Minggu, 31 Desember 2017

Bertukar Diari dengan Mahasiswa PPL





 

Tidak ada makna khusus dari judul tulisan kali ini. Aku sepenuhnya hendak bercerita tentang pengalamanku bertukar diari dengan seorang mahasiswa PPL saat aku masih duduk di bangku SMP.

Kenapa pula aku tiba-tiba ingin membagikannya?

Sepulang dari ENJ, aku sudah tahu kehidupan macam apa yang siap menyambutku (akan kuceritakan tentang ENJ ini di tulisan lainnya, nanti). Tidak ada lagi rutinitas kuliah yang padat seperti tiga tahun pertamaku di kampus. Aku akan punya banyak waktu untuk merenung. Merenungkan kapan akan kuakhiri masa kuliah ini, misalnya.

Separuh isi angkatanku di kampus sudah ‘minggat’ dari bangku kuliah. Perjuangan skripsi tentu menjadi sesuatu yang berbeda sama sekali. Berhadapan dengan dosen pembimbing skripsi kini tidak lagi bersama teman seangkatan. Perbaikan dan revisi pun harus kulakukan seorang diri. Bayangkan saja rasanya, orang-orang yang dulunya selalu bisa diganggu setiap saat untuk mengerjakan berbagai hal bersama, kini tak bisa lagi diganggu karena kesibukannya yang sudah berbeda. Kali ini semuanya harus benar-benar diselesaikan sendirian.
S-E-N-D-I-R-I-A-N. Harga yang mungkin setimpal untuk sebuah penundaan.

Setelah ini  harus menyelesaikan skripsi, itu sudah pasti. Tapi bagaimana cara mengembalikan diri ini ke ‘jalur’ tersebut? Bagaimana caranya kembali mengerjakan skripsi, setelah setahun ini aku ‘pergi’ begitu jauh dan mengerjakan hal yang begitu berbeda? Akhirnya kuputuskan untuk membangkitkan semangatku terlebih dahulu.

Lalu aku teringat akan sesuatu : suatu hajat yang dulu pernah dipendam, dan terus dipendam hingga aku tak lagi ingat untuk melaksanakannya. Aku masuk  ke kamarku, lalu mengambil seonggok karung yang tersandar malas di samping lemari baju. Aku membawanya ke depan TV dan menumpahkan isinya, berusaha menemukan apa yang dulu pernah ingin sekali kutuliskan menjadi sebuah cerita pendek. Karung tersebut sendiri berisi buku-buku pelajaran SMA dan beberapa barang pribadiku yang tidak kususun ulang setelah aku pindah rumah. Aku yakin sekali pernah melihatnya di dalam karung itu : sebuah bundel mirip tugas makalah yang tidak dijilid. Tapi sepertinya aku keliru. Mungkin aku tidak pernah memasukannya ke karung tersebut sebelum aku pindah rumah.

Aku pun mengulangi pencarianku. Aku membuka semua buku pelajaran SMA yang kutemukan, juga semua buku tulis yang ada di dalam karung tersebut. Lalu, setumpuk kertas lusuh berhamburan saat aku membuka sebuah buku tulis bersampul kertas manggis warna ungu. Aku memungutnya, membaca tulisannya yang ditulis dengan pensil 2B. Meski bukan itu yang aku cari, namun tulisan di kertas-kertas tersebut ternyata berkaitan erat dengan apa yang kupikir bisa membangkitkan semangatku lagi.

Aku memasukkan kembali sisa-sisa barang lainnya ke dalam karung, lalu berkonsentrasi membaca tulisan di lembaran-lembaran kertas tadi. Aku langsung mengenalinya sebagai tulisanku sendiri. Astaga, jelek sekali. Rasanya seperti membaca linimasa facebook-ku sendiri di tahun 2011. Hampir tidak ada sisi yang tidak menggambarkan kealayan seorang remaja puber, hingga aku hampir tiba di ujung tulisan tersebut.

“Hai guys, namaku Berti”

Aku menarik napas panjang. Mengenang sejenak pemilik nama tersebut dan mengapa dulu aku ingin menuliskannya menjadi sebuah cerita pendek.

- - - - - - - -

Palembang, September 2010

Kedatangan mahasiswa PPL ke sekolah kami sudah seperti agenda tahunan yang tidak pernah terlewatkan. Sejak beberapa minggu sebelumnya, puluhan mahasiswa PPL dari salah satu universitas di Palembang sudah mulai tampak mondar-mandir di segenap penjuru SMPN 19 Palembang, lengkap dengan jaket almamater mereka yang berwarna biru mentereng. Aku selalu berharap ada kesan lebih baik yang mereka tinggalkan pada kami, karena tiap saat mereka mampir ke kelas kami di luar jam mengajar mereka, hal yang mereka lakukan hanyalah menyuruh kami agar tidak berisik. Padahal jika boleh menilai, job description itu sudah ditempati dengan sempurna oleh Bu Jum, Waka Kesiswaan SMPN 19. Jika ada yang coba-coba  menggantikan perannya yang agung, maka akan lebih terdengar seperti lelucon.

“Nata, ngapoi kau tegak-tegak depan kelas? MASUK!”, pekiknya menggelegar. Bu Jum bahkan tidak perlu repot-repot menghampiri langsung murid nakal bernama Nata. Ia hanya berkacak pinggang di depan ruang guru, bicara dengan pelantang suara, sementara Nata yang apes tengah berdiri di depan kelasnya yang terpisah jarak satu lapangan upacara dari tempat Bu Jum berdiri. Yap. Bu Jum mampu mengenali Nata dari jarak sejauh itu.

“Chandra, kau jugo ngapoi keluar kelas?”, tegur Jumainah yang Agung. Lalu seolah takut akan murka langit yang mungkin menimpanya, Chandra yang cebol langsung menuruti kata-kata dari sosok tak terlihat tersebut

Peristiwa diatas biasa ditemui saat guru SMPN 19 menggelar rapat di jam pelajaran. Ruang-ruang kelas tentu kosong tanpa ada yang mengawasi.

Namun dalam suasana PPL Mahasiswa FKIP Universitas xxx, tentu Bu Jum bisa lebih santai. Ia merasa hanya perlu mengutus beberapa orang mahasiswa PPL untuk mengisi kekosongan jam pelajaran kami dengan kegiatan apapun. Bisa saja perkenalan formal, perkenalan ‘tidak formal’, brainstroming, games dan lain sejenisnya. Dan semua itu pun, tak selalu diindahkan oleh seisi kelas. Maklum, anak SMP.

Dua orang mahasiswa PPL masuk ke ruang kelasku, kelas IX.4 yang sedang kacau kala itu. Aku yang tadinya pura-pura tidur mau tak mau kembali mengangkat kepalaku saat mereka memperkenalkan diri. Tak lama kemudian demi memperoleh perhatian kami, mereka mengambil spidol dan memperkenalkan 10 jenis kecerdasan manusia kepada kami lewat papan tulis. Bahasan khas guru BK. Kami lalu diajak mengidentifikasi kecerdasan apa saja yang ada pada diri kami masing-masing.

