ong Boen Tjit itself!
     Sekilas dari seberang alun-alun, rumah Ong Boen Tjit nampak tak berbeda dari rumah papan milik warga Palembang pada umumnya. Suasana berbeda saya rasakan saat saya  melangkahkan kaki ke teras rumahnya. Sepasang plang kayu dengan ukiran emas huruf mandarin tampak menggantung vertikal di kedua sisi pintu masuk rumah. Puluhan  pengunjung Pasar Baba Boen Tjit nampak tak henti-hentinya keluar-masuk pintu. Segera setelah suasana di dalam rumah cukup lengang, barulah saya dapat masuk dan mengamati keantikan hunian Tionghoa yang berusia tiga abad tersebut dengan lebih seksama.

 
 Tampak dalam kediaman keluarga Ong Boen Tjit. Dari kiri ke kanan : (1) Pintu masuk ke ruang tengah; (2) altar peribadatan; (3) foto salah satu keturunan Ong Eng Tuan

     Pada ruang tamunya yang luas, berbagai foto hitam putih tampak tergantung dengan anggun di beberapa sisi. Salah satu foto tersebut bertuliskan ‘Ong Eng Tuan, Saudagar Pedagang Hasil Bumi’. Selidik punya selidik, nama Ong Boen Tjit yang menjadi cikal bakal tajuk acara Pasar Baba Boen Tjit hari itu ternyata adalah nama anak bungsu dari Ong Eng Tuan yang meneruskan usaha keluarganya. Ong Boen Tjit memiliki seorang kakak perempuan bernama Ong Kui Nio dan  seorang kakak laki-laki bernama Ong Boen Kim, sementara keturunannya yang menghuni dan merawat rumah besar tersebut saat ini merupakan keturunan generasi ke-8 Ong Boen Tjit.

Tiga bersaudara keturunan Ong Eng Tuan. Dari kiri ke kanan :(1) Ong Kui Nio; (2) Ong Boen Kim; (3) Ong Boen Tjit

     Sebagaimana rumah limas—model rumah masyarakat Palembang dahulu kala—arsitektur Rumah Ong Boen Tjit sendiri tak terlepas dari pengaruh budaya Melayu Palembang. Bagian dalam rumah Ong Boen Tjit nampak terbagi dalam beberapa sekat ruangan yang memiliki tingkatan (kijing), menyerupai sistem bengkalis dalam rumah limas. Di masa lampau, masyarakat Palembang terkenal menjunjung tinggi kehormatan dan derajat sosial dalam bermasyarakat, sehingga ruangan tempat berkumpul dalam sebuah rumah pun ditentukan berdasarkan derajat dan kedudukan seorang tamu.
     Meski fungsi sekat ruangan pada rumah Ong Boen Tjit mungkin tidak sama dengan rumah limas, namun terdapat beberapa kemiripan di antara keduanya. Contohnya seperti pada bagian teras yang dalam budaya Palembang disebut Pagar Tenggalung, berfungsi sebagai beranda dan tempat bercengkerama dengan masyarakat sekitar yang berlalu lalang. Rumah Ong Boen Tjit pun memiliki teras serupa yang dikelilingi pagar. Bagian lain yang serupa adalah ruang tamu rumah Ong Boen Tjit yang pada rumah limas biasa disebut jogan, tempat berkumpulnya tamu laki-laki—atau sebagian orang juga percaya sebagai tempat berkumpulnya tamu dari golongan Kiagus. Perbedaan yang mencolok baru tampak saat memasuki tingkat ruangan ketiga, tempat tergelarnya sebuah altar peribadatan keluarga Ong Boen Tjit. Selain di ruangan tengah, sebuah altar lain juga terdapat di ruangan terakhir yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga. Dupa yang sebelumnya dinyalakan menyebarkan aroma harum ke segala penjuru ruangan.

 
Altar peribadatan keluarga Baba Ong Boen Tjit, lengkap dengan sesajian
buah-buahan dan dupa yang menyala

     Tiga abad yang lalu, tepatnya pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, tata letak pemukiman Kota Palembang diatur sedemikian rupa berdasarkan etnis, status sosial dan pekerjaan masyarakat Palembang pada masa itu. Etnis tionghoa yang pada masa tersebut masih merupakan salah satu etnis pendatang di Palembang mendapatkan tempat bermukim di pesisir Sungai Musi, jauh di luar Keraton Kuto Gawang yang merupakan pusat pemerintahan Palembang. Hal tersebut menyebabkan banyaknya orang tionghoa yang bermukim di atas rakit. Kenyataan bahwa rumah keluarga Ong Boen Tjit telah berdiri sejak saat itu sendiri merupakan sebuah keajaiban! Kemampuan keluarga saudagar tersebut untuk mendirikan rumah panggung permanen yang besar tentu mengindikasikan bahwa kekayaan keluarganya tidak main-main. Bahkan konon, kekayaan Ong Boen Tjit begitu melimpah sehingga cukup untuk menghidupi keturunannya sampai generasi ketujuh.

     Setelah puas berkeliling dan mengamati isi rumah Ong Boen Tjit dari dekat, saya pun keluar rumah dan berkeliling alun-alun. Ada hal lain yang berhasil menarik perhatian saya, yaitu peragaan langsung pembuatan perabot dari anyaman daun nipah oleh ibu-ibu setempat. Sama seperti rumah Ong Boen Tjit, kerajinan dari daun nipah tersebut ternyata memiliki nilai historis tersendiri.
    “Lah 20 tahun ngegaweke ini. Ilmunyo kami dapet turun-temurun”, ujar Mak Ilun, salah seorang ibu-ibu pengrajin yang bermukim di wilayah 4 Ulu. “Sampe sekarang kami ngisi (menyetor) barang ke Pasar 16 (Ilir), Pasar Cinde, Pasar Pal 5”, tambahnya seraya terus menganyam. Selain Mak Ilun, masih banyak lagi ibu-ibu di wilayah 4 Ulu yang bekerja sampingan sebagai pengrajin anyaman daun nipah.