Tidak semua penghuni kelas memperhatikan mereka. Namun bagiku sendiri, ini bahasan yang menarik. Aku suka psikologi. Suatu saat nanti aku ingin menjadi psikolog—atau setidaknya inilah isi pikiran seorang remaja SMP yang labil kala itu. Pfft. Aku mengeluarkan diariku dan mulai menyalin kata-kata di papan tulis.

What? Diari?

Ya, kalian tidak salah dengar baca.
Jika semua manusia generasi Y pernah lebay, maka aku tentunya paling lebay saat masih di bangku SMP. Dulu aku pernah memiliki sebuah diari—satu lagi anomali masa remajaku, tak salah lagi. Lembaran-lembaran aib yang kusebut diari tersebut sebenarnya tak lebih dari buku catatan biasa berisi tulisan-tulisan sembarangan tentang berbagai hal. Salah satu hal sembarangan yang kutulis tersebut adalah materi yang dijelaskan mahasiswa PPL barusan. Hal yang membuatku ragu menyebut buku catatan tersebut sebagai diari adalah karena buku catatan tersebut tidak benar-benar pribadi sebagaimana diari seharusnya. Sebaliknya, aku malah bangga sekali saat ada yang membacanya. Jika dihitung-hitung, mungkin separuh isi kelas IX.4 sudah turut menikmati kealayan isinya. Duh. Jika kalian juga generasi Y, kalian pasti paham bagaimana seorang anak SMP bisa begitu alay, begitu ingin diperhatikan. Menulis buku harian yang dibaca orang banyak jaman then kurang lebih sama seperti menulis status alay di sosial media jaman now, versi primitif dari sebuah ‘pencitraan’. Bahkan pada saat itu aku tak ambil pusing jika pengalaman-pengalaman pribadi yang kutulis di dalam diari tersebut turut dibaca oleh semua orang. Termasuk soal kisah seseorang yang pernah kusukai saat kelas VIII dulu.

Setelah gagal membuat seisi kelas lebih tenang melalui materinya, kakak-kakak PPL tersebut akhirnya beralih ke mode persuasif. “Adek-adek boleh ngobrol, tapi jangan ribut, ya!”.
As if we could, LOL. “Boleh mengobrol tapi tidak boleh ribut” sama saja seperti “boleh menghidupkan percon santak tapi jangan sampai suaranya terdengar tetangga”. Tentu saja bujukan tersebut tidak ampuh. Di sisi lain,  kami belum paham betapa terpojoknya posisi mahasiswa FKIP ketika dikacangi siswa-siswanya sendiri. Akhirnya mereka menyerah dan  lebih memilih berinteraksi dengan kami satu per satu. Ditambah dengan dua orang mahasiswa PPL lainnya yang baru bergabung ke kelas IX.4, mereka pun berkeliling kelas dan menanyakan jenis kecerdasan apa yang kami pikir ada pada diri kami.

Pada saat yang sama di mejaku, aku tengah—lagi-lagi—menunjukkan tulisan di diariku kepada temanku. Kami pada saat itu tengah mengobrolkan apa bedanya kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, sebelum akhirnya seorang kakak PPL perempuan menghampiri meja kami dan mengajak kami berkenalan. Obrolan kami berujung pada sepetak benda yang tergeletak di dekat sikutku.

“Apa itu dek?”, tanya kakak PPL seraya menunjuk diariku. Mungkin sampulnya yang kutempeli gambar karakter komik Tsubasa Reservoir Chronicle membuat perhatiannya tertaut.

“Ini... Diari, kak”, jawabku seperempat hati, ragu dengan efek jawabanku sendiri.

Tulisannyo bagus, kak! Baco be kalo galak!”, pungkas Harry yang duduk di sebelahku saat itu. Hampir saja aku berteriak ‘GILO’ ke arahnya, namun Si Kakak PPL keburu memintaku untuk menunjukkan diari tersebut. Aku pun menyerahkannya tanpa perlawanan.

Si Kakak PPL membolak-balik buku tersebut di depan wajahnya, sementara aku mengamatinya. Rambutnya yang pendek sebahu tampak kasar, namun lurus. Alisnya tebal. Kulit wajahnya putih dipoles bedak tipis. Aku tidak bisa menerka apa isi kepalanya saat membaca tulisanku.
Aneh, aku merasa malu. Menunjukkan tulisanku ke orang yang lebih tua ternyata tidak sama dengan menunjukkannya ke teman-temanku. Kami pun hening beberapa saat, lalu Si Kakak PPL menurunkan buku diariku dan memandangku langsung.

“Adek,” katanya. Aku masih mengamati. “bukunya boleh kakak pinjam, kan?”

Apa pilihanku selain bilang iya? Tentu saja aku meminjamkannya begitu saja, lalu bel pulang sekolah pun memutus pertemuan kami hari itu. Teman-temanku cengar-cengir. Kakak PPL berjalan keluar kelas. Ia tahu namaku Redho. Tapi aku—bodohnya—tidak tahu namanya. Bahkan tak sempat terpikir untujk menanyakannya.

- - - - - -

Sebenarnya aku sudah berhenti menulis cerita pribadiku di buku tersebut sejak akhir kelas VIII lalu. Tulisan yang bisa dibaca semua orang pada saat itu hanyalah kejadian-kejadian lama. Aku sendiri tak paham kenapa Si Kakak PPL mau meminjamnya. Hal lain yang tak kupahami? Aku mau saja meminjamkan diari itu pada orang yang jangankan aku tahu namanya, wajahnya saja aku langsung lupa.

Sebagai informasi, aku  awalnya mendapatkan diari tersebut dari kakak perempuanku. Dia membelikanku buku catatan berbentuk agenda karena menurutnya aku akan butuh ruang mencatat yang bisa diperbarui untuk beberapa tahun ke depan. Syukurlah dia tidak tahu jika pada akhirnya buku tersebut akan berfungsi ekstra sebagai diari laknat penampung berbagai aib pemiliknya.

Beberapa hari setelah meminjamkan diariku, aku kembali dihampiri seorang mahasiswa PPL perempuan ketika hendak keluar kelas di jam istirahat. Ternyata ia adalah Si Kakak yang kemarin.

“Redho!”, panggilnya, “Bukunya bagus!”

I’m sorry, what?

“Kakak sampe gak yakin kalo itu tulisan kamu. Rasanya bukan kayak tulisan anak SMP. Kakak suka”, ujarnya girang. Ia tersenyum sangat lebar, menunjukkan gigi-giginya yang putih dan rapi.
Aku terdiam di tempatku berdiri. Kaku. Seolah-olah aku baru mendapat tendangan tepat di selangkangan.

“Hah? Madaki, Kak?”, akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutku.

“Boleh kan kakak pinjem agak lama sedikit?”, Ia bertanya. Aku mengangguk-angguk. “Kakak juga punya tulisan yang begini, tapi kakak simpan di komputer. Nanti kakak kasih liat, barengan waktu kakak balikin bukumu”.

Lagi-lagi aku hanya mengangguk, tersenyum. Bingung bagaimana harus menanggapi, sementara Ia terus memuji apa yang kutulis—memangnya bagian mana dari diariku yang pantas dipuji? Untuk pertama kalinya aku berani mempertanyakan hal itu.

Si Kakak lalu mengucapkan sampai jumpa dan kembali ke ruang guru setelah bel masuk istirahat berbunyi, sementara aku masih dilanda berbagai perasaan. Canggung, juga bingung, tapi senang. Begitu senang hingga aku lupa lagi menanyakan namanya.

- - - - - - - -

Di hari-hari berikutnya aku tak lagi memusingkan soal nama Si Kakak. Ia sepertinya orang yang bisa dipercaya, disamping, memang menyenangkan rasanya diperhatikan secara khusus oleh seorang perempuan (walau beda usia kami bisa jadi sekitar tujuh atau delapan tahun). Kami sering berpapasan di teras sekolah, di kantin, ruang guru, dan hampir setiap saat kami bertemu selalu dia yang menyapaku duluan. Beberapa mahasiswa PPL lain bahkan ikut mengenaliku, entahlah, tapi sepertinya Si Kakak menceritakan soal aku dan buku diari itu kepada teman-teman mahasiswanya. Duh.

Tentang Si Kakak, teman-teman sekelasku pun ikut tahu. Beberapa bahkan meniupkan angin-angin busuk di telingaku, bilang bahwa Si Kakak menyukaiku. Anggapan seperti itu kalau bukan disebut gila, tentu sinting namanya. Si Kakak itu seumuran dengan kakak perempuanku, hoi!

Meski demikian, aku dan mental remaja puberku pada saat itu memang merasakan sesuatu yang ganjil dalam perhatian yang diberikan Si Kakak. Mustahil rasanya jika Si Kakak bisa merasa bersahabat denganku hanya karena ia suka dengan diariku. Adakah faktor lain yang membuatnya menjadi demikian? Aku tidak punya ide.

- - - - - - - -

Upacara bendera Senin pagi itu dirapel dengan kegiatan pelepasan mahasiswa PPL. Memang tidak ada pesta yang tidak berakhir, walau bagi beberapa siswa SMPN 19, pestanya justru baru dimulai. Sejak awal memang tidak semua mahasiswa PPL mampu mendapatkan tempat di hati para siswa, dan tidak semua siswa cukup peduli untuk memberi kesempatan. Pelepasan mahasiswa PPL berarti terbebasnya kembali siswa-siswa SMP untuk kembali berbuat liar di jam pelajaran kosong—jika tidak tertangkap Bu Jum.

Bagiku sendiri, pelepasan mahasiswa PPL berarti perpisahan dengan Si Kakak. Aku sendiri tak terlalu memikirkannya, toh, kami belum genap sebulan saling kenal, tak banyak pengalaman bersama yang membekas bagiku. Tentang diariku, aku tahu Si Kakak akan mengembalikannya sebelum ia benar-benar pergi dari SMPN 19. Aku hanya tak menduga tempat dan waktunya.

Di tengah jam pelajaran Bahasa Inggris yang diasuh Bu Maimun (Almh.), sekonyong-konyong Si Kakak mengetuk pintu kelas dan meminta izin masuk. Si Kakak lalu masuk ke ruang kelas IX.4, menghampiri tempat dudukku dan mengembalikan diariku saat itu juga. Di depan semua orang, yes. Seisi kelas pun menyorakiku, sementara Si Kakak dengan senyum canggung cepat-cepat keluar kelas digiring puluhan pasang mata yang tak henti menatapnya. Namun kejutannya belum berhenti sampai disitu.

Di jam istirahat, seorang teman (aku lupa siapa) memberikanku sesuatu yang tampaknya dititipkan Si Kakak kepadaku. Ternyata itu adalah tulisan Si Kakak yang dulu pernah ia ceritakan. Wah, aku bahkan lupa sama sekali tentang hal itu.

Namun sebelum aku sempat membaca isinya, Harry segera merampas benda tersebut dan membacanya mendahuluiku. Diiringi wajah sok serius, ia membalik lembaran-lembaran kertas tersebut dengan cepat. “Apo ini? Puisi galo isinyo! Masih bagusan tulisan kau dho, kalo cak itu”, kritiknya seketika, lalu segera mengoper benda tersebut kepadaku. Dari yang kulihat, aku bahkan ragu bahwa Harry benar-benar membaca isi tulisan Si Kakak. Aku pun memasukkan tulisan berharga Si Kakak ke dalam ranselku. Biar aku baca saat sendirian di rumah nanti.

- - - - - - - -

Setelah mencuci kaki dan tangan, aku langsung meletakkan tasku di samping tempat tidur, lalu membaringkan tubuh di atas kasur. Aku mengangkat lembaran-lembaran kertas yang diberikan Si Kakak di depan wajahku untuk mengamatinya dengan lebih seksama. Aku teringat perkataan Si Kakak tentang ‘tulisan di komputer’. Ternyata benda yang tengah kutatap tersebut adalah diarinya yang selama ini ia cicil di komputer, dan baru  ia cetak semalam. Si Kakak bahkan hanya sempat menjepret kertas tersebut seadanya.

Sejujurnya, pada saat itu aku tidak terlalu tertarik untuk membacanya. Namun dengan segala minat yang bisa kukumpulkan pada saat itu, aku pun tergerak untuk membaca lembar pertama dengan perlahan. Lembar pertama berisi sebuah puisi—yang menyerupai narasi. Subjektif, namun aku belum paham untuk siapa puisi tersebut ditulis.

Lembar kedua pun sama.

Begitu pula dengan lembar ketiga dan keempat.

Aku mulai bosan, karena aku belum mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan Si Kakak kepadaku. Mungkin perkataan Harry di sekolah tadi ada benarnya. Namun aku mengubah posisi berbaring dan melanjutkan membaca.

Hai, namaku Berti

Aku berhenti sejenak di baris itu. Berusaha memahami.

Ternyata nama Si Kakak adalah Berti! Aha!

Tapi bukan Berti yang dulu. Waktu telah mengubahku”.

Tulisan Kak Berti telah masuk ke bagian yang menceritakan hidupnya secara langsung.

Kak Berti adalah seorang gadis desa biasa. Ia putri dari seorang ayah bernama Syahili, dan seorang ibu bernama Warsih (nama alias). Selain dirinya sendiri, rumahnya diramaikan dengan ketiga adik kecilnya yang, lucunya, ia representasikan dengan sebutan Comel, Cimol dan Cimut. Bersama dengan kedua orangtuanya yang bekerja sebagai tenaga  pengajar, keluarga kecil mereka hidup bahagia dalam kesederhanaan dan kecukupan.