Dari kiri ke kanan : (1) Mak Ilun; (2) Ibu-ibu pengrajin daun nipah dengan hasil pekerjaannya; (3) tampah yang siap dipasarkan

     Hasil produksi yang berupa bakul, piring kayu, tampah (nampan kayu) dan keranjang buah yang cantik dijual dengan harga berkisar dari 10.000 hingga 15.000 rupiah tergantung jenisnya. Bahan baku daun nipah sendiri dibeli dari daerah Jalur, Banyuasin. Inisiatif untuk menganyam daun nipah menjadi bentuk kerajinan bangkit puluhan tahun lalu saat banyaknya pelepah pohon nipah yang dibuang. “Dulu uong pake (daun nipah) untuk buat lintingan rokok. Pas lah idak lagi, banyak daun nipah tebuang. Daripada dibuang lemak ibu-ibu disini buat kerajinan, biso dapet duit”, kisah Mak Ilun. Bukan sekedar terampil, ibu-ibu setempat mampu menyelesaikan anyaman daun nipah dengan sangat cepat. Tak sampai satu jam, sebuah keranjang buah tuntas dikerjakan Mak Ilun.
     Tak selesai sampai disitu, perhatian saya para pengunjung kembali tersedot saat Chef Kukuh Jayadi melakukan peragaan memasak pindang. Dengan didampingi asistennya dan seorang artis cantik, Dinda Kirana, Chef Kukuh sukses menyajikan empat macam pindang menjelang sore hari itu : pindang patin, pindang udang, pindang telur gabus dan pindang baung. “Masak udang jangan kelamaan. Kalau terlalu matang nanti dia jadi terlalu kenyal, kayak karet”, tipsnya seraya mengaduk isi panci. Usai peragaan memasak, pindang-pindang tersebut dibagikan pada hadirin acara dan warga sekitar. Soal rasa? Jangan ditanya. Cukup untuk memanjakan lidah--walau porsinya kecil.

 
 Chef Kukuh tengah menuangkan udang ke nampan untuk dibagikan ke pengunjung. Soal rasa masakannya? Hmm, sangat kurang (banyak)

     Sumarni Bayu Anita, Ketua Pelaksana Pasar Baba Boen Tjit turut menyampaikan beberapa harapannya selagi rangkaian acara berlangsung. “Harapan kami ke depannya Rumah Baba Boen Tjit ini dapat menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat Kota Palembang”, ungkapnya. Sementara ketika ditanya kendala apa yang paling besar dalam penyelenggaraan Pasar Baba Boen Tjit, Mbak Sumarni menyatakan bahwa kesulitannya terdapat pada jarak. “Karena peserta harus menyeberangi sungai untuk tiba di lokasi acara”, ujarnya. Rumah Baba Boen Tjit sendiri beralamat lengkap di Lorong Saudagar Yucing No. 55 RT. 050 RW. 002 Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1. Alamat tersebut memungkinkan untuk  dicapai dengan perjalanan darat, namun letaknya yang cukup jauh dari jalan raya dan tidak dapat dicapai kendaraan roda empat membuat Rumah Ong Boen Tjit jarang dikunjungi wisatawan. “Semoga untuk seterusnya program ini dapat menjadi agenda tahunan GenPi Palembang”, ujar Mbak Marlina.
     Sebagai seorang turis lokal, untuk saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah meng-amin-kan harapan rekan-rekan GenPI dalam menjadikan Rumah Ong Boen Tjit destinasi wisata baru, serta membantu menyebarkan tentang nilai jual Rumah Ong Boen Tjit melalui media sosial saya.
     Sejatinya, masih banyak sekali hal yang perlu dibenahi bersama-sama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sekitar agar Rumah Ong Boen Tjit dapat menjadi tujuan wisata pilihan warga Palembang. Beberapa aspek yang perlu dibenahi tersebut berkaitan dengan ketersediaan transportasi air dan dermaga perahu khusus untuk turis, kebersihan lokasi wisata dan ketersediaan pemandu wisata yang dapat menjabarkan informasi sejarah Rumah Ong Boen Tjit secara valid. Selain dukungan teknis, pemerintah juga perlu menyertai penyempurnaan objek wisata baru tersebut dengan strategi-strategi yang ampuh untuk menarik minat berkunjung warga lokal.

 
 Perjalanan pulang  menyusuri Sungai Musi di penghujung hari

Daftar Istilah :

- Bengkalis : Sistem pembagian bagian-bagian dalam rumah limas, rumah tradisional masyarakat Palembang.

- Bluder : Sejenis roti dengan tekstur lembut dan sedikit berminyak. Awalnya merupakan penganan Eropa yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia, seperti kue lekker dan kue kaastangels.

- Hio : Dupa; salah satu media peribadatan penganut Konghucu yang biasanya dibakar dan dipajang di meja altar. Memiliki aroma harum yang khas.

- Kemplang : Sejenis kerupuk ikan. Pada dasarnya berbahan dasar sama dengan adonan pempek, hanya saja digepengkan dan dipanggang di atas bara api sehingga ukurannya mengembang.