Bagian-bagian berikutnya dari diari Kak Berti banyak berkisah tentang kesehariannya di masa lalu yang sering ia lalui bersama adik-adiknya, terutama Cimut Si Adik Bungsu. Kak Berti bercerita tentang dirinya yang bersepeda ontel di jalanan kampung sambil membonceng Cimut, tentang ia dan Cimut yang berlari-larian dalam hujan berpayungkan daun pisang, juga tentang ia dan Cimut yang makan buah pisang dari kebun paman mereka. Ia tak terlalu banyak menyebut Cimol dan Comel.

Namun tidak semua bagian diari tersebut bercerita tentang adik-adiknya. Di satu halaman, Kak Berti beralih menceritakan tentang dirinya. Tentang Berti yang tumbuh remaja. Tentang Berti yang tidak lagi bermain bersama adik-adiknya. Tentang Berti yang mulai mengenal ego, aku, gengsi dan pernak-pernik emosional masa remaja lainnya. Tentang Berti yang hanya peduli pada dirinya sendiri, mengabaikan Si Cimut yang rindu main bersama kakaknya.

Lalu hidup mereka sekeluarga dihentak gelombang besar bernama perceraian. Ayahnya, Syahili, pergi meninggalkan keluarga mereka. Kak Berti menggambarkan bahwa ibunya mencintai Syahili dengan sepenuh hati dikali dua, sementara Syahili tak sampai penuh hati mencintai Warsih. Syahili menikahi ibunya, karena dengan itulah langkahnya untuk mendapatkan promosi gelar dapat terbuka lebih lebar. Adapun kelahiran dari keempat buah hati, mungkin bagi Syahili tak lebih dari bentuk kontribusi langsungnya bagi bonus demografi. Toh, setelah mendapatkan gelar sarjananya, apa lagi yang ia inginkan dari seorang Warsih? Mereka pun resmi membelah dua bahtera yang sudah lama diarungi bersama.

Aku terhenyak membaca bagian tersebut. Setelah semua usaha penjelasan yang berputar-putar dengan puisi dan lain sebagainya, semua fakta ini disampaikan dengan begitu gamblang. Aku seketika iba pada Kak Berti, terlebih lagi pada Si Cimut yang kini terpisah dari Kak Berti. Dan saat aku berusaha memposisikan diriku di tempat Kak Berti, yang mampu kurasakan hanyalah menatap keluarga yang retak tersebut dari sudut pandang Si Cimut. Iya, mungkin itu yang Kak Berti lihat dariku. Mungkin ia melihat versi lain Cimut dalam diriku, yang dulu tidak sempat ia lihat tumbuh menjadi seorang remaja. Mungkin Kak Berti ingin menebus pengabaiannya dulu pada Si Cimut, sementara yang bisa ia temukan di dekatnya pada saat itu hanya aku dan diari tempatku terkadang mengadu. Mungkin dalam imajinasi Kak Berti, Cimut kini tengah bersekolah di suatu SMP dan juga suka menulis diari yang alay sepertiku, entah dimana.

Usai menuntaskan bacaanku, aku menangkupkan diari Kak Berti di depan dadaku, lalu meletakkan pergelangan tanganku melintang di depan kepala. Aku merenungkan sejenak arti semua ini sebelum muncul berbagai pertanyaan. Dimana Si Cimut sekarang? Bagaimana keadaan Kak Berti dan adik-adiknya? Lalu di atas semuanya, aku merasakan sebuah koneksi yang unik tengah terbentuk antara aku dan Kak Berti. Aku seketika paham. Semua perasaannya adalah kekalutan yang bermuara pada tulisan, seperti air yang mengalir dan menggenang di sebuah bendungan. Bendungan tersebut adalah diari ini. Pada masa-masa yang sulit, tentu lelah rasanya menampung semua kekalutan tersebut seorang diri, sehingga ia merasa perlu mengucurkan sedikit kekalutannya kepada orang lain, berbagi. Dan dia memilihku untuk menjadi teman berbaginya.

Aku gusar di tempat tidurku. Mungkin terlalu banyak air bendungan Kak Berti yang kuraup. Bagaimana jika itu aku, keluargaku yang pecah berantakan? Bagaimana jika aku yang terpisah dengan kakak perempuanku? Hal-hal tersebut tentu tak perlu terjadi hanya agar aku paham bagaimana rasanya. Aku memejamkan mata, membayangkan bahwa aku adalah Si Cimut.



Terima kasih Kak Berti.


Terima kasih sudah hadir dan memberi tahu bagaimana cara seorang kakak menyayangi adiknya


Terima kasih sudah ada dan berbagi


Terima kasih... 




----Fin----

Senin, 27 November 2017

Mengintip ke Dalam Rumah Ong Boen Tjit, Saudagar Tionghoa Kaya dari Abad ke-18




     Perjalanan saya hari itu mengingatkan saya pada kisah Borno, si pengemudi perahu tradisional sepit dalam novel “Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah” gubahan Tere-Liye. Meski secara pribadi saya kurang puas dengan ending ceritanya yang ‘mengambang’, tapi harus saya akui ada beberapa elemen dalam prosa tersebut yang melekat dengan jelas dalam kepala saya hingga saat ini, bisa jadi karena kedekatannya dengan kehidupan saya—seorang warga Palembang—sehari-hari. Elemen-elemen tersebut hadir dalam bentuk deru suara mesin perahu, air sungai yang kecokelatan, gelombang air yang menyapu tubir dermaga, juga aroma hio yang menguar dari balik tembok papan rumah panggung kayu. Iyap! Kami tengah menyelami budaya hidup orang sungai. Bedanya, Borno hidup di pinggiran Sungai Kapuas, sementara Ong Boen Tjit dan anak-cucunya hidup di pinggiran Sungai Musi.

     Nah, Siapa pula Si Ong Boen Tjit ini?

     Saya pun turut memikirkan pertanyaan yang sama hingga saya temukan jawabannya hari itu.
Berkat informasi dari seorang kolega, hari Ahad lalu saya berangkat ke dermaga BKB (Benteng Kuto Besak) untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut, di tengah siang hari  yang, kalau meminjam istilah orang Palembang, panas bedengkang. Sesuai dengan yang dijanjikan pengurus GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Sumatera Selatan selaku penyelenggara acara bertajuk ‘Pasar Baba Boen Tjit’ pada hari itu, maka sebuah perahu ketek pun datang menghampiri kami di dermaga untuk mengantarkan kami dengan gratis ke Rumah Ong Boen Tjit yang baru-baru ini sangat tersohor. Moda transportasi yang cuma-cuma tersebut tentu direspon dengan antusias oleh calon pengunjung Pasar Baba Boen Tjit.

Perjalanan menggunakan perahu ketek menuju Rumah Baba Boen Tjit di Kelurahan 3-4 Ilir. Kedatangan kami langsung disambut anak-anak penduduk sekitar
     Perjalanan kami pun berlangsung singkat. Rasanya baru lima menit saya duduk di perahu, dan tahu-tahu saja kami semua sudah bertambat di sisi lain Sungai Musi. Kediaman Ong Boen Tjit ternyata tak terlalu jauh jika ditempuh lewat jalur air.
    Turun dari perahu ketek, saya segera menuju alun-alun tempat diselenggarakannya Pasar Baba Boen Tjit. Sebuah tirai dari daun nipah kering tergelar melintang di pintu masuk alun-alun, melambai-lambai ditiup angin seolah menyambut kedatangan kami.

 
Alun-alun di depan rumah Ong Boen Tjit yang menjadi lokasi Pasar baba Boen Tjit 

     Beberapa stand penjual makanan tampak berjejer di satu sisi, menawarkan berbagai jajanan khas Palembang, mulai dari penganan ringan seperti kue kumbu, bluder, kemplang dan pempek panggang  hingga ke kudapan berat seperti lakso, celimpungan dan pempek kapal selam. Di sudut lain tampak sebuah panggung kecil, sementara dihadapannya telah disusun beberapa meja dan kursi berukuran kecil khusus untuk pengunjung yang akan mengikuti rangkaian kegiatan Pasar Baba Boen Tjit hingga petang hari nanti.
     Sebagai pembukaan, Pasar Baba Boen Tjit menyuguhkan pentas seni tari, drama dan musik untuk menghibur para pengunjung. Para penari dari Sanggar Seni Elok Emas dengan piawai membuka acara hari itu dengan menampilkan Tari Peranakan, ditutup dengan riuh tepuk tangan penonton. Usai tarian, pengunjung kembali dihibur dengan penampilan musik M-MKR Band dari UIN Raden Fatah Palembang, lalu diakhiri dengan pementasan drama “Legenda Antu Banyu” oleh Tim Drama Stisipol Candradimuka Palembang.

 
Penampilan Tari Peranakan oleh Sanggar Seni Elok Emas

     Namun bagi saya, semua rangkaian hiburan tersebut adalah sekedar appetizer penggelitik perut sebelum saya mengenyangkan diri dengan hidangan utamanya : the legendary house of Ong Boen Tjit itself!
     Sekilas dari seberang alun-alun, rumah Ong Boen Tjit nampak tak berbeda dari rumah papan milik warga Palembang pada umumnya. Suasana berbeda saya rasakan saat saya  melangkahkan kaki ke teras rumahnya. Sepasang plang kayu dengan ukiran emas huruf mandarin tampak menggantung vertikal di kedua sisi pintu masuk rumah. Puluhan  pengunjung Pasar Baba Boen Tjit nampak tak henti-hentinya keluar-masuk pintu. Segera setelah suasana di dalam rumah cukup lengang, barulah saya dapat masuk dan mengamati keantikan hunian Tionghoa yang berusia tiga abad tersebut dengan lebih seksama.

 
 Tampak dalam kediaman keluarga Ong Boen Tjit. Dari kiri ke kanan : (1) Pintu masuk ke ruang tengah; (2) altar peribadatan; (3) foto salah satu keturunan Ong Eng Tuan

     Pada ruang tamunya yang luas, berbagai foto hitam putih tampak tergantung dengan anggun di beberapa sisi. Salah satu foto tersebut bertuliskan ‘Ong Eng Tuan, Saudagar Pedagang Hasil Bumi’. Selidik punya selidik, nama Ong Boen Tjit yang menjadi cikal bakal tajuk acara Pasar Baba Boen Tjit hari itu ternyata adalah nama anak bungsu dari Ong Eng Tuan yang meneruskan usaha keluarganya. Ong Boen Tjit memiliki seorang kakak perempuan bernama Ong Kui Nio dan  seorang kakak laki-laki bernama Ong Boen Kim, sementara keturunannya yang menghuni dan merawat rumah besar tersebut saat ini merupakan keturunan generasi ke-8 Ong Boen Tjit.

Tiga bersaudara keturunan Ong Eng Tuan. Dari kiri ke kanan :(1) Ong Kui Nio; (2) Ong Boen Kim; (3) Ong Boen Tjit

     Sebagaimana rumah limas—model rumah masyarakat Palembang dahulu kala—arsitektur Rumah Ong Boen Tjit sendiri tak terlepas dari pengaruh budaya Melayu Palembang. Bagian dalam rumah Ong Boen Tjit nampak terbagi dalam beberapa sekat ruangan yang memiliki tingkatan (kijing), menyerupai sistem bengkalis dalam rumah limas. Di masa lampau, masyarakat Palembang terkenal menjunjung tinggi kehormatan dan derajat sosial dalam bermasyarakat, sehingga ruangan tempat berkumpul dalam sebuah rumah pun ditentukan berdasarkan derajat dan kedudukan seorang tamu.
     Meski fungsi sekat ruangan pada rumah Ong Boen Tjit mungkin tidak sama dengan rumah limas, namun terdapat beberapa kemiripan di antara keduanya. Contohnya seperti pada bagian teras yang dalam budaya Palembang disebut Pagar Tenggalung, berfungsi sebagai beranda dan tempat bercengkerama dengan masyarakat sekitar yang berlalu lalang. Rumah Ong Boen Tjit pun memiliki teras serupa yang dikelilingi pagar. Bagian lain yang serupa adalah ruang tamu rumah Ong Boen Tjit yang pada rumah limas biasa disebut jogan, tempat berkumpulnya tamu laki-laki—atau sebagian orang juga percaya sebagai tempat berkumpulnya tamu dari golongan Kiagus. Perbedaan yang mencolok baru tampak saat memasuki tingkat ruangan ketiga, tempat tergelarnya sebuah altar peribadatan keluarga Ong Boen Tjit. Selain di ruangan tengah, sebuah altar lain juga terdapat di ruangan terakhir yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga. Dupa yang sebelumnya dinyalakan menyebarkan aroma harum ke segala penjuru ruangan.

 
Altar peribadatan keluarga Baba Ong Boen Tjit, lengkap dengan sesajian
buah-buahan dan dupa yang menyala

     Tiga abad yang lalu, tepatnya pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, tata letak pemukiman Kota Palembang diatur sedemikian rupa berdasarkan etnis, status sosial dan pekerjaan masyarakat Palembang pada masa itu. Etnis tionghoa yang pada masa tersebut masih merupakan salah satu etnis pendatang di Palembang mendapatkan tempat bermukim di pesisir Sungai Musi, jauh di luar Keraton Kuto Gawang yang merupakan pusat pemerintahan Palembang. Hal tersebut menyebabkan banyaknya orang tionghoa yang bermukim di atas rakit. Kenyataan bahwa rumah keluarga Ong Boen Tjit telah berdiri sejak saat itu sendiri merupakan sebuah keajaiban! Kemampuan keluarga saudagar tersebut untuk mendirikan rumah panggung permanen yang besar tentu mengindikasikan bahwa kekayaan keluarganya tidak main-main. Bahkan konon, kekayaan Ong Boen Tjit begitu melimpah sehingga cukup untuk menghidupi keturunannya sampai generasi ketujuh.