- Kijing : Tingkatan-tingkatan ruangan dalam rumah limas.

- Kumbu : Penganan khas Palembang berbahan dasar santan dan kacang merah atau kacang hijau

- Laksan, Lakso, Celimpungan : Berbagai jenis pempek kuah yang ada di Palembang. Perbedaannya terdapat pada bentuk adonan dan warna serta rasa kuahnya masing-masing.

- Panas Bedengkang : Istilah yang sering digunakan orang Palembang untuk menggambarkan suasana panas terik matahari di siang hari.

- Perahu Ketek : Perahu kayu tradisional masyarakat Palembang. Umumnya kini perahu ketek ditenagai mesin diesel kecil sebagai pemutar turbinnya.

- Perahu Sepit : Sebutan orang Kalimantan, khususnya yang bermukim di pesisir Sungai Kapuas untuk perahu sejenis ketek

- Tampah : Nampan tradisional dari anyaman kayu atau pelepah nipah


Referensi :

terpinggirkan_588230b3559373640bbb3e8d

http://www.gosumatra.com/rumah-limas-sumatera-selatan/

https://halallifestyle.id/tourism/ramaikan-atraksi-pinggir-sungai-musi-genpi-sumsel-gelar-pasar-baba-boentjit

https://www.kompasiana.com/sumarnibayuanita/kampung-kapitan-sejarah-palembang-yang-terpinggirkan_588230b3559373640bbb3e8d

Semua gambar yang dimuat di tulisan ini merupakan hasil dokumentasi pribadi penulis

Minggu, 04 Juni 2017

CATATAN VOLUNTRIP SUMSEL 0.2 (Bagian 3)




 
Gambar 1. Siluet dari sosok tak penting 
 
Singkat cerita, kami akhirnya mengompreng. Ini bukan pengalaman pertama buatku, tapi bagi ukhti-ukhti perkasa yang terus menjerit sedari awal perjalanan tadi, bisa ditebak ini pengalaman perdana mereka. Malah, bisa jadi yang tak terlupakan. Aku jadi teringat pengalaman pertamaku ngompreng bersama teman-teman EP. Tapi kali ini suasananya agak berbeda, karena mobil yang kami tumpangi adalah truk gandeng yang biasanya digunakan mengangkut kelapa sawit. Bayangkan sendiri betapa besarnya bak yang kami tumpangi, tinggi dindingnya saja lebih dari satu setengah meter.

Sesekali kami kelabakan mencari pegangan—yang sebenarnya tidak tersedia—saat truk tersebut berguncang liar. Jalan menuju pelabuhan memang tidak mulus. Beberapa bagian permukaan aspal sudah pecah berantakan, kembali bercampur dengan licak tanah, berubah menjadi kubangan besar-besar. Beberapa dari kami akhirnya dengan putus asa menempelkan tangan ke dinding bak yang licin, seolah itu membantu kami menyeimbangkan diri. Di atas kendaraan yang tidak stabil tersebut, duduk 
dan berdiri sama sulitnya.

Matahari sudah tenggelam beberapa menit lalu. Kak Hardi berhitung dengan keadaan, harap-harap cemas. Setelah Jarnawi mohon diri, secara tak langsung tanggung jawab keberlangsungan acara ini kembali pada panitia yang bertugas—yang sejak awal kukira, adalah Kak Hardi. Agenda kami malam ini adalah pengadaan layar tancep dan nontong bareng Final Piala AFF bersama warga Desa Karang Anyar di dusun seberang. Tapi truk kami bahkan belum sampai ke pelabuhan, dan masih ada anak Sungai Musi yang harus diseberangi. Aku sempat sungkan memikirkan, bagaimana lima puluh lebih peserta dan bawaannya yang berat-berat ini akan diangkut dengan perahu kayu, menyeberangi sungai di malam hari. Mungkinkah waktunya cukup?

Setelah satu jam lebih berjalan kaki, perjalanan dengan truk ini bagaikan naik buroq. Dua kali lipat jarak yang kami tempuh sebelumnya, pungkas hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.
Kami akhirnya sampai di pelabuhan yang dimaksud. Rombongan Kak Reza yang membawa Land Rover dan barang-barang bawaan kami semua tampak tersadar dari lamunannya, Pasti lama sekali mereka sudah menanti.

Setelah mengamati beberapa lama, aku akhirnya mafhum bahwa tempat tersebut adalah pelabuhan barang, alih-alih manusia. Tidak ada seorang pun yang bisa kami lihat di tempat tersebut selain rombongan panitia, peserta, sopir truk tadi serta seorang bapak-bapak yang menunggu di atas perahu kayu. Selain itu, hanya ada bongkahan batu kali, gunungan batu koral dan bangunan-bangunan operasional yang tidak dihuni.

Setelah berkumpul dan menerima arahan dari panitia, akhirnya kami beralih pandang ke angkutan kami yang berikutnya : perahu. Hanya ada satu perahu—yang dari tempatku berdiri tampak kecil sekali—, dan artinya kami harus diangkut dalam dua kloter. Aku, Dinda, Fatma dan Lulu memutuskan untuk menumpang di kloter kedua, sementara Genta yang entah sejak kapan kini sudah naik ke atas perahu, mengamankan kursi terdepan untuk menyaksikan Final Piala AFF di dusun tujuan kami.


Gambar 2. Menuju Karang Anyar
sumber :  hp-remembrall.livejournal.com


Perahu tersebut tak beratap, sehingga kami masih bisa menyaksikan wajah-wajah lelah penumpangnya menjauh dari tubir dermaga saat propeler perahu tersebut mulai mengayuh. Beberapa detik kemudian, hanya nyala lampu senter mereka yang tampak membelah Sungai Musi yang hitam, sebelum benar-benar hilang dalam kegelapan petang. Dramatis. Aku hampir membayangkan perjalanan pertama Harry Potter menuju Kastil Hogwarts.