     Setelah puas berkeliling dan mengamati isi rumah Ong Boen Tjit dari dekat, saya pun keluar rumah dan berkeliling alun-alun. Ada hal lain yang berhasil menarik perhatian saya, yaitu peragaan langsung pembuatan perabot dari anyaman daun nipah oleh ibu-ibu setempat. Sama seperti rumah Ong Boen Tjit, kerajinan dari daun nipah tersebut ternyata memiliki nilai historis tersendiri.
    “Lah 20 tahun ngegaweke ini. Ilmunyo kami dapet turun-temurun”, ujar Mak Ilun, salah seorang ibu-ibu pengrajin yang bermukim di wilayah 4 Ulu. “Sampe sekarang kami ngisi (menyetor) barang ke Pasar 16 (Ilir), Pasar Cinde, Pasar Pal 5”, tambahnya seraya terus menganyam. Selain Mak Ilun, masih banyak lagi ibu-ibu di wilayah 4 Ulu yang bekerja sampingan sebagai pengrajin anyaman daun nipah.

Dari kiri ke kanan : (1) Mak Ilun; (2) Ibu-ibu pengrajin daun nipah dengan hasil pekerjaannya; (3) tampah yang siap dipasarkan

     Hasil produksi yang berupa bakul, piring kayu, tampah (nampan kayu) dan keranjang buah yang cantik dijual dengan harga berkisar dari 10.000 hingga 15.000 rupiah tergantung jenisnya. Bahan baku daun nipah sendiri dibeli dari daerah Jalur, Banyuasin. Inisiatif untuk menganyam daun nipah menjadi bentuk kerajinan bangkit puluhan tahun lalu saat banyaknya pelepah pohon nipah yang dibuang. “Dulu uong pake (daun nipah) untuk buat lintingan rokok. Pas lah idak lagi, banyak daun nipah tebuang. Daripada dibuang lemak ibu-ibu disini buat kerajinan, biso dapet duit”, kisah Mak Ilun. Bukan sekedar terampil, ibu-ibu setempat mampu menyelesaikan anyaman daun nipah dengan sangat cepat. Tak sampai satu jam, sebuah keranjang buah tuntas dikerjakan Mak Ilun.
     Tak selesai sampai disitu, perhatian saya para pengunjung kembali tersedot saat Chef Kukuh Jayadi melakukan peragaan memasak pindang. Dengan didampingi asistennya dan seorang artis cantik, Dinda Kirana, Chef Kukuh sukses menyajikan empat macam pindang menjelang sore hari itu : pindang patin, pindang udang, pindang telur gabus dan pindang baung. “Masak udang jangan kelamaan. Kalau terlalu matang nanti dia jadi terlalu kenyal, kayak karet”, tipsnya seraya mengaduk isi panci. Usai peragaan memasak, pindang-pindang tersebut dibagikan pada hadirin acara dan warga sekitar. Soal rasa? Jangan ditanya. Cukup untuk memanjakan lidah--walau porsinya kecil.

 
 Chef Kukuh tengah menuangkan udang ke nampan untuk dibagikan ke pengunjung. Soal rasa masakannya? Hmm, sangat kurang (banyak)

     Sumarni Bayu Anita, Ketua Pelaksana Pasar Baba Boen Tjit turut menyampaikan beberapa harapannya selagi rangkaian acara berlangsung. “Harapan kami ke depannya Rumah Baba Boen Tjit ini dapat menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat Kota Palembang”, ungkapnya. Sementara ketika ditanya kendala apa yang paling besar dalam penyelenggaraan Pasar Baba Boen Tjit, Mbak Sumarni menyatakan bahwa kesulitannya terdapat pada jarak. “Karena peserta harus menyeberangi sungai untuk tiba di lokasi acara”, ujarnya. Rumah Baba Boen Tjit sendiri beralamat lengkap di Lorong Saudagar Yucing No. 55 RT. 050 RW. 002 Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1. Alamat tersebut memungkinkan untuk  dicapai dengan perjalanan darat, namun letaknya yang cukup jauh dari jalan raya dan tidak dapat dicapai kendaraan roda empat membuat Rumah Ong Boen Tjit jarang dikunjungi wisatawan. “Semoga untuk seterusnya program ini dapat menjadi agenda tahunan GenPi Palembang”, ujar Mbak Marlina.
     Sebagai seorang turis lokal, untuk saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah meng-amin-kan harapan rekan-rekan GenPI dalam menjadikan Rumah Ong Boen Tjit destinasi wisata baru, serta membantu menyebarkan tentang nilai jual Rumah Ong Boen Tjit melalui media sosial saya.
     Sejatinya, masih banyak sekali hal yang perlu dibenahi bersama-sama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sekitar agar Rumah Ong Boen Tjit dapat menjadi tujuan wisata pilihan warga Palembang. Beberapa aspek yang perlu dibenahi tersebut berkaitan dengan ketersediaan transportasi air dan dermaga perahu khusus untuk turis, kebersihan lokasi wisata dan ketersediaan pemandu wisata yang dapat menjabarkan informasi sejarah Rumah Ong Boen Tjit secara valid. Selain dukungan teknis, pemerintah juga perlu menyertai penyempurnaan objek wisata baru tersebut dengan strategi-strategi yang ampuh untuk menarik minat berkunjung warga lokal.

 
 Perjalanan pulang  menyusuri Sungai Musi di penghujung hari

Daftar Istilah :

- Bengkalis : Sistem pembagian bagian-bagian dalam rumah limas, rumah tradisional masyarakat Palembang.

- Bluder : Sejenis roti dengan tekstur lembut dan sedikit berminyak. Awalnya merupakan penganan Eropa yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia, seperti kue lekker dan kue kaastangels.

- Hio : Dupa; salah satu media peribadatan penganut Konghucu yang biasanya dibakar dan dipajang di meja altar. Memiliki aroma harum yang khas.

- Kemplang : Sejenis kerupuk ikan. Pada dasarnya berbahan dasar sama dengan adonan pempek, hanya saja digepengkan dan dipanggang di atas bara api sehingga ukurannya mengembang.

- Kijing : Tingkatan-tingkatan ruangan dalam rumah limas.

- Kumbu : Penganan khas Palembang berbahan dasar santan dan kacang merah atau kacang hijau

- Laksan, Lakso, Celimpungan : Berbagai jenis pempek kuah yang ada di Palembang. Perbedaannya terdapat pada bentuk adonan dan warna serta rasa kuahnya masing-masing.

- Panas Bedengkang : Istilah yang sering digunakan orang Palembang untuk menggambarkan suasana panas terik matahari di siang hari.

- Perahu Ketek : Perahu kayu tradisional masyarakat Palembang. Umumnya kini perahu ketek ditenagai mesin diesel kecil sebagai pemutar turbinnya.

- Perahu Sepit : Sebutan orang Kalimantan, khususnya yang bermukim di pesisir Sungai Kapuas untuk perahu sejenis ketek

- Tampah : Nampan tradisional dari anyaman kayu atau pelepah nipah


Referensi :

terpinggirkan_588230b3559373640bbb3e8d

http://www.gosumatra.com/rumah-limas-sumatera-selatan/

https://halallifestyle.id/tourism/ramaikan-atraksi-pinggir-sungai-musi-genpi-sumsel-gelar-pasar-baba-boentjit

https://www.kompasiana.com/sumarnibayuanita/kampung-kapitan-sejarah-palembang-yang-terpinggirkan_588230b3559373640bbb3e8d

Semua gambar yang dimuat di tulisan ini merupakan hasil dokumentasi pribadi penulis

Minggu, 04 Juni 2017

CATATAN VOLUNTRIP SUMSEL 0.2 (Bagian 3)




 
Gambar 1. Siluet dari sosok tak penting 
 
Singkat cerita, kami akhirnya mengompreng. Ini bukan pengalaman pertama buatku, tapi bagi ukhti-ukhti perkasa yang terus menjerit sedari awal perjalanan tadi, bisa ditebak ini pengalaman perdana mereka. Malah, bisa jadi yang tak terlupakan. Aku jadi teringat pengalaman pertamaku ngompreng bersama teman-teman EP. Tapi kali ini suasananya agak berbeda, karena mobil yang kami tumpangi adalah truk gandeng yang biasanya digunakan mengangkut kelapa sawit. Bayangkan sendiri betapa besarnya bak yang kami tumpangi, tinggi dindingnya saja lebih dari satu setengah meter.

Sesekali kami kelabakan mencari pegangan—yang sebenarnya tidak tersedia—saat truk tersebut berguncang liar. Jalan menuju pelabuhan memang tidak mulus. Beberapa bagian permukaan aspal sudah pecah berantakan, kembali bercampur dengan licak tanah, berubah menjadi kubangan besar-besar. Beberapa dari kami akhirnya dengan putus asa menempelkan tangan ke dinding bak yang licin, seolah itu membantu kami menyeimbangkan diri. Di atas kendaraan yang tidak stabil tersebut, duduk 
dan berdiri sama sulitnya.

Matahari sudah tenggelam beberapa menit lalu. Kak Hardi berhitung dengan keadaan, harap-harap cemas. Setelah Jarnawi mohon diri, secara tak langsung tanggung jawab keberlangsungan acara ini kembali pada panitia yang bertugas—yang sejak awal kukira, adalah Kak Hardi. Agenda kami malam ini adalah pengadaan layar tancep dan nontong bareng Final Piala AFF bersama warga Desa Karang Anyar di dusun seberang. Tapi truk kami bahkan belum sampai ke pelabuhan, dan masih ada anak Sungai Musi yang harus diseberangi. Aku sempat sungkan memikirkan, bagaimana lima puluh lebih peserta dan bawaannya yang berat-berat ini akan diangkut dengan perahu kayu, menyeberangi sungai di malam hari. Mungkinkah waktunya cukup?

Setelah satu jam lebih berjalan kaki, perjalanan dengan truk ini bagaikan naik buroq. Dua kali lipat jarak yang kami tempuh sebelumnya, pungkas hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.
Kami akhirnya sampai di pelabuhan yang dimaksud. Rombongan Kak Reza yang membawa Land Rover dan barang-barang bawaan kami semua tampak tersadar dari lamunannya, Pasti lama sekali mereka sudah menanti.

Setelah mengamati beberapa lama, aku akhirnya mafhum bahwa tempat tersebut adalah pelabuhan barang, alih-alih manusia. Tidak ada seorang pun yang bisa kami lihat di tempat tersebut selain rombongan panitia, peserta, sopir truk tadi serta seorang bapak-bapak yang menunggu di atas perahu kayu. Selain itu, hanya ada bongkahan batu kali, gunungan batu koral dan bangunan-bangunan operasional yang tidak dihuni.

Setelah berkumpul dan menerima arahan dari panitia, akhirnya kami beralih pandang ke angkutan kami yang berikutnya : perahu. Hanya ada satu perahu—yang dari tempatku berdiri tampak kecil sekali—, dan artinya kami harus diangkut dalam dua kloter. Aku, Dinda, Fatma dan Lulu memutuskan untuk menumpang di kloter kedua, sementara Genta yang entah sejak kapan kini sudah naik ke atas perahu, mengamankan kursi terdepan untuk menyaksikan Final Piala AFF di dusun tujuan kami.


Gambar 2. Menuju Karang Anyar
sumber :  hp-remembrall.livejournal.com


Perahu tersebut tak beratap, sehingga kami masih bisa menyaksikan wajah-wajah lelah penumpangnya menjauh dari tubir dermaga saat propeler perahu tersebut mulai mengayuh. Beberapa detik kemudian, hanya nyala lampu senter mereka yang tampak membelah Sungai Musi yang hitam, sebelum benar-benar hilang dalam kegelapan petang. Dramatis. Aku hampir membayangkan perjalanan pertama Harry Potter menuju Kastil Hogwarts.

Lalu sekarang bagaimana?

Kami duduk-duduk di atas hamparan koral dan ranting-ranting kayu, seperti orang piknik yang salah pilih tempat. Beberapa anak perempuan mulai mengeluarkan makanan ringan, sebagian yang lain membagikan lotion anti nyamuk. Amrina ingin pipis, maka Ilham—yang ternyata pacarnya—pergi berkeliling pelabuhan tersebut untuk mencari toilet. Hasilnya nihil. Tak ada toilet. Tak ada orang. Tak ada air bersih. Berarti juga tak ada musholah. Dari sanalah muncul persoalan baru : bagaimana caranya sholat maghrib? Aku dan kelompok kecilku ini akhirnya mulai gusar membicarakan hal itu, karena jika jarak tempuh perahu tersebut untuk tiba di seberang dan kembali kesini adalah 30 menit, maka kami baru akan tiba di desa seberang lewat dari jam setengah delapan, atau saat waktu maghrib habis.

Dermaga terlalu tinggi dari permukaan air sungai, dan mengambil wudhu di sungai di malam hari seperti ini juga kedengarannya bukan ide yang bagus. Setelah itu pun, kami masih akan bermasalah dengan lokasi sholat. Kami tak punya banyak pilihan.“Sudem dek, dijamak tuhlah berarti dengan Isya. Mending cak itu daripada dak sholat nian”, ujarku menyimpulkan, lalu mereka mengiyakan dengan murung.