Lalu sekarang bagaimana?

Kami duduk-duduk di atas hamparan koral dan ranting-ranting kayu, seperti orang piknik yang salah pilih tempat. Beberapa anak perempuan mulai mengeluarkan makanan ringan, sebagian yang lain membagikan lotion anti nyamuk. Amrina ingin pipis, maka Ilham—yang ternyata pacarnya—pergi berkeliling pelabuhan tersebut untuk mencari toilet. Hasilnya nihil. Tak ada toilet. Tak ada orang. Tak ada air bersih. Berarti juga tak ada musholah. Dari sanalah muncul persoalan baru : bagaimana caranya sholat maghrib? Aku dan kelompok kecilku ini akhirnya mulai gusar membicarakan hal itu, karena jika jarak tempuh perahu tersebut untuk tiba di seberang dan kembali kesini adalah 30 menit, maka kami baru akan tiba di desa seberang lewat dari jam setengah delapan, atau saat waktu maghrib habis.

Dermaga terlalu tinggi dari permukaan air sungai, dan mengambil wudhu di sungai di malam hari seperti ini juga kedengarannya bukan ide yang bagus. Setelah itu pun, kami masih akan bermasalah dengan lokasi sholat. Kami tak punya banyak pilihan.“Sudem dek, dijamak tuhlah berarti dengan Isya. Mending cak itu daripada dak sholat nian”, ujarku menyimpulkan, lalu mereka mengiyakan dengan murung.

Sembari menanti, tak banyak yang bisa dilakukan. Kami—yang sekarang ternyata lebih banyak laki-laki daripada perempuannya—hanya bercanda ringan dan mengobrol ngalor-ngidul, sebagian besar tentang prediksi hasil pertandingan Indonesia-Thailand malam ini. Aku sendiri tidak terlalu tertarik dengan pertandingan olahraga, tapi jika untuk menonton TV, harusnya ponsel M**o-ku bisa diandalkan saat ini jika baterainya tidak habis. Dan tentu saja baterainya sekarang habis, seperti selalu. Ck.

Kak Reza menggombali Dinda. Kami tertawa. Lalu kami menguap. Lalu menggaruk. Lalu bergosip. Lalu mengunyah dan menelan. Lalu Kak Reza menggombali Dinda lagi. Lalu kami tertawa lagi, lalu menguap lagi. Begitu terus, hingga suara mesin perahu terdengar di kejauhan dan kami semua berhenti.

Jarum panjang di arlojiku sudah melewati angka 12. Waktu maghrib sudah hampir habis. Aku bulatkan niat untuk menjamak sholat Maghrib-ku ke Isya. Tanpa buang banyak waktu, kami langsung mengangkut barang-barang pribadi dan perlengkapan acara ke atas perahu—yang ternyata lumayan besar setelah diamati lebih dekat. Aku pun naik belakangan, setelah Lulu, Fatma dan Dinda.

Biso berenang dak, dek?”, bisikku pada mereka dari balik pundak Dinda.
 “Idak kak. Kakak biso, kan?”, tanya Dinda berharap.
Aelah. Samo bae berarti”, lalu aku tertawa garing. “Bedoa baelah dek, hahaha”.

Aku meletakkan kedua tasku, lalu duduk di belakang mereka, di geladak bagian belakang. Perahu langsung berangkat setelah mesin dieselnya dipacu beberapa kali. Kini tibalah giliran kami untuk membelah kegelapan Sungai Musi.

Mengapa butuh waktu tempuh yang lama untuk sampai di seberang? Hal tersebut akhirnya terjelaskan bersama rongrong mesin perahu. Dusun yang kami tuju ternyata tidak terletak tepat di seberang kami, namun sedikit lebih jauh ke arah Barat. Dengan kata lain, kami bukan hanya menyeberang, tetapi juga menyusuri Sungai Musi. Ditambah faktor air yang sedang pasang, mungkin arus sungai juga turut andil dalam mempersulit perjalanan kami.

Fatma dan Dinda menatapi langit malam. Aku tertarik untuk mengikutinya, lalu kami pun terenyuh bersama. Kami tengah terapung di atas arus, di suatu sudut Sungai Musi yang sama sekali tidak populer, jika dibandingkan pemandangan Sungai Musi yang ada Jembatan Ampera-nya. Tapi jauh dari rentetan klakson dan gemerlap lampu kota, kami justru menemukan pemandangan lain yang lebih spektakuler. Kami sejatinya tengah pesiar di bawah atap hotel bintang sejuta, digiring suara mesin perahu dan nyanyian jangkrik di hutan di kejauhan. Ingin rasanya menunjuk-nunjuk gemintang di atas, memberi tahu adik-adikku ini rasi bintang yang mana yang namanya apa. Tapi soal astronomi, aku sama dungunya seperti berenang atau membawa sepeda, jadi biarlah begini. Biarlah kami mengagumi langit malam itu dalam ketidaktahuan kami akan semesta. Karena paham atau tidak pun, jutaan gemintang di atas kami tetaplah indah.

Beberapa peserta yang bosan pun menyinari permukaan air sungai. Salah seorang dari kami terkejut, lalu berteriak, mengheningkan peserta-peserta lain yang tengah mengobrol. Ia baru saja melihat buaya. Di tengah sungai berarus deras begini? Tapi ternyata saksi matanya lebih dari seorang.

Liat dak tadi barusan, kak?”, tanya Fatma kepada Lulu, terdengar takut. “Jelas nian, ngambang cak kayu”.

Beberapa bahkan bilang matanya berwarna merah, entahlah. Aku tak sempat lihat. Yang jelas, mereka yang tadinya asyik menyentuh-nyentuhkan kaki ke permukaan air sungai kini meringkuk ke dalam perahu.

Setelah cukup lama berselimut dalam kegelapan, akhirnya tampak beberapa titik cahaya di kejauhan. Kami sudah hampir sampai. Deru mesin perahu pun melambat, lalu perlahan berhenti. Bapak yang mengemudikan perahu melompat ke haluan dan mengeluarkan dayung panjang. Perahu kami merapat ke sebuah dermaga kecil dari beton yang sebagian permukaannya terendam air.

Meski bukan pertama kalinya naik perahu, tapi sejujurnya, saat berpindah dari perahu ke daratan bagiku selalu menakutkan. Sesekali perahu bergoyang karena tidak seimbang menanggung bobot penumpangnya yang berangsur turun. Walau duduk di belakang, aku berusaha tidak jadi yang terakhir meninggalkan perahu.

“Dek, tolong bawaki kardus itu”, pinta seorang panitia—yang tidak kuingat siapa—seraya menunjuk sebuah kardus besar yang tergeletak di dekat kakiku. Seingatku, isinya logistik. Ditambah tas punggung dan satu tas genggam, jelas bawaanku tidak ringan, tapi aku tak bisa menolak. Aku pun berusaha menggotongnya bersama Kak Taqrim—kalau tidak salah ingat—lalu perlahan membawanya keluar perahu yang bergoyang semakin tidak stabil.

BRUK

Tepat di langkah pertama, aku terjatuh—untungnya—ke depan. Beberapa peserta perempuan di belakangku berseru kaget. Sebelah kakiku tercebur ke air karena sandalku licin, tapi Kak Taqrim berhasil menjaga keseimbangan sehingga kardus tersebut tidak jatuh ke air. Tak bisa kubayangkan jika semuanya berantakan gara-gara aku ._. Aku pun buru-buru berdiri dan meneruskan menggotong kardus tersebut, entah kemana, asalkan jauh dari air.

Ya, akhirnya kami tiba di bagian lain dari Desa Karang Anyar! Karena pencahayaan yang masih minim dan baterai kamera fotografer kami yang habis, sayangnya tak ada dokumentasi resmi dari awal mengompreng hingga kami selesai menyeberang. Tapi yang terpenting adalah, akhirnya kami bersama merealisasikan kata ‘Trip’ dari ‘Voluntrip’, tajuk acara kami. Yang tersisa untuk dikerjakan sekarang adalah mempersiapkan diri untuk bagian lainnya, yaitu ‘volunteer’, esok hari. Tugasku dan rekan relawan Bersih-bersih Masjid baru saja akan dimulai.
 

Bersambung (lagi)

Laporan Magang (Non-formal)


 
Gambar 1. Gedung Direktorat Jenderal Pajak Kanwil Sumsel dan Babel


Dari judulnya saja mungkin kalian sudah paham ini tulisan apa.
Ini bukan blog milik mahasiswa STAN yang khusus mem-posting tugas kuliahnya di internet. Ini hanya blog iseng yang isinya juga iseng.
Adapun tulisan ini adalah salah satu bentuk tanda mata dari si mahasiswa semester akhir ini, yang sudah diberi kesempatan magang di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Ilir Barat Palembang.

----
 
“Redho kuliah dimana?”

“Unsri, kak”

“Ambil jurusan apa?”

“Jurusan Ekonomi Pembangunan, Kampus Indralaya, Angkatan 2013, NIM 01021181320068 Semester 8, konsentrasi Ekonomi Syariah, Status Single, Golongan Darah O”, babatku, memutus tali kelambu obrolan basa-basi tersebut. Si kakak ber-oh panjang. Hening sesaat. Lalu ia membuka mulut lagi.

“Gak magang dimana, gitu?”

Gantian aku yang diam, memikirkan jawaban yang paling mudah untuk dipahaminya. Hal-hal berbau kuliah praktik seperti KKN dan kawan-kawannya memang sudah lama binasa dari kurikulum wajib jurusan kami. Lagian, Ekonomi Pembangunan? Coba gantian aku yang tanya, instansi mana yang secara spesifik membutuhkan tenaga kerja magang dengan latar belakang pendidikan EP? Aku pun bingung, tak tahu jawabannya.

Dialog di atas memang hanya fiksi. Tapi, pertanyaan terakhir itu memang sering beberapa kali dilontarkan padaku. Hingga pada suatu hari, ajakan itu pun datang.

“Dho, galak dak mekot magang di Kantor Pajak?”, ajak Ayu, teman seangkatanku di EP.

“Galak, yu”

Lalu sekonyong-konyong, aku dan dua teman sejurusan lain sudah resmi menjadi peserta praktik kerja lapangan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Ilir Barat Palembang. Nasib memang ajaib. Belum sudah aku memikirkan macam apa bentuk korelasi antara jurusan kuliah kami dengan yang akan kami kerjakan disini, lalu tiba-tiba kami sudah berada disini : berpakaian persis karyawan Kantor Pajak, masuk pagi, pulang sore, membantu karyawan-karyawan yang asli dengan mengerjakan hal-hal sepele yang insya Allah membantu mereka. Hanya penghasilannya saja yang tidak sama, sigh.