Sembari menanti, tak banyak yang bisa dilakukan. Kami—yang sekarang ternyata lebih banyak laki-laki daripada perempuannya—hanya bercanda ringan dan mengobrol ngalor-ngidul, sebagian besar tentang prediksi hasil pertandingan Indonesia-Thailand malam ini. Aku sendiri tidak terlalu tertarik dengan pertandingan olahraga, tapi jika untuk menonton TV, harusnya ponsel M**o-ku bisa diandalkan saat ini jika baterainya tidak habis. Dan tentu saja baterainya sekarang habis, seperti selalu. Ck.

Kak Reza menggombali Dinda. Kami tertawa. Lalu kami menguap. Lalu menggaruk. Lalu bergosip. Lalu mengunyah dan menelan. Lalu Kak Reza menggombali Dinda lagi. Lalu kami tertawa lagi, lalu menguap lagi. Begitu terus, hingga suara mesin perahu terdengar di kejauhan dan kami semua berhenti.

Jarum panjang di arlojiku sudah melewati angka 12. Waktu maghrib sudah hampir habis. Aku bulatkan niat untuk menjamak sholat Maghrib-ku ke Isya. Tanpa buang banyak waktu, kami langsung mengangkut barang-barang pribadi dan perlengkapan acara ke atas perahu—yang ternyata lumayan besar setelah diamati lebih dekat. Aku pun naik belakangan, setelah Lulu, Fatma dan Dinda.

Biso berenang dak, dek?”, bisikku pada mereka dari balik pundak Dinda.
 “Idak kak. Kakak biso, kan?”, tanya Dinda berharap.
Aelah. Samo bae berarti”, lalu aku tertawa garing. “Bedoa baelah dek, hahaha”.

Aku meletakkan kedua tasku, lalu duduk di belakang mereka, di geladak bagian belakang. Perahu langsung berangkat setelah mesin dieselnya dipacu beberapa kali. Kini tibalah giliran kami untuk membelah kegelapan Sungai Musi.

Mengapa butuh waktu tempuh yang lama untuk sampai di seberang? Hal tersebut akhirnya terjelaskan bersama rongrong mesin perahu. Dusun yang kami tuju ternyata tidak terletak tepat di seberang kami, namun sedikit lebih jauh ke arah Barat. Dengan kata lain, kami bukan hanya menyeberang, tetapi juga menyusuri Sungai Musi. Ditambah faktor air yang sedang pasang, mungkin arus sungai juga turut andil dalam mempersulit perjalanan kami.

Fatma dan Dinda menatapi langit malam. Aku tertarik untuk mengikutinya, lalu kami pun terenyuh bersama. Kami tengah terapung di atas arus, di suatu sudut Sungai Musi yang sama sekali tidak populer, jika dibandingkan pemandangan Sungai Musi yang ada Jembatan Ampera-nya. Tapi jauh dari rentetan klakson dan gemerlap lampu kota, kami justru menemukan pemandangan lain yang lebih spektakuler. Kami sejatinya tengah pesiar di bawah atap hotel bintang sejuta, digiring suara mesin perahu dan nyanyian jangkrik di hutan di kejauhan. Ingin rasanya menunjuk-nunjuk gemintang di atas, memberi tahu adik-adikku ini rasi bintang yang mana yang namanya apa. Tapi soal astronomi, aku sama dungunya seperti berenang atau membawa sepeda, jadi biarlah begini. Biarlah kami mengagumi langit malam itu dalam ketidaktahuan kami akan semesta. Karena paham atau tidak pun, jutaan gemintang di atas kami tetaplah indah.

Beberapa peserta yang bosan pun menyinari permukaan air sungai. Salah seorang dari kami terkejut, lalu berteriak, mengheningkan peserta-peserta lain yang tengah mengobrol. Ia baru saja melihat buaya. Di tengah sungai berarus deras begini? Tapi ternyata saksi matanya lebih dari seorang.

Liat dak tadi barusan, kak?”, tanya Fatma kepada Lulu, terdengar takut. “Jelas nian, ngambang cak kayu”.

Beberapa bahkan bilang matanya berwarna merah, entahlah. Aku tak sempat lihat. Yang jelas, mereka yang tadinya asyik menyentuh-nyentuhkan kaki ke permukaan air sungai kini meringkuk ke dalam perahu.

Setelah cukup lama berselimut dalam kegelapan, akhirnya tampak beberapa titik cahaya di kejauhan. Kami sudah hampir sampai. Deru mesin perahu pun melambat, lalu perlahan berhenti. Bapak yang mengemudikan perahu melompat ke haluan dan mengeluarkan dayung panjang. Perahu kami merapat ke sebuah dermaga kecil dari beton yang sebagian permukaannya terendam air.

Meski bukan pertama kalinya naik perahu, tapi sejujurnya, saat berpindah dari perahu ke daratan bagiku selalu menakutkan. Sesekali perahu bergoyang karena tidak seimbang menanggung bobot penumpangnya yang berangsur turun. Walau duduk di belakang, aku berusaha tidak jadi yang terakhir meninggalkan perahu.

“Dek, tolong bawaki kardus itu”, pinta seorang panitia—yang tidak kuingat siapa—seraya menunjuk sebuah kardus besar yang tergeletak di dekat kakiku. Seingatku, isinya logistik. Ditambah tas punggung dan satu tas genggam, jelas bawaanku tidak ringan, tapi aku tak bisa menolak. Aku pun berusaha menggotongnya bersama Kak Taqrim—kalau tidak salah ingat—lalu perlahan membawanya keluar perahu yang bergoyang semakin tidak stabil.

BRUK

Tepat di langkah pertama, aku terjatuh—untungnya—ke depan. Beberapa peserta perempuan di belakangku berseru kaget. Sebelah kakiku tercebur ke air karena sandalku licin, tapi Kak Taqrim berhasil menjaga keseimbangan sehingga kardus tersebut tidak jatuh ke air. Tak bisa kubayangkan jika semuanya berantakan gara-gara aku ._. Aku pun buru-buru berdiri dan meneruskan menggotong kardus tersebut, entah kemana, asalkan jauh dari air.

Ya, akhirnya kami tiba di bagian lain dari Desa Karang Anyar! Karena pencahayaan yang masih minim dan baterai kamera fotografer kami yang habis, sayangnya tak ada dokumentasi resmi dari awal mengompreng hingga kami selesai menyeberang. Tapi yang terpenting adalah, akhirnya kami bersama merealisasikan kata ‘Trip’ dari ‘Voluntrip’, tajuk acara kami. Yang tersisa untuk dikerjakan sekarang adalah mempersiapkan diri untuk bagian lainnya, yaitu ‘volunteer’, esok hari. Tugasku dan rekan relawan Bersih-bersih Masjid baru saja akan dimulai.
 

Bersambung (lagi)