Pemagangan kami direncanakan berlangsung selama satu bulan pas. Berawal tanggal 20 Maret, berakhir 20 April. Jika dibagi per pekan, totalnya ada lima pekan, dan setiap usai satu pekan kami akan dirotasi dari satu seksi ke seksi lain. Maka dari hari pertama pun, aku dan kedua temanku yang lainnya (Ayu dan Desti) sudah didudukkan di tempat yang berbeda-beda.


Tragedi

Walau berkacamata dan berbadan kurus—stereotype karyawan kantor, taulah—tapi aku sama sekali bukan orang yang cocok bekerja di kantor. Aku tidak teliti, pelupa, gagap. Salah print, salah ketik, salah ambil barang, salah tulis, salah pilih gebetan (nggak lah) sudah biasa sekali terjadi. Lalu seolah memahami itu tanpa perlu kucontohkan di hari pertama bekerja, Pak Ali, Kasi Umum KPP  Pratama Ilir Barat langsung menempatkanku di Seksi Pelayanan. Seksi? Dan melayani. Oh, yeah.

Jika bank punya nasabah yang harus dilayani, KPP sehari-harinya harus berhadapan dengan WP (Wajib Pajak), dan Seksi Pelayanan adalah garis terdepan KPP dalam melayani para WP dari balik loket TPT (Tempat Pelayanan Terpadu). Tentunya aku tidak ikut melayani WP, tapi cukup duduk di sudut lain Seksi Pelayanan, di ruang kantor yang disekat selapis tembok di belakang TPT. Dan untuk memperjelas suasana, saat itu aku adalah secuil upil yang bahkan tidak hapal apa kepanjangan KPP (Tentunya tak ada training khusus yang menjelaskan segala SOP dan JD kepada anak magang, buat apa?). Kagok. Apa yang biasanya dilakukan anak magang di hari pertamanya? Aku mencoba berbasa-basi, mencoba akrab dengan semua orang disana.

“Dek, kau kuliah boleh gondrong yo?”, tanya seorang bapak berkumis yang duduk di pojok ruangan secara tiba-tiba.

“He-eh, iyo Pak”, jawabku sambil mesem-mesem. Iya, rambutku saat itu masih panjang dan kukuncir seperti biasa saat berangkat ke kampus. Ehm, sepertinya aku tahu arah pembicaraan ini.

“Saran aku kau potong be rambut itu”.

Tuh, kan.

“Ini lingkungan kantor, jadi penampilan memang harus formal. Lagian dak enak gek diliat anak-magang yang dari SMK, mereka liat kau sebagai contoh, gek mereka ngikut-ngikut cak itu. Kalo lah di luar silakan nak manjangke rambut, terserah kau”, katanya tegas.

Glek. Aku hanya mengiyakan dengan lemah, takut kena sepak dari sini saat tengah membawa nama baik Unsri. Q kalah. Potong rambut menjadi agenda pertamaku sepulang magang hari pertama.

 
Gambar 2. Remah-remah kejayaan masa lalu

JD Khusus

Nah, cukup soal potongan rambut baruku yang sekarang mirip Remus Lupin.

Ternyata kami mulai magang di saat yang tepat. Hari itu tanggal 20 Maret 2017, dan Program Pengampunan Pajak akan berakhir di akhir Bulan Maret, berbarengan juga dengan hari terakhir pelaporan SPT online. (What on the earth SPT online is? Oh darling, go google it)

Singkat cerita, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tengah sibuk-sibuknya pada saat itu. Bayangan tentang hari-hari magang yang penuh waktu menganggur, seperti yang kubaca di blog seorang mahasiswa perpajakan sebelum aku mulai magang, sirna sudah.

Dari yang aku ketahui, magang sebenarnya adalah kata yang halus untuk menyebut ‘nguli di kantor’. Pekerjaan kami seharusnya tak jauh dari mengantar surat, mengetik ini, mencetak itu, memfotokopi ini, mengecap surat itu, menempel stempel ini, menghancurkan berkas itu, mengirim faksimili, mengangkat telepon dan pekerjaan-pekerjaan teknis bersifat repetitif lainnya yang jika dikerjakan oleh karyawan sendiri, akan cukup menghabiskan banyak waktu. Namun berhubung aku laki-laki yang identitasnya selalu dikaitkan dengan pekerjaan yang ‘lebih berat’dari perempuan, maka aku pun diperintahkan mengerjakan sesuatu yang agak berbeda. ‘JD Khusus’, kalau aku menyebutnya.

Gambar 3. Mesin pencetak nomor antrean. Sudah tugasnya untuk macet di saat-saat genting 
mencetak nomor antrean bagi WP yang hendak mengisi E-filing

“Nah, berdirilah disini, lalu panggil orang-orang yang duduk disitu waktu ada meja yang kosong”, kurang lebih begitulah perintah Pak Zaheddy, Kasi Pelayanan di hari pertamaku magang. Aku tak terlalu paham, tapi mengangguk dengan ketakziman yang dibuat-buat. Aku duduk menghadap loket TPT yang jauuuh di seberang sana. Di sebelah kananku ada beberapa baris meja kantor yang disusun sedemikian rupa—yang, sebut saja, hot desk—tempat beberapa petugas dari KPP Ilir Barat duduk menghadap laptop sembari melayani WP yang duduk di sebelah mereka. Sementara di sebelah kiriku, adalah beberapa baris susunan kursi tempat para WP yang sudah mengambil nomor antrean, menunggu nomornya dipanggil. Di tempatku berdiri, adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tidak berhenti berkeringat dalam seragam hitam putihnya, masih bingung dengan tugas barunya.

Setiap WP memiliki tiga kewajiban : menghitung, membayar dan melaporkan pajaknya—bener gak sih? CMIIW. Untuk melaporkan pajak, seorang WP tiap tahunnya harus mengisi formulir yang juga disebut SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) yang metode pengisiannya dilakukan secara online, mulai efektif sejak tahun 2014 lalu. Sementara deretan hot desk yang disusun tersebut adalah bentuk pelayanan ekstra KPP Ilir Barat terhadap WP yang tidak / belum paham tentang tata cara pengisian SPT online—bisa juga disebut e-filing, umumnya WP yang berusia lanjut, gaptek, tidak punya smartphone / laptop, mengalami masalah saat mengisi sendiri, atau sekedar malas mengisi sendiri—iya, yang begini juga banyak. Setiap tahun, normalnya tenggat pelaporan SPT online jatuh pada tanggal 31 Maret. Singkatnya, tugasku adalah memanggili nomor antrean para WP yang hendak mengisi SPT online tersebut, demi membantu mengurai antrean yang panjang akibat dari budaya orang Palembang yang suka ‘terkentut terpising’ dalam menyelesaikan segala urusannya.

Kuakui, aku memang lambat terbiasa dengan segala jenis pekerjaan baru. Di awal pekerjaanku, aku memanggil WP tanpa pelantang apapun. Hanya berteriak dari tempatku berdiri. Aku baru berhenti saat seorang WP mengeluhkan suaraku yang terlalu kecil. Setelahnya, baru aku mencari cara lain untuk memanggil WP dengan lebih baik.

Gambar 4. Sesuai EYD, alat di sebelah kanan disebut PELANTANG. Adapun di sebelah kiri, adalah senjata darurat Ranger Merah di saat nomor antrean WP menembus angka 500

Di lain hari, aku mengganti pelantang TOA dengan senjata lain yang berteknologi lebih mutakhir : mikrofon. Jangkauan suaranya jelas lebih jauh, bahkan terdengar sampai ke Ruang Seksi Pelayanan. Lalu, sejak saat itulah  reputasi recehku sebagai pemanggil WP terkenal sampai ke lantai tiga gedung DJP.

“Kamu ini yang manggilin e-filing di lantai satu itu, ya?”.

“Nah, ini dia selebriti kita”.

“Redho suaranya kereeen, daleeem. Cocok nian pake mic”.

“Bangso rajin kau nih. Agak tebantu gawean kami semenjak kau yang manggilin WP”.

“Nikahi adek, Bang!” ß ßß  dusta

Duh, sebegitunya?

Aku pun tak paham pada awalnya. Tapi mengingat pemanggil WP bukanlah posisi formal yang selalu diisi orang lain setiap saat, bisa jadi kegunaan pemanggil WP ini baru tampak menonjol saat aku ‘didudukkan’ disini. What a coincidence. Bahkan aku dibuat stay satu pekan lebih lama di Seksi Pelayanan demi melakoni tugas ini, urung dirotasi. “Karena Seksi  Pelayanan membutuhkanmu, Redho”, bujuk Ayu, karyawati dari bagian Sekretariat saat kutanya alasannya. Aku hanya nyengir-nyengir kuda. Begini pun tak apa, pikirku. Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan dengan becus? Hahaha.

Gambar 5. Nomor antrean E-Filing. Konon katanya jika terkumpul hingga 2000 lembar, bisa ditukarkan dengan merchandise cantik (bohong)
 Aku juga tertolong karena ditempatkan sebagai pemanggil WP. Ada banyak hal yang dapat aku pelajari. Selain mendapat pengalaman disemprot WP, aku juga mendapat kesempatan berkenalan dengan anak-anak OJT (On Job Training), yaitu mereka yang baru lulus STAN di akhir tahun 2016 lalu dan kini sedang purna-tugas di KPP Ilir Barat.

Iya. Mereka yang bertugas piket di hot desk, yang awalnya kupanggil ‘kakak’ dan ‘mbak’ ternyata seumuran denganku—bahkan sebagian orang lebih muda 1 – 2 tahun dariku -_-  dari sanalah sense of belonging itu muncul (ceilah), meski kami jelas beda kasta. Walau jam magangku berakhir pukul empat sore, terkadang aku tetap tinggal mengimbangi mereka bertugas hingga pukul lima sore, hingga WP yang mengantre benar-benar musnah dari muka bumi. Feedback-nya? Pfft. Aku jadi seperti berlangganan snack dua kali sehari, pagi dan sore, kecipratan jatah mereka. Malah terkadang secangkir Krusher nyasar hinggap di hadapanku, entah siapa yang membelikannya. Alhamdulillah.

 
 Gambar 6. Pemberian orang-orang baik hati. Semoga rejeki mereka selalu lancar.


Di Seksi Lain

Di pekan ketiga, aku dipindah ke Seksi Ekstensifikasi. Dan semangat kerjaku berubah drastis semenjak dipindah kesitu.

“Lho, kenapo? Padahal menurutku kerjaan di Eksten itu paling asyik kalo buat cowok. Sejauh yang kuliat sih”, ungkap Ayu, agak terkejut saat kubilang aku ‘belum’ nyaman di tempat baruku. Untuk pekerjaan-pekerjaan di KPP Ilir Barat yang berkaitan dengan anak magang seperti kami, Ayu yang bertugas di Sekretariat memang koordinatornya.

Alasanku tidak cepat betah di Seksi Ekstensifikasi adalah karena aku merasa gabut disana. Gabut, di tengah pekerjaan Seksi Ekstensifikasi yang sebenarnya banyak. Gabut, karena aku harus bersaing dengan seorang anak magang dari SMK yang bernama unik : Suhur.

Suhur ini bisa jadi model anak buyung di abad 21. Ia selalu ‘ngantor’ dari pagi, pulang tepat waktu.   Kemeja seragamnya selalu dimasukkan ke celana. Bicaranya sedikit. Dia selalu pakai topi sekolah saat keluar kantor, makan bekal yang dibawa dari rumah dan langsung cabut ke masjid tiap kali terdengar azan. Manusia yang efisien, efektif. Berbeda dengan kami yang hanya magang lima pekan secara sukarela, siswa SMK wajib magang selama tiga bulan. Dan Suhur, jika ditotalkan, sudah enam pekan lamanya ‘mengabdi’ di Seksi Ekstensifikasi. Dia seolah selalu tahu apa yang harus dan bisa dia kerjakan disana, bahkan saat aku hanya duduk melamun karena tak ada kerjaan.

 
Gambar 7. Suhur, dengan pose Boboiboi Halilitar.
Sumber : facebook

Suhur juga jadi ujung tombak karyawan di Seksi Ekstensifikasi untuk pekerjaan-pekerjaan remeh yang merepotkan, seperti membeli tisu ke warung, membeli molten cake di KFC atau sekedar mengambil inventaris kantor di Bagian Umum. Namun di sisi lain, dia juga diandalkan untuk pekerjaan teknis yang biasa dilakukan pegawai lainnya, seperti pembuatan kode E-billing, pencetakan NPWP, perekaman data WP dan geo-tagging. Atau dalam kalimat yang lebih ringkas, dia bisa semuanya, sehingga aku tak dibutuhkan sama sekali. Bisa dipastikan dari delapan jam magangku dalam sehari, tiga jamnya bisa kuhabiskan hanya untuk main Onet, satu jamnya untuk bengong.

Selain diandalkan untuk pekerjaan kantor, peran vital Suhur lainnya di Seksi Ekstensifikasi adalah sebagai sumber bahan bully bagi pegawai disana. Hiburan karyawan, selain karaoke dan menonton bioskop. Tapi tetap saja, mereka semua akrab, dan aku hanya duduk di pojokan ruangan, ikut tertawa tanpa diajak. Sigh. Mungkin beginilah perasaan Kurama saat dipaksa berebut tempat dengan seekor katak.

 Gambar 8. Berkenalan dengan elektronik kantor. Dari kiri ke kanan : card printer, 
printer, paper shredder (my favorite)

Di pekan keempat, aku dipindah ke Seksi Penagihan. Aku membayangkan wajah pegawai yang bercodet dan penuh luka gores, tapi kenyataannya berbeda sama sekali. Kasinya, Pak Azwir, lembut tenan. Pegawai lainnya di ruangan tersebut juga santai dan sedikit bicara. Kecuali Kak Burlian, Si Juru Sita yang suka mengajak ngobrol. “Katek gawe nian kak di Seksi Penagihan. Aku waktu itu be cuma duduk-duduk melamun”, begitu pesan Suhur saat aku hendak pindah dari Seksi Ekstensifikasi. Ternyata benar adanya. Ritual main Onet-ku masih berlanjut, meski pindah ruangan. Hanya saja tanpa keberadaan anak magang lain disana, aku jadi lebih ‘terdayagunakan’. Seorang pegawai yang nampak baru dipindahkan ke Seksi Penagihan, Kak Agung, setidaknya cukup sering menyuruhku mengantar surat ke seksi lain dan mengirimkan faksimili.

Di pekan kelima, aku kembali dipindah ke Seksi Pelayanan. What a relief! Aku kembali bertemu dengan Kak Fika, Kak Puput, Kak Firman, Mbak Yus, Mbak Jenni, Pak Zul dan Pak Nopri—yang dulu menyuruhku potong rambut. Bisa dibilang, aku dan semua anak magang paling betah bekerja di seksi ini. Banyak pekerjaan, banyak makanan, banyak canda dan bahan obrolan.


Penutup

"Kito magang nih dak dibayar ruponyo, dho"

Hmm, baiklah.

Sejak awal aku memang tak terlalu berharap tentang upah. Memang tidak semua tempat kerja menjanjikan bayaran bagi anak magang. Mendapat kesempatan belajar di tempat magang sendiri, adalah sepak terjang yang unik bagi mahasiswa EP seperti kami.

 Gambar 9. Antrean WP yang kembali hening setelah tenggat pengisian SPT online diperpanjang. Ya itulah orang Palembang, sukanya terkentut terpising.

Pada akhirnya, melihat antrean WP yang semakin bekurang justru berhasil menghadirkan kepuasan yang baru. Mungkin karena diri ini sempat menjadi bagian yang kontributif dalam proses tersebut.

Lalu... Duh, bingung mau nulis apa lagi hahaha.

Syahdan, demikianlah kiranya kisah para pemburu sertifikat pengalaman ini. Semoga tulisan ini menghibur bagi yang membaca, dan menjadi pengingat bersama bahwa kematian itu begitu dekat (???)

Sebagai bonus, turut kulampirkan cinderamata dari kami yang magang untuk anak-anak OJT :)

Gambar 10. Cinderamata
Baris atas dari kiri ke kanan : Idris, Deswita, Kak Nur, Kak Imam, Kak Dico, Kak Tino, Kak Jo
Baris bawah dari kiri ke kanan : Belinda, Fifi, Apri, Roro, Wili, Amel
Paling kanan : Ayu